
"Tuan, Anda harus tetap menjaga kesehatan Tuan. Tekanan darah tinggi Anda naik. Lain kali Anda harus rutin meminum obat penurun hipertensi," ucap Ryan, dokter pribadi keluarga Edi yang mengabdi dengan keluarga Edi sejak 10 tahun lalu.
Edi tersenyum tipis. Ia mengerti apa kesalahan yang ia perbuat. Sudah dua hari ia tidak mengonsumsi obat itu. Bukan tidak mau, hanya tidak ingin saja walaupun ia sendiri tahu apa risikonya. Banyak hal yang ia pikirkan hingga ia malah enggan untuk menenggak pil itu.
"Iya ... Kau terlalu cerewet seperti wanita saja," ungkap Edi santai. Mereka berdua memang sahabat lama. Belasan tahun Ryan berkarya di negeri seberang dan sejak ia pulang, Ryan langsung menjadi dokter kepercayaan Keluarga Wiyarta.
"Ck kau ni. Sudah sudah tua masih saja ngeyel. Sudahlah ikuti saja aturannya. Tidak usah rewel," omel Ryan. Ia kembali menjadi sosok teman lama Edi.
"Sudahlah, aku pamit. Jangan lupa diminum obatnya. Atau kalau tidak kau bisa ke ruangan bau obat yang tidak kau sukai itu." Ryan memperingati sekaligus mengancam Edi. Tangannya sibuk membereskan oeralatan yang ia gunakan.
"Sudah sana. Tidak usah banyak bicara!" usir Edi.
Edi menghirup napas dalam. Pikirannya melayang–layang dengan tubuhnya yang ia sandarkan di kepala ranjang. Tidak bisa ia pungkiri. Ia merindukan anak yang sudah cukup lama ia awasi dari jauh.
"Mungkin ini saatnya."
🍂
"GAZAAA!!! BAJU DASTERKU KE MANA?"
Dela mencari daster kesukaannya. Daster sederhana yang sangat nyaman untuk ia pakai. Isi almari yang semula rapi kini telah berubah bentuk seperti sarang tikus.
"Mana aku tau? Cari saja sendiri di lemari," teriak Gaza yang tidak terlalu kencang.
"Baju–baju dia, kenapa juga tanya aku. Memangnya aku pakai daster." Gaza menggerutu seiring tangannya yang bergerak mengelap body motor yang terkena debu jalan. Ia tidak suka melihat motornya berdebu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Dela mendatangi Gaza dengan raut wajah yang muram. Ia hadir dengan kekesalan yang sudah ada di ujung.
Dela melempar Gaza dengan kain lap kecil ke arah tubuh Gaza.
"Apaan sih?!" ungkap Gaza yang terganggu dengan kehadiran Dela.
"Mana dasterku?!"
"Sudah kubilang cari sendiri. Aku tidak tahu!"
"Tidak tahu bagaimana? Kan kamu yang mengambil laundry–an kemarin. Berarti kamu harusnya tahu dong!"
Gaza menghela napas kasar. "Mengambil bukan berarti tahu. Mana aku tahu kalau kamu juga menyertakan daster waktu itu. Cari dulu sana benar–benar!"
Gaza tidak mau disalahkan. Pada nyatanya ia memang tidak tahu di mana daster dan bagaimana rupa daster Dela. Dela yang semakin kesal pun sedikit menendang peralatan otomotif milik Gaza.
"Kalau gak kamu mau apa?!" Dela tersenyum miring.
Gaza melempar kasar lap motor yang ia pegang. "Sabar Gaza... Yang kamu hadapi itu ibu hamil," batin Gaza. Ia mencoba menenangkan hatinya lantas mengambil kembali secuil kain kotor itu.
"Manusia labil ya gitu," gumam Gaza lirih.
"Apa kau bilang?!"
Dela membeliakan matanya. Ia tidak terima dirinya dikata labil.
__ADS_1
"Memang labil kan? Sudahlah. Cari baju lain. Gitu saja ribet," saran Gaza.
"Atau kalau mau beli tinggal beli saja masalah selesai."
Gaza mengucapkannya enteng namun kesal. Kupingnya terlampau panas. Mendengar ocehan Dela yang semakin menjadi, ingin rasanya Gaza menyumpal telinganya dengan kapas kedap suara. Ternyata wanita seribet itu.
"Ihhh!!! Bukannya bantu malah kasih solusi yang menyebalkan! Tau begitu aku tidak tanya kamu!"
"Tuh tau!"
Dua kata itu adalah senjata Gaza yang sangat mengganggu telinga Dela.
"Aaaaa tapi itu daster kesayanganku," rengek Dela. Ia masih tidak rela jika daster itu hilang begitu saja.
"Kalau masih ingin pakai daster itu, tanya aja sama tukang laundry. Beres kan?! ... Dah sana jangan ganggu aku!!"
Gaza mengusir keberadaan Dela. Kegiatannya harus terhenti lantaran Dela yang merecokinya.
Dela berdecak kesal lantas meninggalkan Gaza. Ia mengambil sendal dan pergi ke tukang laundry sendirian.
Gaza menggeleng heran. "Hidup wanita memang rumit. Hal sepele saja dipermasalahkan. Masalah sudah banyak makin ditambah saja. Aneh!" gumam Gaza setelah Dela tidak lagi di sana.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻