Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
H–1


__ADS_3

"Pa ini kopinya."


Gea memberikan secangkir kopi di meja depan Edi. Edi tersenyum manis kala melihat anaknya yang satu itu masih begitu peduli padanya. Sudah beberapa waktu ia tinggal di apartemen Gea dan beberapa hari ini, ia mulai tinggal di kediaman Yohandrian lantaran anaknya akan melangsungkan resepsi pernikahan sekaligus acara 7 bulanan.


"Terima kasih," ucap Edi lantas menyesap kopi itu, meminumnya perlahan sembari menikmati langit cerah di sore itu yang berpadu dengan hamparan laut biru. Sedangkan Gea berkeliling di kamar Edi, menyentuh barang–barang yang ada di sana.


"Papa tidak turun ke bawah berkumpul dengan Ayah dan Bunda?" celetuk Gea spontan dengan tangan yang masih memegang guci kecil yang menarik perhatiannya.


Edi meletakkan cangkir itu kembali ke atas meja. "Tidak. Papa tadi sudah bersama dengan mereka. Biarlah mereka menikmati waktu mereka bersama tanpa kehadiran papa," tutur Edi.


Gea mengangguk mengerti. "Baiklah"


Gea berjalan menghampiri Edi. Ia berdiri tepat di belakang kursi yang Edi duduki. Gea menghela napas. Helaan itu terdengar sampai ke indra pendengaran Edi.


"Ada apa, Gey?" tanya Edi hati–hati. Terlampau lama kalimat itu tidak terlontar dari bibirnya. Selama ini dia bungkam bahkan tidak mau tahu. Lebih tepatnya mencoba untuk tidak mau tahu.


Seulas senyum tipis terbit di bibir ranumnya itu. "Tidak Pa. Tidak apa. Hanya tidak menyangka saja," ucap Gea.


Yeahh ... Gea tidak menyangka jika hari itu akan segera datang. Resepsi pernikahan yang tidak pernah terbayangkan di dalam hidupnya tentunya dengan kehadiran sosok ayah yang selama ini menghilang.


"Maafin Papa ya, Nak, dan terima kasih karena sudah mau menerima papa kembali."


Ucapan itu seketika menghantam hati Gea, membuat hatinya menghangat. Gea diam sejenak, tidak langsung menjawab.


Gea hanya mengangguk sebagai jawaban atas apa yang Edi ucapkan. Aneh memang, karena bagaimanapun juga, Edi tidak akan melihat jawaban itu.


"Aku tidak pernah menyangka, Pa, jika saat ini seperti ini. Aku kira, aku sudah kehilangan semuanya. Namun ternyata tidak. Pa, aku sayang Papa."


Gea berjalan ke depan Edi lantas memeluknya. Kali ini, ia menikmati bagaimana hangatnya dekapan seorang ayah. Kalau boleh ia meminta, ia ingin begini hingga akhir.


Edi melepas dekapan itu. Ia menatap wajah Gea. Mata itu meniti wajah anaknya yang kini sudah beranjak dewasa. "Tidak usah tegang begitu. Lagi pula ini hanya resepsi. Tidak perlu tegang lagi dong seharusnya." Edi tertawa kecil.

__ADS_1


"Ah Papa ..." Wajah Gea memerah lantaran apa yang diucapkan Edi memang benar. Sebenarnya ia juga merasakan gugup kala mendekati pesta itu.


"Sudah sana kembali pada suamimu," titah Edi dengan lembut.


Gea hanya mengangguk lantas pamit kembali. Ia berjalan menutup pintu itu hati–hati. "Sehat–sehat Pa," harapnya dalam hati sembari berlalu pergi.


Gea memutuskan untuk kembali ke kamar, menghampiri sang suami yang sedari tadi ia tinggalkan.


"Astaga masih tidur."


Gea menggelengkan kepalanya. Suaminya masih saja betah untuk bergelung dalam dunia mimpi.


"Bayang, bangun. Sudah sore."


"Semenit lagi, Sayang," ucap Briel dengan suara serak khas bangun tidur.


"Tidak ada semenit lagii ..."


"Astaga ..." Briel terkejut lantaran tubuhnya menahan beban tiba–tiba.


"Bangun." Gea tersenyum penuh kemenangan.


Briel tersenyum hangat. Ia bangun dari tidurnya lantas duduk dengan Gea yang ada dipangkuannya.


"Iya ... tapi nanti dulu aku mau tidur sebentar lagi, Sayang ..." Briel mengangkat tubuh Gea dan memindahkannya ke sisi ranjang yang kosong. Ia tersenyum jahil. Seusai itu Briel merebahkan dirinya kembali. Sedangkan Gea yang tidak siap dengan perlakuan Briel, menatap Briel yang kembali berbaring dengan kesal.


"Bayaang!!" teriak Gea sembari menggoyangkan keras tubuh Briel.


Briel menahan tawa kala melihat tingkah lucu istrinya itu. Briel mencekal pergelangan tangan Gea, lantas menariknya lembut ke dalam dekapannya, membawa Gea untuk berbaring di sampingnya. Bahkan ia mengunci agar Gea tidak banyak melakukan pergerakan yang akhirnya membuat Gea mengalah.


"Ah sudahlah kalau gitu," putus Gea pada akhirnya. Ia tahu melakukan apapun lagi juga akan percuma. Ia memilih untuk menikmati dekapan hangat itu.

__ADS_1


Gea mendongakkan kepala, menatap wajah Briel. "Bayang, kenapa kamu tidak ingin melihat seperti apa Dede Utun?"


"Tidak papa. Biar nanti terkesan lebih surprise aja." Briel menjawabnya dengan santai. Ia memang sengaja ingin mengetahui jenis kelamin anaknya ketika manusia kecil itu terlahir.


"Terus kamu maunya cewek apa cowok duluan?"


Terdengar, Briel menarik napas lebih dalam dari biasanya. "Cowok ataupun cewek, tidak masalah bagiku. Sama saja." Briel tersenyum menenangkan. Gea mengangguk–angguk ringan


Selama ini mereka melakukan pemeriksaan rutin. Namun selama itu pula, Briel tidak mau melihat jenis kelamin anaknya. Ia hanya memastikan jika anaknya baik–baik saja. Ia juga sudah menyiapkan 2 nama calon bayi: nama untuk cowok dan cewek sekaligus.


"Sudah, kita kembali istirahat saja. Lagi pula langit di luar tidak bagus." Briel mengajak Gea untuk turut tidur bersamanya. Ia hanya tidak ingin Gea kecapaian pada akhirnya. Resepsi sekaligus acara 7 bulanan akan diadakan esok hari.


"Hilih kata siapa? Aku tadi aja melihat langitnya cerah banget. Lagi pula jalan–jalan di bawah sana pasti menyenangkan," sangkal Gea.


Gea membayangkan bagaimana indahnya ombak yang berkejar–kejaran di pantai. Dan sore itu ia ingin berjalan–jalan dengan suaminya. Gea menarik narik tubuh Briel agar mau pergi bersamanya.


"Angin di luar sana sangat kencang Gea. Nanti kalau kamu masuk angin bagaimana?"


"Tidak akan"


Sikap kekanak–kanakan Gea yang sering kali muncul, membuatnya gemas. Pada akhirnya ia menuruti permintaan Gea.


Mereka berjalan keluar Villa. Lahan luas yang tertata rapi telah dihiasi oleh berbagai macam pernak pernik dekorasi. Gea memilih dekorasi dengan konsep outdoor untuk acara kali ini. Dan pantai adalah pilihanya.


Mereka berdua menutup hari terang mereka dengan menikmati indahnya sang surya yang kian lama kian meredup lantas tenggelam di ujung garis samudra.


🍂


//


Happy reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 🤗❤


__ADS_2