
Shopping, makan, tidur dan bersantai adalah keseharian Dela. Setelah kepergian maminya, ia memutuskan untuk melanjutkan kehidupannya kembali namun dengan sikap yang lebih menyebalkan. Pasalnya ia tak mau melakukan apapun kecuali seenak dirinya pindah–pindah dari apartemen ke rumah Edi atau sebaliknya. Hal itu semakin membuat Edi geram.
"Mau jadi apa kamu? Kerjaanmu hanya makan dan tidur. Bahkan mengabdi dengan suamimu saja tidak!" ucap Edi geram. Sepulang dari kantor bukannya ia bisa menenangkan diri, namun hatinya semakin panas lantaran melihat anaknya yang tak memiliki arah hidup itu.
Dengan santainya Dela hanya menengok sekilas. Ia berhenti mengunyah sejenak lantas memasukkan lagi satu persatu camilan yang ada di tangannya. Arah pandangnya pun kembali pada televisi yang menyala.
Merasa diabaikan Edi berjalan menghampiri Edi dengan kekesalan yang tak terbendung lagi. Ia merampas camilan itu dari tangan Dela lantas melemparkannya ke atas meja.
"Kalau diajak bicara sama orang tua itu didengarkan. Bagaimana nanti hidupmu ha? Bukannya bantu Papi mengurus perusahaan kamu malah enak–enakan duduk di sini. Hanya bersantai saja bisamu!"
Edi sayang dengan anaknya itu. Namun tak bisa dipungkiri, tingkah anaknya itu membuatnya naik darah.
Dela memiringkan senyumnya. Ia menatap Papinya sengit. "Bukankah sudah menjadi kewajiban orangtuanya memberikan kebahagiaan untuk anaknya?" ucapnya dengan enteng.
"Jadi wajar dong Papi yang bekerja dan aku yang menikmatinya?" lanjutnya. Ia tidak memikirkan bagaimana perasaan Edi yang mendengarnya.
Edi memalingkan wajahnya. Ia menghela napas kasar. "Apa kamu tahu?! Perusahaan Papi sedang pailit. Dan kamu malah bersantai seperti ini?! Di mana akal sehatmu?!"
"Ya kalau pailit Papi cari jalannya lah. Kenapa aku pula yang harus memikirkannya?" ucapnya tanpa dosa.
Adu mulut diantara mereka semakin sengit. Beradu mulut di antara mereka tak akan menghasilkan apapun kecuali energi yang semakin terkuras.
Edi tertawa hambar. "Iya. Papi akan pikirkan itu sendiri."
Setelah berkata demikian, tanpa pamit Edi pergi ke kamar meninggalkan Dela di sana sendirian dengan hati yang ambyar. Dela hanya mengedikkan bahunya tanpa berniat minta maaf pada Edi.
🍂
"Bayaang ..."
Gea menghampiri Briel lantas bergelayut manja di lengan Briel yang kini tengah sibuk menyiapkan menu makan malam.
"Apa hm??" tanyanya lembut.
"Dede Utun pengin sesuatu."
__ADS_1
Briel mengalihkan pandangannya ke arah Gea dengan mata yang menyipit. "Ingin apa?"
Briel berusaha menjadi suami siaga yang bisa melakukan apapun untuk istri dan buah hatinya itu.
Gea menatap wajah suaminya itu dengan senyum yang merekah di wajahnya. Matanya berbinar indah, seakan menggoda Briel untuk menuruti apapun keinginan Gea.
"Apa Sayang?"
Briel menyentuh ujung hidung Gea lantaran gemas dengan sikap Gea yang manis itu.
"Nanti aja deh, setelah makan."
Gea melepaskan gelayutan manjanya lalu langsung pergi meninggalkan Briel yang saat ini kepalanya diselimuti berbagai macam dugaan.
"Astaga ... tega kamu Sayang."
Gelak tawa Gea terdengar. "Nanti aja. Bayang lanjutin aja ya masaknya aku mau membaringkan diri dulu."
Briel menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum. "Kebiasaan," gumamnya lirih.
🍂
Lucu, ekspresi wajah Briel begitu menggemaskan lantaran ketakutan kala Gea menyuruhnya untuk mengelus bulu Bubu. Badannya ia tarik kebelakang kala tangannya semakin mendekat ke arah kucing itu.
"Astaga Bayang ... Kucing ini gak akan gigit Bayang. Iya kan Bu?"
Sebuah suara "meong" terdengar kala Gea mengajak Bubu berbicara, seakan tahu apa yang Gea bicarakan. Senyum manis penuh kemenangan itu terukir jelas di wajah Gea.
"Nah kan Bubu aja mengiyakan."
Kedua mata Briel terpejam. Tangannya berusaha meraih bulu kucing itu.
"Waaaa ..." teriak Briel.
"Belum Bayaang!" ucap Gea gemas. Belum seujung jari pun menyentuh bulu Bubu, Briel sudah berteriak.
__ADS_1
"Yang lain aja ya ya ..."
Briel menampilkan wajah termelasnya, berusaha mengambil hati sang istri. Jujur, berurusan dengan kucing adalah hal yang paling mengusiknya.
Gea menggelengkan kepalanya tegas. "Tidak mau!"
Hanya satu alasan Gea melakukan ini. Ia ingin menghilangkan ketakutan Briel akan kucing sedikit demi sedikit.
Seketika wajah memelas Briel itu luntur, tergantikan dengan wajah yang menerima nasib. Gea tersenyum cerah.
Briel mengulurkan tangannya kembali, meraih bulu Bubu.
"Heyaa heyyaa ...." teriak Briel heboh. Tak ia sangka, Gea malah menggendongkan kucing itu ke tubuh Briel. Mau tak mau Briel menerima kucing itu lantas melepasnya. Kucing itu mendekat ke arah Briel, menggosok gosokkan badannya ke kaki Briel, minta dimanja. Seketika Briel membeku dengan memanggil–manggil nama Gea. Sedangkan Gea berjalan menjauh.
"Bayang balikin Bubu ke kandang sekalian ya," seru Gea sambil berlalu meninggalkan Briel.
Briel melongo melihat punggung ramping itu menjauh. Lantas ia melihat ke bawah, di mana kucing itu menatapnya.
"Aihhh kenapa dulu aku menemukanmu sih cing." Briel meratapi nasibnya bersama dengan kucing itu, untuk hal yang harus ia selesaikan; mengandangkan kucing itu.
🍂
//
Hai semua yg berkenan bisa mampir ke karya kakak online asa di bawah ini. Thanks 🤗🤗
🍂
//
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1
See you next day 🤗🤗🌟