Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Tetangga Julid 2


__ADS_3

Beginilah sekarang keadaan rumah petak itu. Ruangan yang sempit semakin sesak. Terpaksa, Dela dan Gaza menerima tamu dadakan itu. Dela berdecak dalam hati. Hari pertama pulangnya ke rumah itu jauh dari kata ekspektasi. Harusnya ia bisa beristirahat lebih tenang, namun sekarang yang ada dia semakin kelelahan. Melihat jumlah mereka yang banyak saja dia sudah lelah.


Semuanya masih terdiam. Mereka semua menatap Gea begitu teliti dan serius. Mereka menerka luka apa yang membuat Dela terlalu lama berada di rumah sakit bahkan harus pakai kursi roda. Dan yang tertangkap di manik mata mereka, tidak ada yang aneh. Bahkan prasangka mereka yang menganggap Dela "caper dan manja" masih belum terpatahkan. Tatapan mereka membuat Dela risih. Dela tersenyum canggung.


"Tidak ada yang aneh," celetuk salah satu di antara mereka.


"Huss!!" Wiwid yang kebetulan ada di sampingnya pun menabok lengannya cukup keras.


"Sakit" keluhnya. Ia mengusap lengannya yang terasa panas.


"Aneh kenapa ya Bu?" tanya Dela. Ia menatap mereka curiga. Ada yang aneh dari ulah mereka. Mereka yang mendadak mendatangi rumahnya berbondong–bondong.


"Ahhh tidak ..." jawab mereka serentak dengan senyum palsu untuk menutupi dusta mereka.


Dela tidak percaya. Ia masih menatap mereka dengan tatapan yang sama.


"Kenapa bisa begini Del? Apa yang terjadi?"


Sempurna. Ida memerankan perannya dengan epik. Ekspresi ibanya benar–benar kuat. Cukup untuk mengelabuhi mereka semua, kecuali Dela.


Dalam hati Dela tidak suka dengan suasana seperti itu. Baginya mereka terlalu banyak bertanya dan kepo dengan kehidupan orang lain.


"Hehe iya, Jeng. Kemarin aku kecelakaan, tertabrak sepeda."


Mati–matian Ida menahan tawa. Ternyata gosip yang beredar itu benar adanya. Diam–diam ia menahan napas agar tidak kelepasan.


Bruutt!


"Aduh kenapa malah kelepasan," batin Ida menjerit. "Moga saja mereka tidak mendengar," harapnya dalam hati.


Diam–diam Ida menghirup napas dalam. Ia memastikan gas beracun itu bau atau tidak. "Ah ... Untung saja wangi," gumamnya dalam hati lega.


Bisa saja Ida menahan tawanya, namun tidak dengan gas di perutnya. Menahan tawa membuat gas beracun itu meluncur begitu saja. Untung saja hanya lirih.


"Apa itu?" ucap Siti tiba–tiba.


Tebakan Ida meleset. Ternyata masih ada yang mendengar bunyi kentutnya. Siti yang kebetulan berada di belakang Ida angkat bicara. Siti mendengar bunyi aneh yang tidak asing itu namun ia masih menerka bunyi apa itu.


Semua orang reflek menoleh ke arah Siti dan Ida untuk mencari tahu apa yang terjadi.


"Ada apa Jeng?" tanya Pipit pada Siti.


Ida memejamkan matanya. Ia menjerit dalam hati. Image–nya hancur jika Siti sampai mengungkap apa yang terjadi.


"Itu a–"


"Awas kau Siti!!" ancam Ida lewat tatapan matanya yang menatap Siti tajam.


Seketika Siti menciut kala ia menoleh ke arah Ida dengan tatapan Ida yang menyeramkan. Siti menelan ludahnya susah payah. Keberadaannya terancam jika istri ketua RW itu sampai memusuhinya. Ia mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Pipit.

__ADS_1


"Itu apa?" tanya Wiwid. Bahkan bibirnya mangap–mangap untuk memicu Siti agar melanjutkan ucapannya.


"Itu ada cicak mau jatuh," jawab Siti dengan tawa palsu. Mereka mengangguk bersama, ber–oh ria dan percaya begitu saja.


Sedangkan Dela yang melihat tingkah ibu–ibu itu hanya bisa mengeluh dalam hati. "Bisa–bisanya aku hidup di antara emak–emak aneh seperti ini, Tuhan," ucap Dela dalam batinnya.


"Sudah–sudah! Malah nglantur semua!" tegur Ida. Padahal biang kerok awalnya adalah Ida.


"Kasihan tu Jeng Dela sampai cengo seperti itu," ujar Ida.


Dela tertawa canggung sekaligus geli, "Jeng, panggil aku Ida saja. Jangan pake "jeng'," pinta Dela.


Ida mengangguk. "Baiklah"


"Lalu kenapa kau tadi jalan saja sampai pake kursi roda?"


Ida mulai mengintrogasi lawan bicaranya. Sedangkan ibu–ibu yang lain hanya menyimak pembicaraan mereka berdua.


"Astaga kenapa emak–emak satu ini keponya minta ampun!" batin Dela. Ia ingin sekali menjambak rambut siapapun yang bisa dijambak.


"Tu..."


Dela hanya menunjuk ke arah kakinya yang di perban dengan perban elastis berwarna cokelat. Ia malas untuk menjelaskan ulang.


Mereka mengangguk serentak.


"Ooo ... Enak sekali ya, hanya keseleo saja sudah pakai kursi roda. Tidak perlu pakai tongkat lagi," sindir Ida keras.


"Sabar Dela, sabar" Dela mencoba menenangkan dirinya.


"Oo jelas dong Jeng, ada yang lebih canggih ya digunakan. Biar tidak katrok. Pakai tongkat itu sangat katrok."


Ida yang dahulu pernah mengalami patah kaki dan hanya menggunakan tongkat, mulai tersulut emosinya.


"Kurang ajar!" geram Ida dalam hati. Tatapan mata Ida memancarkan ketersinggungan.


"Aduh, kenapa jadi gerah sekali ya..." Wiwid mulai mengibaskan tangannya. Ia menyadari jika Dela dan juga Ida tengah beradu energi.


"Kalian kepanasan gak sih?" tanya Wiwid pada ibu–ibu yang lain. Namun mereka semua menggeleng. Mereka tidak menyadari percikan besi membara yang bergesekan.


"Gaza Ganteng, punya kipas tidak?" sindir Wiwid dengan suara cukup keras lantaran Gaza saat ini ada di dapur menyiapkan minum untuk mereka.


"Tidak, Bu! Pakai kipas alami saja!" teriak Gaza dari dapur.


"Oo ya sudah!"


Dela dan Ida memutar bola mata jengah.


"Ah anak jaman sekarang manja ya, hanya keseleo saja pakai kursi roda. Jamanku dulu semuanya mandiri."

__ADS_1


Ida masih gencar menyindir Dela. Ia masih belum puas kalau bisa ia harus membuat image Dela jatuh di hadapan ibu–ibu. Ida mengibaskan kipasnya untuk menetralisir kegerahan yang sebenarnya berasal dari dalam.


"Ya jelas. Tapi itu jamannya Jeng Ida. Jamanku sudah beda. Beda generasi, Shay."


Mendengar perkataan Dela, Ida semakin kegerahan. Dela tersenyum tipis melihat Ida yang kalah secara emosional, terlihat dari bagaimana Ida menatapnya.


"Kau kira aku tidak tau hmm?" batin Dela.


"Maaf Ibu–ibu, ini ada minum sekadarnya."


Kedatangan Gaza menghentikan adu argumen yang tidak penting itu. Dari dapur pun adu mulut halus mereka terdengar. Gaza hanya bisa memaklumi kebiasaan wanita.


"Iya ganteng, makasih loh," ujar Wiwid genit. Gaza juga menyertakan sedikit camilan untuk mereka.


Gaza merinding dengan kegenitan Wiwid. Sudah berumur masih saja menggoda nya seperti itu. Gaza tersenyum canggung.


"Silahkan dilanjut ibu–ibu," ujarnya lantas meninggalkan mereka. Ia juga ngeri berada di tengah–tengah emak–emak julid seperti mereka.


Setelah cukup lama mereka ada di sana dengan obrolan ngalor ngidul yang tidak jelas ke mana arahnya, mereka berpamitan pulang.


"Neng Dela, Gaza Ganteng ..."


Lagi–lagi Dela mendengar kata "ganteng" sebagai julukan untuk Gaza membuatnya merasa mual seketika. "Hadeh ... Mata emak–emak buta semua sepertinya," cemoohnya dalam hati. Bagi Dela masih banyak pria di luar sana yang lebih tampan.


"Kami pamit ya ... Moga Neng Dela cepat sembuh," ujar Wiwid. Sedangkan Ida hanya diam sejak ia merasa tersinggung dengan kata "katrok" yang terlontar dari bibir Dela.


"Oh iya Bu, terimakasih sudah menjenguk Dela."


Gaza mengantar mereka semua sampai teras rumah.


"Maaf ya ibu–ibu, Dela tidak bisa menyambut dan mengantar kalian langsung. Dia kesulitan berjalan. Kakinya keseleo dan dia harus beristirahat penuh. Hampir saja dia keguguran karena kecelakaan itu."


Mereka mengangguk–angguk. Misteri yang mereka cari telah terpecahkan. Mereka menatap biang dari pikiran picik mereka. Sedangkan Ida mengalihkan wajahnya menghindari tatapan mereka.


"Tapi Gaza, selama kamu di sini, kenapa baru akhir–akhir ini kita melihat Dela di sini?"


Pertanyaan Ida membuat Gaza harus berputar mencari alasan. Ia heran, kenapa Ida tidak berhenti untuk mencari celah kesalahan dirinya dan juga Dela.


"Iya. Istri saya itu dulunya di kampung. berhubung rumah kami di kampung sana kebakaran, jadi Dela ikut di sini. Surat–surat berharga milik kami juga terbakar dan kami belum sempat mengurusnya kembali," jawab Gaza yang membuat Ida diam seketika.


"Pintar juga aku berkilah," puji Gaza pada dirinya sendiri dalam hati.


Seusai itu, mereka pergi meninggalkan rumah Gaza. Dela dan juga Gaza menghela napas lega. Akhirnya mereka pergi juga dari sana.


"Ayo aku bantu ke kamar," ujar Gaza. Dela mengangguk. Gaza memapah Dela dengan hati–hati. Ringisan–ringisan kecil menghiasi sepanjang mereka berjalan.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕


__ADS_2