Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
121. Adam dicengin


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang ia memeluk erat istrinya. Tidak ada hal yang bisa menggambarkan betapa bahagianya ia saat ini. Kebahagiaan yang tak akan pernah bisa dibeli dengan uang. Dan tak akan pernah bisa ditukar dengan harta. Kali ini ia mendapatkan kado teristimewa di hidupnya.


"Terimakasih Tuhan ..." ucap Briel. Rasa syukur begitu besar dan kebahagiaan itu sangatlah membuncah. Gea tersenyum dalam dekapan Briel. Sedangkan Tere dan Frans tersenyum melihat kebahagiaan di depan mata mereka.


Bagaimana dengan Adam?


Ya Adam tersenyum bahagia melihat sahabat sekaligus bosnya itu bahagia. Bahkan buah hati tengah bertumbuh di rahim Gea.


"Ahh astagaa…. bahagianya mereka," gumam Adam dalam hati. Senyum cerah itu masih terukir jelas di wajahnya.


"Apakah kelak aku akan sebahagia itu ketika mendapatkan kabar bahagia seperti ini?" tanya Adam dalam hatinya. Ada kerinduan tersendiri tatkala ia melihat kebahagiaan Briel. Dia juga ingin merasakan apa yang Briel rasakan saat ini. Dia sudah cukup berumur. Tiga puluh tahun bukanlah usia yang muda lagi. Ia telah menjadi pria dewasa matang.


Briel menyudahi dekapannya. Ia menoleh ke arah Adam yang masih saja melihatnya sembari tersenyum tipis. Briel mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kau Dam?" tanya Briel tiba–tiba.


"Ha?!" jawab Adam gelagapan.


"Kamu kenapa senyam senyum melihat ke arah sini?" tanya Briel tepat sasaran.


"Idihh geer sekali kau!" Adam tak mau mengakuinya, walaupun ia telah tertangkap basah.


"Hilihhh sok mengelak, padahal nyatanya 😏?"


"Apaan sih? Sok tahu kau Bri!"

__ADS_1


"Karena memang aku tahulah."


"Gak salah? Bukannya tempe ya? Atau kedelai?" jawaban Adam mulai melantur.


"🙄🙄.... Terserah!" ucap Briel pada akhirnya mengalah. Berdebat dengan Adam tidak akan ada habisnya kalau salah satu di antara merekaa tak ada yang mengalah.


Tere, Frans, dan Gea hanya menggeleng ringan. Bahkan Gea tertawa kecil melihat tingkah konyol di depannya.


"Astaga kalian .… kapan kalian tak akan pernah ribut kalau bersama ha?" tanya Tere heran sembari tertawa kecil. Ia tak mengerti, di usia mereka yang bukan anak kecil lagi, masih sering berdebat layaknya anak kecil.


Briel dan Adam hanya memperlihatkan deretan gigi mereka. Mereka bagaikan anak polos yang tam mengerti apa–apa.


"Hahahaha …." Frans tertawa. "Bagaimana mungkin kalian bersikap seperti itu di usia kalian yang tak lagi muda." Frans menggelengkan kepalanya. "Bahkan yang satu saja sudah memiliki calon anak di dalam rahim istrinya," lanjutnya lagi.


"Dam, kapan kamu akan nikah?" tanya Frans kemudian sembari menatap Adam. Kini Adam juga tanggung jawabnya. Ia menyayangi Adam senagaimana ia menyayangi Briel.


"Nanti Yah kalau sudah tiba saatnya," jawab Adam. Ia tak bisa menjanjikan kapan dan dengan siapa ia akan menikah. Dia sendiri saja belum tahu. Bagaimana ia akan menjanjikannya?


"Is is is …. Nanti nanti... Nanti kapan Dam? Keburu anak Briel besar dan kami juga sudah mulai tua," omel Tere.


Adam hanya menjawab dengan senyuman saja. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan lagi.


"Emm … mungkin nanti kalau Adam sudah bertemu dengan dia, Adam akan mengenalkannya terlebih dahulu dengan Bunda. Biar gak seperti yang di sana nah," sindir Adam. Adam menunjuknya dengan lidah yang mendorong pipi bagian dalam sehingga pipi terlihat menonjol di luar.


Briel yang merasa tersindir pun membulatkan matanya. "Apaan kau Dam? Mau nyindir?" sewot Briel. Kata–kata Adam adalah sindiran keras baginya.

__ADS_1


😃😏 gak bisa berkutik kan kau Bri


Kita kira begitu kata–kata yang terbaca dari ekspresi wajah Adam. Briel hanya mendengkus kesal.


"Baiklah …. Kutunggu saat itu juga Dam. Bawa ke hadapan Ayah dan Bunda," tantang Frans.


"Bagaimana dengan Runi? Bukankah beberapa kali kamu jalan dengan Runi?" tanya Gea tepat sasaran. Gea mengetahui semuanya yang Adam lakukan dengan Runi karena Runu telah bercerita padanya.


Adam memelototkan matanya.


"Siapa dia?" ucap Adam pura–pura tak tahu. Entah mengapa nama Runi yang terdengar di telinganya membuat dia kesal seketika. Secara otomatis bayangan–bayangan tingkah Runi yang membuatnya kesal berdatangan satu persatu.


"Hilih bilang gak kenal. Nanti jangan–jangan diam diam kamu suka Dam?" ledek Briel.


"Apaan suka? Yang ada aku gedek dengannya!" sahut Adam cepat. Seketika Briel tertawa kencang. Lucu sekali ekspresi Adam menurutnya.


"Awas Dam. Gitu–gitu dia ngangenin Dam!"


Gea memberinya peringatan. Adam hanya bisa mengalah dan berdecak kesal.


Begitulah mereka. Hari itu, mereka begitu puas menjadikan Adam sebagai sasaran bagi mereka. Adam hanya bisa berpasrah dengan apa yang mereka lakukan.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaesss


Jangan lupa bahagiaa 💕💕


__ADS_2