Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
129. Antara Cinta dan Benci


__ADS_3

Di sebuah ruangan, terdapat 3 orang dewasa. Seorang dari mereka duduk membelakangi dua orang lainnya. Ia tak berniat untuk menatap lawan bicaranya sedangkan dua orang itu menunduk hormat tanpa berani mengangkat kepala mereka.


"Kenapa wanita itu tak juga mati ha?!" bentak orang itu keras. Kedua orang lainnya hanya bisa menunduk lebih dalam. Keberanian mereka menciut. Sebut saja mereka berdua Deden dan Dedi.


"Maaf Bos, dia dijaga ketat oleh banyak pihak. Kami kesulitan untuk menembus pertahanan mereka. Bahkan ketika hampir berhasil pun, mereka berhasil menggagalkan rencana kami," ucap Deden dengan hati–hati sembari menunduk.


"BODOH! Dasar tidak becus!!"


Amarahnya sudah memuncak. Ia sudah tak memiliki kesabaran untuk menunggu rencananya berhasil. Ia memejamkan matanya untuk mengurangi hawa panas di dalam tubuhnya karena amarah itu.


"Hufftt … Kalian berdua … segera selesaikan tugas kalian!" perintahnya kemudian.


"Bagaimana caranya Bos?" tanya Dedi. Ia ingin rencananya berhasil kali ini.


Seketika orang itu tertawa keras, terdengar mengglegar di telinga mereka berdua.


"Sakit tauk!" aduhnya lirih. Ia mengelus tangannya yang dicubit oleh Deden.


"Ah kau sih pakai acara tanya," ucap Dedi itu dengan menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Dedi berdecak kesal.


"Pakai otak kalian! Saya tidak mau tahu! Apapun caranya, wanita itu harus mati!"


"Ba–baik Bos!" ucap mereka berdua.


🍂


"Aku merindukan kalian."


Tiga kata itu terucap dalam benak seorang pria paruh baya. Di tangannya terdapat sebuah album foto dengan 2 lembar foto di dalamnya. Seorang pria dengan seorang wanita di sampingnya dan juga anak kecil yang imut di lembar foto lainnya.


Tanpa sadar, sebutir air bening menetes dari netranya. Tangannya mengusap air itu segera, tak membiarkan butiran air itu membasahi wajahnya terlalu lama. Ia menghela napas dalam dan menghembuskannya kasar. Ingin sekali ia bertemu mereka berdua, namun tak mungkin. Wanita yang ada di foto itu sudah tiada dan anak kecil yang kini tela dewasa tersebut telah ia hapuskan dalam kehidupannya.


"Ahh Bodoh! Kenapa aku memikirkan mereka? Anna telah meninggalkanku. Dan Gea? Dia bukan anakku lagi. Perbuatannya sungguh keji dan tidak manusiawi!"


Luka itu muncul kembali. Luka yang berubah menjadi sebuah rasa kekecewaan. Rasa cinta itu tertutup rapat oleh rasa sakit dan kecewa dari luka yang ia derita. Luka itu belum juga mengering. Ekspektasi seorang Annaya yang sempurna di matanya yang ia letakkan pada diri Gea terpatahkan karena kesalahan Gea di masa itu. Ia tak sudi lagi mengakui Gea sebagai anaknya.

__ADS_1


"Papi"


Suara sang istri membuatnya lekas menaruh album foto itu secepatnya di antara tumpukan barang tak terpakai.


"Loh Papi, kenapa malam–malam ada di gudang?" tanya Clara. Ia berjalan mendekat ke arah Edi.


"Emm … papi mencari barang papi tapi gak ketemu. Mungkin sudah dijual sama Mang Arman," kilah Edi. Tak mungkin juga ia berbicara jujur tentang apa yang ia rasakan saat ini.


Clara mengangguk ringan. Ia mengedikkan bahunya.


"Baiklah ayo kita tidur," ajak Edi.


"He'em."


Edi berjalan ke luar gudang terlebih dahulu. Sedangkan Clara berjalan mendekat ke arah di mana Edi tadi berdiri. Ia mengambil album foto itu. Tatapan matanya tertuju pada sosok anak kecil itu.


"Hemh …. Kamu pikir kamu bisa menyembunyikannya dariku? Oh tidak semudah itu!" gumam Clara. Senyum miring menghiasi wajah cantiknya walau usianya sufah tak lagi muda.


Ia melemparkan album foto itu lagi di antara tumpukan barang tak terpakai itu lagi.


🍂


Sebuah pintu apartemen itu terbuka. Davin masuk dengan mata yang sedikit terpejam. Bahkan jalannya pun sempoyongan. Ia terlalu banyak minum di malam itu.


Sesampainya di dalam kamar, ia melihat Dela tertidur pulas di bawah selimut tebal. Ia hanya menatapnya sekilas kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Pikiran–pikiran berterbangan di kepalanya kala ia melamun saat mandi. Entah apa yang dipikirkan, hanya Davin yang tahu.


"Arrghh pokoknya aku harus mendapatkannya kembali!"


Kata itu yang terlontar dari bibirnya.


"Sudah pulang Sayang?" tanya Dela dengan suara serak khas bangun tidurnya saat melihat Davin keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Ia bangkit dari tidurnya, bersender pada punggung ranjang. Tangannya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Hem …."

__ADS_1


Hanya gumaman yang tertangkap oleh telinga Dela. Dela memicingkan matanya.


"Kenapa dia? Tidak biasanya Davin seperti ini. Bahkan wajahnya saja terlihat bad mood," gumannya dalam hati.


"Sini aku keringkan rambutmu," tawar Dela.


Tanpa basa basi, Davin duduk di bawah dengan bersandar pada ranjang, sedangkan Dela duduk di tepi ranjang.


Dela mulai mengacak–acak ringan rambut Davin. Perlahan rambut Davin mulai mengering. Davin hanya menatap lurus tanpa mau membuka suara.


"Kamu kenapa sih Sayang? Kenapa dari tadi hanya diam?" tanya Dela. Ia merasa Davin yang sekarang begitu dingin. Tak sehangat dahulu.


"Gak."


Hanya jawaban singkat itu yang terucap dari bibir Davin. Ia tak berniat untuk berbicara dengan Dela.


Dela berdecak kesal. Ia tak suka diabaikan begitu saja oleh Davin atau siapapun itu. Dela mulai meletakkan kepalanya di ceruk leher Davin.


"Sayang, aku kangen …." ujar Dela manja. Sudah lama ia tak melakukan olahraga malam yang syahdu dengan Davin. Banyak sekali alasan yang sering Davin lontarkan akhir–akhir ini ketika ia meminta hak dan juga kewajibananya sebagai seorang istri.


Davin berdecak malas. Ia bangkit berdiri. "Dah lah aku mau tidur! Aku capek. Besok saja ya," ucap Davin.


Davin naik ke atas ranjang lalu membaringkan diri untuk memejamkan matanya. Dela yang diabaikan hanya bisa ngedumel kesal.


"Dasar laki–laki tidak pengertian!" omelnya lirih.


Dela menarik selimutnya kembali. Ia mencari posisi ternyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sedangkan Davin mengabaikan omelan Dela walaupun ia mendengar jelas ucapan Dela.


🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2