Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
154. Pillow Talk 2


__ADS_3

Lagi–lagi mereka mengucapkan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan. Rupanya mereka ingin menyampaikan hal yang telah mengganggu pikiran mereka. Lebih tepatnya bukan mengganggu, namun ingin sekali mereka mengetahui jawaban dari pasangan.


"Mau bicara apa, hem?" tanya Briel lembut, bahkan sangat lembut.


Gea terdiam. Ia masih menatap Briel. Dalam tatapannya itu tersirat suatu kata yang berisikan pertanyaan yang Briel tangkap dari manik mata itu. Briel menunggu Gea dengan kesabaran yang ia punya dan tak akan ada habisnya untuk Gea.


Gea menundukkan tatapannya. Ia menghela napas panjang, terdengar begitu berat.


"Bang, gimana caranya aku mempertemukan mereka, sedangkan Abang tahu sendiri bagaimana hubunganku dengan Papa?" tanya Gea.


Pertanyaan dari Frans tadi rupanya menjadi beban pikir Gea hingga sampai saat ini. Setelah ia pikirkan kembali, benar adanya apa yang Frans ucapkan. Namun ia tak tahu harus bagaimana. Pasalnya terakhir kali datang ke rumah itu, ia diusir kembali untuk yang kedua kalinya, bahkan dengan cara yang lebih kasar. Siapapun orang itu, sedikit banyak pasti akan sakit hati jika diperlakukan seperti itu.


Briel menghela napas panjang. Ia mengulas sedikit senyum untuk menenangkan hati Gea.


"Geyang ..." Briel mengangkat tangannya, membelai lembut pipi Gea dengan segenap rasa. "Tak usah kamu pikirkan. Ayah dan Bunda juga tak menuntutmu untuk mempertemukan mereka dengan keluargamu," lanjutnya Briel. Ia berusaha memberikan penjelasan yang menenangkan agar tak menjadi beban pikir Gea.


"Tapi–" Gea ingin mengangkat bicara. Namun satu telunjuk Briel berada tepat di bibirnya.


"Suutt ... Tak usah kamu pikirkan. Mereka pasti mengerti kamu, Geyang. Nanti biar aku yang berbicara dengan mereka."


Briel tersenyum hangat, mencoba menyalurkan kelegaan dalam diri Gea. Dan benar saja. Gea pun membalas senyum Briel dan mengangguk mengiyakan. Bahkan Gea memeluk Briel dalam posisi yang masih berbaring.


"Astaga manisnya istriku," gumam Briel yang membalas pelukan Gea.

__ADS_1


Cukup lama mereka saling mencurahkan isi hati mereka masing–masing dalam dekapan hangat menenangkan itu. Hingga akhirnya Gea melepaskan dekapannya dan kembali menatap suaminya itu.


"Bayang mau bicara apa?" tanya Gea kemudian. Ia penasaran akan hal apa yang Briel bicarakan dengannya.


"Selama beberapa hari kamu menghilang, kamu ke mana saja?" tanya Briel dengan wajah yang sendu. Bahkan ingatannya mengingat bagaimana ia tak sengaja mengkhianati pernikahan mereka. Rasa bersalah itu membuncah kembali.


"Ohh itu ... Aku berada di apartemen Adam," dengan enteng Gea menjawab pertanyaan Briel.


"Ha? Kenapa harus di sana? Kamu berduaan dengan Adam?" jawab Briel gusar. Fakta itu tak bisa ia terima begitu saja. Sebab nyatanya selama itu Gea bersama dengan Adam.


Bukannya takut, Gea malah tertawa renyah. Ekspresi Briel teramat lucu di matanya.


"Kenapa tertawa?" tanya Briel. Ia menatap Gea heran.


"Astaga jahilnya istriku," ucap Briel sembari mencubit gemas hidung bangir Gea. "Ck tapi tetap saja kamu berduaan dengan Adam!" ucap Briel kesal.


"Hahahaha ... Astaga Bayang, mana ada? Adam memilih untuk keluar dari apartemen. Sedangkan aku di apartemen Adam dengan Runi," jujur Gea. Senyum kemenangan terlihat jelaas di wajah Briel. Gea menggelengkan kepalanya pelan sembari tertawa geli.


"Tapi kenapa aku tak bisa menemukanmu? Bahkan Adam tak bilang apapun padaku," tanya Briel kemudian. Seingatnya Adam tak memberitahunya apapun.


"Memang aku yang meminta Adam agar tak memberitahumu, begitu pula dengan Kak Bima dan Kak Hendri," ucap Gea. Deretan gigi putih itu diperlihatkan secara gamblang kepada Briel.


Briel mengaga lebar. Rupannya itu semua adalah rencana istrinya. Pantas saja ia tak bisa menemukan Gea kala ia mencari Gea kepada mereka.

__ADS_1


"Tega sekali kamu Geyang," ucap Briel dengan wajah memelas.


"Bodo amat. Bayang juga tega berduaan dengan wanita lain di dalam ruangan Bayang," ucap Gea berpura–pura marah. Ia tak sepenuhnya cemburu. Namun ia hanya ingin mengusili Briel.


"Maaf Geyang. Abang tak tahu jika akhirnya begitu." Tulus, Briel meminta maaf. Ia benar–benar merasa bersalah akan hal itu. Ia mengingat wajah Gea sewaktu melihat Gea yang pergi begitu saja.


"Termaafkan. Tapi maaf, sebenarnya waktu itu hanya akting saja Bayang." Lagi–lagi Gea membuat Briel menganga lebar lagi. Dan kali ini dengan sedikit rasa kesal yang bersarang di hati Briel.


"Hemm aku sebenarnya merasa ada yang janggal dengan yang terjadi saat itu. Karena setelah melihat wajah Ayu lagi, aku baru mengingat kalau aku pernah melihat foto dia di dashboard mobil Davin. Dan seketika itu pula aku merasa ada yang tidak beres," jelas Gea. Briel masih mendengarkan dengan saksama tanpa berniat memotong ucapan Gea.


Gea kembali melanjutkan ucapannya. "Dan waktu itu, untuk meyakinkan bahwa aku benar–benar terjebak, aku berakting seolah–olah aku sakit hati denganmu agar mereka merasa di tingginya awan. Dan beberapa hari setelah itu, aku mendengar bahwa ada permasalahan di perusahaanmu dan itu adalah ulah Davin. Dari situ aku meminta Kak Bima untuk menyelidiki keluarga mereka. Dan benar saja. Rahasia keluarga mereka teramat menjijikan dan tak manusiawi."


Gea menghela napas panjang. Ia heran saja. Kenapa ada kesepakatan pernikahan semacam itu, yang menodai janji suci yang telah mereka ikrarkan.


"Sejujurnya Adam tak mau. Namun aku memaksanya dan memberitahunya akan rencana yang ingin kulakukan hingga ia menyetujuinya."


Gea melemparkan senyum kepada Briel. Briel mengucap syukur. Ia sangat lega mendengar penjelasan Gea selama ini berada di mana. Untuk apa yang terjadi di antaranya dengan Ayu, biarlah itu menjadi rahasia yang ia simpan sendiri.


🍂


//


Happy reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2