
Hari telah berganti. Gea dan juga Briel telah memikirkan matang–matang perihal mendatangi rumah yang Dela tempati. Briel menyisihkan waktunya hanya untuk menemani Gea. Ia juga khawatir jika membiarkan Gea pergi dengan Samsul saja.
"Sebentar Sayang. Aku mandi dulu, gerah," ucap Briel. Ia meletakan tas kerjanya terlebih dahulu. Walaupun bekerja hanya 1 jam, namun tetap saja. Cuaca yang panas membuatnya gerah.
"Iya. Jangan lama–lama, keburu sore. Kalau bisa jangan sampai malam, kita sudah sampai rumah lagi," ujar Gea mengingatkan. Ia tidak tega membiarkan duo kembar ditinggal lama sendirian, meski ia tahu, mereka bersama dengan Minah dan Dini. Bahkan Tere juga mengawasi mereka.
"Iya Sayang," ujar Briel sembari berlalu menuju ke kamar mandi.
Sembari menunggu Briel selesai, ia memompa ASI yang cukup untuk persediaan duo kembar. Ia tidak akan membiarkan kedua anaknya kelaparan.
🍂
"Kamu yakin ingin pergi bersama ke sana?" tanya Briel sekali lagi. Menemui Dela itu membutuhkan tenaga dan kesiapan mental. Tidak siap sedikit saja bisa kena mental. Ia tidak ingin Gea bersedih kembali karena hal ini.
"Iya yakin. Ayo jalan," ujar Gea. Pada akhirnya Briel mengemudikan mobilnya menembus padatnya jalan raya yang pada dan juga panas lantaran kemacetan yang terjadi di tengah ibu kota.
Beberapa jam mereka menempuh perjalanan. Gea mengamati peta digital yang sudah ia buka.
"Gang depan belok kiri," ujar Gea menunjuk.
"Oke."
Tidak jauh dari sana, ada gang masuk ke kiri. Namun ternyata Briel terlalu jauh. Gang itu terlewati.
"Eh eh eh ... Kejauhan Bayang. Mundur sedikit. Nanti gang belakang itu belok." Gea memberikan arah. Meski dia perempuan, namun ia cukup ahli membaca maps. Seringnya berpergian sendiri saat masih melajang, menguntungkannya untuk satu langkah lebih maju dibandingkan wanita lainnya.
Briel memutar setir. Ia memutar arah untuk kembali ke jalan yang dituju.
"Ini bukan?" Briel menunjuk gang itu. Kepalanya menengok nengok ke samping, memastikan gang itu gang yang benar atau bukan.
"Iya, itu Bayang," ujar Gea membenarkan.
Semakin masuk, Gea dan Briel dipanikan dengan keadaan jalan yang semakin menyempit. Mereka kebingungan mencari tempat untuk memarkirkan mobil mereka.
"Coba tanya saja ke rumah sekitar Bayang," ujar Gea. Ia mencari keberadaan warga sekitar yang ada di depan rumah.
Briel menghentikan mobilnya kala melihat seorang bapak–bapak bersarung dengan mengenakan peci di kepalanya. Ia turun dari mobilnya untuk bertanya pada bapak itu. Begitupun juga dengan Gea yang ikut turun.
"Selamat siang, Pak."
"Iya ... Ada apa ya?" tanya bapak itu kebingungan. Ia menatap ke arah Briel. Pakaian Briel terlalu mencolok untum warga kampung. Terlalu mahal untuk dibeli warga itu. Ia juga melihat ke arah mobil Briel. Kata pertama adalah mewah. Paling mewah mobil di kampung itu adalah avanze. Pemilik mobil itu sudah orang kaya di kampung itu.
"Mau tanya Pak. Alamat rumah ini di mana ya?" Briel menunjukan selembar kertas yang tertera alamat rumah itu.
__ADS_1
"Oooo ... Masnya tinggal lurus ke depan. Nanti kalau ada pertigaan, belok ke kiri. Terus, Mas, sampai rumah paling ujung. Nanti rumah kiri jalan ada pohon mangga di halaman depan. Nah itu rumahnya," ujarnya menjelaskan pada Briel dan juga Gea.
Gea dan Briel mengangguk mengerti. Rumah yang mereka cari tidak begitu sulit untuk ia temukan. Jika benar–benae mereka mencari pasti akan ketemu cepat tanpa tersesat.
"Terima kasih, Pak."
"Iya sama sama. Mobilnya diparkir di rumah saya saja. Mobilnya tidak akan bisa masuk ke dalam. Gangnya terlalu sempit," tawar orang itu.
Dengan antusias, Briel mengangguk. Ia juga mengajak bapak itu masuk ke dalam mobil untuk menunjukan arah jalannya.
"Kalian ini siapa ya?" tanyanya pada Briel dan juga Gea. Ia duduk di depan, di samping Briel.
"Saya kerabat dari pemilik rumah, Pak. Kalau boleh tau, dengan bapak siapa?" tanya Briel.
"Saya Wigati, ketua RW di sini. Warga biasanya memanggil saya Gati."
Gati memperkenalkan diri. Gea dan Briel diuntungkan dengan bertemunya mereka dengan Gati. Mereka langsung diarahkan oleh orang yang tepat. Mereka sampai sana tepat ketika orang yang beribadah sholat jumat telah selesai.
"Kanan, Mas," ucapnya. Briel berbelok ke kanan. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah Gati yang cukup luas. Ternyata dari sekian banyak warga, Gati adalah keluarga yang berkecukupan. Ada garasi mobil yang tertutup.
"Mau saya antar?" ucap Gati menawarkan.
"Tidak usah, Pak. Bapak silahkan melanjutkan aktivitasnya. Saya dan istri saya bisa mencari mereka sendirian," tolak Gaza sopan. Ia memang membutuhkan penunjuk jalan, namun ia juga tidak ingin menghambat aktivitas orang lain.
"Kami permisi, Pak," pamit Gaza.
"Iya iya silahkan."
🍂
Berjalan dan terus berjalan. Mereka berdua mencari gang yang dimaksud Gati, mencari rumah yang tertera di alamat itu.
Hingga sampailah mereka di tempat yang dituju. Sebuah rumah sederhana berpagar tembok rendah dengan pohon mangga di depan rumah. Tapi mereka tidak melihat adanya tanda–tanda kehidupan di sana.
"Apa kita ke sana aja langsung ya Bayang?" tanya Gea.
"Jangan, Sayang. Kita lihat dulu suasana di sini bagaimana. Nanti balau benar–benar aman, baru kita masuk."
Briel ingin memastikan keamanan dan keselamatan Gea lebih dulu. Berada di lingkungan baru sangatlah rentan. Ia harus mengenali lingkungan itu sebentar.
Tidak lama kemudian, ada sebuah motor berhenti tepat di samping mereka. Ia menegur Gea dan Briel.
"Ada perlu apa kalian ke sini?" tanya Gaza tanpa basa basi. Ia melepas helmnya. Seketika Gea berteriak.
__ADS_1
"Saya yang tanya. Ada apa Anda ke sini?!"
Gea menatap Gaza dengan tatapan nyalang. Seingatnya Gaza itu adalah anak buah Davin yang sempat bertemu dengan Gea. Dengan kejahatan yang sudah Davin lakukan, kecurigaan Gea begitu besar. Apa lagi Gaza mendatangi rumah yang sama. Ia khawatir jika Gaza akan mencelakakan Dela.
Briel yang tidak mengerti apa–apa menyimak dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa ini? Apakah kalian saling mengenal?" tanya Briel. Ia menatap Gaza dan Gea bergantian. Gea tidak menceritakan apapun perihal Gaza.
🍂
"Wihhh ... Mobil siapa ini terparkir di sini?" ujar Ida. Ia kagum dengan kemewahan mobil itu yang secara nyata baru bisa ia lihat. Ia hanya bisa menghayal lewat majalah yang sering ia baca.
"Pak ...Pak ..." panggil Ida pada sang suami dengan tatapan mata yang tidak lepas dari mobil itu.
"Apa Buk?"
"Itu ... Itu ... Mobil siapa? Mobil baru kita ya?" ujar Ida antusias.
Gati mengibaskan tangannya di depan wajah Ida. "Tidak usah menghayal. Sudah siapkan makan siang untukku. Aku lapar." Gati malas menjelaskan pada Ida apa uang sebenarnya terjadi.
Ida hanya cemberut, menekuk wajahnya. "Ck kukira punya kita!" Ida menghentakan kakinya di awal ia melangkah lantas pergi ke dapur.
"Bangun dulu, Buk!" teriak Gati pada istrinya yang sudah berjalan ke dapur.
"Ah ... Sepertinya nanti aku harus foto di depan mobil itu. Mayan untuk pamer dengan ibu–ibu lainnya."
Ida tertawa kecil. Ia ingin memanfaatkan apa yang ada di depan mata. Belum tentu ada kesempatan yang datang dua kali. Aji mumpung menjadi pilihannya.
🍂
Hai semua
Jangan lupa mampir di nopel barunya kakak online Asa 🤗
Silahkan dimampirin. Ceritanya seru loh 🤗
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1