
Di dalam penjara bawah tanah, kini meringkuhlah tubuh dengan luka lebam di sebagian tubuhnya. Matanya masih terpejam, kesadarannya belum kunjung kembali.
"Aakhh"
Kepala itu sedikit bergerak. Mulutnya mengaduh kesakitan. Tangannya meraba di bagian tengkuk yang masih terasa sakit seusai pukulan keras itu menghantam dirinya.
Ia mulai bergerak menggerakkan tubuhnya untuk bangun.
"Aakhh..." rintihnya lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya kala tubuhnya itu mulai tertopang oleh kedua tangan yang berusaha keras mengangkat tubuhnya sendiri.
Perlahan, ia mulai merangkak, meraih dinding untuk ia jadikan sebagai penyangga tubuhnya yang lemah itu. Napasnya tersengal–sengal, rasanya berat hanya untuk sekadar bernapas lega.
Kepalanya ia dongakan ke atas sembari bersandar di dinding itu. Matanya kembali terpejam dengan deru napas yang terdengar kasar. Ia terduduk dengan kaki berselanjar. Cukup lama ia duduk terdiam sembari menikmati rasa sakit yang lama kelamaan menjadi rasa yang biasa.
Disela tangis yang kian menjadi, Dini berucap. Ia membelai lembut wajah mungil dengan mata terpejam yang ada di gendongannya.
Tiba tiba sebuah senyuman terselip di tengah air mata yang terus membanjiri pipinya.
"Rio Sayang, kamu ikut Ibu ya. Nanti kamu akan Ibu bawa ke tempat yaaaaang bagus. Tidak perlu ada Nino ya. Sendiri itu lebih puas. Kamu tidak perlu berbagi lagi dengan Nino. Berbagi itu tidak enak kan? Kamu akan lebih puas jika menikmatinya sendirian," ujar Dini lembut, mengayomi, kemudian tertawa seusainya, seraya terus menimang Rio agar Rio tidak terusik sedikitpun.
Dini sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Kini ia seperti orang gila yang kehilangan akal, seperti peziarah yang kehilangan arah.
"Uluh uluh... Sebentar ya Sayang. Ibu ambilkan obat tidur. Kamu kan sering terganggu tidurnya. Ibu tidak mau kamu terbangun tiba–tiba terus menangis kencang. Menangis lama pun juga bisa membuatmy sakit. Akan Ibu bantu yaa biar tidurmu semakin nyenyak," ujarnya lembut.
Dini melepas Rio dari gendongannya lantas membaringkannya kembali ke atas kasur bayi. Ia mengambil sebuah jarum suntik berisi cairan obat tidur. Ia mulai menyuntikan cairan itu ke dalam tubuh Rio.
Rio menangis tersedu lantaran terkejut dengan benda yang tiba–tiba menusuk dagingnya. Dini membungkam mulut Rio agar tangisnya tidak terdengar dari luar. Tak ada belas kasihan sedikitpun. Bahkan rontaan Rio tak ia hiraukan. Ia hanya bertindak seakan–akan Rio minta ditidurkan seperti biasa.
Setelah beberapa saat, Rio kembali terdiam. Rupanya bocah itu telah tertidur pulas. Dini tersenyum gila.
"Wah pinter. Sudah tidur ya. Ibu bawa dengan kasur empuk ya," ucap Dini dengan senyuman gila.
Kasur empuk yang Dini maksud adalah kasur yang terbuat dari tumpukan baju yang ia masukan ke dalam koper. Dengan teganya, Dini memasukkan tubuh mungil itu ke dalam tas besarnya itu. Setelah semuanya selesai, Dini keluar dari kamar itu, membawa tas jinjing besarnya itu.
"Dini," panggil Minah yang kini menghampiri Dini dengan wajah dan perasaan iba. Beberapa waktu mereka bersama, membuat Minah menganggap kedekatan mereka layaknya seorang kakak beradik.
Minah merangkul tubuh Dini. Cukup erat.
"Siallan!! Kenapa kau harus muncul?!" gerutu Dini dalam batinnya. Matanya terpejam menahan rasa kesal yang mulai menguasai dirinya itu. Sebisa mungkin ia menormalisasi wajahnya agar tidak memperlihatkan raut wajah yang mencurigakan.
Air mata palsu terpaksa ia keluarkan. Jurus jitu untuk meyakinkan seseorang. Ia tidak lagi menggubris apa yang Minah katakan. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana Rio. Ia berharap agar tidak ada pergerakan sedikitpun dari dalam tasnya itu.
__ADS_1
Sedangkan di dalam tas itu, Rio tidak bergerak sedikitpun. Obat yang Dini gunakan sangatlah manjur. Rio tertidur tanpa terusik. Itulah hidup namun tak hidup.
Pintasan memori berputar kembali. Tanpa sadar tangannya terkepal lantas memukul dinding di belakangnya beberapa kali untuk meluapkan rasa sakitnya yang lain. Buliran air mata mulai mengalir pelan di sudut matanya.
"Kalian benar–benar sangat kejam. Tidak bisakah kalian berbaik hati padaku? Kini bocah mungil ini juga harus direnggut dari padaku. Di mana keadilanmu Tuhan?!" Dini meraung keras. suaranya menggema di setiap sudut ruangan itu.
Antara penyesalan dan merasa diri sebagai korban tanpa menyadari sebuah kesalahan, beradu menjadi satu, membentuk sebuah kalimat penyalahan pada hal yang sebenarnya adalah kesalahannya sendiri.
🍂
Di jalan dengan penerangan jalan yang remang, mobil–mobil yang bersama dengan Briel melaju kencang. Mereka mengemudi tanpa arah yang jelas sembari menunggu informasi yang Bima dan Nathan dapatkan.
Sedangkan kini Bima tengah sibuk dengan sebuah komputer yang bisa ia bawa kemana–mana untuk mengulik informasi tentang di mana keberadaan Rio yang kini harus ia dapatkan. Ia mengabaikan Adam dan Hendri yang sibuk mengganti ban mobil.
"Ck! Sudah belum?!" tanya Bima tidak sabaran.
"Ck! Belum lah!" sahut Adam sambil berdecak kesal.
"Lama!"
"Lama–lama... Bantu saja tidak, komplain saja kau!" gerutu Adam. Adam dan Hendri memang bisa mengganti ban mobil sendiri. Namun kemampuannya tidak selincah montir mobil profesional.
"Lihat ini! Pekerjaanku lebih penting dari pada mengganti ban mobil seperti kalian!" Bima menunjuk monitor komputernya dengan angkuh. Yeah walau memang apa yang Bima katakan memang benar adanya.
Adam mendengkus kesal. Bagaimanapun Briel akan mengamuk padanya. Sedangkan Hendri terus melanjutkan aktivitasnya tanpa memperdulikan perdebatan bocah yang membuat telinganya menjadi kebal.
Bima mengamati mobilnya dengan wajah serius. Matanya mengamati setiap inci layar untuk meneliti satu persatu objek agar tidak tertinggal sedikitpun. Hingga ia menemukan sebuah titik merah tempat di mana Rio berada. Namun titik itu berada di tempat yang tidak diketahui. Seketika Bima membeliakan matanya, menatap layar komputernya lebih fokus lagi.
Ia mulai memperbesar letak wilayah itu.
"Dapat!" ujar Bima seperti mendapat bulan runtuh.
"Sudah belum?!" teriaknya kembali.
"Sudah! Sewot sekali kau!" sungut Adam.
"Ayo cepat, kita bergegas!"
Adam dan Hendri mengangguk bersamaan. Mereka masuk ke dalam mobil.
Bima menyalakan alat komunikasi kecil yang terpasang di telinganya. Ia menyambungkannya kepada Briel.
__ADS_1
"Empat puluh kilo meter ke arah barat dari posisimu sekarang. Letaknya 120 derajat ke arah timur dari perkebunan tak terawat kira–kira 3 kilo meter."
Hendri yang mendengar perkataan Bima pun mengemudikan mobil ke lokasi itu secepat mungkin.
🍂
"Semuanya, ke sana sekarang!" titah Briel yang di dengar oleh seluruh anak buahnya. Mereka memutar arah lantas melajukan mobilnya lebih kencang.
Sedangkan dengan harap–harap cemas, Gea duduk di samping kemudi. Ia berusaha setenang mungkin.
Tiba–tiba dering telepon berbunyi. Tanpa menunggu izin dari Briel, Gea menggeser ikon telepon berwarna hijau. Tak lupa Gea me–loud speaker panggilan itu.
"Iya Yah?"
🍂
"Hati–hati dengannya saat ini. Ayah belum bisa memastikan siapa orang di balik ini semua. Saling menjaga satu sama lain. Satu lagi. Larz akan segera mengirimkan lokasi pada kalian. Kalian akan kesulitan menemukan lokasinya tanpa arah yang jelas," tutur Frans.
Frans hanya bisa membantu anak–anaknya itu dari jarak jauh. Keadaannya saat ini tidak memungkinkan untuk terjun secara langsung. Kakinya belum cukup kuat untuk menendang, menahan tendangan dan berlari. Akan sangat menyulitkan baik orang lain maupun dirinya sendiri. Alih–alih menyelamatkan, bisa jadi ia malah jadi beban.
Belum selesai panggilan itu terputus, notifikasi pesan masuk terdengar. Tidak hanya di gawai Briel, namun di gawai anak buahnya juga. Rupanya itu yang Frans maksud.
"Terima kasih Ayah," ucap Briel.
Tanpa basa basi lagi, Briel menutup sambungan itu. Ia kembali fokus pada tujuan awalnya.
Frans meletakan gawainya kembali ke atas nakas. Di ruangan itu, sejumlah anak buah Frans berdiri tegap menunggu sebuah titah.
"Ke ruang tahanan!"
Frans berjalan mendahului mereka semua ke tempat di mana Minah harus berdiam. Wibawa Frans masih menguar tajam tak termakan usia.
🍂
"Sebentar lagi, I'll be the winner!" ucap Mrs. L dengan segelas wine di tangannya. Ia sangat yakin jika saat ini, dialah sang pemegang kendali.
🍂
//
Happy reading gaes
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕