Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Dunia Kembali


__ADS_3

Kini Gea terbaring dengan Briel yang masih tertidur di sampingnya. Sedangkan Tere kali ini telah berjalan mengitari ranjang itu dan memilih duduk di sofa. Ingin sekali ia membangunkan Briel, namun Gea tidak mengijinkannya.


"Astaga Tuhan ... Dulu aku ngidam apa ya sampai–sampai anakku tidur kayak kebo, susah dibangunin!" gerutu Tere. Tangannya sibuk menyelipkan rambutnya yang tergerai ke belakang telinganya.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa dokter yang menangani Gea. Ia datang dengan Frans yang juga bersamanya. Tere segera berdiri kala melihat sang dokter masuk ke dalam ruangan.


Gea tersenyum sendu. "Selamat pagi, Dok."


Di tengah–tengah mereka saling sapa, kini Briel tengah menggerakkan kepalanya ringan. Matanya yang semula terpejam, perlahan terbuka. Betapa terkejutnya ia melihat wajah Gea dari samping dengan mata yang terbuka dengan senyum yang mengembang di bibir pucat itu.


Briel terperanjat hingga ia terjatuh dari ranjang.


"Aaww" rintih Briel menahan sakit. Tere dan Frans tak kuasa menahan tawa. Dokter itu berusaha keras menahan tawa. Sedangkan Gea turut merintih melihat wajah Briel yang kesakitan.


"Rasakan itu Bri." Bukannya kasihan, Tere malah tertawa lebar melihat anaknya terjatuh.


"Astaga Bunda... Anaknya kesakitan loh. Malah ditertawakan."


Briel berdecak kesal. Tidak ada rasa iba sedikitpun dalam benak Tere.


Dokter itu hanya menggeleng melihat tingkah absurd keluarga pasiennya. Segera, Dokter itu memeriksa kondisi Gea. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Gea hanya perlu istirahat sejenak karena kondisinya masih lemah pasca koma.


"Semuanya baik–baik saja. Namun masih perlu waktu untuk bisa bergerak seperti biasa. Tertidur beberapa waktu membuat otot–otot melemah." Dokter memberikan penjelasan.


"Dan untuk Tuan Briel, mohon maaf Tuan, ranjang rumah sakit hanya boleh ditiduri oleh satu pasien. Tidak boleh untuk berdua Tuan."


Sesopan mungkin si dokter itu memberikan pengertian untuk Briel. Briel hanya cengengesan menahan malu.


"Hehehe maaf Dok khilaf– aaakkh"


"Khilaf khilaf katamu! Tidak kasihan apa dengan istrimu yang kesempitan. Sadar diri, badan kamu tu raksasa!"


Tere menjewer daun telinga Briel, tanpa ampun. Briel meringis menahan rasa panas yang menjalar di telinganya itu. Jeweran mamak mamak nyatanya lebih dahsyat dari pukulan kepalan tangan. Tidak hanya itu. Bonusnya adalah rasa malu. Orang sedewasa Briel masih dijewer oleh ibunya sendiri.


"Baiklah, sarapan untuk pasien akan segera dihantar. Saya pamit. Masih ada pasien yang harus saya periksa."


🍂


"Sudah dari kapan kamu terbangun, Sayang?" tanya Briel sedikit kesal. Pasalnya dialah yang menunggu Gea sepanjang malam namun dialah orang terakhir yang mengetahui jika Gea telah tersadar.


"Sejak semalam mungkin," ucap Gea lantas melahap suapan dari tangan Briel.


Briel menghela napas. "Astagaa ... Kenapa kamu tidak membangunkanku, Yank?"


Di saat istrinya tersadar, dirinya malah tidak menyadari. Hal itu cukup dia sesali.


"Aku tidak tega, Bayang. Andai aku membangunkanmu mungkin kamu tidak akan bisa tidur senyenyak itu," jelas Gea.

__ADS_1


Gea tersenyum. Ia berusaha menenangkan hati Briel, bahwa dia tidak papa. Tidak masalah baginya. Lagi pula melihat wajah Briel kala tertidur membuatnya candu. Dan entah mengapa, semalam, Gea ingin menatap Briel lebih lama. Mungkin terbilang lebai namun itulah yang Gea rasakan. Hal itu pula akan menjadi rahasia pribadinya. Atau jika sampai terbingkar, Briel akan menjadi manusia menyebalkan yang akan selalu menggunakan kartu AS itu untuk meledeknya.


"Ehem ..."


Tiba–tiba saja pintu terbuka. Muncullah 2 insan secara bersamaan.


"Ck kenapa kalian datang ke sini?" ucap Briel kesal. Sungguh ia ingin sendiri saja, tanpa kehadiran orang lain di sana.


"Bun, Yah, Om," sapa Adam pada ketiga orang tua di sana. Tidak lama setelah Frana dan Tere datang, Edi telah menyusul ke rumah sakit. Adam mencium tangan mereka. Begitupun juga dengan Runi.


"Ini nih ini ... Sahabatnya nengok malah diomelin. Harusnya kamu tuh bersyukur punya sahabat yang ada di situasi apapun. Ini malah mengeluh. Dasar gelo!"


Adam mulai meluncurkan kalimat panjang lebar. Ia juga kesal lantaran niat baiknya tidak diiterima.


Runi mencebikkan bibirnya. Ia bergumam dalam hati, "Widihh orang gelo teriak gelo. Tidak sadar diri sekali."


Sebisa mungkin Runi menahan tawanya atau bisa saja ia kena pecat oleh Briel.


"Aihh baiklah, sepertinya ini berganti dengan generasi yang lebih muda. Ada baiknya uang tua menyingkir mencari sarapan. Ayo, Bun, Besan." Frans menyela pembicaraan. Ia ingin memberikan ruang untuk mereka bercebgkerama. Lagi pula perut mereka sudah berbunyi meminta diisi kembali.


"Iya Yah," sahut Briel.


"Mau apa kalian ke sini?" tanya Briel sekali lagi setelah kedua orang tua dan mertunya tidak lagi di ruangan itu.


"Ya jenguklah. Memangnya mau apa? Masak iya mau ngapelin dirimu! Ihh najis!"


Briel melempar koran yang ada di dekatnya itu kencang ke arah Adam. "Lemes amat mulutmu!"


"Ya bener kan tapi?" Adam mencari pembelaan. Memang benar. Apa yang ia ucapkan tidak ada yang salah.


"Enggak!"


"Hmm ya ya ya ya ya ... Anggap saja begitu." Adam duduk di sofa yang ada di sana.


"Kalau tidak punya keperluan, mending kamu pergi saja. Sana jalan–jalan berdua kek atau apa. Mengganggu saja."


Seniat itu Briel mengusir Adam dan Runi. Kehadiran mereka yang tidak diundang mengganggu momen berduaan mereka.


"Hmm iya deh yang baru melepas rindu," celetuk Adam. Gea tersenyum mendengar perkataan Adam.


"Nah tu tau," ucap Briel membenarkan.


"Emmm... jalan–jalan sama siapa Bos?" Runi menyahut. Briel menggerakkan dagunya untuk menujuk di mana Adam duduk.


"Hah? Dia?? Yang benar saja Bos. Yang ada aku bisa dijadikan tumbal pesugihan."


Runi enggan bahkan tidak mau jalan berdua dengan Adam. Adam terlalu menyebalkan sebagai pria. Apapun yang ia lakukan selalu memiliki cela untuk Adam komentari.

__ADS_1


"Ya kenapa memangnya? Bukankah selama ini kalian kemana mana juga berdua?" ucap Briel.


Runi tertawa cukup keras. Seisi ruangan itu hanya terisi oleh suara tawa Runi. Dengan sengaja, Adam memasukkan potongan kue kering ke dalam mulut Runi yang membuat Runi tersedak seketika.


"Uhuk uhukk ... Kau ingin membunuhku?!" Runi memegangi dadanya yang terasa cukup sakit karena ulah Adam.


"Kalau bisa pon... Mulutmu terlalu terbuka lebar. Napasmu bau," ledek Adam. Runi membulatkan matanya, rahangnya terbuka.


Sekuat tenaga Runi menginjak kaki Adam dengan kakinya. Sungguh jika bisa ia pites mungkin dia sudah melipatnya dan meremasnya menjadi kecil–kecil.


"Nah lihat sendiri Bos. Bisa–bisa aku mati sebelum waktunya jika terlalu lama bersama dengan dia." Rasa bencinya pada spesias di sampingnya itu sudah mendarah daging sampai ke akar akarnya.


"Heleh sok menjadi korban. Aku juga tidak sudi. Bersama denganmu itu hanya akan membuatku tersiksa. Merepotkan!"


Runi berdecak sebal. Merepotkan bagaimananya, padahal dialah yang harus selalu menuruti apa kata Adam lantaran tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan mereka selalu bersama.


"Lihatlah Bos, betapa menyebalkannya dirinya. Kalau tidak kepepet pun aku tidak mau."


"Aku lebih tidak mau. Ingat itu!"


Runi memutar bola matanya malas. Sedangkan Briel yang ada di sana hanya menggelengkan kepalanya heran, melihat sahabat sekaligus bawahannya itu selalu beradu mulut.


"Haihhh terserahlah. Pergilah isss... Kalian mengganggu waktuku," usir Briel sekali lagi.


"Ck dasar tidak peka. Aku ke sini untuk berbicara denganmu."


"Besok saja. Lihat ini. Istriku saja baru terbangun."


Briel tidak rela meninggalkan Gea. Ia sendiri juga belum puas melepas rindu dengan sang istri. Lagi pula ia tidak sampai hati meninggalkan istrinya sendirian.


"Itu nanti lagi Bri... Ck cepatlah! Lebih cepat lebih baik bukan?"


Briel berdecak kesal. Ingin sekali ia memusnahkan manusia bentukan Adam.


"Udahlah Bayang, sana sebentar. Aku juga tidak akan hilang. Lagian juga ada Runi di sini." Gea meyakinkan Briel.


Briel mendengkus kesal. "Yalah yalah!"


Pada akhirnya Briel ikut bersama dengan Adam. Sedangkan Gea ada di sana bersama dengan Runi. Kini Runilah yang mengambil alih tugas Briel untuk menyuapi Gea.


🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2