Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
36. Obrolannya Pengantin Baru


__ADS_3

"Ini minumlah!"


Briel menyodorkan secangkir cokelat hangat untuk Gea. Gea menatap Briel. Ada banyak keraguan terlihat jelas di manik mata Gea tatkala Briel balas menatapnya.


"Tenanglah! Saya tidak mencampur minuman itu dengan bahan lain. Tidak ada untungnya bagi saya."


Briel tahu kalau pikiran–pikiran negatif mulai menghantui pikiran Gea. Ia meyakinkan Gea agar mau meminum cokelat itu. Dahulu, ia pernah melihat bundanya meminum cokelat hangat tatkala suasana hatinya kurang baik. Kata Tere, secangkir cokelat hangat itu bisa mengembalikan suasana hatinya. Briel menyodorkan lagi cangkir itu.


Dengan sedikit keraguan yang masih tersisa, Gea menerima secangkir cokelat hangat itu lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit. Cokelat hangat itu terasa enak tatkala cairan berwarna coklat itu memasuki tenggorokan Gea.


"Kecuali kalau saya mencampur minumanmu dengan obat perangsang."


Gea tersedak. Ia menyemburkan cokelat yang telah ia minum. Matanya membulat, menatap tajam Briel. Dan anehnya yang ditatap malah tertawa. Gea tidak mau jika ia harus melakukan "hal itu" dengan cara seperti itu. Ia benar–benar belum siap.


"Saya bercanda. Minumlah lagi selagi hangat, lalu ayo kita bicara!" ucap Briel yang berusaha meredam tawanya. Kekagetan Gea membuat wajah Gea terlihat begitu lucu di matanya.


Ucapan Briel yang lembut tak urung membuatnya mereda. Ia masih melayangkan tatapan kesalnya walau rasa lega masih ia cecap.


"Hmm" gumam Gea ketus.


Briel menatap Gea yang asik meminum cokelat hangat buatannya. Ternyata ia bisa menemukan kesenangannya. Cukup sederhana. Hanya dengan membuat kesal wanita di dekatnya ini.


"Kenapa?"


Sebuah kata tanya terucap dari mulut Briel setelah beberapa waktu lalu ia berusaha untuk menahan kata itu agar tidak keluar.


"Kenapa apanya?"


Tanpa mengalihkan aktivitasnya yang tengah meminum cokelat, Gea malah menjawab pertanyaan dengan sebuah pertanyaan. Ia tahu maksud Briel, hanya saja ia enggan untuk menjawab.


"Tanpa bertanya pun kamu sudah tahu maksud saya!"


Gea menghela napas berat. Helaan napas itu pun sampai terdengar di indra pendengaran Briel. Briel merasakan, ada hal berat yang dialami wanita di hadapannya ini.


"Baiklah, jangan menjawab kalau belum siap!"


Briel tidak mau memaksa orang yang tidak mau bercerita.


"Tidak! Aku akan menjawab karena kamu bertanya!"


"Setidaknya ada teman berbagi, dari pada aku gila karena memendam ini sendirian."


Biasanya Gea akan berbagi dengan Hendri, orang yang sudah ia anggap sebagai sosok kakak baginya. Dan saat ini, Hendri tidak ada bersamanya.


"Ceritakanlah!"


Briel menanti Gea untuk bercerita. Gea meletakkan cangkir itu. Ia menyandarkan punggungnya ke punggung sofa. Terlalu banyak menangis, membuatnya sulit untuk menangis hari ini. Dia menatap lurus ke sembarang arah.


"Hari ini, aku dikhianati oleh seorang pria yang sangat aku cintai."


Ge tersenyum kecut ketika mengingat kembali hal menyakitkan itu.


"Dia menikah dengan seorang wanita yang sangat aku kenal. Mereka menikah di depan mataku, bahkan di hari dan di tempat di mana seharusnya aku menikah dengan kekasihku yang kini sudah berubah menjadi kenangan pahit!"


Gurat kesedihan dan kemarahan terlihat jelas di wajahnya. Siapa sih yang tidak sedih, tidak marah, tidak kecewa bahkan tidak sakit ketika dikhianati oleh orang yang dicintai dengan sepenuh hati?


"Dan aku benar–benar hancur, sampai mau tertabrak mobil saja aku tidak tahu."


Briel masih mendengarkan Gea berbicara, membiarkan Gea mengungkapkan semua yang Gea rasa.


Gea beralih memandang Briel. "Emm … terimakasih karena telah menyelamatkanku. Mungkin saja sekarang aku sudah mati kalau kau tidak datang tepat waktu. Tadi aku benar–benar tidak sadar jika aku menyeberang dan aku tidak melihat kalau ada mobil yang melaju kencang," ucap Gea tulus.


Gea mengingat akan perkataan mendiang mamanya di mimpi itu. Ia harus hidup dan ia harus bahagia. Mungkin inilah yang dimaksud mendiang.

__ADS_1


"Cukup, itu saja yang aku ceritakan," batin Gea. Ia masih enggan untuk mengungkap kehidupan keluarganya dengan orang lain.


Briel mengulas senyum. "Sama–sama. Maafkan saya juga yang telah menuduhmu sengaja bunuh diri karenaku. Karena tadi saat prosesi nikah sudah selesai, kamu menangis lagi," jawab Briel jujur. Ia menerawang kejadian tadi.


"Iyakah? Perasaan aku tadi tidak nangis?" kilah Gea. Ia terlalu malu untuk mengakuinya.


"Tidak usah berkilah, aku tadi melihatnya!"


Gea berdecak kesal. "Udah deh jangan ingatkan aku akan hal itu!" Muka Gea benar–benar ditekuk. Briel pun tertawa terbahak–bahak. Bibir Gea mengerucut sempurna.


"Baiklah–baiklah terserah kamu saja. Yang jelas, dari yang saya lihat kamu memang menangis."


Briel berusaha meredam tawanya agar berhenti. Sedangkan Gea komat kamit menggerakkan bibirnya karena kesal.


"Briel!"


Gea menatap Briel tak mengerti. "Kenapa pria ini mengulurkan tangannya? "


Briel menggerakkan kepalanya agar Gea segera menjabat tangannya, namun Gea tak kunjung mengerti. "Astaga gak mengerti juga?"


"Lah kan kamu gak memberitahu diriku!"


Briel menghela napas berat.


"Baiklah, begini. Mari kita mulai dari awal. Kita berkenalan terlebih dahulu karena memang kita belum kenal. Kita menyebutkan nama masing–masing," jelas Briel. Gea mengangguk, ia juga tidak keberatan.


Briel mengulurkan tangannya. "Gabriel Abraham Yohandrian, panggil saja Briel."


Gea menyambut uluran tangan itu. "Gea Agatha, Gea."


"Kita mulai kisah kita dari sini. Saya tidak akan membuat perjanjian–penjanjian konyol dalam pernikahan. Dan lagi, sesuai janji saya, saya tidak akan pernah melepaskanmu sampai kapan pun karena kamu telah memintanya."


Gea mengangguk mantap. "Aku setuju. Tapi maaf, aku belum bisa membuka hatiku untukmu ...."


Briel tersenyum tipis. Ia mengerti situasi Gea saat ini. Siapa sih yang akan mudah menaruh kepercayaan lagi ketika cinta tulusnya dikhianati? Butuh obat untuk menyembuhkannya. Bahkan bukan hanya sembarang obat yang berkualitas mujarab.


"Tidak masalah, selagi kita menghargai satu sama lain."


Briel percaya, bahwa suatu hubungan bisa tetap utuh dan kokoh kalau dua orang yang berbeda saling menghargai dan mengerti. Benar bukan? Hidup berdua hanya dengan cinta, kalau tidak ada kata menghargai bakalan pisah juga kan? Buktinya di zaman ini banyak pasangan yang dengan mudahnya mengatakan kata pisah.


"Baiklah. Deal?!"


"Deal!"


Mereka telah sepakat menjalani kehidupan pernikahan sebagaimana mestinya, tanpa perjanjian paten, namun sebenarnya ada perjanjian tersirat yang tidak mereka sadari. Perjanjian itu adalah, saling membuka diri dan saling menghargai.


Kriuk krutuk


"Astaga perut, kenapa dirimu tak bisa dikondisikan? Kan malu jadinya," batin Gea sambil memejamkan matanya. Ia tersenyum canggung.


"Perutmu udah konser. Mari ikut saya!"


Briel beranjak lalu pergi ke dapur. Gea membuntuti Briel di belakangnya. Briel berharap ada bahan makanan yang bisa mereka temukan. Briel membuka lemari pendinginnya. Tapi, ia tak menemukan bahan apapun yang bisa mereka makan. Briel hanya menemukan sebungkus mie instan yang sudah lama ia tinggalkan di apartemen itu.


"Astaga, kadaluwarsa!" geruntu Briel. Sudah lebih dari dua tahun ia tidak menyinggahi apartemennya ini. Mungkin hanya orang suruhannya yang bertugas membersihkan apartemennya. Itupun hanya seminggu sekali.


"Astaga, apartemen boleh mewah. Tapi bahan makanan saja tidak ada," cibir Gea.


Briel membalikan badannya. "Saya lupa mengisinya kembali. Semalam saya baru sampai di negara ini."


Gea hanya beroh ria.


"Baiklah kita pesan online makanan saja. kamu mau makan apa?"

__ADS_1


"Apa aja, Bang, yang penting kenyang."


"Eh, kenapa kamu panggil aku 'bang'? Memang aku abangmu?!"


Briel tak mau di panggil 'abang'. Menurutnya panggilan itu seperti konsumen yang memanggil abang–abang cilok atau yang lainnya.


"Lha terus bagaimana dong? Katanya kita mulai dari awal. Dan aku memulainya dengan memanggilmu 'abang' karena aku tahu kalau jarak umur kita cukup jauh," ucap Gea polos.


"Baiklah terserah kamu aja. Saya terlalu lapar juga untuk berdebat."


Akhirnya Briel pun mengalah, sedangkan Gea tersenyum penuh kemenangan. Briel memesan ayam bakar sebagai menu makan malam mereka.


🍂


Satu jam kemudian, makanan mereka telah datang. Gea menyantap lahap makanannya. Ia benar–benar lapar karena dari siang ia belum makan.


"Astaga perutku kenyang!" ucap Gea sambil memegang perutnya yang terisi karena kekenyangan.


Bagaimana tidak kenyang? Gea memakan dua porsi sekaligus dari tiga porsi yang Briel pesan. Sebenarnya Briel hanya akan memesan dua porsi. Namun karena permintaan Gea, akhirnya Briel memesan tiga porsi. Briel menggeleng tidak percaya tatkala mengetahui bahwa ternyata porsi makan wanita di hadapannya ini luar biasa. Badan Gea yang ramping membuat Briel meremehkan Gea.


"Eehh? "


Gea kaget ketika ada kemeja yang menutupi tubuh atasnya. Ia masih memakai gaun pengantin. Gaun itu cukup terbuka di bagian atasnya. Ia menatap Briel penuh tanya.


"Pakailah saja, biar tidak kedinginan."


Gea mengangguk lalu mengulas senyum manisnya. Yeahh, sebenarnya rasa sedih masih ada, namun ia berusaha untuk menepis rasa itu.


Cukup lama mereka berdua saling terdiam. Tidak ada yang memulai untuk berbicara. Hingga suara deheman kecil dari Briel mencairkan suasana itu.


"Mulai sekarang, kamu harus tinggal bersama saya di sini."


Gea mengangguk, tidak ada penolakan darinya. Mengikuti suami adalah bagian dari kewajibannya sebagai istri.


"Tapi aku besok mau mengambil barang–barangku dulu, Bang, di kontrakan."


"Saya antar!"


"Tapi Bang—"


"Saya antar! Tidak ada bantahan!"


"Ck … menyebalkan!" gumam Gea.


"Hei! Saya dengar!"


"Ya bagus deh kalau dengar!" ucap Gea sambil melirik Briel.


Briel memutar matanya malas. "Haihh begini ternyata rasanya menikah sama wanita yang umurnya lumayan jauh. Rasanya seperti menghadapi anak kecil! " geruntunya dalam hati.


Pasalnya, ia melihat Gea menangis sebelumnya. Namun, saat ini ia sudah melihat tingkah Gea yang ternyata cukup memberontak.


"Dasar anak kecil!" gumam Briel lirih. Gea memilih untuk berpura–pura tidak mendengar, walaupun sebenarnya ia mendengar.


🍂


//


Hai kakak–kakak pembaca, sambil menunggu Asa up, kalian bisa cek cerita barunya kakak–kakak online Asa 🤗



__ADS_1


__ADS_2