Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Nikahi Dia!


__ADS_3

"Ck ke mana mereka sih?! Ku bilang hanya sebentar saja tapi mereka malah pergi entah ke mana!" gerutu Gaza. Gaza kembali ke kafe tadi namun Gea dan Briel tidak ada di sana. Gaza berkacak pinggang menunggu kehadiran Briel dan juga Gea. Ia kembali memesan sebuah kopi panas. Dengan rokok yang selalu ada di sakunya, Gaza menyulut rokok miliknya. Ia mematik api dari koreknya.


Dari kejauhan, Briel dan Dela melihat Gaza tengah menunggunya. Mereka berdua mengerutkan dahinya. Mereka kira Gaza pergi sebentar namun sebenarnya cukup memakan waktu. Namun ternyata Gaza malah sudah sampai di sana lebih awal.


"Dari mana saja kalian?!" ucap Gaza datar. Ia menghembuskan asap rokok yang mengisi parunya.


"Dari rumah Angga."


Gaza hanya mengangguk. Rumah mereka yang tidak begitu jauh jaraknya membuatnya tahu sosok anak itu meski tidak kenal dekat. Tapi cukup tau untuk hanya sekadar saling sapa.


"Matikan rokokmu!" ujar Briel tegas. Ia tidak suka ada orang yang merokok di sekitar istrinya. Masih oke jika hanya dia yang terpapar asap rokok namun tidak untuk istrinya.


Gaza mengangkat tangan, tanda menyerah dan menuruti apa kata Briel. Ia mencucukan ujung rokok yang terbakar pada asbak yang sudah disediakan oleh pemilik caffe sebagai salah satu fasilitas dari caffe itu.


"Sudah, lihat kan?"


Briel mengangguk. "Bagus!" ujar Briel.


"Kau boleh merokok tapi jangan pernah merokok di dekat orang hamil!" ujar Briel mengingatkan. Melihat tabiat Gaza yang kurang enak untuk di pandang, ia khawatir Gaza selalu merokok di dekat Dela.


"Tahu! Aku tidak sebodoh yang kau kira!" ujar Gaza melirik tajam.


Di antara mereka memang belum bertemu di mana titik akurnya. Hawa panas dan tegang masih mendominasi jika mereka bersama. Latar belakang Gaza menjadi faktor utama dan sikap Briel dan Gea lah juga yang membuat Gaza memasang tembok yang cukup besar di antara mereka.


"Bayang, tapi aku lapar," rengek Gea manja. Berjalan terus membuat dirinya kehilangan tenaga cukup banyak. Aktivitas itu termasuk aktivitas berat yang jarang ia lakukan. Mungkin dulu kala masih melajang dia terbiasa dengan hal itu. Namun setelah ia menikah dengan Briel, tubuh Gea mulai kaku. Kehidupannya benar–benar kembali seperti semula. Serba mudah dan tidak perlu berpura–pura.


Gaza memutar bola matanya malas. Menunggu cukup lama pada akhirnya ia harus menunggu lagi. "Kalian membuang–buang waktuku!"


"Membuang bagaimana? Kau juga membuang waktu kami. Andai kamu kau pergi, kita juga pasti sudah ke rumahmu!" ujar Gea tidak mau kalah. Semenjak melahirkan, jiwa emak–emak tanpa sadar melekat di dalam diri Gea.


"Kita bungkus aja, Bayang. Sekalian bawakan buat Dela."


"Baiklah, tunggu di sini," ujar Briel. Ia memesankan makanan untuk mereka berempat.


Gea menoleh ke arah Gaza. Ia berjalan duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Gaza. Kedua siku Gea bertumpu pada meja bundar di depannya. Ia menatap Gaza intens.


Gaza hanya menatap tatapan Gea dengan tatapan datar.

__ADS_1


"Apa maumu?" tanya Gaza datar.


"Tidak ada," ujar Gea sembari menghembuskan napas panjang. "Hanya saja, aku masih heran saja kenapa seorang Gaza yang pada dasarnya merupakan anak buah Davin yang membantu Davin untuk menjebak Kak Dela, pada akhirnya membantu Kak Dela."


Jiwa kepemimpinan yang Gea punya menguar. Gaza dapat merasakan perbedaannya. Tatapan Gea kali ini sangatlah mengintimidasi. Namun sayangnya tidak berlaku untuk Gaza.


"Tidak masuk akal bukan?" tanya Gea lembut namun begitu tegas.


Gaza menghela napas kasar sembari memalingkan wajah lantas kembali menatap Gea. Ia memajukan tubuhnya mendekat ke arah Gea.


Gea tertawa sumbang. "Tidak masuk akal? Tapi Dela saja tidak keberatan. Kenapa Anda yang keberatan?"


"Ya wajar kan? Dia itu kakak saya. Dan motifmu sangatlah mencurigakan." Gea berusaha mendesak Gaza untuk angkat bicara.


"Saya tidak peduli Anda percaya atau tidak dengan pengakuanku. Tidak semua hal bisa Anda ketahui."


Gaza tidak suka jika privasi dikorek seperti itu. Identitasnya saja mati–matian ia tutup, bagaimana mungkin ia membuka diri terang–terangan seperti itu. Tidak akan ia lalukan sebelum ia sendiri yang ingin terbuka.


"Sudah ayo berangkat," ujar Briel dengan membawa 4 porsi makanan yang sudah siap saji."


Kehadiran Briel membuat Gea dan Gaza mengalihkan perhatian mereka kepada Briel. Mereka berdua bersikap seolah–olah tidak terjadi apa–apa. Mereka bertiga pergi menuju rumah Gaza tanpa berlama–lama lagi.


🍂


"Ayo makan. Aku membawakan makanan untukmu," ajak Gaza pada Dela. Dela mengerutkan dahinya. Biasanya Gaza mengantarkan makanan langsung ke kamar. Bahkan jika Dela berkeliaran, Gaza akan menyindirnya habis–habisan. Namun kali ini malah Gaza sendiri yang mengajak Dela keluar dari kamar.


"Tumben sekali kau mengajakku. Biasanya saja kau mengomeliku jika aku pergi begitu saja."


"Sudahlah, tidak usah banyak protes. Langsung turuti ucapanku apa susahnya?"


Dela berdecak malas. "Iyaaaa"


Gaza memapah Gea keluar. Betapa terkejutnya Dela kala melihat Briel dan Gea ada di sana. Ia merasa terkhianati. Mati–matian ia tidak memberi tahu Gea tentang rumah itu, tapi malah Gaza sendiri yang membawa Gea dan Briel ikut serta dengan Gaza.


"Apa–apaan ini?! Kenapa kau membawa mereka ke sini?!" tanya Dela dengan amarah yang membuncah.


"Makanlah dulu," ujar Gaza mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Dela menatap enggan. "Tidak nafsu!"


Dela berjalan terseok kembali ke kamar. Melihat itu semua Gea berdiri lantas mengejar Dela. Briel ingin mengejar namun Gaza menyuruhnya untuk tetap diam di sana.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka," ujar Gaza bijak.


Briel menghela napas. "Baiklah."


🍂


"Nikahi dia!"


Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut Briel. Kini mereka berdua ada di teras rumah. Briel tidak menatap Gaza sedikitpun. Ia menatap lurus ke depan.


Gaza tertawa sumbang. Menikah? Baginya tidak ada kamus menikah dalam hidupnya.


"Saya tidak ingin mendengar komedi. Leluconmu sangat garing."


"Aku tidak bercanda." Briel menatap Gaza sekilas. Ia sungguh–sungguh mengatakannya.


"Atas dasar apa kau menyuruh saya menikahinya?"


"Nikahi atau kembalikan pada orang tuanya!"


Gaza tertawa. "Tidak semudah itu Brother! Tugasku hanya menjaga Dela. Tanya Dela saja. Anda tidak tahu bagaimana kami menjalani hari. Akan seperti apa pernikahannya jika kami saja tidak pernah akur?"


"Sudahlah urusi hidup kalian sendiri. Kau juga punya rumah tangga. Tidak usah repot–repot mengurusi hidupku," ujar Gaza santai. Ia tidak suka jika hidupnya di bawah kendali orang lain.


Gaza menghembuskan kembali asap rokok.


Briel melirik Gaza tidak peduli lagi. Ia akan mengawasi gerak–gerak Gaza, menandai Gaza. Ia akan bertindak jika Gaza bertindak berlebihan dan mencelakakan Dela.


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 🌻🌻


__ADS_2