
"Oeeekk oeekk"
Suara tangisan bayi mengglegar di pagi buta. Subuh–subuh mereka telah terbangun terlebih dahulu. Merekalah yang membangunkan kedua orang tuanya yang masih tertidur pulas. Mereka tidur diapit oleh kedua orang tuanya.
"Emmghh"
Gea menggerakkan kepalanya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Gea langsung terbangun. Ia berusaha menenangkan Rio dengan menepuk pelan tubuh Rio yang masih saja menangis. Sedangkan Nino telah berhenti menangis tanpa perlu ditenangkan. Bibirnya terbuka dan menutup kembali. Tubuhnya sedikit menggeliat.
"Geyang," gumam Briel memanggil Gea dengan suara serak khas bangun tidur. Briel terbangun. Matanya masih menyipit, menyesuaikan matanya dengan cahaya cukup menyakitkan matanya. Ia menggunakan sebelah sikunya untuk menyangga tubuhnya hingga setengah terbangun.
Pemandangan yang sangat menyejukan hati. Bangun dengan istri dan kedua anaknya tepat berada di depan matanya. Tidak pernah ia mengira dirinya bakal ada di titik di mana ia lalui sekarang.
Secara inisiatif, Briel bangun lantas menggendongkan Rio ke dalam gendongan Gea. Tangan Gea yang sakit sebelah kanan. Jadi hanya untuk menitikberatkan berat tubuh Rio di tangannya sebelah kiri Gea masih mampu. Ia mulai menyusui Rio hingga Rio tertidur kembali.
"Nino gimana, Bayang? Apakah ia sudah tidur?" tanya Gea dengan Rio yang masih dalam dekapannya.
Briel mengangguk. "Sudah," ucapnya dengan suara lirih.
"Hmm Geyang ... Bau apa ini??"
Briel menggerak–gerakkan lubang hidungnya. Ia mencari tahu bau apa yang menusuk hidungnya itu. Baunya sungguh luar biasa. Ia mencari sumber aroma itu kemana–mana. Melihat Briel yang seperti mencari sesuatu, Gea menautkan kedua alisnya.
"Kamu kenapa Bayang?" tanya Gea penasaran
"Ini Geyang ... Kamu mencium bau e'ek tidak?"
Gea mulai menggerakkan kedua lubang hidungnya. "Eh iya Bayang." Gea juga mencium aroma yang sama.
Briel terus mencari. Hingga ia berhenti tepat di tubuh anaknya. Ternyata Nino buang air besar di sana. Untung saja ranjang mereka telah dilapisi perlak khusus bayi.
"Astaga ternyata anak Ayah pinter ... Pagi–pagi sudah membudayakan hidup sehat."
Ternyata di pagi itu, Briel telah mendapat rejeki nomplok dari sang buah hati. Tanpa rasa jijik sedikitpun, ia mulai mengganti popok Nino. Tidak lupa pula ia menggunakan tisu basah untuk membersihkan tubuh Nino. Ia juga memberikan bedak tabur khusus bayi agar tubuh Nino tetap wangi.
🍂
__ADS_1
"Hoaamm"
Gea menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Ia tidak bisa mengabaikan rasa kantuknya setelah beberapa minggu ini ia harus begadang lantaran mengurus bayi kembarnya itu. Nyatanya merawat bayi kembar membutuhkan tenaga yang lebih ekstra.
"Gege, kamu ngapain, Sayang?" tanya Tere yang kini telah berada di samping Gea.
"Eh Bunda ... Ini Bun ambil sarapan."
Tangan Gea sibuk mengoleskan selai pada roti tawar. Ketika semua orang di rumah itu sarapan, Gea tidak sempat ikut mereka sarapan. Ia harus tetap menjaga kedua anaknya. Terlahir prematur membuat mereka masih membutuhkan perlakuan yang lebih ekstra. Mereka masih harus sering di gendong atau kalau tidak bisa tetap harus Gea peluk sembari terbaring, untuk memberikan kehangatan lebih pada kedua buah hatinya. Ia melakukan semuanya itu secara bergantian.
"Aduh Gege ... Kenapa tidak meminta Bunda saja untuk mengambilkan kamu sarapan? Atau kalau tidak minta sama Bi Siti biar diambilkan."
Tere tahu bagaimana lelahnya mengurus bayi, apa lagi jika 2 bayi sekaligus. Gurat kelelahan di wajah Gea terlihat begitu kentara. Kantung mata yang menghitam, bak mata panda yang mengelilingi mata Gea.
"Tidak apa, Bunda ... Lagi pula bosan juga jika harus di kamar terus. Gea kan juga ingin berjalan walaupun hanya sebentar dan hanya di dalam rumah," jelas Gea.
Sekalipun di sana ada kedua buah hatinya, pastinya rasa penat sekaligus jenuh berada di ruangan yang sama tetap ia rasakan. Keberadaan kedua buah hatinyalah yang membuat dia betah berada di dalam kamar.
"Briel sudah berangkat ke kantor?"
"Sudah Bunda, sejak 1 jam yang lalu. Ada meeting pagi katanya."
Tere hanya ber–oh ria. Ia mengangguk mengerti. Bagaimana pula perusahaan yang Briel pegang adalah tanggung jawab Briel yang harus Briel penuhi.
"Lah terus kalau kamu ke sini, si kecils sama siapa?"
Tere sengaja menambahi bunyi "s" pada sebutan kedua bayi Gea karena mereka itu dua.
"Mereka masih tidur Bunda. Jadi Gea bisa tinggal mereka sebentar," jelas Gea. "Tidak apa–apa bukan jika hanya sebentar?" Gea mencari sebuah kalimat persetujuan dari Tere. Namun ia juga tidak membutuhkan jawaban jelas dari Tere.
Tere tersenyum hangat. "Iya ..."
"Gea ke atas lagi ya, Bun," pamit Gea kemudian. Ia tidak ingin berlama–lama meninggalkan kedua anaknya di kamar sendirian. Tangannya telah memegang sebuah piring dengan 2 potong roti isi selai dan sebelah tangannya membawa segelas susu khusus untuk ibu menyusui.
"Bunda ikut ke atas ya," pinta Tere. Gea mengangguk mengiyakan sembari mengulas senyum. Ia tidak keberatan jika Tere bersamanya. Justru dengan adanya Tere semuanya akan lebih mudah.
__ADS_1
"Sini bunda bawakan susunya."
Tere masih tidak tega melihat tangan Gea yang belum pulih membawa barang walaupun tidak berat. Andai bisa pun sebenarnya ia ingin agar dia turut menjaga anak–anak mereka di waktu malam. Namun Frans melarangnya. Karena malam adalah waktu privasi sepasang suami istri.
"Aduh aduh cucu cucu oma yang ganteng ganteng," sapa Tere pada kedua cucunya yang masih tertidur itu. Ia menghampiri mereka berdua, sedangkan Gea melangsungkan niatnya untuk mengisi perut di pagi hari.
Tere mengamati, meniti inci demi inci wajah mereka berdua. Baginya tidak ada perbedaan sedikit pun wajah mereka berdua. Mereka serupa.
"Wah wah wah, rupannya jika oma memanggil nama kalian, sepertinya harus kalian sendiri yang menyebutkan nama. Nenek kesulitan membedakan wajah kalian."
"Mana yang Rio dan mana yang Nino ini..."
Tere masih terus mengajak mereka berbicara meski sudah 100 persen tidak akan pernah terjawab oleh mereka berdua.
"Ini Nino, Oma ..." Gea yang telah selesai menyantap sarapannya kini berada di samping Nino. Ia memperagakan jika Ninolah yang menyahuti Tere. Suaranya terdengar imut, seperti anak kecil.
"Utu utu utu ... Nino yang ini ya ... Iya ...?"
Tere mengelus lembut pipi Nino. Kulit bayinya masih sangatlah rentan dan begitu halus. Tere tidak ingin menyakiti Nino dengan sentuhan tangannya.
"Berarti ini yang Rio ya..."
Kini Tere telah beralih pada Rio yang kini mengerjab– kerjabkan mata.
"Iya Omaa ..." sahut Gea dengan cara yang sama.
"Hoaahhmm"
Tere turut menguap tatkala Rio mulai menguap. Telapak tangan Tere sontak bergerak menutup bibir Rio. Rio dan Nino menggeliat. Mereka telah bangun sepenuhnya. Dan mereka membuat keramaian yang membuat Tere dan juga Gea kelimpungan seketika.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕