
Di Rumah Sakit Yasandri, sepasang suami istri paruh baya tengah terbaring lemah, dengan infus yang terpasang di tangan mereka. Akibat kecelakaan mobil yang dialami, mereka berdua harus menjalani perawatan di rumah sakit itu. Mobil bagian depannya pun mengalami kerusakan karena menabrak sebuah pohon.
"Dok, bagaimana keadaan Tuan dan Nyonya Yohandrian?" tanya seorang pria ketika melihat dokter yang menangani Frans dan Tere keluar dari ruang perawatan. Pria itu tak lain adalah Adam. Dia sangat panik melihat dua orang yang berjasa dalam hidupnya, terbaring lemah seperti itu.
Dokter pria itu tersenyum. Ia mengerti kekhawatiran yang Adam rasakan.
"Tenang saja …."
Ucapan dokter itu terhenti. Suara langkah kaki yang terdengar di indra pendengaran mereka berdua, membuat Dokter Sam, dokter yang menangani Frans dan Tere, menghentikan penjelasannya. Mereka menoleh ke arah dari mana sumber suara itu berasal. Dari sana mereka berdua melihat sepasang suami istri dengan seorang wanita muda bergaun pengantin menghampiri mereka berdua dengan langkah tergesa. Kekhawatiran tergambar jelas di wajah mereka.
"Wah ternyata putri dari Keluarga Angkaralah yang menikah dengan Bos Briel."
Adam tersenyum. Ia tahu kalau Keluarga Angkara bukanlah keluarga sembarangan. Siapa sih yang tidak tahu dengan Keluarga Angkara? Tuan angkara adalah pemilik perusahaan perhiasan yang sangat terkenal.
Sebelumnya, sudah hampir satu jam Keluarga Angkara menunggu kehadiran dari pihak keluarga Briel. Mereka cemas kalau sampai pernikahan Ayu gagal. Bahkan Tuan Angkara sudah sempat mengumpati Briel. Namun setelah mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa calon besannya, Tuan Angkara segera mengajak istri dan putrinya menuju dimana Tuan dan Nyonya Yohandrian dirawat.
"Syukurlah mereka datang ke sini …. Tapi Bos Briel kemana ya? Bukankah mereka sudah menikah? Kenapa Bos Briel tidak datang bersama dengan mereka? "
Adam menyimpan semua pertanyaan itu dalam hatinya. Ia tak mengucapkannya langsung karena ia ingin menunggu kehadiran Briel terlebih dahulu.
"Aahh ... sudahlah, mungkin si Bos ada kepentingan yang harus dia urus."
Segala pemikiran positif langsung ia tanamkan di dalam pikirannya. Pasalnya banyak sekali kemungkinan yang bisa membuat ia resah, misalnya saja bosnya itu gagal menikah.
"Tuan Adam!" sapa pria paruh baya itu lalu mengangguk kecil. Adam tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum kemudian membungkukkan badannya.
"Bagaimana keadaan calon besan?"
Pria paruh baya itu langsung mengajukan pertanyaan kepada Dokter Sam. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan calon besannya.
"Tenang saja, Tuan. Tidak ada luka serius yang dialami oleh Tuan dan Nyonya Yohandrian. Patah tulang yang dialami Tuan Yohandrian akan segera sembuh dengan pemulihan berkala. Sedangkan Nyonya Yohandrian tak sadarkan diri karena ada benturan ringan di kepalanya yang menyebabkan trauma ringan. Beberapa waktu lagi, mereka berdua akan segera tersadar."
Dokter Sam menjelaskan keadaan Tuan dan Nyonya Yohandrian sejelas mungkin. Mereka semua mendengarkan penjelasan Dokter Sam dengan seksama.
"Baiklah, saya harus pergi. Ada pasien yang harus saya tangani. Tuan dan Nyonya sudah boleh dijenguk, namun silahkan bergantian. Pasien masih membutuhkan banyak istirahat."
"Saya permisi." Dokter Sam pun pergi meninggalkan mereka semua.
"Dad, kasihan sekali Bunda Tere dan Ayah Frans. Pasti Briel sangat terpukul dengan semua kejadian ini," ucap Ayu sambil memeluk daddynya dengan manja. Dengan penuh kasih sayang, Kemal, membelai kepala anaknya itu dengan lembut.
"Sudahlah jangan bersedih. Sebentar lagi kedua orang tua Briel juga akan segera pulih. Dan di saat itu nanti, pernikahanmu dengan Briel akan segera dilangsungkan," ucap Kemal dengan lembut. Ia memberikan pengertian agar Ayu mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.
"Iya, Yuk. Yang sabar ya …." Wanita paruh baya itu mengelus lembut pundak anaknya.
"Atau jangan-jangan kamu udah kebelet nikah nih sama Briel. Hayo ngaku …" goda Sellya, Mommy Ayu.
"Iih Mommy …." ucap Ayu dengan malu-malu. Pipinya yang memang sudah merona karena memakai blush, terlihat semakin merona karena godaan mommynya. Kemal dan Selly pun tertawa melihat anaknya yang tersipu malu itu.
__ADS_1
"Kebelet nikah?? Apa jangan-jangan ... mereka belum menikah? Lalu, kemana Bos Briel pergi …? Gawat! "
Wajah Adam menegang. Ia takut ada sesuatu hal yang terjadi menimpa Briel, mengingat kecelakaan yang telah menimpa kedua orang tua Briel. Sebelum di operasi, Adam mendengar sendiri bahwa Frans meminta Briel untuk tetap melangsungkan pernikahannya walaupun tanpa kehadiran Frans dan Tere. Ia menutupi ketegangannya dengan tersenyum, walau sebenarnya terasa sangat canggung.
"Semoga Tuan Angkara serta putri dan istrinya tidak menanyakan keberadaan Briel."
Adam merapalkan harapan itu di dalam hatinya. Ia tidak tahu harus beralasan seperti apa jika sampai keberadaan Briel ditanyakan.
"Oh iya Tuan Adam, dimanakah Briel berada?" tanya Kemal tiba-tiba.
Kemal mengedarkan pandangannya, namun tak ia temukan dimana keberadaan Briel. Begitupun juga dengan Ayu dan Selly. Mereka merasa aneh saja, kenapa Briel tidak ada di sana padahal keluarganya sedang ditimpa musibah.
Deg
Baru saja ia merapalkan doa dalam hatinya, malah sudah terjadi. Alih-alih menjawab, Adam hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Ia gamang. Kemal menatap Adam dengan tatapan menyelidik. Adam bedehem untuk menghilangkan sedikit rasa gugup yang ia alami.
"Tuan Adam?" panggil Selly kemudian karena melihat Adam bergeming.
Adam segera tersadar. "Panggil saya Adam saja, Nyonya," ucap Adam sambil tersenyum. Selly pun mengangguk.
"Baiklah. Dimana Briel Dam?"
"Bos Briel sedang keluar sebentar untuk mengurus urusan mendesak, Tuan."
Ucapan Adam yang tegas, cukup meyakinkan mereka bertiga. Kemal mengangguk mengerti. Tatapan Kemal yang menyelidik sudah menghilang dari sorot matanya. Diam-diam Adam menghela napas lega.
"Aku harus mencari tahu dimana keberadaan Bos Briel."
"Baiklah, Tuan, Nyonya, Nona, saya pamit keluar sebentar," pamitnya dengan sopan.
"Silahkan, silahkan."
Setelah mendengar penuturan Kemal, tanpa menunggu waktu lama lagi, Adam berjalan meninggalkan mereka bertiga. Ia mengambil gawai di saku jasnya. Ia menghubungi Briel untuk melaporkan keberadaan Keluarga Angkara di rumah sakit serta menanyakan kemana Briel pergi.
🍂
"Dam!" panggil Briel.
Briel berlari menghampiri Adam. Ia ingin memastikan apa yang terjadi, terlebih dahulu. Adam membungkukkan badannya sebagai bentuk rasa hormat kepada atasannya.
Briel berdecak kesal. "Sudah kuperingatkan, 'jangan membungkukkan badan,' tetap saja sampai sekarang kau seperti itu!" ucapnya sambil berkacak pinggang.
"Formalitas Bos! Kenapa kau tak mengerti juga sih Bos? Nanti aku dikira sebagai anak buah yang tak tahu sopan santun lagi!" ketus Adam sama kesalnya dengan Briel. Adam tidak mau dicap sebagai anak buah gak punya akhlak.
Briel memelototkan matanya. "Eh … eh … berani sekali kau balas mengetusiku? Siapa yang menyuruhmu mengetusiku? Disini akulah bosmu!" Briel tidak terima karena Adam berbicara ketus kepadanya.
"Nah kan, baru saja dibahas sudah keluar taringnya!" geruntu Adam lirih namun masih agak terdengar oleh Briel.
__ADS_1
"Wah sekarang udah ada yang berani mengumpati diriku!"
Adam hanya menyengir kuda tatkala mendengar penuturan Briel. Briel memutar bula matanya malas.
"Baiklah kembali ke topik. Dimana mereka?" ucap Briel dengan tegas.
Briel ingin mengetahui kebenaran mereka terlebih dahulu sebelum ia berkata jujur. Bahkan Adam, sang asisten pribadi saja belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Mereka ada di dalam, Bos."
Tanpa menunggu lama lagi, Briel melangkah masuk diikuti Adam yang berjalan di sebelah Briel, namun tidak sejajar. Tiba-tiba saja Briel mengangkat sebelah tangannya. Ia berhenti sejenak, begitupun juga dengan Adam.
"Dam, jangan katakan kepada mereka, kalau sebenarnya Ayah dan Bunda menyuruhku untuk tetap menikahi putri mereka!" ucap Briel tanpa menoleh ke arah Adam
"Baik, Bos!"
Adam mulai tenang karena keputusan yang ia putuskan sebelumya adalah keputusan yang benar.
"Untung aku tadi bisa menahan agar tidak bertanya kepada mereka."
Briel kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti. Ia terlihat tenang, namun di dalam pikirannya ia menyiapkan segala macam alasan dan balasan untuk menjawab semua kemungkinan pertanyaan yang terlontar dari Keluarga Angkara.
Sesampainya di depan ruangan perawatan orang tuanya, ia mengintip di kaca kecil yang terdapat pada pintu. Briel benar-benar tercengang. Ia melihat empat orang berdiri di sana ; seorang pria berjas putih yang ia kenal, sepasang suami istri, dan juga wanita yang tengah memakai gaun pengantin.
"Damn it !! Kalau benar dia adalah calon pengantinku, lalu siapakah wanita yang aku nikahi?"
🍂
//
Deredeng redeng 😂😂 nah loh baru sadar kau Bang Bri? Aishh makanya ya kalau ada orang mau jelasin di dengarkan 🤭
Udah terjawab ya kenapa calon Briel yang sebenarnya tidak ada di altar dan kemana ia pergi 🤭
🍂
//
Oh iya sambil menunggu Asa up, kalian bisa baca dulu novel-novel keren dari kakak-kakak online Asa yang keceee 🤗🤗
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys
Jangan lupa bahagia 💕💕