Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
43. Membuka Hati


__ADS_3

Pukul 18:15


Gea melihat waktu pada jam dinding yang ada di kamar Briel. Di sana ia tengah bosan berada di dalam apartemen sendirian, walaupun ada televisi menyala yang menemaninya.


"Kemana sih dia? Kenapa tak kunjung pulang?" Gea bermonolog dalam kesendirian. Ia menguap sampai berkali–kali.


Dalam kesendirian itu, kilasan bayangan–bayangan kejadian yang dialaminya muncul silih berganti. Ia mengingat tatkala ia mengukir kenangan indah bersama mendiang kakeknya.


"Jik jik jik jik" Kakek bersuara seperti itu tatkala kudanya memakan gajah milik Gea.


"Ahh Kakek …. Gajahku tinggal satu itu, Kek. Eh malah sudah dimakan," sungut Gea kecil.


Sang Kakek hanya tertawa melihat cucunya yang bersungut–sungut tatkala kehilangan gajahnya yang tersisa satu. Permainan berlalu cukup sengit. Hingga ….


"Warrrghhm" suara Gea tatkala bidaknya memakan menteri milik sang kakek yang sudah terhimpit. Rasa senang yang membuncah, terlihat di raut wajahnya yang sumringah. Gea kecil sangat yakin jika ia dapat memenangkan permainan, jika menteri dari sang kakek sudah hilang.


Permainan berjalan dengan serius dan cukup menegangkan. Beberapa kali Gea bersorak gembira, namun beberapa kali juga Gea bersungut–sungut karena buah catur miliknya tersingkirkan satu persatu.


Sampai di detik–detik akhir permainan, buah catur milik kakek tersisa raja dengan dua benteng, sedangkan milik Gea kecil tersisa raja dengan satu kuda dan dua bidak ….


"Kek, Gea kangen sama Kakek," ucap Gea lirih. Rasa kangen pada mendiang begitu besar.


Dering panggilan masuk terdengar dari gawainya. Suara itu membuyarkan lamunannya.


"Hufft …." Gea menggeleng cepat. Ia tidak mau tenggelam terlalu jauh dalam kenangan masa lalu yang membuatnya bersedih sekalipun itu kenangan yang indah untuk dikenang.


Gea mengambil gawainya. Tertera nama Runi di layar gawainya itu. Gea segera mengangkat panggilan masuk itu sebelum diakhiri oleh sang pemanggil.


"Halo, Run," ucapnya antusias pada orang di sebrang sana.


"Akkhh … kenapa lama sekali kamu mengangkat telepon dariku Gey?" sungut Runi.


"E'eh aku lupa …." Runi terkekeh. "… kan kamu sekarang sudah menikah."


Runi baru teringat bahwa sahabatnya ini sudah menikah. Lantas ia berpikir, mungkin Gea tengah berduaan dengan sang suami. Ia merasa tidak enak hati pada Gea karena telah menganggu Gea. Padahal kenyataannya Gea melamun sendirian di apartemen.


Gea hanya bergeming, diam tak menanggapi ucapan Runi. Dia tidak tahu jawaban apa yang akan ia katakan. Hal itu membuat Runi salah paham.


"Hahahaha … pasti benar ya aku mengganggumu. Baiklah–baiklah, aku akhiri saja ya teleponnya. Happy wedding dan berbahagialah selalu." Runi berusaha untuk menghentikan tawanya.


"Jangan lupa, berikan aku keponakan yang lucu dan manis." Runi berbisik di seberang sana. Setelah itu ia tertawa lagi lalu mematikan teleponnya.


Gea termenung. Pernikahannya tak berjalan seperti rencana awal, namun ia belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Bahkan dengan kedua kakaknya saja ia belum berani berkata jujur. Untung saja mereka menunda kepulangan mereka karena ada hal yang masih harus diselesaikan. Kalau tidak, ia belum siap melihat kemarahan mereka, walaupun kemarahan mereka tidak mereka tujukan untuknya.

__ADS_1


Perut Gea berbunyi. Rasa lapar membuat lamunannya buyar. Ia melihat ke arah jam dinding.


"Sudah jam tujuh."


"Mana aku sudah lapar lagi," keluh Gea.


Gea mengambil gawainya untuk memesan makanan online. Namun ia urungkan niatnya. Ia masih ingin menunggu Briel.


"Mungkin sebentar lagi ia pulang."


Tak lama setelah itu, Gea mendengar suara pintu apartemen yang terbuka. Ia ke luar kamar. Ia melihat Briel membawa dua bungkus makanan. Dengan sigap, Gea menyiapkan dua piring untuk mereka berdua. Ia membuka bungkus makanan itu. Nasi goreng yang menggoda selera, tercium harum di hidungnya. Gea menaruh nasi goreng itu di piring lalu menyerahkannya pada Briel.


"Terimakasih," ucap Briel saat menerima piring itu. Ia tersenyum tulus. Ia tidak menyangka bahwa Gea masih mau melakukan hal–hal sekecil itu untuknya. Gea hanya mengangguk dan tetap melanjutkan kegiatannya memindah nasi goreng pada piring satunya lagi.


Mereka memakan nasi goreng itu bersama. Tidak ada suara sepanjang mereka makan, hanya suara dentingan sendok pada piring yang terdengar sesekali.


"Apakah kamu sudah kenyang?" tanya Briel. Semalam ia melihat porsi makan Gea yang tidak biasa. Sedangkan kali ini porsi makannya hanya biasa, porsi pada umumnya. Gea tertawa. Ia tak mampu menahan tawanya.


"Apa ada yang salah?"


Briel mengangkat alisnya sebelah. Ia merasa tidak ada yang lucu. Ia heran, kenapa Gea tertawa.


"Tidak ada. Hanya lucu saja." Gea masih tertawa.


"Lucu?" Briel mengerutkan dahinya.


"Ada–ada saja kamu Gey."


Briel mengacak pelan rambut Gea. Perlakuan Briel membuatnya terdiam. Ia terperangah. Namun Briel tak menyadari perubahan Gea.


Selesai makan, Gea menumpuk piring mereka lalu membawanya ke dapur. Tanpa basa basi Briel menahan tangan Gea agar berhenti.


"Kenapa, Bang?"


Tanpa berbicara separah kata, Briel membawa tumpukan piring itu ke dapur. Gea mengejar Briel yang masih terus berjalan.


"Biar aku saja, Bang!"


"Tidak ada kata 'biar aku saja'! Mari kita selesaikan ini bersama."


"Tap—"


"Aku menikahimu untuk menjadikan dirimu sebagai istriku, bukan untuk menjadi pembantuku," pungkas Briel.

__ADS_1


"Tapi kan—"


"Tidak ada tapi–tapian. Kita lakukan ini bersama!"


Briel tak mengijinkan Gea mencuci piring mereka berdua, sendirian. Selagi ia bisa dan senggang, ia ingin melakukan semuanya berdua. Di dalam hidupnya, suami dan istri itu tingkatannya setara. Tanpa membantah lagi, Gea mencuci piring itu bersama dengan Briel. Gea yang menyabuni piringnya sedangkan Briel yang membilas piring itu.


"Selesai," ucap Briel sambil tersenyum.


Briel menggerakkan tangannya agar air itu cepat kering. Tindakannya itu membuat air yang tersisa di tangannya menyiprat ke wajah Gea. Gea memejamkan matanya. Diam–diam, tangannya bergerak menghidupan kran wastafel, lalu ....


"Hemp!" Briel memejamkan matanya tatkala Gea membalas Briel dengan menyipratkan air ke wajah Briel. Alhasil mereka bermain ciprat–cipratan air di dapur. Mereka tertawa bersama. Bahkan tawa Gea begitu lepas.


"Cantik," gumam Briel.


"Apa?" tanya Gea saat tidak begitu mendengar gumaman Briel.


"Bukan apa–apa!" kilah Briel. Ia gelagapan saat Gea agak mendengar gumamannya. Gea memandang Briel curiga.


"Sudah, mari kita ke kamar saja!" ajak Briel untuk mengalihkan topik mereka. Gea mengangguk ringan.


Merekapun menuju ke kamar. Gea langsung merebahkan tubuhnya di ranjang Briel yang empuk, sedangkan Briel merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


Gea menarik selimut untuk menutupi tubuhnya agar tidurnya lebih nyenyak. Ia memandang langit–langit kamar itu. Begitupun juga dengan Briel. Dalam hati, mereka berjanji satu sama lain tanpa mereka mendengarnya satu sama lain.


"Aku akan mulai belajar membuka hatiku. Mungkin ini terlalu cepat, tapi apa salahnya mencoba? Jika suatu saat nanti ia mengecewakanku, maka jangan salahkan aku jika aku pergi."


"Keputusanku sudah benar untuk membuka hatiku sepenuhnya untukmu. Mungkin terlalu cepat dan gila. Jika suatu hari nanti aku mengecewakanmu, percayalah saja padaku dan kumohon tetaplah di sisiku, apapun yang terjadi. Namun jika kamu pergi, aku akan membawamu kembali."


Mereka melantunkan kalimat itu dalam hati mereka masing–masing. Tanpa terasa mata mereka semakin berat. Tanpa mereka sadari sepasang mata milik mereka memejam dan pandangan pun menghitam, digantikan dengan dimensi petualangan yang semu di alam mimpi.


🍂


//


Hai semuaa... Adakah yang merasa aneh ketika Gea memanggil Briel dengan sebutan Bang? Apakah kalian ada yang ingin tahu alasannya?


Jika ada, maka penjelasan itu akan Asa ikut sertakan di part–part selanjutnya saat dia mulai bertemu dengan Runi, sahabat sekaligus rekan kerja Gea ya .... 😁😁


Terimakasih atas segala dukungan kalian untuk Asa 🤗🤗🤗


🍂


//

__ADS_1


Happy reading guys


jangan lupa bahagia 💕💕


__ADS_2