
Ke rumah mertua adalah tujuan Gea di weekend pagi hari ini. Briel yang tengah ke luar kota pun hanya bisa mengantar Gea saja. Ia bahkan tak mempunyai waktu hanya untuk sekadar mampir saja.
"Bunda …." panggil Gea seperti biasa dengan teriakannya.
"Iya, Gege ... Astaga masih saja teriak."
Tere menggeleng ringan melihat tingkah Gea. Gea hanya tersenyum kemudian memeluk erat ibu mertuanya. Ia juga mengecup ringan pipi Tere.
Tere memegang kepala Gea lembut. Ia menatap lekat netra Gea. Cukup lama ia menatap Gea sembari tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?" Tere merangkul lengan Gea, mengajak Gea masuk ke dalam.
"Baik, Bun. Sehat"
"Syukurlah."
"Bagaimana dengan Bunda dan Ayah?" tanya Gea kemudian.
"Baik Ge. Kami sehat. Ayah mertuamu juga berangsur–angsur kakinya mulai membaik," jawab Tere yang berjalan dengan tangan yang masih memegang erat lengan Gea.
"Dimana Ayah, bun?"
"Ada. Ayah di kamar."
Mereka berjalan menuju ke kamar. Di sana Gea melihat Frans tengah duduk di sebuah kursi yang menghadap ke luar jendela. Tangannya memegang sebuah koran yang dibentangkan. Sesekali tangannya membenahi kacamata yang Frans pakai.
"Ayah …." panggil Gea. Ia menghampiri Frans dengan senyum ramah. Frans membalas senyum Gea dengan hangat pula. Gea mencium punggung tangan Frans.
Mereka berdua berbincang–bincang, membicarakan apapun yang bisa dibicarakan. Termasuk ikan cuuppang yang beberapa hari lalu sempat Gea beli dari pedagang ikan yang menjual ikan cuuppang di pinggir jalan.
"Jangan lupa Gey, kalau pelihara ikan cuuppang nanti ikannya harus kamu jemur di bawah sinar matahari, sekitaran jam 8–10 selama 30 menit," ucap Frans. Pengalaman masa mudanya yang sering pelihara ikan cuuppang, membuatnya lebih berpengalaman.
"Eh? Memang perlu Yah?" Gea yang tak mengerti apapun pun bertanya. Ini kali pertama Gea memelihara ikan cuuppang.
"Ya perlu Gey. Cara ini bertujuan untuk membunuh bakteri dan jamur yang ada di dalam kulit maupun wadah ikan cuuppang. Kegiatan penjemuran ini juga dapat membuat ikan cuuppang menjadi lebih fresh dan terhindar dari stres."
Gea mengangguk saat mendengarkan saran dari ayah mertua.
"Akan tetapi, kalau ikan cuuppang panik ketika dijemur, ada baiknya segera pindahkan ke lokasi yang lebih teduh agar ikan merasa nyaman," ucap Frans lagi.
__ADS_1
"Astagaa … ikan saja bisa stres. Kukira hanya manusia saja," gumam Gea yang masih terdengar oleh Frans.
Frans tergelak. Nyatanya gumaman Gea mengundangnya untuk tertawa.
"Ya bisa dong, Gey. Namanya juga makhluk hidup."
Gea terkekeh. Memang benar apa yang dikatakan Frans. Dan walaupun ia tahu, ia hanya mengungkapkan saja apa yang ia rasakan.
"Lalu, Yah, dijemurnya itu berapa kali?" tanya Gea. Ia tak mau ikannya mati karena kesalahannya yang tak tahu bagaimana cara merawat ikan cuuppang.
"Cukup seminggu 1-2 kali saja."
"Okedeh, Yah."
Mereka terus berbincang, sampai Tere datang membawa 3 gelas jus dan buah–buahan segar.
"Wah wah wah … asiknya kalian ngobrol bersama. Kalian ngobrolin apa?" Tere meletakkan gelas–gelas itu di atas meja.
"Ngobrolin Bunda," ucap Gea dengan tawa kecil yang terdengar merdu.
"Iya kan Yah?" Gea mencari pembelaan pada Frans. Frans hanya tersenyum hangat.
Tere pun menoel hidung Gea. "Is is is beraninya gibahin bunda..."
"Bun, potongin mangga madu itu, Bun," pinta Frans.
Dengan cekatan, Tere mengambil sebuah mangga. Ia mulai memotong mangga itu. Kesukaan Frans adalah mangga madu yang belum terlalu matang, dan dimakan bersama dengan kulitnya. Sebelumnya mangga itu telah dicuci bersih.
"isshhhh... Kenapa mangganya masam sekali, Bun?" tanya Frans tatkala potongan mangga itu masuk ke dala mulutnya. Dahi dan matanya mengerut dan menyipit sedangkan bibirnya mengecap–ngecap rasa masam itu.
"Masak iya, Yah?"
"Coba aja Bun."
Tere memotong sedikit pada mangga itu, kemudian mulai memasukkan potongan kecil ke dalam mulutnya. Dan benar saja. Mangga itu terasa masam. Ia memuntahkan mangga itu.
"Beli di mana sih Bun? Jangan–jangan itu dulu mangganya masih muda nih sudah dipetik."
"Di tukang sayur tadi pagi Yah ...."
__ADS_1
"Is is is ... asem" ucap Frans yang masih saja memakan sisa potongan mangga yang telah ia gigit.
"Semasam itukah, Yah, Bun?" tanha Gea penasaran.
"Heem" sahut Tere.
"Coba deh, Gea pengin merasakan juga."
Gea mengambil alih mangga dan pisau yang ada di tangan Tere. Ia mulai memasukkan sepotong kecil mangga ke dalam mulutnya. Yang ia rasakan adalah segar manis manis bagaimana gitu. Bahkan raut wajahnya terlihat begitu menikmati mangga itu.
"Enak kok Yah, Bun. Mana ada rasa asemnya? Ini segar Yah, Bun."
Gea terus menikmati mangga itu. Hal itu membuat Frans dan Tere melongo. Mereka bahkan memandang Gea dengan ngiler sekaligus ngilu. Tere pun berpikir ulang.
"Jangan–jangan kamu nyidam Ge?" celetuk Tere.
Ucapan Tere membuat Gea tersedak. Ia pun meraih gelas berisi jus untuk ia minum.
"Udah coba tes?" tanya Frans menimpali.
"Belum, Yah, Bun. Kemarin lupa beli."
Yeahh emang benar. Karena Briel menemaninya turun kemarin, ia tidak jadi membeli tes pack.
"Ya sudah. Nanti kamu jangan lupa beli ya. Terus bagi tahu kami. Tak sabarnya menimang cucu..." ucap Tere. Bahkan ia membayangkan kelak menimang cucu.
Gea pun mengangguk dan melanjutkan makannya.
🍂
//
Hai semuanyaa.... sembari menunggu up, kalian bisa mampir dulu ke karya kakak online asa dibawah ini 🤗🤗
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagiaa 💕💕