
"Bagaimana keadaanmu, Kak?" tanya Gea baik–baik.
"Seperti yang kau lihat." Dela menjawabnya singkat, seadanya.
Gea membalasnya dengan senyuman yang hangat. Gea mengerti bagaimana Dela. Ia tidak akan memaksa Dela untuk mau berbicara panjang lebar dengan dirinya.
Gea mengedarkan pandangannya mencari sosok lelaki yang dimaksud oleh Samsul. Namun nyatanya ia tidak menemukan sosok itu.
"Apa ia ada di kamar mandi?" ujar Gea dalam hati. Ia celingukan menatap ke arah kamar mandi walaupun ia tidak mendengar apa pun dari sana.
"Cari apa?" Tingkah laku Gea membuat Dela curiga. Dela menyipitkan matanya.
"Enggak," ucap Gea. Ia glagapan mendengar pertanyaan yang tiba–tiba saja terlontar dari mulut Dela. Sesekali matanya melihat ke arah kamar mandi. Ia masih belum rela melepaskan target yang ia curigai. Sedangkan Dela hanya beroh ria, terkesan bodo amat. Bukan urusannya juga, pikir Dela.
"Terima kasih."
Suara Dela memecah keheningan. Satu kata yang sulit terucap, pada akhirnya terucap juga oleh Dela. Sebuah kata yang membuat Gea terharu bahkan hampir tidak percaya. Gea sedikit menggerakkan kepalanya dan mengangkat sebelah alisnya untuk memastikan lagi apa yang ia dengar.
"Aku tidak akan mengulanginya."
Dela mengucapkannya di sela hembusan napas panjangnya. Untuk mengucapkannya saja membutuhkan penurunan ego yang sangat besar. Bagaimanapun Gea telah menyelamatkan hidupnya.
Sebelum Dela tidak sadarkan diri, ia mendengar sedikit pembicaraan Dokter. Apa yang Dela alami bisa berbahaya untuk keduanya jika sampai terlambat membawanya ke rumah sakit. Tapi cukup sekali saja Dela melontarkan kata 'terima kasih', tidak untuk mengulanginya.
"Bisa–bisa kegeeran atau bahkan nglonjak," gumam Dela dalam hati. Prasangka buruk itu pun masih melekat. "Aku tidak ingin merasa berhutang budi padanya," lanjutnya dalam hati.
Gea menahan senyumnya, senyum bahagia. Namun tetap saja, kebahagiaan itu tidak bisa ia tutupi.
🍂
"Pak..."
Angga memanggil Samsul dengan hati–hati.
Samsul berjalan mendekat ke arah ranjang Angga. "Ya, Dek? Adek mau apa?" tanya Samsul halus.
__ADS_1
"Antar Angga menemui Kakak yang tadi," pinta Angga. Ia membutuhkan keberanian hanya untuk mengungkapkan permintaannya.
"Nanti saja ya, Dek, nunggu kaki kamu agak baikan," ucap Samsul mencoba memberikan pengertian. Tugasnya dari Gea adalah menjaga Angga untuk tetap istirahat.
"Gak mau, Pak. Maunya sekarang," ucapnya sembari menundukan kepalanya.
Melihat bagaimana ekspresi anak itu, Samsul iba. Ia menatap anak itu sendu. Dirinya sendiri juga bingung mau memutuskan apa. Samsul menghela napas.
"Ya sudah. Tapi Bapak tanya sama dokter dulu ya. Nanti kalau boleh, Bapak akan antar kamu," putus Samsul. Anak itu mengangguk antusias. Seketika raut wajahnya berubah. Setidaknya menjadi lebih cerah.
Tidak berapa lama kemudian, Samsul datang kembali. Ia mendorong sebuah kursi roda.
"Gimana Pak?" tanya Angga tidak sabar.
"Boleh. Tapi kamu harus menggunakan kursi roda ya," ucap Samsul.
"Iya Pak, tidak apa. Yang penting aku ketemu dengan Kakak itu."
Samsul tersenyum melihat bagaimana hati anak kecil itu. Ia membantu memindahkan Angga ke kursi roda. Cukup sulit namun tidak masalah baginya.
🍂
Begitupun juga dengan Dela. Ia turut mengalihkan pandangannya. Dela hanya menatap sekilas lantas membuang muka. Ia masih kesal dengan anak itu. Akibat ulah anak itu, ia masuk rumah sakit dan harus merasakan rasa sakit itu. Di detik itu juga, Angga menurunkan tatapannya. Ia menunduk. Rasa bersalah menyelinap kembali ke dalam benaknya. Bahkan lebih besar kala melihat Dela terbaring dengan pakaian yang sama dengannya.
"Eh Angga, kok ke sini?" tanya Gea. Angga tidak menjawab. Gea menatap ke arah Samsul, meminta jawaban. Samsul mengambil alih menjawab pertanyaan Gea.
"Adek ini yang meminta untuk diantar ke sini, Nyah," jawab Samsul apa adanya. Gea mengangguk mengerti.
Cukup lama ruangan itu hening, hingga Angga mulai angkat bicara.
"Kak, Angga minta maaf. Angga tidak sengaja. Andai saja Angga tidak kejar–kejaran, Kakak tidak akan sakit seperti ini. Angga minta maaf, maafkan Angga," ucap Angga. Suaranya melirih bahkan mulai bergetar menahan tangis agar tidak menjadi. Kepalanya semakin menunduk. Air mata itu mulai keluar lagi tanpa suara.
Dela yang semula menatap kesal kala Angga datang, kini mengiba. Ia tidak tega melihat anak remaja itu menangis. Dela memejamkan matanya sejenak lantas menghela napas kasar.
"Iya, tidak apa. Kaki Kakak hanya kesleo," ucap Dela meminimalisir cideranya. Ia tidak ingin membuat anak itu semakin merasa bersalah. Yeah ... Meskipun ia tetap kesal dengan anak itu.
__ADS_1
Mendengar penuturan Dela, Angga tersenyum cerah. Manik mata Angga tertangkap oleh kedua netra Dela. Tanpa sadar Dela menarik sudut bibirnya tipis. Hanya tipis. Ingat, gengsinya besar everybody.
Ada rasa bangga di dalam diri Gea. Anak itu mau mengakui kesalahannya dan mau minta maaf tanpa menyalahkan Dela yang sebenarnya kurang berhati–hati kala menyeberang. Gea mengusap lembut rambut Angga sebagai apresiasi darinya untuk Angga.
🍂
Jam sudah menunjukkan malam tiba. Ada rasa cemas di dalam hati Gea selama perjalanan, la memikirkan bagaimana duo kembar kala ia tinggalkan cukup lama.
"Pak lebih cepat lagi ya," titahnya pada sang sopir. Gea sangat gusar, ingin segera melihat wajah kedua anaknya. Hanya dengan itu ia bisa lebih tenang. Tanpa menunggu titah untuk kedua kalinya, Samsul menambah kecepatan pada mobil yang dikendarainya.
Gea memutuskan untuk pulang tatkala wali dari pihak Angga telah datang. Ternyata bukan orang tuanya yang datang, melainkan neneknya dan juga orang tua dari teman mainnya tadi. Kedua orang tua anak itu telah tiada dan ia hidup bersama dengan neneknya. Sedangkan sepeda yang ia pakai adalah pemberian dari om nya.
Sebelum Gea pergi meninggalkan Angga, nenek Angga meminta maaf atas kejadian itu. Begitupun juga dengan Angga. Gea juga telah membayar administrasi biaya rumah sakit untuk Angga dan juga Dela.
Mobil pun berhenti. Tanpa menunggu mesin itu dimatikan, Gea membuka pintu mobil. Ia berjalan cepat masuk rumah. Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, ia menghampiri kedua puteranya untuk melihat bagaimana keadaan mereka. Mereka terlelap di ranjang bayi masing–masing. Kelegaan mengalir begitu saja memenuhi ruang hatinya, membuang kegusaran yang semula melandanya. Gea tersenyum. Ia mendekati kedua anaknya itu, mencium mereka bergantian.
"Sudah lama?" tanya Briel yang kini sudah berada di belakang Gea. Gea menoleh ke arah Briel. Ia memeluk tubuh kokoh itu. Erat sekali, seakan tidak ingin orang lain memisahkan mereka.
"Belum, baru saja sampai," ucap Gea yang kini mendongakan kepalanya. Briel mengecup singkat kening Gea.
"Apakah mereka kehausan dan kelaparan?" tanya Gea cemas. Ia akan merasa bersalah jika itu terjadi pada kedua anaknya.
Briel menyelipkan sehelai rambut yang menghalangi wajah Gea."
"Tidak. Mereka baik–baik saja," ujar Briel jujur. "Ya sudah ganti baju, lalu mandi. Kamu pasti capek kan?" ucap Briel kemudian.
Gea mengembangkan senyumnya. Ia mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Ya sudah sana," titah Briel.
Gea melepas dekapannya itu. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sedangkan Briel memanggil kedua baby sitter untuk menunggu duo kembar terlebih dahulu. Ia ingin membawakan Gea makan malam ke kamar saja. Mereka semua sudah makan malam, tinggal Gea saja yang belum.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕