Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Gengsi


__ADS_3

Gaza menghela napas kasar.


"Delaaa ...." ucapnya tertahan. Ia tertawa, antara kesal, heran, lucu, dan menggemaskan. Ia menggaruk tengkuknya perlahan.


"Sudah lah, kamu duduk di sana. Biar aku saja yang masak. Bisa–bisa rumah ini terbakar karena ulahmu. Lihatlah sekelilingmu!"


Gaza menggerakkan dagunya untuk menunjuk barang–barang yang berantakan itu.


Dela mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan nyata. Dapur itu sangatlah berantakan karena ulahnya. Ia hanya cengengesan.


"Sini biar aku saja."


Gaza mengambil alih pekerjaan Dela. Dela menyerahkan panci yang ada di tangannya. Ia menuruti apa kata Gaza. Lagi pula ia juga tidak yakin jika masakannya akan terasa enak jika dimasak di bawah kendali tangannya.


"Eitt jangan duduk dulu. Bereskan kekacauan ini selagi aku masak."


"Lah tapi kan–" protes Dela terhenti.


"Sudah lakukan saja. Tidak ada kata tapi!"


Dela berdecak kesal. Wajahnya kini cemberut lagi. Kali ini Gaza tidak bisa dibantah. Raut wajahnya terlihat lebih seram dari pada biasanya. Mungkin juga dipengaruhi oleh mood yang tidak bagus. Dan ia tidak ingin menjadi objek pelampiasan bagi Gaza.


"Hiiii..."


Dela ingin memukul tubuh Gaza dari belakang tanpa sepengetahuan Gaza. Namun hanya ingin, tidak benar–benar ia lakukan meski tangannya telah mengudara tertahan.


"Sabar... " gumam Dela dalam hati dengan sebelah tangan yang mengelus–elus dadanya.


Dela memungut barang berserakan. Ia mulai mengambalikannya di tempat di mana barang itu semula berada. Setelah usai, ia mengambil sapu. Tidak mulus begitu saja. Gerutu–gerutu kecil menghiasi bersih–bersih di kala itu. Sedangkan Gaza sibuk berkutat dengan panci dan juga kompor.


Aroma bawang yang ditumis menguar lezat memenuhi dapur itu, membuat perut Dela semakin terasa lapar.


"Baunya enak sekali," batinnya memuji masakan Gaza. Sedangkan Gaza dengan terampil mengaduk nasi goreng yang hampir matang.


"Ambilkan piring," titahnya pada Dela.


Tak menunggu lebih lama lagi, Dela mengambil dua piring. Gaza menerima uluran piring itu. Ia menaruh nasi goreng itu. Namun ternyata piring yang terisi hanya satu piring saja. Yang satunya masih kosong, sebab ternyata sisa nasi yang bisa di makan tinggal satu porsi saja.


"Loh kok cuma satu?"


"Dah... makan."

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Dela, Gaza memberikan sepiring nasi goreng itu untuk Dela. Dela masih menatapnya penuh tanya. Yang membutuhkan makan tidak hanya dirinya. Gaza juga pasti membutuhkannya. Tapi kenapa cuma satu porsi untuk sepiring saja, begitu pikir Dela.


Gaza menatap manik nata itu. Ia tahu pikiran Dela namun ia memilih untuk menghela napas lantas meletakkan piring itu di atas meja. Ia mengambil satu sendok lantas memberikannya pada Dela.


"Makan nasi gorengnya, Dela."


Tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Gaza, Dela menerima sendok itu.


"Iya coba itu," titah Gaza sekali lagi.


Dengan ragu, Dela mulai menyendokan sendok itu, hanya sendokan kecil, lantas menyuapkannya ke dalam mulut. Perlahan ia mulai mengunyah nasi goreng itu. Beberapa saat kemudian, mata Dela berbinar. Rasa masakan Gaza benar–benar luar biasa. Bahkan restoran mahal yang pernah ia kunjungi pun tidak seenak itu.


"Bagaimana?" Gaza menaik turunkan alisnya. Kepercayaan dirinya penuh, bahkan semakin meluber. Ia bertumpu pada meja, untuk menyangga tubuhnya yang kini sedikit menyondong ke arah Dela.


Dela menelan segera. Ia mencoba merubah ekspresinya, berusaha agar ia tidak terlihat begitu menikmati nasi gorengnya.


"Biasa aja!" jawabnya dengan sedikit ketus.


"Ooo begitu ..." Gaza mengangguk anggukkan kepalanya, namun dalam hatinya ia tidak percaya.


"Ya, begitu," sahut Dela bohong.


Dela mulai menyantap nasi goreng itu hingga tersisa setengah. Ia meletakan sendok cukup keras di atas piring.


Dela melirik tajam ke arah Gaza. Ia minum lantas melangkah pergi meninggalkan Gaza. Sedangkan Gaza memutar bola matanya malas. Ia mengeluarkan jurus kesalnya, yaitu mengomel.


"Ck sudah dimasakan, tidak dihabiskan. Tidak tahu diri sekali kau!"


Gaza mulai geram dengan sikap Dela yang sangat menyebalkan baginya. Dela hanya mengangkat sebelah tangannya ke atas, lantas terus berlalu pergi. Ia tidak berniat menjawab perkataan Gaza.


"Oh iya." Dela berhenti lantas berbalik. "Thanks. Yeah ... Walau masakanmu bukanlah seleraku," ejek Dela dengan sebelah sudut bibir yang terangkat. "Bye!"


"Dasar wong edan!" teriak Gaza.


Gaza berdecak kesal. Ia bahkan meletakan panci di atas kompor hingga suara pertemuan antara stainless steel dengan tungku kompor memenuhi ruangan.


"Kenapa juga aku tadi mau membuatkannya makanan kalau berujung begini." Gaza menggerutu.


Gaza menyesal telah membuatkan nasi goreng untuk Dela. Jika tahu makanan tidak dihabiskan seperti itu, lebih baik ia tidak perlu repot–repot berkutat di dapur.


"Awas saja! Lain kali aku tidak peduli!"

__ADS_1


Gaza mulai membersihkan sisa–sisa peralatan uang kotor hingga bersih. Sisa–sisa bahan makanan yang sedikit berceceran pun juga ia bersihkan.


"Haih ... Ya sudahlah dari pada mubazir," ungkap Gaza.


Pada akhirnya ia menghabiskan sisa makanan Dela. Ia memang lapar, namun jika harus menahan rasa lapar pun dia masih kuat. Kini piring itu telah bersih tanpa ada satupun nasi tertinggal di sana.


Sedangkan di ruang tengah, Dela menyelakan kembali televisi. Tatapan matanya menatap layar yang menyala, namun pikirannya pergi ke arah lain.


"Hahaha syukurin kau makan nasi sisaku!" batin Dela.


Terkesan sedikit menyebalkan dan kurang ajar. Namun di balik itu semua, ia hanya ingin Gaza ikut makan. Gengsi yang terlalu tinggi membuatnya tak ingin merendahkan harga dirinya atau terlihat menunjukan perbuatan baik untuk Gaza. Atau ledekan nantilah yang akan menyerangnya.


Sementara itu di sisi lain, di kediaman Yohandrian, Tere sibuk membuatkan sayur daun katuk untuk Gea agar ASI Gea banyak. Mempunyai bayi kembar tidak gampang. Bahkan sering kali Gea kehabisan ASInya sendiri lantaran yang membutuhkannya 2 bayi sekaligus.


Tere mencicipi masakannya. Wajahnya berbinar. Rasa masakan itu sudah pas di lidah. Ia mengambil mangkok lantas membawanya ke atas untuk ia berikan kepada Gea.


"Ini, Ge, makan siangnya."


"Wah apa ini Bun?"


"Ini sayur daun katuk. Sayur ini bagus untuk memperbanyak ASI kamu."


Tere memberitahukan beberapa manfaat dari daun katuk itu, membuat Gea antusias.


"Waaahh baiklah kalau gitu Bun. Enak kan rasanya, gak aneh?"


Tere menggeleng sembari tersenyum hangat. "Enak kok."


"Oke Bun, makasih. Gea makan ya."


Tere mengangguk. Sementara Gea mulai menyantap makanan sederhana buatan Tere. Ada rasa bahagia terselip di dalam batinnya. Meskipun Gea berada di rumah mertua, namun pada nyatanya ia memiliki mertua yang sayang padanya bahkan teramat peduli dengan dirinya dan kedua anaknya.


"Habiskan, Ge. Awas kalau tidak dihabiskan," ucap Tere dengan sedikit ancaman. Ia hanya ingin menantu dan cucu–cucunya sehat selalu.


Gea mencium singkat pipi sang ibu mertua lantas tertawa kecil.


"Iya Bunda sayang... "


🍂


//

__ADS_1


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🌻


__ADS_2