
Gelak tawa memenuhi ruangan itu. Kali ini dunia terasa begitu lucu. Seakan dunia turut menertawakannya dengan tawa yang merendahkan.
"Jadi selama ini Papa begitu bodoh menerima wanita itu begitu saja dalam hidupnya?" Gea menjeda ucapannya lantas mengambil napas dalam. "Dan Mama terlalu baik hingga mudah diperdaya oleh wanita ular itu?! Hahaha"
Gea tertawa sumbang. Tawa itu terdengar miris bagi siapapun yang mendengar, termasuk Briel, Bima, dan Adam yang ada di ruangan itu. Apa yang diberitahukan Bima padanya membuatnya sulit untuk menerima semuanya.
"Kenapa? Kenapa dia begitu tega denganku?" Gea mengucapkan kalimat itu dengan merapatkan giginya. Ia menatap ke sembarang arah, lantas ia menatap mereka bergantian. "Kenapa dia begitu tega dengan Mama sampai–sampai Mama meninggal karena ulahnya?!" ucapnya setengah berteriak.
Tak ada air mata yang menetes. Matanya begitu kuat menahan buliran air mata yang siap untuk meluncur kapan saja jika diruntuhkan. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang terlampau besar. Tak ada yang menyahuti pertanyaan Gea yang memang tak perlu untuk dijawab.
"Gey,"
"Sayang,"
Bima dan Briel memanggil lirih nama Gea agar Gea tak lepas kendali lantaran hormon kehamilannya yang membuat Gea semakin sulit mengontrol diri.
"KENAPA ...AARRGGH!!!"
Bunyi barang berjatuhan terdengar. Semua berserakan di lantai. Gea mengosongkan meja itu dengan kedua tangannya. Membabi buta seakan Clara ada di sana dan melampiaskan kemarahannya itu.
"Lepaskan!!" teriak Gea tertahan. Gea memberontak tanpa henti. Briel memeluk Gea dari belakang, menahan tubuh Gea agar Gea tak membabi buta dan berpotensi menyakiti dirinya sendiri.
"LEPASKAN!!!"
Gea berteriak kencang. Ia ingin Briel melepaskan pelukannya itu.
"Tidak Gey, tidak!"
"Lepaskan Bayang, lepaskan." Ucapan Gea melemah. Pergerakan Gea pun seirama dengan suara Gea yang kian lirih. Air mata itu pun mengalir deras.
Melihat penolakan Gea dan merasakan pergerakan Gea yang tak sekuat tadi, Briel membalikkan tubuh Gea lantas mendekapnya, membiarkan Gea menumpahkan air matanya di dada bidangnya.
__ADS_1
"Berhenti Sayang, berhenti. Jangan sakiti dirimu. Ingatlah, di dalam perutmu ada anak kita, buah hati kita."
Pergerakan Gea melemah. Gea menangis semakin menjadi, namun isakannya tak terdengar. Tangannya sibuk memukuli dada bidang Briel.
Adam dan Bima yang melihat drama rumah tangga di depannya itu hanya mampu menatap iba.
Ada menggerakkan kepalanya ke arah luar.
"Bim, mari kita pergi dari sini"
Begitulah arti tatapan Adam padanya. Bima mengangguk lantas mereka berdua meninggalkan sepasang suami istri itu di dalam, memberikan ruang untuk mereka.
"Cari dia! Temukan dia sampai dapat! Tangkap dalam keadaan selamat dan berikan hukuman yang setimpal untuknya!"
Suara bariton tak terbantahkan itu terdengar. Adam dan Bima yang baru saja ingin membuka pintu pun berhenti kemudian berputar menghadap ke arah Briel.
"Sesuai perintah!" ucap Adam.
🍂
"Lapor! Kami dari kepolisian memberitahukan bahwa saudari Clara telah meninggal akibat terjatuh dari rooftop. Tersangka dinyatakan meninggal di tempat."
Yeahh. Tak butuh waktu berhari–hari, mereka dapat menemukan keberadaan Clara di kompleks perumahan mewah tempat Clara tinggal akhir–akhir ini. Namun sayangnya, Clara terjatuh dari ketinggian karena kecerobohan Clara yang tidak berhati–hati kala seorang polisi mengejarnya sampai ke rooftop. Kakinya terpeleset dan berujung jatuh dari ketinggian.
Ada rasa kecewa baik dalam benak Edi maupun Briel. Harusnya mereka bisa melihat wanita itu tersiksa dalam penjara, namun secepat itu Clara melewati penderitaannya. Gea hanya tersenyum miring. Tidak tahu harus bersedih atau bersenang hati. Sedangkan Dela menangis histeris kala melihat Maminya telah tiada hari itu juga.
Pemakaman tetap dilaksanakan di hari itu. Edi tetap menghantarkan istrinya ke peristirahatan terakhir.
"Mamiiii!!!" teriak Dela dengan tangisan histeris. Ia tak rela maminya dikebumikan. Ia masih belum bisa menerima jika maminya telah tiada.
"Ini semua gara–gara kamuuu!!"
__ADS_1
Tanpa diduga, Dela menyerang Gea tiba–tiba. Matanya memancarkan kemarahan, kebencian dan dendam dalam satu sorot mata. Gea memegang tangan Dela di lehernya yang membuat napasnya semakin tercekat. Tak bisa dihindarkan. Edi menahan tubuh anaknya itu dari belakang, Briel mencoba melepaskan tangan Dela dari leher Gea.
Kebencian, ternyata mampu membuat orang menjadi beringas. Tak tahan lagi, Edi melepas Dela.
Plak!!!
Tamparan keras itu mendarat di pipi mulus milik Dela. Hanya itu yang dapat Edi lakukan untuk menghentilan Dela. Wajah Dela sampai terhempas ke samping. Sebagian rambutnya uang tergerai menutupi wajahnya. Tangan Edi gemetar, lantas mengepal untuk mengurangi gemetar itu. Ada sesal dalam benak Edi kala tangan itu berhasil menyentuh keras pipi Dela.
Dela tertawa mengerikan. Tatapan tajam menatap mereka satu persatu. "Aku benci kalian! Terutama kau dan kau!" Dela menunjuk Gea dan Briel dengan telunjuknya, tegas. Namun mereka masih diam lantaran mereka tahu betapa terpukulnya Dela akan kejadian ini.
Dela beralih menatap Edi. "Dan aku kecewa sama Papi. Nyatanya Papi lebih sayang Gea dari pada aku. Bahkan Papi dengan entengnya menampar aku." ucapnya datar tanpa ekspresi. Ia pergi meninggalkan mereka semua dengan hati yang hancur.
Kehilangan yang paling mengerti adalah sebuah hantaman besar dalam hidupnya. Dan mereka memahami bagaimana perasaan Dela.
Satu persatu mereka meninggalkan pemakaman itu. Hingga tersisa Edi, Gea, dan Briel. Edi berjongkok menyentuh tanah yang masih basah bertabur bunga itu. Ia menatap nisan sang mendiang istri keduanya. Tak bisa dipungkiri, ia juga merasa kehilangan, karena selama belasan tahun ia hidup bersama Clara.
"Ayo pulang Pa," ajak Gea dengan menyentuh pundak Edi.
"Pulanglah dulu, Gey, Bri," ucap Edi yang menoleh sekilas.
Hening. Gea masih menunggu Edi, begitupun juga dengan Briel.
Briel menatap Gea. "Ayok" ajaknya setelah cukup lama.
Gea mengangguk. Ia juga ingin memberikan waktu untuk Papanya di tempat peristirahatan terakhir Clara. Briel merangkul mesra pundak Gea dengan mesra, meninggalkan pemakaman itu, menyisakan sang papa seorang diri.
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕