
Tiga insan manusia tengah duduk saling berhadapan di meja bundar sebuah cafe yang tidak begitu besar namun nyaman. Cocok untuk tongkrongan anak muda yang jenuh di rumah. Mereka bungkam. Belum ada di antara mereka yang mau mengawali pembicaraan. Tiga es kopi menemani keterbungkaman mereka.
"Ehemm." Gaza berdeham. Upaya Gaza membuat Gea dan juga Briel mengalihkan perhatiannya. Mereka berdua menatap Gaza.
Gaza menarik napas dalam, ingin memulai pembicaraan.
"Apa niatmu ke rumah Dela?!"
Bukan Gaza yang berbicara. Namun Gea lah yang bertanya pada Gaza langsung.
"Seharusnya saya yang tanya. Ada perlu apa kalian ke rumah saya?" Tatapan mata Gaza benar–benar datar, selaras dengan nada suaranya yang juga datar.
"Apa buktinya itu rumah kamu?"
Kini Briellah yang angkat bicara. Dua orang pemilik rumah yang berbeda. Mereka menyerang Gaza bersamaan dengan kalimat tanya yang memojokan Gaza.
Gaza menghela napas kasar. "Dengarkan saya dulu! Kalian tidak akan paham kalau saya tidak menjelaskan!"
"Tapi kamu tu berbahaya untuk Kak Dela!" bentak Gea tidak sabaran. Briel yang ada di samping Gea pun mengelus pundak Gea agar Gea lebih tenang.
"Tenanglah. Dengarkanlah dia dulu," ujar Briel menengahi.
"Silahkan jelaskan!" ujar Briel dengan tidak menurunkan kadar kewibawaannya.
Gaza menarik napas. "Saya yang mengajak Dela tinggal di rumah itu. Waktu itu saya menemukan Dela melakukan percobaan bunuh diri di club. Saya membawanya ke rumah sakit. Belum sempat ia pulih, ia kabur. Dan saya menemukannya tergeletak di jalanan. Untuk itu aku membawanya ke rumah."
Briel dan Gea masih menyimak penjelasan Gaza.
"Awalnya saya tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi. Karena saya akui, dia adalah orang yang ditargetkan Davin untuk dihancurkan dan saya adalah orang yang memperlancar tujuan Davin."
"Kamu–" Gea bersiap menampar Gaza. Namun Briel menahannya. Amarah Gea membuncah kala saudaranya dicelakai seperti itu.
Gaza hanya menatap datar tanpa berniat menghindar ataupun melawan.
"Lanjutkan!"
"Tapi saya tidak melakukan perintah Davin 100 persen. Dia menyuruhku untuk menyetubuhi Dela tapi saya tidak melakukannya. Hanya menelanjanginya untuk difoto lantas dikirimkan pada Davin."
__ADS_1
Mendengar segala penjelasan membuat Gea semakin tidak bisa menahan emosinya. Briel kelepasan. Gea berhasil menampar Gaza, keras. Gaza tidak melawan. Dia juga tidak membalas.
"Tenanglah, dengarkanlah dulu!" ujar Briel mencoba menenangkan Gea. Rahang Gea mengeras, buku buku jemarinya memutih lantaran semakin eratnya tangan Gea mengepal.
"Memang pernah suatu ketika kita tanpa sengaja melakukannya, namun percayalah anak itu anaknya Davin, bukan anakku. Kita melakukannya sebelum dia menikah sama Davin. Dan mungkin dia juga sudah melupakannya karena waktu itu Dela berada dalam pengaruh obat begitupun juga dengan saya yang ada dalam kondisi mabuk."
Gaza diam sejenak, meminum kopi es itu. Ia menghela napas lagi lantas melanjutkan ceritanya.
"Dan saya tidak tega melihat dia yang menyakiti dirinya sendiri terlebih anaknya yang tidak diinginkan kehadirannya, hasil pernikahan mereka. Davin sengaja mencari celah untuk kembali bersamamu."
Gaza menatap ke arah Gea. "Tapi yang dia inginkan bukan cintamu, namun hartamu. Cintanya kepadamu hanyalah sebuah kedok dan obsesi."
"Untuk itu saya membawa Dela yang sudah tidak mempunyai suami ke rumah saya. Yeah saya hanya berharap dia tidak melakukan hal gila untuk mengakhiri takdir anaknya."
Gaza menatap ke arah Briel dan Gea secara bergantian. Sedangkan kini Briel dan Gea tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Gea dan Briel menatap Gaza dengan tatapan yang tidak bisa didefinisikan. Gaza melakukan kesalahan dan kebenaran di waktu yang bersamaan.
"Dan lagi. Aku tidak ingin hidup Dela berakhir seperti orang yang kucintai waktu itu dengan posisi yang sama seperti yang Dela rasakan. Diceraikan dalam keadaan hamil yang berakhir dengan menggugurkan kandungan yang merenggut nyawanya," lanjut Gaza dalam hati.
Sempat Gaza ingin mengutarakan hal itu. Namun tak sampai. Semua kata demi kata seperti tersangkut di lehernya, menyekiknya dengan membawa kenangan gelap itu di hidupnya. Wanita itu adalah wanita pertama yang mampu merubah pandangan hidupnya setelah hidupnya dihancurkan oleh seorang mucikariii.
"Jadi saya membawanya ke rumahku karena kasihan. Lagian jika ada apa–apa dia akan merepotkanku. Seperti kemarin, dia kecelakaan, saya pula yang harus ke sana ke mari," ujar Gaza kemudian dengan egonya yang sudah kembali. Ia menutupi kesedihan dengan caranya sendiri.
"Jika tidak mau direpotkan, kembalikan dia ke orang tuanya," ujar Briel. "Dia masih punya orang tua yang mau mengurusnya!"
Ada kemarahan yang terselip di setiap kata demi kata yang terlontar dari mulut Briel. Perlakuan Gaza terbilang tidak bisa menghargai wanita. Namun perlu diingat. Itu dari yang Gaza tunjukan bukan dari apa yang Gaza rasakan.
"Kalau dia mau ya terserah! Selama ini jika dia mau kembali, detik ini juga dia tidak akan bertahan di rumah kecil bersama saya."
Skak mat. Gea dan Briel tidak mampu membalas ucapan Gaza lagi. Benar. Apa yang Gaza ucapkan benar. Dan penyebab Dela tidak mau kembali adalah Edi bangkrut. Itu yang ada dalam benak Gea.
"Tapi bagaimana dengan dia sekarang?" tanya Gea. Kini nada bicaranya sudah berangsur normal. Kemarahannya telah luruh meski tetap saja perlakuan Gaza tidak bisa dimaafkan.
"Dia baik. Kandungannya mulai kuat dan kakinya membaik," ujar Gaza.
"Dan sudah terbukti dengan hadirnya kalian di sini," gumam Gaza dalam hati.
Tanpa mereka sadari, Gazalah yang mengatur agar kedatangan Gea dan Briel terealisasi. Ia juga ingin melatih ketahanan Dela dengan bergerak cukup banyak namun tidak sampai kelelahan sesuai dengan saran dokter setelah Dela mulai membaik.
__ADS_1
Sewaktu di rumah sakit, Gaza melihat Gea memasukan selembar kertas kecil ke dalam tas Dela. Diam–diam Gaza mengganti kertas kecil itu dengan kertas yang lebih besar. Ia juga membuat kertas itu tersangkut pada uang milik Dela agar sewaktu–waktu Dela mengambilnya, kertas itu turut terambil. Kertas kecil tetap bisa terlihat namun kemungkinannya sangat kecil.
"Bolehkan kami ke rumahmu?" tanya Briel langsung ke tujuan awal mereka.
"Boleh. Tapi tunggu sebentar. Saya ingin ke luar sebentar."
Briel dan Gea mengangguk. "Baiklah. Kami tunggu."
Selepas itu Gaza meninggalkan mereka. Sedangkan Briel dan Gea memutuskan untuk ke rumah Angga yang alamatnya tidak jauh dari sana. Gea ingin memastikan juga kondisi Angga saat ini.
"Sepertinya ini rumahnya," ujar Briel. Mereka sempat bertanya pada tetangga Angga.
Mereka mengetuk pintu. Namun tidak ada sahutan sedikitpun dari dalam. Mereka celingukan untuk mencari keberadaan Angga dan neneknya.
"Maaf Mas, Mba, cari siapa ya?" tanya tetangga sebelah rumah itu yang sedari tadi mengamati gerak–gerik mereka berdua.
"Pemilik rumah ini ke mana ya Bu?" tanya Gea.
"Wah kalian telat. Baru saja tadi pagi pemilik rumah ini pergi membawa banyak baju."
Gea dan Briel saling pandang. "Kalau boleh tau pergi ke mana ya Bu?" tanya Briel.
"Wahh ... Saya tidak tahu Mas. Sudah ya saya permisi," pamit ibu itu.
"Iya Bu, terima kasih," ujar Briel.
Gea kecewa lantaran tidak menemukan anak remaja itu dan neneknya.
"Sudahlah. Doakan saja mereka baik–baik saja" ujar Briel.
Gea mengangguk. Cukup lama Gea menatap rumah itu sebelum pada akhirnya mereka berdua kembali ke rumah Gaza.
🍂
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻