
"Bayang, lihat gaun ini," keluh Gea dengan wajah cemberut. Ia datang dengan 2 orang wanita di sampingnya yang membantu dirinya memakai gaun putih panjang itu. Melihat bayangannya di cermin tadi sewaktu di dalam ruang ganti cukup merusak suasana hatinya lantaran apa yang ia lihat tak sesuai dengan ekspektasinya sebagai wanita.
Tak ada jawaban. Briel menatap Gea tanpa kedip. Kedatangan Gea menurut pandangan matanya, Gea berjalan begitu anggun dengan gerakan slow-motion yang begitu memukaunya bak seorang bidadari yang tengah menghampirinya. Dua wanita itu menahan tawanya kala melihat respon Briel yang memuja wanitanya.
"Bayaaang!" seru Gea dengan suara setengah beteriak lantaran gemas dengan respon Briel.
Gea ngedumel dengan bagaimana sikap Briel yang menatapnya seperti itu. Ada rasa insecure muncul dalam dirinya sebagai wanita. Sebenarnya pun, di satu sisi dia sadar bagaimana harusnya dia bersikap. Namun kali ini sikap kekanak–kanakannyalah yang dominan.
Dan Briel yang ada di sana hanya menuruti apa mau Gea. Ia tahu, sekeras apapun ia meyakinkan seorang wanita, akan sulit untuk diterima kecuali sang wanita itu sadar dengan sendirinya. Sedangkan kedua wanita yang membantu Gea hanya senyam senyum melihat dua insan telat resepsi itu.
"Apapun dan bagaimanapun kamu, akan tetap kamu, selamanya di sini."
Kala itu Briel telah menarik sebelah tangan Gea lantas menuntun tangan itu hingga telapak tangan Gea menyentuh dada bidangnya yang berbalut dengan kemeja merah maroon. Mata mereka saling bertaut, menatap lekat satu sama lain. Perlahan Briel mendekatkan wajahnya ke wajah Gea. Kedua wanita yang ada di sana pun saling menatap satu sama lain. Mereka saling mengirimkan sinyal–sinyal dengan mulut yang komat kamit tanpa bersuara.
"Eheeem!!! Bagaimana dengan gaunnya Bos?" Dehaman keras itu menyadarkan Briel dan Gea. Salah tingkah, Briel mengalihkan niatnya. Tangannya bergerak menyentuh kepala Gea bagian belakang samping.
"Aaa ... Ku kira ada sesuatu yang menempel di rambutmu, Sayang."
Terlihat kentara sekali jika Briel tengah salah tingkah. Dari ucapannya yang sedikit gugup itu, semua orang pun mampu menilainya.
__ADS_1
"Wihh pinter sekali ya sekarang ngelesnya," gumam Gea dalam batinnya.
Sedangkan dengan bangganya Briel sedikit mengedipkan matanya bahwa ia masih bisa menanggulangi rasa malu yang sebenarnya tak terbendung itu.
"Mbak ambil gaun ini. Bawa ke rumah pada saat acaranya nanti!" titah Briel.
"Siap Bos!"
Mereka berdua kembali membawa Gea masuk ke ruang ganti. Mereka kembali membantu Gea untuk melepaskan gaun itu. Tidak lama kemudian, Gea keluar dengan dress ibu hamil yang semula ia kenakan.
"Oh iya Hendri ke mana?"
Gea mengedikkan bahunya. "Entahlah. Sibuk mungkin. Kan butik ini sebentar lagi ada peluncuran produk juga. Dia juga harus bolak balik ke Jerman. Semua tanggung jawabku kan sudah kulimpahkan ke Kak Hendri."
Gea berjalan menghampiri Briel. "Bayang gak cobain tuxedonya?"
"Tidak usah. Mereka sudah tahu seberapa ukiran bajuku. Lagi pula mereka pasti lebih mengerti apa yang cocok dengan gaun yang nanti kamu pakai."
Briel tak mau ribet. Ia lebih suka dengan hal–hal yang simple. Gea mengangguk membenarkan ucapan Briel.
__ADS_1
🍂
"Kurang ajar! Siapa yang berani beraninya membobol sistem perusahaan!" umpat Edi. Ia mengacak rambutnya sembari menatap layar laptopnya itu. Data–data perusahaannya telah disebarluaskan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
"Sistem kita telah diretas. Jika tidak dapat dipulihkan lagi, perusahaan ini terancam bangkrut, Pak," ujar sekretarisnya itu.
"Cepat cari tahu apa yang terjadi dan atasi semua!"
Sang sekretaris mengangguk. Lantas ia kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan tugasnya. Ia akan mencari tahu apapun untuk pengabdiannya kepada tuannya.
Wajah Edi terliha gusar. Masalah perusahaan yang terjadi sekarang merupakan hantaman terbesar selama ini. Sebisa mungkin, Edi mempertahankan apa yang sudah ia bangun sejak awal. Ia tak ingin apa yang selama ini ia perjuangkan lenyap begitu saja.
🍂
//
Happy reading gaess
Jangan lupa bahagia 💕💕
__ADS_1