
"Wadaww lumayan juga uangnya. Kalau tahu Dela anak orang kaya, tadi aku mintanya 10 kali lipat saja. Kan mayan buat tambahan uang belanja bulanan," ujar Ida sembari melebarkan uangnya seperti kipas dengan senyum lebar.
Ida menatap jejeran uang itu. Matanya berbinar, mungkin jika dilihat dari kacamata kejujuran warna mata Ida sudah berwarna hijau.
"Ibu! Tidak punya malu yaa ... Ibu minta 5 kali lipat untuk mengganti uang arisan saja Bapak tidak tahu di mana bapak mau menaruh muka bapak!"
Secepat kilat Gati merebut uang itu dari tangan Ida. Ida berusaha keras mengambil kembali uang yang Gati ambil.
"Bapak ihhh!!" rengek Ida sembari terus meraih uangnya.
"Ini punyaku Pak! Lagian dia sendiri yang bilang. Aku hanya menagihnya. Hutang tetap hutang!"
Ida tidak mau kalah. Ia menjelaskan ulang apa yang telah terjadi. Gati menghela napas kasar. Ia berdecak.
"Nih!"
Gati menyerahkan uang itu kembali. Ketus ia berucap namun percuma. Bagaimanapun cara ia berbicara, istrinya tetaplah tidak akan pernah bisa berubah kecuali ada azab yang mengikuti istrinya itu.
"Ah amit amit. Begitu juga dia juga istriku!" gumam Gati dalam benaknya. Ia menarik semua pemikirannya. Bagaimanapun juga Ida adalah hidupnya. Ia masih melirik malas wajah istrinya sembari berkacak pinggang.
"Apa Bapak lihat–lihat?"
"Benahi lipstikmu!" ujar Gati ketus lantas berlalu.
"Punya istri susah sekali diatur!" gerutu Gati yang terus berlalu. Ia memilih untuk membenahi pancingnya yang akan ia gunakan untuk berburu sore nanti.
"Hah??"
Ida panik. Segera Ida mengambil cermin kecil dalam tasnya. Ia panik untuk membetulkan riasannya itu. Penampilan itu nomor satu dan kecantikan perlu ditonjolkan. Berdandan menor adalah kebiasaannya dan ia akan merasa cantik dengan dandanan seperti itu. Namun tidak bagi orang lain. Ida seperti ondel – ondel Betawi yang akan memulai pertunjukan.
"Aaa benar ... Astaga lipstikku. Jangan–jangan dari tadi seperti ini," rutuk Ida sembari mematuk wajahnya di depan cermin. Telunjuk tangannya sibuk membenahi lipstiknya yang melewati garis bibir.
🍂
"Auhhh dasar emak–emak mata duitan. Perhitungan sekali dia dengan uang. Uang arisannya saja hanya dua ratus ribu, eh dia minta satu juta. Enak sekali dia menikmati uang palakan!"
Dela masih menggerutu sebal dengan Ida. Ia tidak ikhlas uang delapan ratus ribu hilang begitu saja. Semenjak ia hidup jauh dari Edi, uang sebanyak itu sudah bernominal banyak.
Dela berjalan kembali menuju ke rumahnya. Niatnya untuk mencari daster terhenti begitu saja. Ia sudah tidak bersemangat lagi.
Kaki Dela tetap melangkah namun pikirannya tidak sejalan. Banyak hal berputar di dalam otaknya, berputar cepat dan membuatnya gelisah. Edi berjalan mengikuti ke arah Dela pergi, di belakang Dela.
__ADS_1
Tiba–tiba saja Dela berhenti lantas berbalik menghadap ke arah Edi.
"Untuk apa Papi ke sini?" tanya Dela seketika. Pada akhirnya salah satu tanya yang besar di pikirannya ia keluarkan.
Edi menghela napas kasar. "Biarkan Papi ikut ke rumahmu," ujar Edi tanpa menjawab pertanyaan Dela.
"Tidak. Untuk apa Papi ke sini?" Dela tidak berniat membawa Edi ke rumah Gaza.
"Biarkan Papi ikut bersamamu. Nanti akan Papi jelaskan." Edi berujar sembari mata Edi mencuri pandang ke area sekitar. Ia mengisyaratkan pada Dela untuk ke rumah Gaza saja. Membicarakan hal pribadi di gang dekat kontrakan di tengah perkampungan itu terlalu ramai. Yang ada mereka hanya menjadikan masalah Dela sebagai bahan gosip terupdate.
Dela menatap sekitar dengan sudut matanya. Benar saja, banyak ibu–ibu kampung mencoba menguping pembicaraan mereka dengan bersembunyi di balik pagar. Mungkin mereka pikir pagar itu cukup untuk menutupi keberadaan mereka, namun dari celah pagar keberadaan mereka dengan mudah dapat diketahui.
Dela berdecak. Ia tidak memiliki pilihan lain. Tanpa kata Dela berbalik lantas berjalan kembali dengan Edi yang masih terus mengikutinya.
"Sudah kuduga. Mana dasternya? Kete... Eh?"
Sapa Gaza terhenti. Gaza yang semula ingin mengejek Dela, kini menatap Dela penuh tanya. Ia meminta penjelasan lebih, mengapa Edi ikut serta bersama dengan Dela.
Edi menatap datar ke arah Gaza. Ia masih belum bisa terbuka dengan pria di depannya itu.
Dela hanya memberikan isyarat lewat tatapan mata dan gerakan kepala untuk tidak banyak bertanya.
"Masuk."
Mereka bertiga duduk di ruang tamu, duduk di sebuah sofa sederhana. Edi mengedarkan pandangannya, meneliti setiap inci keadaan rumah itu.
"Kecil, tapi cukup nyaman," batin Edi.
"Untuk apa Papi ke sini?" tanya Dela langsung. Ia tidak ingin berbasa–basi lebih lama. Hatinya rindu tapi egonya menolak.
"Papi haus. Ambilkan minum dulu, Del," ujar Edi pada Dela.
"Pi ..." Dela memprotes.
"Ambilkan dulu."
Dela menghela napas kasar lantas pergi mengambil segelas air. Sedangkan di ruang tamu itu suasana begitu tegang. Tidak ada percakapan di antara Gaza dan Edi.
🍂
Edi menenggak air putih itu. Ia memang haus lantaran harus melewati tragedi yang menyebalkan.
__ADS_1
"Cepatlah katakan Pi. Aku ingin istirahat segera," ucap dela acuh tak acuh. Dela hanya tidak ingin berada di situasi seperti itu terlalu lama.
"Pulanglah, Del. Papi ingin kamu pulang."
"Pfft"
Jauh di luar dugaan. Dela menahan tawa agar tidak meledak. Baginya kalimat Edi adalah candaan yang sangat lucu. Setelah bangkrut masih saja memintanya pulang. Bagaimana ia akan makan nanti. Egonya berbicara. Ia melupakan uang satu juta yang diberikan cuma–cuma kepada Ida.
Edi menatap heran, begitupun juga dengan Gaza.
"Haeh ... Haeeh ... Pulang? Tidak. Aku tidak mau pulang!" ujar Dela.
Melihat respon anaknya, Edi pun angkat bicara. "Sebenarnya ada yang ingin Papi bicarakan." Edi terdiam sejenak. "Semua ini hanyalah kebohongan. Papi tidak pernah bangkrut. Papi hanya ingin melihat bagaimana anak anak Papi," lanjutnya kemudian.
Penuturan Edi seakan menghantamnya. Ia merasa dibohongi selama ini. Pundak Dela naik turun menahan emosi. Kemudian Dela tertawa kencang.
"Wahh ... Selama ini Papi membohongiku. Tega sekali Papi membuat anaknya hidup miskin seperti ini."
Ada kekecewaan di dalam batin Dela. Ia tidak percaya ternyata kebangkrutan itu hanya prank semata.
"Iya maka dari itu, Papi ingin kamu pulang. Sudah cukup kamu hidup susah, Sayang." Edi menatap Dela penuh harap. Ia berharap anaknya itu tetap pulang bersamanya.
"Tidak. Aku tetap tidak mau pulang!" ujar Dela kekeuh. Entah mengapa ia merasa berat saja kala mendengar kata pulang. Ia enggan untuk meninggalkan rumah kontrakan itu.
"Tapi..."
Tutur kata Edi terpotong.
"Aku mau istirahat dulu Pi. Bye!"
Tanpa mendengarkan ucapan Edi, Dela memilih meninggalkan ruang tamu. Ia masih belum bisa mencerna atas semua yang terjadi.
"Lebih baik Anda pulang terlebih dahulu. Biar Dela menjadi urusan saya untuk saat ini," ujar Gaza menenangkan Edi. Ia tersenyum tipis. Ternyata ia melewatkan informasi itu.
"Baiklah"
Gaza mengantar Edi sampai ke depan pintu.
//
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻