Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Lembaran Baru


__ADS_3

“Ah bagaimana ini? Aku terkurung di sini berhari-hari. Ruangan ini memang besar. Namun rasanya sangatlah sesak.”


Minah menyapu ruangan itu dengan kedua manik matanya. Ia duduk dengan lutut yang tertekuk. Helaan napas sering kali terdengar, melepas beban berat di pundaknya. Tangannya aktif mengusap kedua lengannya, meratapi nasibnya.


“Huffftt! Aku yakin, ini semua gara-gara Dini. Sialan tu orang! Tidak tahu sekali berterima kasih. Aku tidak yakin, apa yang dulu pernah ia ceritakan ke aku benar apa tidak. Buktinya apa? Sama anak kecil saja tega!” gerutu Minah kecewa. Kepercayaannya kini telah sirna terkikis kekecewaan yang berbalut sakit hati. Bahkan ia sudah menganggap Dini adalah biang masalah di hidupnya.


Tiba-tiba saja, suara kunci pintu terdengar. Ia berdiri dengan hati yang was-was. Bagaimana jika Frans mengamuk seperti sebelumnya. Wajah bergaris itu memperlihatkan ketegasan, kewibawaaan dan kekejaman secara bersamaan. Aura itu membuat nyalinya semakin menciut. Bahkan pasrah dengan nyawa yang dimilikinya itu. Napasnya terasa semakin berat.


Tak lama kemudian, terlihat Frans berjalan dengan kedua anak yang mengapitnya, berjalan di belakang Frans dengan muka yang sangar.


Tak berani menatap, Minah menundukkan kepalanya dalam. Manik mata Frans hanya akan membuat dirinya semakin ketakutan. Deru napas Frans saja sudah membuatnya mati kutu, apa lagi suara dan tatapan Frans.


Suara hentakan sepatu berhenti tidak jauh dari tempat Minah berdiri. Pucuk sepatu itu terlihat di mata Minah. Tak ada suara lagi. Ia yakin, Frans hanya menggunakan bahasa isyarat saja. Hanya dengan sebuah gerakan dagu saja, kedua anak buah Frans itu mereka mampu mengerti apa yang Frans maksudkan.


Kedua anak buah Frans menghampirinya. Minah memejamkan matanya. Ia sungguh pasrah dengan apa yang akan ia alami. Dibunuh mungkin.


“Hahh?” Minah bersuara pelan. Ia masih tidak percaya. Besi yang merantai kakinya terlepas. Inilah kehidupan barunya. Pergelangan tangan yang terikat, kini telah bergerak bebas. Matanya berbinar bahagia layaknya korban jajahan yang telah merdeka.


“Maafkan saya Minah. Kamu bebas,” ujar Frans rendah hati. Tidak ada sikap arogan yang ia tunjukkan meskipun ia sang penguasa.


“Terima kasih Tuan, terima kasih Tuan...” Minah membungkukkan badan berulang kali, mengungkapkan rasa syukurnya karena nyawanya masih ada hingga saat ini..


“Jangan kapok ya. Saya hanya tidak ingin kehilangan cucu saya.” Frans berkata jujur. Ia tidak bisa kehilangan satu cucu meski ia masih mempunyai Nino. Frans juga masih ingin mempekerjakan Minah untuk membantu Gea menjaga duo kembar.


//


“Bagaimana dengan Rio?” tanya Edi. Sang ayah berlari tergopoh menghampiri Gea yang baru saja sampai di rumah. Ia membawa Rio dalam gendongannya.


“Seperti yang Papa lihat. Kami selamat. Dan ternyata...” Gea menghela napa panjang. Berat rasanya ingin mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.


“Ternyata apa?” tanya Edi tidak sabar dan juga penasaran.

__ADS_1


“Mantan istrimu yang menculik cucu kita. Benar benar biadab!” sahut Frans yang muncul dari dalam rumah.


Sontak Gea dan yang lainnya menoleh ke arah Frans.


“Ha? Apa? Cla-Clara?” Edi mencari Validasi dengan menatap Gea dalam-dalam.


Gea mengangguk lemah namun pasti.


“Maafkan Papa, Gea ... Maafkan Kakek, Rio,” ujar Edi penuh penyesalan.


“Dimana dia sekarang?!”


Gea menggeleng, tidak tahu lagi bagaimana keadaan Clara. Tugasnya hanya melarikan diri dan selamat sampai rumah itu kembali.


“Mati,” ujar Frans santai, namun ada sedikit rasa kesal lantaran Clara malah mati secepat itu.


“Hussshh... meninggal Yah!” Tere mengkoreksi ucapan Frans. Baginya mati adalah istilah untuk makhluk hidup atau benda yang kehilangan kehidupannya.


“Sama aja lah bun. Lagian dia sudah bukan manusia. Hatinya di mana coba? Ga ada kan?! Otak ada pun asti hanya untuk pajangan semata!” omel Frans menggerutu.


“Hmm”


Frans hanya membalasnya dengan dehaman. Sedangkan Nathan hanya berani menunduk dan Adam menahan senyumannya yang lucu saja. Pasangan tua itu tidak pernah mereda kehangatannya.


Lain halnya dengan Frans, Edi sungguh menyesal telah melibatkan Clara dalam cerita sejarah hidupnya. Pada nyatanya Clara sumber petaka.


“Pa...” panggil Gea. Ia menatap papanya sendu. Perlahan Edi mengangkat tatapannya.


“Hem?”


“Aku dan Rio baik-baik saja. Sudahlah. Mari kita buka lembaran baru.”

__ADS_1


Satu kalimat yang terlontar dari bibir Gea, cukup ampuh untuk menenangkan hatinya. Senyumnya kembali terbit di bibirnya yang tebal itu. Edi mengangguk lega.


“Ya?”


Suara dering gawai yang terdengar di gawai milik Tere, membuat semua orang terfokus pada Tere.


“Apa? .... Baiklah. Kami akan segera ke sana.”


Tak lama setelah itu, sambungan di matikan. Mereka menatap Tere dengan beribu tanya.


“Dela pendarahan!”


Mereka semua bergegas menuju ke rumah sakit yang telah dibagikan. Sedangkan Gea tidak boleh ikut. Ia harus di rumah dengan pengawasan Adam. Mereka kehilangan kepercayaan jika mereka harus meninggalkan Gea hanya dengan Minah seorang. Mereka takut kejadian yang telah usai itu terulang lagi.


“Hati-hati kalian,” ujar Gea.


//


Gaza berlari bersama perawat yang mendorong brankar ke ruang IGD. Dela akan mendapatkan pertolongan pertama secepatnya. Terlihat kekhawatiran itu begitu jelas di wajahnya. Ia tidak ingin janin itu menyerah. Briel dan yang lainnya turut mengejar ke mana Dela dibawa.


“Maaf, Anda harus menunggu di luar,” larang perawat itu sopan. Perawat itu menutup pintu ruangan rapat-rapat.


“Lakukan yang terbaik Dok!” teriak Gaza beriringan dengan pintu yang tertutup itu. ia tidak peduli dengan banyak pasang mata yang mengarah padanya. Ia juga tidak peduli suaranya didengar atau tidak. Yang ia yakini pasti didengar.


Gaza tidak bisa melakukan apapun. Ia meraup wajahnya, frustasi, dengan kedua tangannya. Ia hanya bisa berharap yang terbaik dengan Sang Pencipta.


//


🍂


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia


Jangan lupa juga ketenangan hati 🤫🤗🤍🤍


__ADS_2