Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 Siapa Kamu?!


__ADS_3

“Aku harus segera menemukan Rio,” tekat Gea dalam batinnya.


Dengan langkah kaki yang tergesa, Gea berusaha mencari pintu yang menghubungkan ke tempat di mana anaknya ditawan. Ruangan yang remang membuatnya sedikit kesulitan untuk menatap sekilas. Netranya ia tajamkan. Seluruh ruangan ia sapu bersih dengan kedua netranya agar tak ada satupun yang terlewat dari pandangannya. Hati dan pikirannya tidak ada yang bisa ia tenangkan sebelum ia bertemu dengan anaknya itu. Dalam hati ia hanya bisa berdoa agar anaknya tidak dilukai oleh orang jahat itu. Namun ia masih bisa sedikit bernapas lega lantaran keselamatan Nino sudah terjamin oleh Opanya.


Sudah berjalan berlangkah – langkah, namun tak kunjung pula ia menemukan sebuah pintu. Hingga wajah yang semula tegang itu berubah sedikit cerah.


“ Itu dia!”


Gea melihat sebuah pintu di lorong itu. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada sesuatu yang berbahaya ataupun orang yang mengintainya. Setelah memastikan semuanya aman, Gea memasang kaki kuda – kuda bersiap untuk mendobrak pintu itu.


“BRAKK!”


Pintu itu roboh. Dengan sekuat tenaga, kakinya menendang pintu dalam sekali tendang. Bukan karena Gea yang kuat, melainkan pintu sudah rapuh. Tampilan pintu yang kokoh mengelabuhi dirinya.


Gea masuk ke dalam ruangan yang lebih gelap itu. Tidak sampai 1 menit, Gea kembali keluar. Ternyata ruangan itu buntu, gelap, dan kosong. Ruangan itu tidak terhubung dengan ruangan manapun.


“Siall!!” umpat Gea lantas kembali mencari pintu penghubung itu.


Beberapa kali Gea menemukan pintu yang sama. Namun tidak ada satupun pintu yang sesuai. Semuanya hanya tipu muslihat untuk memperlambat pergerakan Gea.


“Lima belas menit dari sekarang. Kalau tidak ....”


Ancaman yang membuat Gea meradang. Tanpa dijelaskan kalimat yang terpotong itu, Gea sudah tahu jika anaknya kini berada dalam bahaya.


Tiba – tiba saja netra Gea melirik tajam lantas mengayunkan tubuhnya ke kiri. Sebuah panah melesat dari belakang kepalanya. Hampir saja kepalanya itu menjadi bakso tusuk andai terlambat sedetik saja. Gea berbalik, mencari sang penyerang yang menyerangnya tiba – tiba.


“Tunjukan dirimu! Jangan berlagak seperti pengecut!” tantang Gea lantang.


Bukan karena Gea takut. Tapi seperti prihatin saja dengan cara – cara seperti itu. Apalagi yang diserang adalah seorang wanita yang seharusnya dilindungi.


“Beraninya menyerang dari belakang.” Gea tertawa mengejek. “Dan perempuan juga yang kalian serang. Banci!!” ejek Gea merendahkan.

__ADS_1


Beberapa saat Gea menunggu serangan lagi. Namun tidak ada satupun serangan susulan. Ia berjalan kembali.


“Tab tab tab...”


Langkah kaki itu terekam di indra pendengarannya. Bukan dari sepatu yang ia pakai. Suara sepatunya tidak senyaring itu kala melangkah. Gea menajamkan telinganya, berjaga untuk serangan berikutnya. Ia berpura – pura tidak menyadari langkah kaki itu. Ia berjalan selah – olah tidak mendengar apapun.


“Tetap tenang Gea. Jangan gegabah, jangan terpancing, ini permainan mereka. Kamu harus bisa memenangkan permaina ini dengan cara apapun,” ujar Gea menenangkan dirinya dalam hati seraya memejamkan matanya sekali.


Langkah kaki itu semakin mendekat, tepat berada di belakangannya. Dengan kekuatan penuh, Gea mengayunkan tangannya dengan jurus jitu, kira – kira tepat di leher samping lawannya untuk melumpuhkan orang di belakangnya itu.


Gea bebalik cepat dan ....


Grep


Tangannya dicekal sempurna oleh orang di belakangnya itu. Gea terkejut bukan main. Baru kali ini serangannya mampu dilumpuhkan oleh lawannya. Mulutnya langsung dibekap oleh telapak tangan besar sebelum Gea berteriak.


“Shuuutt!!”


“Bayang,” gumamnya lirih kala melihat wajah Briel di depan matanya.


“Kenapa kau kemari? Dari mana kau tahu kalau aku sampai ke ruangan ini?” kejar Gea dengan pertanyaan tanpa bersela.


Tanpa berkata sedikitpun, Briel melirik ke sebuah liontin kalung yang Gea pakai. Ia khawatir ada perekam tersembunyi yang mencuri dengar pembicaraan mereka yang berujung membahayakan Gea. “Berolah – olahlah kau diserang. Cobalah seranglah aku. Dan aku akan melindungimu dengan cara ini,” titah Briel pada sang istri dengan suara lirih dan bibir yang berucap jelas. Ia membelakangi kamera CCTV yang ada di sana agar pergerakan bibirnya tidak terlihat dari sang pengintai. Ulahnya itu akan menarik perhatian yang lain. Bahkan orang di balik CCTV bisa saja terkecoh dengan permainannya.


Seusai membereskan kurcaci yang ada di depan itu, Briel lekas menyusul Gea. Satu persatu orang yang menyerang Gea dari belakang ia lumpuhkan tanpa ampun. Ia tidak peduli lagi mereka masih hidup atau tidak bernyawa. Membiarkan Gea sendirian masuk ke dalam bukanlah pilihan yang tepat meskipun ia sendiri tahu jika Gea tidak diperbolehkan masuk bersama dengan orang lain.


Briel menyeret Gea ke tempat di mana tidak terjangkau oleh CCTV. Gea terseok. Ruangan yang lumayan gelap tidak memungkinkan kamera CCTV itu menangkap setiap gerakan dengan jelas. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk menghabisi anak buah yang berada di sudut ruangan yang lebih gelap itu.


Briel dan Gea saling beradu pandang. Mereka high five bersama, lantas kembali mencari pintu itu.


🍂

__ADS_1


“Ruangan apa ini?” ujar Gea sembari mengamati ruangan itu memutar. Tidak ada satupun yang ada di ruangan itu, kecuali kekosongan.


Gea menghela napas kasar. Terdengar berat. Ia frustasi lantaran tak menemukan celah untuk menemukan anaknya. Hingga ia bersandar pada sebuah dinding. Ia terhuyung dan hampir tersungkur. Dinding itu tiba – tiba bergerak, bersamaan dengan sebuah peluru yang melesat hampir mengenai dadanya. Bersyukur keseimbangannya goyah. Berdiri kokoh tidak selamanya menyelamatkan. Terjatuh sementara bukan berarti lemah.


Lesatan peluru itu tiada henti. Suara tembakan menggema di ruangan memekakan telinga. Tanpa kenal takut, Gea berlari menghampiri sumbber lesatan peluru itu.


Crashh!!!


Pisau kecil yang tadinya ada di dalam saku belakang celananya kini mengayun mengenai leher sang pembidik. Satu pembidik itu jatuh tersungkur dengan darah yang mulai merembes dari luka itu. Suara tembak tidak berhenti begitu saja. Dengan pencahayaan terbatas, Briel mencoba membidik pembidik tersembunyi yang berusaha melumpuhkan Gea dari tempat tersembunyinya.


Senyum miring terukir jelas di bibir Gea.


“Masuklah. Akan kubereskan terlebih dahulu kurcaci di sini. Hati – hati!”


Ia kembali ke dinding yang terbuka itu. Ada anak tangga yang mengarah ke sebuah rungan bawah tanah. Anak tangga itu panjang dengan ruangan gelap yang hanya ada obor di dinding sebagai penerangnya.


Gea berhenti di depan sebuah pintu. Ia memejamkan mata, menarik napas dalam lantas membuka pintu itu.


Tepuk tangan nyaring menggema kala Gea menginjakkan kakinya pertama kali di ruangan itu. Gea yakin orang yang berdiri membelakanginya adalah pelaku utamanya.


“Wow... fantastis. Ternyata kau cukup mampu sampai di sini dengan selamat. Congrats. Aku sangat tersanjung kedatangan tamu istimewa sepertimu...” Ia menatap Gea di balik topeng yang menutup setengah wajahnya yang tak lain adalah Mrs. L. “cuihh!!” Dia meludah di depan Gea.


Gea masih tidak bereaksi. Bukan karena ia tidak mendengar ataupun tidak terkecoh. Ia fokus dengan suara yang tidak asing di telinganya itu.


“Mustahil!” gumam bibirnya lirih. Kepalanya menggeleng cepat menolak semua fakta yang ada di depannya dengan apa yang di lihatnya di masa lampau.


“Siapa kamu?!" tanya Gea mengabaikan perlakuan Mrs. L terhadapnya.


🍂


//

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2