
"Karena saya akan mengatakan aku setelah ini."
Gea memicingkan matanya. Ia bingung dibuatnya. "Apa maksudnya?" batin Gea.
Briel langsung mendekap Gea. Ia menenggelamkan Gea di dada bidangnya lagi.
"Apakah kamu mendengarnya?"
Benar saja. Dengan telinga yang menempel tepat di jantung Briel, Gea dapat mendengar degup jantung Briel yang semakin mengencang. Gea tertegun. Ternyata tidak hanya dia saja yang merasakannya. Dia mendongakan kepalanya.
Briel menatap dalam netra Gea. "Apakah kamu mendengarnya?"
Briel bertanya sekali lagi, untuk mendapatkan jawaban dari Gea. Ragu–ragu Gea menganggukkan kepalanya.
"Entah sejak kapan rasa itu ada, Gey. Rasa itu bersemayam dan bahkan bertakhta. Dan entah sejak kapan saya tak ingin melihatmu bersedih. Yang ada, saya hanya ingin membahagiakanmu, menyayangimu dengan hidupku. Yang jelas, rasa itu yang membuatku ingin mengganti kata saya menjadi aku."
Briel menjeda ucapannya. Ia berusaha menetralkan kegugupannya. Ini adalah pengalaman pertamanya untuk mengungkapkan cinta kepada wanita yang membuatnya jatuh sedalam–dalamnya.
"Aku mencintaimu, Gey."
Tiga kata itu keluar dari mulut Briel. Seketika Gea menjadi orang yang bodoh. Ia belum percaya dengan apa yang dikatakan Briel. Ia mengerjapkan matanya berkali–kali.
"Secepat itukah dirimu, Bang? Kenapa bisa?" Gea masih tidak percaya dengan perkataan Briel. Sebenarnya ia juga merasakan ada hal yang berbeda. Ia tak pernah merasakan jantungnya berdegup sangat kencang sekaligus merasa disayangi dan dilindungi dalam satu waktu bahkan dengan Davin, sang mantan kekasih.
"Aku tidak tahu. Dan aku rasa cinta tak butuh alasan. Dia datang secara tiba–tiba. Dia tak butuh embel–embel di belakangnya. Aku bukan penjelajah cinta, tapi aku percaya bahwa mencintai dengan alasan, akan memudar tatkala sebuah alasan itu menghilang."
Briel menatap dalam wajah cantik di depannya ini. Ia juga merasakan jantung mereka berdua seakan–akan sedang berlomba untuk mencapai garis finish. Ia berharap banyak pada wanita di depannya ini. Tatapannya menuntut jawaban yang sama dengan apa yang ia rasakan.
"Semoga rasaku ini juga rasamu, Gey," harap Briel dalam batinnya.
Gea menyiapkan hatinya untuk berbicara.
"Aku tidak tahu, Bang, tentang apa yang ku alami. Tapi yang jelas aku nyaman, Bang, tenang jika di dekatmu. Belum ada seorangpun yang mampu menenangkanku secepat ini. Aku juga tak mengerti. Yang jelas, hanya dengan menatapmu saja jantungku serasa berlari kencang, bahkan duniaku serasa berhenti berputar."
Seulas senyum terbit dari bibir Briel. Briel mengerti apa yang Gea rasa, meski ia tak tahu bagaimana kebenarannya. Yang ia tangkap, Gea juga mempunyai rasa yang sama, namun ada ketakutan yang terselip di dalamnya.
"Aku akan menunggu kata itu terucap dari bibirmu, Gey."
__ADS_1
Briel mendekap Gea lagi dengan erat. Mereka saling menumpahkan rasa. Rasa baru yang baru mereka rasakan. Sampai tak terasa mereka sama–sama tertidur di sofa dengan tubuh Gea yang berada di atas tubuh Briel.
🍂
"Emmm... "
Gea menggerakkan wajahnya tatkala hari mulai terang. Semalaman tidur dengan posisi tengkurap membuat badannya terasa ngilu. Dia membuka matanya. Dan betapa terkejutnya dia melihat dada bidang di depan matanya. Dia teringat apa yang ia lakukan dengan Briel tadi malam.
"Astaga …" teriak Gea.
"Aaaaa …" "Hoaaaa …"
Kaki Gea tersandung kakinya sendiri tatkala beranjak dari sofa. Tangannya yang masih memegang Briel membuat Briel yang masih tertidur ikut terseret jatuh, hingga tubuh Briel menimpa tubuh Gea.
"Aduhhh … "
Gea kesakitan tatkala Briel menimpa tubuhnya yang jauh lebih kecil dari tubuh Briel. Briel langsung memiringkan kepalanya. Betapa mirisnya Briel. Dahinya terbentur kaki meja. Ia mengaduh kesakitan sambil memegangi dahinya.
Mereka segera bangun. Lalu duduk di sofa. Gea kesakitan karena kakinya sedikit terkilir dan Briel kesakitan karena dahinya yang terbentur memerah.
Briel berdiri mengambil kotak P3K untuk mengobati luka mereka. Tak lupa briel mengambil dua kaleng minuman dingin untuk ia bawa ke dalam kamar. Dengan sigap, Briel mengompres kaki Gea yang terkilir dengan minuman kaleng dingin itu. Begitupun juga dengan Gea. Ia mengompres dahi Briel.
"Maaf, Bang telah membuatmu ikut terjatuh."
"Tidak apa–apa. Kamu kan juga kakinya terkilir."
"Lagian kenapa kamu bisa sampai terjatuh?" tanya Briel lagi.
"Itu Bang, tadi aku mau bangun untuk menyiapkan sarapan kita berdua. Eh kakiku tersandung kakiku. Ya sudah... " jelas Gea.
Briel tertawa. Dia sering tak mengerti tingkah lucu Gea. Gea yang kesal pun menekan dahi Briel yang memerah dengan minuman kaleng dingin itu.
"Awww... Sakit Gey!" ringis Briel.
"Uluh uluh mana yang sakit, Bang?" Gea bersikap sok perhatian dengan Briel dengan bibir yang menahan tawa.
"Di sini," Briel menunjuk dahinya yang memerah dengan telunjuknya. Gea memperhatikan dahi itu dengan seksama.
__ADS_1
"Memang benar–benar merah," batin Gea.
"Ciumlah, Gey, siapa tahu tuh dahi langsung sembuh," goda Briel. Ia hanya ingin bergurau.
"Iya kah?" Gea menautkan kedua alisnya.
"Coba saja kalau tidak percaya," tantang Briel. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Gea.
"Coba kita lihat …" batin Briel tersenyum usil.
Tanpa basa basi lagi, Gea mengecup dahi Briel yang memerah. Ia ingin membuktikan ucapan Briel. Namun ia masih tetap melihat dahi Briel yang masih saja memerah.
"Mana? Masih sama …" ucap Gea dengan polosnya. Kepolosan Gea sungguh membuat Briel tak kuasa menahan tawanya. Tawanya benar–benar pecah dan terdengar begitu renyah.
"Astaga, Gey … mana mungkin dengan dicium lukanya bisa sembuh." Briel tertawa. Hal itu membuat Gea melongo dan sadar akan kebodohannya. Gea merutuki kebodohannya sendiri.
"Namun dengan ciumanmu itu, membuat diriku menjadi lebih baik, Gey." Briel menarik Gea pelan ke dalam dekapan hangatnya.
"Dasar usil! Awas aku usilin balik!" ancam Gea. Tangannya memukul ringan dada Briel.
"Kutunggu saat itu, Gea Sayang," ucap Briel lalu mengecup pucuk kepala Gea. Gea hanya tertawa kecil di dalam dekapan Briel.
Hingga suara bel membuyarkan dua insan yang tengah kasmaran. Mereka menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Sebentar …." teriak Gea tatkala ia mendengar lagi bel itu berbunyi.
"Siapa?" tanya Gea sembari membuka pintu apartemen.
Betapa terkejutnya ia tatkala melihat orang yang berdiri di depannya. Ia membulatkan matanya. Terkejut dan bingung sekaligus.
"Apa yang harus ku lakukan?" batin Gea.
🍂
//
Happy reading guys
__ADS_1
Jangan lupa bahagia💕💕