Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Adu Bujukan


__ADS_3

"Dini ... Bssst ... Din ..." panggil Minah.


"Apa?" sahut Dini yang kini berhenti melipat baju duo kembar.


Minah yang juga melipat baju duo kembar pun turut berhenti.


"Kau tahu tidak sih? Sebenarnya apa yang terjadi di rumah ini? Kenapa pagi ini mendadak ada yang aneh. Nyonya tidak seperti biasanya. Pagi ini ia lebih murung. Bahkan wajahnya terlihat pucat begitu," ujar Minah yang masih terheran–heran.


"Mana aku tahu Nah. Kita sesama pekerja. Yasudah apa yang terjadi di keluarga ini kita diam. Mau bagaimanapun kita tidak punya hak juga Nah," ujar Dini. Dia tidak tahu menahu soal hal itu. Baginya kerja yang penting kerja, tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi di keluarga majikannya.


"Iya juga sih. Kenapa juga aku repot yak." Minah membenarkan ucapan Dini. Tapi atmosfir yang ada di rumah itu terasa berbeda. Dan ia kurang nyaman dengan suasana seperti itu.


"Nah tu tahu. Sudah–sudah. Kita lanjutkan pekerjaan kita. Lihat itu semuanya menumpuk," ujar Dini sembari menunjuk gunungan baju yang masih belum terlipat.


Mereka melakukan semuanya itu di sela kesibukan mereka menjaga duo kembar. Kali ini duo kembar baru bersama dengan Frans dan juga Tere. Mereka tengah berjemur di luar agar Rio dan Nino mendapatkan vitamin D alami dari sinar matahari.


"Yah tidak sekalian olahraga? Sudah lama loh Ayah tidak jogging," ucap Tere pada Frans.


"Tidak usah aja ah. Kita jalan aja keliling kompleks dengan Rio dan Nino. Ini juga olahraga untuk kita berdua kan." Frans mengangkat dua alisnya bersamaan.


Tere tersenyum. Mereka berdua berkeliling kompleks dengan duo kembar.


Sedangkan di sisi lain, Gea dan Briel tengah nge-gym bersama. Awalnya Gea tidak mau lantaran masih banyak hal yang dipikirkannya yang membuat dirinya malas untuk melakukan olahraga ataupun aktivitas lainnya, apapun itu.


"Hei ... Ayolah, Sayang. Kau juga butuh gerak. Kau juga tidak boleh banyak berpikir. Kualitas ASImu akan menurun jika kau terus–terusan begitu." Briel berusaha membujuk Gea.


Gea menghela napas. Memang benar kualitas ASInya menurun. Bahkan duo kembar lebih rewel kala Gea juga banyak pikiran. Semuanya itu sangatlah berpengaruh.


Gea menghela napas kasar. "Iya ... Tunggu sebentar aku ganti pakaian dulu," ujar Gea.


Briel tersenyum lega. Akhirnya istrinya itu mau untuk mengikuti dirinya. Ia hanya tidak mau istrinya berlarut. Boleh berpikir tapi jangan sampai pikiran itu merusak.


"Dah ... Ayo..."


Mereka berdua berjalan menuju ruangan atas ke ruang gym.


"Hahhhh hahhhh ..." Gea meluruskan lututnya seusai berolahraga. Napasnya memburu. Keringat deras mengucur membasahi tubuhnya. Sedangkan Briel masih mengangkat beban untuk melatih ototnya.


Briel menghampiri Gea yang tengah duduk santai itu. "Gimana?" tanya Briel.


"Lebih baik."

__ADS_1


Seusai berolahraga, Gea merasa hatinya lebih baik. Yeahh ... Meski tidak dapat dipungkiri jika memang masih pikiran yang membebaninya.


🍂


Sedangkan di sisi lain, Adam dan Runi tengah berjalan. Masing–masing membawa koper yang cukup besar. Mereka berdua ditugaskan Briel untuk mewakili Briel ke luar negeri untuk memantau perusahaan di Jerman yang sudah beberapa bulan ini tidak mereka singgahi.


"Aisss ini semua gara–gara kamu Run!!" gerutu Adam menyalahkan Runi. Mereka berdua berjalan secepat mungkin agar tidak ketinggalan pesawat.


Runi adalah makhluk pengacau di hidup Adam. Selalu saja Runi membuat harinya ngandat. Andai saja ia sendirian, sudah pasti tidak akan telat begini. Untung saja masih ada sisa waktu yang cukup untuk mereka bisa masuk ke dalam pesawat.


"Tidak usah banyak ngomel, Bos. Ni buktinya kita masih bisa masuk." ujar Runi yang kesal lantaran dipojokan terus menerus oleh Adam.


"Tetap saja kita harus terburu–buru karena ulahmu. Kita tidak bisa lebih santai."


"Aisss Bri ... Bri ... Bagaimana bisa kau menemukan manusia bentukan Runi untuk kau jadikan sebagai karyawatimu ... Mana jadi sekretarisku lagi sekarang!" Adam masih menggerutu. Hal itu membuat Runi memutar bola matanya jengah.


"Hadeeeh ... Burung kakak tua mulai berkicau," gumamnya lirih. Telinganya terasa panas tiap kali Adam ngedumel tidak jelas.


"Apa?! Ulangi perkataanmu?"


Ternyata suara Runi masih terdengar di telinga Adam. Seketika Runi menatap Adam sekilas lantas membuang wajahnya.


"Siapa yang berbicara?! Aku anteng–anteng saja. Nah kan sudah mulai eror. Telinga saja sudah mulai tu to the li!" ejek Runi. Runi memang sengaja berkilah. Berurusan dengan Adam memang menyebalkan. Bahkan dia juga heran. Kenapa bisa telinga Adam setajam itu.


Tak lama setelah itu, suara dari salah satu sumber suara yang membuat semua penumpang terdiam. Runi menghela napas kala ada instruksi dari pramugari untuk bersiap. Pesawat akan segera take off. Ini kali pertama Runi naik pesawat. Biasanya tidak pernah. Boro–boro naik pesawat. Untuk hidup saja ia pas–pasan. Prinsip hidupnya adakah mendingan uang yang digunakan untuk naik pesawat ia gunakan untuk menyambung hidupnya.


Berulang kali Runi meyakinkan dirinya jika tidak akan pernah terjadi apa–apa. Banyaknya berita jatuhnya pesawat terbang di televisi membuatnya ketakutan.


Wajah Runi semakin pucat, memutih seperti kulit orang sakit. Berulang kali Runi menelan ludahnya. Teggorokannya terasa begitu sakit, tercekat. Semakin pesawat itu naik, wajahnya semakin pucat. Runi memejamkan matanya erat. Tanganya mencengkeram pahaya sendiri.


Cukup lama Adam menatap Runi yang ada di sebelahnya itu. Adam meraih tangan Runi. Ia memberikan sentuhan hangat untuk menenangkan Runi. Ia membiarkan tangan Runi meremas tangannya untuk meluapkan ketakutannya.


"Tenanglah, semuanya akan baik–baik saja. Pejamkan matamu. Anggaplah jika kamu sedang naik bus kota saja dan di sekelilingmu adalah jalanan pegunungan yang indah" ujar Adam lembut tepat di samping telinga Runi.


Runi mengangguk. Ia melakukan apa yang Adam katakan. Kali ini ia tidak membantah sedikitpun. Karena ia juga tidak mau ketakutan itu terus menguasainya.


🍂


"Delaa ... Astaga wanita ini. Jam segini masih saja tidur."


Sedari tadi Gaza memanggil Dela berulang kali. Hari ini mereka ada jadwal check up dengan dokter kandungan untuk memeriksa bagaimana kandungan Dela pasca hampir saja keguguran.

__ADS_1


"Eeemngghh ... Apaan sih? Masih pagi tauk!"


Dela mebenarkan selimutnya. Ia masih enggan bangun. Hari itu terbilang cukup pagi baginya yang sering bangun siang.


"Hei! Lihat jam lihat jam! Ini sudah jam 9. Jam 11 nanti kita ada janji dengan dokter kandungan!"


Gaza menunjuk nunjuk jam. Ia juga menepuk–nepuk lengan Dela.


"Enggghhh... Ya sudah kalau gitu kamu saja. Bereskan?"


Gaza tidak habis pikir. Wanitaitu begitu susah diatur. Dela yang hamil tapi dirinyalah yang rempong.


"Mana bisa! Yang hamil kamu, bukan aku!"


"Ya sudah tinggal pindahin saja hamilnya," ucap Dela malas dengan mata yang masih terpejam. Ia tidur membelakangi Gaza. Perkataan Dela membuat Gaza menganga.


Habis kesabaran Gaza. Tanpa berpikir panjang lagi, Gaza mengangkat tubuh Dela cepat. Ia membawa Dela ke kamar mandi secara paksa. Dela menjerit kaget. Ia meronta untuk diturunkan saat itu juga.


"Mandi ..." ujar Gaza geregetan.


Dela berdecak kesal. "Ck ahh!!! Gak mau mandi!!"


Pagi ini Dela memang malas untuk mandi. Hawa yang dingin membuatnya ingin berselimut sembari rebahan.


"Oke kalau gitu."


Gaza melepas baju atasnya. Ia menggantungkan kaosnya pada gantungan baju. Sepertinya cara memandikan anak kecil harus ia lakukan.


"Mandi sendiri atau dimandiin?" ancam Gaza. Di tangannya kini telah memegang gayung berisi air.


Dela melirik tajam ke arah Gaza. "Iya iyaaa mandi... Sana ke luar!"


Gaza tersenyum penuh kemenangan. Ia keluar dengan perasaan puas. Sedangkan Dela ngedumel di dalam kamar mandi.


"Aaaaiishhh ... Kenapa tadi tidak aku siram saja tu manusia?!"


Dela menyesal tidak melakukan itu sebelum Gaza meninggalkannya.


🍂


//

__ADS_1


Happy reading Gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗🌻🌻


__ADS_2