Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
73. Kepulangan 3 (Topeng-Ayu)


__ADS_3

Beberapa saat telah berlalu. Keluarga Yohandrian bersama dengan Keluarga Angkara telah sampai di kediaman utama Keluarga Yohandrian dengan selamat. Dua mobil itu beriringan menuju ke halaman rumah Frans. Mobil yang dikemudikan oleh Adam berada di depan, diikuti oleh mobil yang dikemudikan oleh Kemal.


Adam menghentikan mobilnya tepat berada di depan rumah. Dengan sigap Adam turun lalu berjalan mengitari mobil. Ia membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan kursi roda dari sana. Ia memegang knop pintu mobil, lalu membukakan pintu untuk Frans dan Tere.


Adam membantu Frans untuk berpindah dari kursi penumpang mobil ke kursi roda yang telah ia siapkan dengan hati–hati.


"Makasih, Dam," ucap Frans tulus. Ia masih kesulitan untuk berjalan. Oleh karena itu, ia menggunakan kursi roda sebagai sarana baginya untuk berpindah tempat dengan lenih mudah.


Adam mengangguk. Senyum tulus terulas di wajah tampannya.


"Mari kita masuk calon besan," ajak Frans. Ia tersenyum ramah. Bahkan ketampanannya sudah tak diragukan lagi walaupun usianya telah menginjak lebih dari setengah abad itu. Usia tak memudarkan ketampanan Frans.


Adam mendorong kursi roda yang dipakai oleh Frans. Tere berjalan di samping Frans. Sedangkan Kemal, Selly, dan Ayu berjalan di belakang mereka bertiga.


Frans melihat jarum jam pada jam tangan yang ia pakai. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang.


"Pantas saja perutku sudah berbunyi minta diisi." gumam Frans lirih. Cacing–cacing dilerutnya sudah berteriak–teriak minta makan.


(Namun bukan cacing–cacing di perut curi semua nutrisi ya .... 😂)


Frans beralih menatap Tere agar Tere mengatakan sesuatu. Tere pun paham. Tanpa berlama–lama, ia melakukan apa yang diisyaratkan sang suami.


"Karena waktu sudah siang bahkan terlewat makan siang, mari kita makan bersama terlebih dahulu. Tadi kami sudah meminta Bi Eli untuk menyiapkan makan siang kita semua."


Tere mengajak semuanya untuk makan bersama. Bi Eli adalah pembantu rumah tangga yang telah mengabdi pada Keluarga Yohandrian sudah lebih dari 15 tahun yang lalu.


"Wah calon besan … kalian malah repot–repot, calon besan," ucap Selly yang merasa tak enak dengan ajakan Tere.


"Kami tidak repot kok. Lagi pula ini telah melanggar pasal uu mengenai aturan jam makan siang," ucap Tere dengan gurauan.


Mereka semua tertawa cerah. Mereka terlihat begitu bahagia.


"Ayolah, jangan merasa tidak enak, Jeng. Kita ini keluarga," bujuk Tere.


Ia ingin semakin merekatkan ikatan mereka untuk mengenal lebih dalam dengan makan bersama. Makan bersama terbukti bisa membuat orang yang makan bersama menjadi lebih akrab. Apalagi mereka bukan orang lain. Mereka adalah orang yang akan menjadi bagian dari keluarganya.


"Baiklah …. Mari!" putus Kemal.


Ucapan Kemal membuat sang tuan rumah tersenyum lega. Kata 'akhirnya' terucap jelas di bibir Frans dan Tere.


Mereka semua berjalan ke meja makan. Adam masih setia mendorong kursi roda Frans. Satu persatu hidangan makan siang disajikan di atas meja makan besar yang cukup untuk menampung enam belas orang. Berbagai macam menu makanan menggugah selera dihidangkan sebagai menu makan siang mereka.

__ADS_1


"Mari silahkan dinikmati hidangan sederhana ini, calon besan." Frans mempersilahkan Kemal dan keluarganya untuk segera menikmati hidangan makan siang itu.


"Semoga kalian berkenan dengan hidangan yang telah kami sediakan," ucapnya lagi.


Satu persatu mereka mengisi piring kosong mereka dengan berbagai macam menu sesuai dengan kebutuhan mereka masing–masing, kecuali Ayu. Ia masih menatap hidangan makan siang, yang tak sesuai dengan makanan yang biasa ia makan.


"Ayo, Sayang, makan yang banyak cantik."


Dengan suasana hati yang bahagia, Tere mengambilkan sejumlah makanan ke dalam piring Ayu yang masih kosong.


"Jangan malu–malu," lanjutnya lagi.


Ayu terperangah melihat apa yang dilakukan oleh Tere.


Ayu memejamkan matanya. "Matilah aku … gagal sudah program dietku …." batin Ayu menangis. Namun sebisa mungkin ia menerima pemberian Tere.


Senyum palsu ia gunakan sebagai topeng. Ayu termasuk wanita yang sangat memperdulikan penampilannya, terutama dalam hal menjaga berat badan dan bentuk tubuhnya. Bertambah satu kilo saja sudah berpotensi memporak–porandakan ketenangan di dalam hidupnya. Sudah dipastikan ia akan berteriak–teriak yang berakhir dengan diet ketat untuk mengembalikan berat badannya ke posisi semula.


"Makanlah, Sayang," ucap Tere tatkala ia telah selesai meletakkan makanan di piring Ayu.


Ayu tersenyum canggung. Sebisa mungkin ia menekan rasa kesalnya agar tak begitu kentara. Ia ingin terlihat sempurna di depan calon ibu mertuanya.


Ayu mengangguk. "Baik, Bun."


"Makan tidak, ya?" gumam Ayu dalam hati.


Rasa ragu telah menguasai hatinya. Ia masih menatap makanan itu ragu. Ia tak ingin memberi asupan makanan yanh mengandung banyak kalori untuk tubuhnya.


"Kenapa Sella? Apa kamu tak menyukai makanannya?" Tere bertanya dengan hati–hati. Ia khawatir kalau Ayu tak menyukai makanan yang telah dihidangkan. Jika tidak menyukainya, ia akan menyiapkan makanan khusus untuk Ayu.


"Eh … suka kok, Bun, suka," jawab Ayu tergagap. Ia tersenyum canggung untuk menutupi keraguannya.


"Ya sudah makanlah, Nak." Tere tersenyum cerah.


Ayu mengangguk. "Baik, Bun."


Ayu kembali menatap ragu makanan yang sudah ia sendokkan. "Astaga .… makanan berlemak, mengandung banyak kalori. Harus diet ketat Mom... Selamatkan Ayu Mom ..." jerit Ayu dalam hati. Ia tak rela berat badannya bertambah dalam sekejab.


Dengan terpaksa, ia memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya. Ia memejamkan matanya sembari menangis di dalam batinnya.


"Enak?"

__ADS_1


"E–enak, Bun."


"Syukurlah."


Mereka menyantap makanan itu dengan hikmat. Hingga mereka menyelesaikan acara makan siang mereka yang tertunda.


🍂


Sementara itu, di sisi lain Briel tengah bersender pada kursi kebesarannya. Ia baru saja menyelesaikan meeting. Ia masih berdiam diri di ruang kerjanya. Ia enggan untuk pulang ke kediaman utama.


"Kalau pulang, pasti di sana masih ada keluarga itu. Aku malas bertemu dengan mereka, apalagi anak mereka yang manja dan centil itu. Hii …"


Hanya dengan membayangkan setiap kelakuan Ayu sudah membuat Briel bergidik ngeri. Ia terlalu anti untuk berdekatan dengan wanita asing yang memiliki kadar kemanjaan dan kecentilan di luar batas standarnya.


"Baiklah, lebih baik aku menunggu saja di sini. Nanti sore aku ingin mengajak Gea untuk jalan–jalan sore."


Sudah cukup lama ia menikah dengan Gea. Namun belum pernah ia mengajak Gea untuk pergi bersama. Selain karena belum ada waktu senggang lagi, sering kali Gea menolak untuk berpergian bersama.


"Semoga ia tak menolakku lagi kali ini," harap Briel. Ia ingin berkencan layaknya pasangan pengantin baru lainnya, yang menghabiskan waktu mereka bersama. Ia tersenyum dengan memutar kursi kerjanya.


Senyum cerah terukir manis di bibir Briel, walau hanya dengan membayangkan kebersamaannya dengan Gea. Dengan berjalan bersama, bergandengan, bersenda gurau bersama sebagai ungkapan cintanya, membuat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan menggelitik hatinya geli.


🍂


//


Baiklah Asa kembali 🤭😂😂


Terimakasih atas pendapat kalian di chapter sebelumnya.... Keputusan Asa dari voting terbanyak adalah up tiap hari dengan satu bab perhari 🎉🎉


Semoga saja tidak ada halangan yang menghadang untuk tetap bisa melakukan hobi baru sekaligus kewajiban Asa 🤲🤲 (Moga tidak khilaf 😂😂🙏)


Terimakasih semua .....💕💕


🍂


//


Happy reading guys,


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2