
"Ayo pulang, Bayang," ajak Gea. Dia sudah selesai dengan Dela. Untuk hari ini cukup, mereka harus segera pulang.
Briel mengangguk mengiyakan.
Mereka pergi meninggalkan rumah itu. Mereka berjalan kembali ke rumah Gati.
"Permisi, Pak," panggil Briel untuk mengetuk pintu pada sang tuan rumah.
"Ya sebentar!" teriak samar Gati dari dalam rumah.
"Maaf ya Mas, habis sholat maghrib, jadi agak lama bukain pintunya," ucap Gati dengan sarung yang masih ia pakai. Gati membenarkan peci yang ia pakai.
"Tidak apa Pak. Kami hanya ingin mengambil mobil kami," ujar Briel sopan.
"Ya ya ya, silahkan. Sudah selesai urusannya?" tanya Gati sebagai seorang ketua RW yang peduli dengan warganya.
"Sudah Pak, dan sekarang kami mau pulang. Terima kasih, Pak sudah diijinkan parkir di sini," pamit Briel. Jika tidak ada Gati, mungkin ia kan kesulitan untuk mencari tempat parkir.
"Alhamdulillah kalau sudah selesai... Silahkan silahkan. Kalau ke sini lagi, kalian bisa parkir di rumah saya, bebas, sekalipun misal saya nanti tidak di rumah."
Gati memang figur ketua RW yang ramah. Untuk itu dialah yang ditunjuk sebagai ketua.
"Siapa Pak?"
Suara perempuan terdengar dari dalam rumah, menyapa telinga mereka. Ida berjalan menghampiri mereka dengan kipas yang tidak pernah lepas. Ida menilik Briel dan Gea bergantian, menatap mereka dari atas sampai bawah.
"Ini, Bu, mobil ini milik mereka. Mereka mau pamit pulang." Gati mengenalkan Ida pada mereka berdua.
"Oww ternyata ini mereka... tampan sekali pemuda itu ... tapi untung saja aku tadi sudah berfoto, jadi setidaknya aku punya dokumentasi untuk pamer dengan tetangga–tetangga," gumam Ida dalam hati. Jiwa pamernya tidak akan pernah lepas dari hidupnya.
"Iya, Bu, terima kasih sudah diijinkan parkir mobil di sini," ujar Gea. Sedangkan Ida sibuk menatap berondong di depannya. Bule muda yang sangat menggoda iman.
"Astaga ... titisan dewa dari mana ini." Ida terpana dengan rupa Briel yang belum pernah ia lihat secara langsung. Biasanya ia hanya bisa menatap wajah bule di feed IGe. Ia menggigit–gigit kecil bibirnya.
"Oooo begitu ya ... Saya tidak keberatan kok, malahan saya senang. Kalau ke kampung sini lagi jangan lupa mampir ke sini," ujar Ida yang mulai genit bahkan terlihat salah tingkah.
Berulang kali Ida membenarkan anak rambutnya itu. Gea tersenyum risih melihat pemandangan itu begitupun juga dengan Briel yang menyadarinya. Sedangkan Gati yang menyadari tingkah istrinya mulai cemburu. Ia melayangkan tatapan tajam ke arah Ida namun Ida tidak menyadarinya. Tidak hanya cemburu tapi juga malu.
"Buu ..." ujar Gati menahan malu.
"Iyaa Pak!" Ida menekuk wajahnya.
__ADS_1
"Malu Bu malu" ucap Gati tertahan.
"Malu kenapa juga, kan pake baju Pak. Gitu saja kok tidak boleh," sahut Ida kesal. Ia tidak merasa bersalah sedikitpun. Ia menganggap dirinya tidak melakukan kesalahan apapun dan itu wajar.
"Shuuutt!!" Gati meletakkan telunjuknya di depan bibirnya sendiri.
Gea dan Briel saling berpandangan. Mereka saling mengirim sinyal untuk lekas pergi dari sana. Mereka tersenyum canggung.
"Eee ... Kami pamit dulu ya, Pak, Bu" ujar Briel dengan senyum canggung yang masih belum lepas dari wajahnya.
"Iya iya Mas, Mba."
Gati mempersilahkan. Ia menyuruh Ida masuk ke dalam. Sikap ida benar–benar membuatnya malu sampai Gati tidak tahu lagi mau menaruh wajahnya di mana.
"Sana masuk!" Gati sedikit mendorong Ida untuk kembali ke dalam.
"Bapak ih!" Ida menuruti kata Gati terpaksa.
"Maafkan istri saya ya," ujar Gati tidak enak hati setelah istrinya sudah masuk.
"Tidak apa Pak, lagian tidak mengganggu juga," jawab Gea seadanya.
🍂
"Bagaimana tadi?" tanya Briel dengan mata yang lebih fokus pada jalan.
"Hufft ... Cukup susah untuk meyakinkan Kak Dela, tapi pada akhirnya Kak Dela mau menerimaku. Memang sangat canggung sih, karena hubungan kami tidak pernah akur. Tapi setidaknya kami baik–baik saja." Gea menjelaskan.
"Syukurlah," sahut Briel.
"Eh sebentar, mampir ke alfamart, Bayang," ucap Gea kala mereka melihat plakat alfamart di pinggir jalan.
Briel mengangguk. "Oke," ujar Briel. Ia meminggirkan mobilnya, ia membiarkan Gea turun dari mobil sendirian. Briel memilih untuk menunggu Gea dalam mobil.
Tak lama kemudian, Gea datang dengan sekantong plastik berisii beberapa bungkus pembalut. Persediaan pembalut di rumahnya telah habis. Dan itulah penyebab Gea sulit mengendalikan emosi jika emosinya tersulut kala hormon kewanitaannya naik.
"Sudah?" tanya Briel kala Gea membuka pintu mobil.
"He'eh" jawab Gea.
"Aaaargg"
__ADS_1
Tiba–tiba saja Gea berteriak. Kantong plastik itu terlepas dari tangannya. Ia sedikit menundukan kepalanya dengan tangan yang mencoba melindungi kepalanya. Kaca mobil Briel pecah. Batu menghantam kaca pintu mobil Briel. Sedikit saja Gea telat menunduk, batu itu bisa membuat kepala Gea bocor.
"Kurang ajar!!!"
Briel berlari ke luar mobil. Ia segera menghampiri Gea yang masih menunduk. Briel celingukan mencari dalang dibalik pecahnya kaca mobil Briel.
Briel menatap lekat wajah Gea. Tidak lupa ia mengecek seluruh tubuh Gea untuk memastikan keadaan Gea. Tidak ada luka sedikitpun, membuat hati Briel lega.
"Adakah yang terluka, Sayang?" tanya Briel. Ia khawatir dengan Gea.
Gea memberikan senyuman tipis nan hangat.
"Aku tidak apa apa Bayang. Ayo pulang. Aku lelah. Duo kembar juga membutuhkan diriku untuk berada di samping mereka," ujar Gea.
"Keluar kalian?!" teriak Briel. Ia sudah merangkul Gea, berusaha memberikan keamanan untuk istrinya itu.
"Kalau berani lawan saya. Jangan cuma jadi pengecut!! Beraninya menyerang dari belakang!" tantang Briel. Briel geram dengan perlakuan itu. Tidak ada angin tidak ada hujan, mereka diserang kembali oleh oknum yang tidak diketahui.
"Keluaaar!!" teriak Briel sekali lagi.
Tindakan Briel mengundang perhatian massa. Semua orang menatap ke arah Briel. Mereka tidak tahu apa yang terjadi. Sebagian dari mereka hanya lewat saja tanpa memperdulikan Briel dan Gea lebih detail.
"Sudah Bayang, ayo kita pulang. Sudah malam juga." Gea menyentuh lengan Briel, memberikan ketenangan untuk Briel. Dia juga menyampaikan jika ia baik–baik saja dan Briel tidak perlu khawatir.
"Tapi–"
"Tidak usah dipikirkan. Mungkin tadi hanya orang iseng. Kalau tidak salah di berita, daerah sini rawan tawuran. Bisa saja kan dia salah satu dari mereka dan dia salah satu anggota yang rusuh dengan siapapun?" Gea mencoba berpikir positif.
Briel menghela napas panjang. Briel menangkup wajah Gea. "Baiklah"
Diam–diam Gea menyembunyikan rasa syoknya setelah kejadian tadi. Ia berusaha menutupi kegelisahannya dengan kalimat penenang untuk Briel yang sebenarnya tujuan utamanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Yang Gea perlukan hanyalah sampai di rumah secepatnya. Bertemu dengan duo kembar mungkin adalah obatnya untuk menemukan ketenangan.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻
__ADS_1