Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Harapan Yang Sama


__ADS_3

Briel berjalan dengan langkah tegap. Kakinya ia langkahkan dengan langkah pasti. Semua perkataan Edi terngiang di dalam pikirannya membuat gelora api itu menyala–nyala di dalam hatinya. Tidak ada yang dapat ia perlihatkan pada dunia. Yang ia perlihatkan hanyalah raut wajah tanpa ekspresi. Namun lorong–lorong itu menjadi saksi bisu kepahitan hatinya.


"Hai, My wife!"


Seusai membuka pintu ruangan itu, Briel masuk menghampiri Gea. Saat ini Gea sudah dipindahkan di ruang perawatan biasa lantaran memang sebenarnya kondisi Gea itu lebih baik dari sebelumnya dan tidak memerlukan perawatan intensif.


Briel duduk di samping ranjang Gea. Ia meraih tangan Gea yang berada di perut Gea yang kini telah rata. Ia mengusapnya lembut, membawa tangan tidak berdaya itu ke pipinya yang sengaja ia usapkan. Perlahan hatinya mulai tenang kala ia melihat istrinya itu.


"Cepatlah tersadar Sayang. Mereka butuh kamu. Dan aku juga. Butuh, bahkan sangat butuh."


"Hmm apa perlu aku menciumu seperti putri tidur di dongeng–dongeng?"


Briel mengingat dongeng anak TK itu. Pikirannya mulai absurd, menyamakan dongeng dengan hidupnya saat ini.


Briel berdiri dari duduknya. Ia menatap wajah pucat istrinya. Matanya jatuh pada bibir pucat itu. Ia mengecupnya perlahan. Hanya mengecup dan tidak lebih. Ia merindukan istrinya itu, rindu menghabiskan waktu mereka bersama.


"Hahaha kau lihat bukan. Perlahan aku mulai gila karenamu. Bukan hanya perlahan. Mungkin aku memang sudab gila."


Briel menertawakan kebodohannya sendiri. Ia kembali duduk di samping Gea. Pikirannya memang gila. Kali pertama di benaknya adalah, mungkin dengan melakukan hal itu juga akan terjadi keajaiban seperti yang ada di dongeng. Namun nyatanya tidak.


Kini mata Briel menyapu seluruh sudut ruangan itu. Kini ia mulai membandingkan hal yang ia lihat dengan rumah sakit milik keluarganya di kota. Dan yeah memang benar. Ucapan Edi tentang hal itu tak terbantahkan. Kualitasnya memang lebih bagus di kota. Namun bukan berarti pelayanan di rumah sakit itu buruk. Ia mengakui hal itu.


"Papamu benar. Namun jika seandainya kalian dipindahkan, apakah tidak berbahaya untuk kalian? Untuk memindahkan kalian memakan waktu yang cukup lama. Sedangkan kalian tidak bisa dipindahkan begitu saja. Sangat berisiko dan aku tidak ingin kehilangan kalian."


Briel mengungkapkan apa yang ada di hatinya.


"Hmm tapi perkataan Papamu sungguh menyakitkan hati. Bagaimana mungkin aku menduakanmu jika dilihat dari masa laluku saja sudah jelas tidak mungkin."


Briel mencebik kesal. "Pacaran aja tidak pernah, bagaimana mau mendua? Untuk belajar mencintaimu saja aku membutuhkan waktu, tidak langsung jatuh cinta begitu saja."


Briel mengingat bagaimana di awal pernikahan mereka tidak ada sedikitpun rasa cinta di antara mereka. Yang ada hanyalah rasa saling peduli yang mereka pupuk menjadi rasa yang lebih. Dan juga sebuah komitmen yang mereka pegang sampai detik ini.


"Ingin sekali aku melayangkan kepalan tanganku pada Papamu. Tapi nanti kalau aku dipecat dari jabatan menantu bagaimana? Kita juga yang repot."


Briel tertawa kecil. Sungguh ia ingin memeluk istrinya itu erat.


"Hmm baiklah, sepertinya aku ingin numpang mandi di sini. Boleh kan ya?"


"Hu'um sana Bayang, bauk acem. Nanti pajak pemakaian toilet jangan lupa berikan kepadaku."

__ADS_1


Tidak habis akal, Briel menjawab dirinya sendiri dengan menirukan suara perempuan. Tangannya menggerakkan bibir Gea, seakan–akam Gea berbicara.


Deg


"Apakah aku tidak salah lihat?" gumam Briel dengan langkah yang terhenti.


Kala Briel membalikkan badannya ingin meninggal Gea di sana sebentar, sekilas ia melihat jemari Gea bergerak. Briel mencoba mengingat memory dari kejadian yang terekam dalam otaknya.


"Iya benar."


Briel berlari memencet tombol emergency untuk mempercepat petugas medis datang ke ruangan itu.


🍂


"Houwouwowuo ... Nic, apakah kita terlalu lama membiarkannya hidup ya?"


Daniel berucap. Ia menatap me arah Davin yang kini terduduk dengan kepala yang menunduk. Wajahnya terlihat sekali ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Perlakuan Daniel yang seperti dewa iblis membuat dirinya ingin menyerah begitu saja.


"Hmm entahlah"


"Apa harus kita habisi dia secepat ini?" Daniel meminta pertimbangan. Sebenarnya ia adalah tim menyiksa sebelum menghabisi nyawa lawannya.


"Benar juga katamu ... aihh sudah terbayang bagaimana menumpuknya pekerjaan kita yang tentunya juga diberikan oleh bos tercinta kita."


Membayangkannya membuat Daniel dan Nico malas seketika. Beruntung Keil yang tidak ikut bersama dengan mereka, pikir mereka.


Dan di saat itu juga, mereka memulainya dengan ritual penyiksaan mereka terhadap Davin.


Hingga kini Davin mulai tergeletak. Ia bergumam dengan sisa tenaga yang ia punya.


"To–tolong ... ku mohon bu–bunuh akuu..." pinta Davin.


Daniel dan Nico tersenyum devil.


"Dengan senang hati."


Dorr!!


Sebuah timah panas menembus kepala Davin. Seketika itu juga darah mulai mengalir. Daniel memberikan isyarat untuk Nico agar Nico mengecek bagaimana kondisi Davin.

__ADS_1


Nico mengangguk. Ia berjalan menuju di mana Davin tergeletak. Ia berjongkok lantas meletakkan jari telunjuknya di depan hidung Davin.


"Selesai."


Tidak ada lagi napas yang berhembus. Bahkan setelah ditunggu beberapa saat pun masih sama. Tidak bernapas. Mereka berdua membereskan semuanya itu tanpa ada sedikitpun jejak yang menjadi celah bagi pihak berwajib untuk menelusuri hal yang menurut mereka janggal.


🍂


"Heii Gea, Gea ... Ini aku Briel, suamimu. Kamu sudah terbangun kan?"


Selama menunggu dokter datang memeriksa kembali, Briel menepuk nepuk lembut wajah Gea dengan lembut.


Pintu terbuka. Seorang dokter dengan seorang perawat bersamanya menghampiri mereka.


"Ada apa Tuan Briel?"


"Tolong periksa istri saya. Saya tadi melihat jari istri saya bergerak Dok. Apakah istri saya sudah mau bangun?" ucapnya antusias. Ia menceritakan apa yang telah terjadi.


Dengan sabar dokter itu melakukan apa yang harus dia lakukan, meski dengan diam–diam ia mengambil napas dalam. Ia tahu jika hal itu sering terjadi pada pasien yang tengah koma.


Dokter itu menggeleng berat. Sebisa mungkin ia tidak membuat mental orang di depannya itu terpukul.


"Dia masih tertidur. Jemari yang bergerak cukup lumrah bagi pasien yang koma."


Dokter itu memberikan pengertian untuk Briel. Briel menghela napas kasar. Mata Briel yang semula berbinar penuh dengan harapan, kini mulai meredup. Dokter itu berpamitan. Ia menepuk pelan pundak Briel, mencoba untuk menguatkan Briel.


Briel menghela napas dengan senyum tegar di bibirnya, berusaha menguatkan dirinya sendiri.


"Baiklah tidak apa. Mungkin kamu membutuhkan waktu lebih untuk menyendiri, menepi sejenak dari keras dunia yang tidak akan pernah melunak." Briel mendesah kasar.


"Setelah beberapa hari nanti, aku akan membawa mereka datang kepadamu. Namun sebelum hari itu tiba, semuanya sudah lebih baik dari sekarang."


Briel mencium kening Gea penuh kasih. Harapannya masih sama dan tidak akan pernah pudar.


🍂


//


Happy reading gaess,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 😙😙


__ADS_2