Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Penanganan Tepat


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Gea berlari mencari petugas medis agar segera menangani Dela. Kepanikan itu mendominasi suasana hati Gea. Melihat darah yang merembes dari kandungan Dela membuat Gea kalang kabut. Begitupun dengan Pak Samsul. Sedangkan bocah remaja itu tetap saja menangis meski Gea sudah menenangkan jika semuanya akan baik–baik saja. Rasa bersalah telah menguasai dirinya itu.


"Sus, Dok, tolong! Kakak saya butuh bantuan!" Teriak Gea sembari berlari.


Tidak lama setelah itu, para petugas medis berjalan cepat, setengah berlari, dengan mendorong brankar. Mereka memindahkan Dela dari mobil ke brankar itu dengan gesit namun hati–hati. Sedangkan Dela menahan sakit yang semakin menjadi. Ia memegang perut bagian bawahnya. Rasa sakit di kaki terkalahkan oleh rasa sakit di perutnya. Dela mengerang kesakitan.


Mereka mendorong brankar itu dengan berlari. Dela harus segera mendapatkan penanganan yang cepat untuk menyelamatkan dua nyawa sekaligus terlebih nyawa calon bayi.


Sedangkan di dalam mobil, bocah itu masih bertahan dengan isakan tangis ketakutan yang kian menjadi. Ia memberontak kala petugas medis ingin menanganinya juga. Pada akhirnya mereka menyerah lantaran pemberontakan anak itu cukup kuat dan susah dikendalikan.


Gea yang tadinya ingin mengejar Dela, mengurungkan niatnya. Ia berjalan menghampiri bocah remaja itu. Gea menyejajarkan dirinya dengan membungkukan badannya. Ia menghela napas lantas mengembangkan senyum hangat, berusaha menenangkan anak itu.


"Hei ... Kenapa menangis? Sakit sekali kah?" tanya Gea baik–baik. Sebenarnya ia sudah tahu. Namun ia berusaha agar anak itu merasa dimengerti dan tidak merasa dihakimi.


"I–itu ... Kakak itu bisa saja mati karena ulahku. Aku pembunuh, Kak. Aku pembunuh!" ujarnya sesengukan. Anak itu melabeli dirinya sebagai pembunuh.


Gea menghela napas. Sedalam itu efek dari kecelakaan yang terjadi terhadap mental anak itu. Gea terdiam sejenak lantas beralih menatap ke arah Samsul. "Pak tolong susul Kak Dela. Tinggalkan kami berdua."


"Tapi Nyah? Nyonya nanti bagaimana?" Samsul melirk ke arah bocah itu. Ia khawatir jika emosi bocah itu berpotensi melukai Gea. Sebab anak itu hampir saja melukai perawat yang sebelumnya ingin mengangkatnya ke kursi roda.


"Tidak apa. Aku baik–baik saja, Pak. Kak Dela lebih membutuhkan Pak Samsul. Tidak ada yang bisa diandalkan. Hanya kita yang ada di sini," jelas Gea.


Gea mengetahui kekhawatiran Samsul, namun hanya cara itulah yang bisa ia lakukan. Memaksa anak remaja belasan tahun yang masih suka mengeksplorasi diri, akan berakibat fatal jika salah berbicara. Kesehatan mental akan menjadi taruhanya.


"Baik, Nyah."


Samsul berlari menyusul ke mana Dela dibawa. Ia berusaha keras agar tidak kehilangan jejak.


Seusai kepergian Samsul, Gea beralih menatap anak itu lembut. Gea memberikan sentuhan lembut nan hangat di kedua pundak bocah itu. Ia memutar badannya yang semula menatap ke depan, kini berhadapan dengan dirinya. Kepala bocah itu menunduk dalam–dalam, tidak berani menatap wajah Gea, terutama mata.


"Tatap mata kakak!" titah Gea lembut, namun tegas. Tanpa berbicara ulang, anak itu telah menuruti ucapan Gea, meski membutuhkan sedikit waktu untuk meyakinkan diri sendiri.


"Kamu bukan pembunuh, Dek. Ini murni kecelakaan. Kamu bukan pembunuh."


Gea berusaha memberikan afirmasi positif pada anak itu, untuk mematahkan label yang sudah melekat, sebelum terlanjur dan melekat terlalu dalam. Ia tidak ingin anak itu menjalani kehidupan selanjutnya dengan bayang–bayang label 'seorang pembunuh'.


Manik mata yang masih berkaca itu menatap dalam mata Gea. Tangisnya yang sesenggukan mulai mereda. Ia menatap Gea tak percaya.


"Ulangi kata–kata Kakak. Aku bukan pembunuh," titah Gea. Ia masih menatap lekat kedua mata itu.


"Aku bukan pembunuh," ucapnya lirih, mengulangi perkataan Gea.


"Katakan lagi lebih yakin!" ucapnya lembut.


"Aku bukan pembunuh." Ia mengucapkan lebih keras. Kedua sudut bibir Gea melengkung ke atas.

__ADS_1


"Ya ... Kamu bukan pembunuh." Senyum Gea begitu hangat. Ia mengacak pelan rambut bocah itu. "Sudah, ayo kita obati kaki kamu."


Bocah remaja itu mengangguk. Ia mengusap sisa–sisa air mata yang ada di matanya dan juga di pipinya.


"Sus ..." Gea memberikan isyarat untuk membawa bocah itu agar segera mendapatkan pertolongan pertama.


"Kakak, jangan pergi," ucap bocah itu. Ia takut jika ditinggal sendirian selama proses penanganan. Ia meraih tangan Gea, memegang tangan itu agar Gea tidak meninggalkannya.


Gea menyentuh tangan bocah itu. Ia mengangguk sembari tersenyum. Ia mengiyakan permintaan bocah itu. Sebenarnya ia ingin ke Dela, namun hati kecilnya tidak tega jika harus meninggalkan bocah itu sendirian.


🍂


"Terima kasih, Dok," ucap Gea kala operasi pemasangan gips telah usai. Bocah itu masih tertidur akibat pengaruh dari obat bius.


"Sama–sama." Dokter itu mengangguk sembari tersenyum.


"Mohon di awasi, Bu. Mungkin luka fisiknya tidak seberapa. Namun luka batinnya harus diperhatikan. Kejadian tadi sepertinya sangat menghantam dirinya," ucap dokter mengingatkan.


Gea menatap bocah yang masih terlelap itu sekilas lantas kembali menatap sang dokter. "Baik, Dok," jawab Gea.


Kemudian sang dokter pamit pergi meninggalkan ruangan itu.


"Kak," panggil bocah itu dengan suara lirih. Ia telah terbangun dari tidur sementaranya.


"Ya?" jawab Gea. Ia menghampiri bocah itu. "Ada apa hm?" tanyanya sekali lagi.


Itu adalah kalimat pertama yang terlontar dari bibir bocah itu.


"Kakak itu baik kok. Masih di rawat dokter," jawab Gea. Sebuah jawaban yang tidak sepenuhnya jujur dan tidak sepenuhnya bohong. Ia hanya berusaha menenangkan bocah itu.


Bocah itu mengangguk sekilas. Raut wajahnya masih murung, memikirkan apa benar ucapan Gea.


"Mau makan?" tawar Gea.


Bocah itu menggeleng.


"Atau hanya mau minum?"


Bocah itu juga hanya menggeleng.


"Baiklah." Gea menarik sebuah kursi mendekati ranjang. Ia duduk lantas beberapa saat menatap bocah itu.


"Nama kamu siapa?"


"Angga," jawabnya lirih, nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Ulangi dong ... Kakak ingin mendengar jelas namamu," bujuk Gea.


"Angga."


"Nama yang bagus," ucap Gea dengan senyuman. Dan terbukti, senyuman itu menular.


"Nah gitu dong, senyum. Kakak kupaskan apel ya?"


Angga mengangguk mengiyakan.


🍂


Gaza berlari menyusuri koridor rumah sakit. Ia mencari ruangan di mana Dela berada. Hingga ia melihat sosok pria paruh baya yang berjalan mondar mandir di depan sebuah ruangan.


"Di mana Dela?" tanya Gaza to the point.


"Masih ditangani dokter di dalam," jawab Samsul jujur. Sudah cukup lama ia menunggu, namun dokter itu tak kunjung keluar.


Jawaban Samsul membuat Gaza gusar. Gaza mengusap wajahnya kasar. Dalam hati ia meminta agar mereka berdua selamat.


Tiba–tiba saja pintu ruangan itu terbuka. Seorang dokter menghampiri mereka berdua.


"Siapa keluarga pasien?"


"Kami Dok," ucap Gaza.


"Syukurlah pasien dapat ditangani tepat waktu. Jika tidak mungkin akan berakibat fatal pada kondisi calon bayi," ungkapnya. Gaza dan Samsul masih menyimak.


"Pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Mohon jaga pasien agar tetap istirahat untuk beberapa waktu," titah dokter.


Gaza mengangguk mengiyakan. Dalam hati ia bersyukur lantaran mereka berdua selamat.


🍂


Hallo semuanya


Bagi yg bertanya soal Adam dan Runi, kisah mereka akan dibuat novel baru. Mereka mempunyai kisah tersendiri. Di novel ini akan Asa habiskan untuk kisah Gea, Briel, Dela, Davin, dan Gaza. Kalau Adam dan Runi di sini, temannya sudah bukan "pengantin tertukar" lagi dong, muehehe.


Salam 🌻


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia :)🌻


__ADS_2