Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Tetangga Julid


__ADS_3

"Jeng Dela!!!"


Mendengar suara yang familiar itu, Dela menoleh sekilas lantas membuang muka. Dela menggerutu dalam batinnya. Ia memejamkan matanya sambil mengutuki kehadiran orang itu.


"Aduh ... Kenapa juga itu emak–emak rempong pakai acara datang ke sini," gumamnya lirih.


Kehadiran Ida membawa hawa–hawa yang membuat Dela seketika ingin kabur saat itu juga. Auranya seakan membawa suasana suram yang membuat Dela sering mengeluarkan tenaga agar tidak berada di posisi yang menyudutkan dirinya.


Ida berjalan menghampiri Dela yang masih bergeming di tempatnya. Ia melangkahkan kakinya antusias dengan riasan yang amat menor di siang itu.


Dela berdecak. "Ck... Kenapa dia malah ke sini astaga ..."


Jika bisa, ingin sekali Dela menghilang dari tempat itu segera.


"Jeng Dela ..." panggil Ida sekali lagi.


Dengan berat hati, Dela menoleh. Ia melebarkan bibirnya, memperlihatkan deretan gigi rapinya terpaksa. Apa yang ia tunjukkan berbeda dengan apa yang sedari tadi sudah memberontak.


"Hehehe ... Eh Jeng Ida ..." sahut Dela kala Ida sudah berada tepat di sampingnya.


Sementara Ida menelisik tubuh Dela dari segala sisi. Ia menemukan sekantong plastik air bening dengan sedotan di dalamnya.


"Wah ada yang kehausan ni. Tapi yang bisa dibeli cuma air putih saja. Jangan – jangan tidak mampu beli ya," ujar Ida dengan keahlian julidnya itu. Ia tidak bisa diam tatkala melihat hal yang tidak biasa. Dan di dalam hidup Ida, julid merupakan keahlian yang sangat mumpuni.


"Kurang ajar ni emak–emak rempong!!" umpat Dela dalam batinnya.


Dela tersenyum terpaksa. "Ooo ... Maaf Jeng Ida yang cantiknya mengalahkan wanita sekampung ..."


"... Iyuhh!!" Lanjut Dela dalam hati.


"...tadi itu ada orang berjualan. Produknya adalah minuman banyak rasa yang tidak ada warnanya. Kita bisa merasakan banyak hal hanya dalam satu sedotan saja. Dan kata penjual itu, minuman ini ajaib. Saya ingin sekali membeli minuman ini. Namun karena saya cantik dan penjual itu baik, ya sudah. Minuman ini diracik hanya untuk saya seorang," ujar Dela.


Dela menyombong dengan berbohong. Ia tidak ingin harga dirinya diinjak–injak oleh orang seperti Ida, seorang yang kampungan dan tidak berkelas sedikit pun. Sikap Ida membuat Dela memandang Ida rendah.


Tidak langsung percaya, Ida menatap Dela dengan tatapan curiga. Selama ini ia tidak pernah merasakan minuman yang Dela maksud. Bahkan baru kali ini ia mendengarnya. Sungguh aneh.

__ADS_1


"Halah... Pasti kamu bohong. Mana ada minuman seperti itu. Ngadi–ngadi kamu tu! Bilang saja kau miskin dan tidak mampu membeli minuman lain," ucap Ida menohok. Ucapan Ida bagaikan sebilah pedang yang langsung menghunus dadanya.


"Ngaku saja kalau kau memang tidak punya uang. Gitu saja sok–sokan!" lanjut Ida mengejek dengan senyuman miring yang ia tunjukan terang–terangan.


Banyak alasan yang membuat Ida semakin lama semakin tidak suka dengan Dela. Hal yang paling besar adalah ia iri dengan Dela yang ternyata berasal dari keluarga kaya. Bahkan mobil yang Briel dan Gea pakai saat itu adalah mobil idaman yang selama ini ia impikan. Sedangkan yang ia punya sekarang hanyalah mobil avanza keluaran lama.


"Calm down, Dela, calm down."


Berulang kali Dela mengambil napas dan mengeluarkan napas diam–diam. Ia mencoba memberikan afirmasi untuk dirinya sendiri agar tidak meledak saat itu juga. Dela berusaha menenangkan dirinya.


Kali ini Dela tersenyum jengkel. "Aduh ... bukannya tidak punya uang, Jeng. Wah tapi sepertinya ... Jeng Ida ternyata ketinggalan jaman. Masak Jeng Ida yang sudah lebih tua dari saya tidak pernah mendengar bahkan merasakan minuman itu? Wah wah ... Selama ini Jeng Ida kemana saja, Jeng..."


Dela berusaha memutarbalikan fakta agar ia tidak terlihat gembel di mata Ida.


"Atau Jeng Ida mau merasakan minuman saya?" Dela menawarkan minumannya untuk Ida.


Terhasut akan tawaran Dela, pada akhirnya Ida ingin membuktikan apa yang Dela katakan. Ida menerima plastik itu.


Dela tersenyum miring. Ia mengulurkan tangannya.


Ida berteriak marah. Air dalam plastik itu sengaja Dela tumpahkan di celana depan Ida. Jika dilihat, maka Ida seperti orang yang terkencing di celana.


"Yah tumpah ... Jeng Ida ini bagaimana. Aku sudah merelakan minumanku untuk Jeng Ida cicipi, tapi kenapa malah Jeng Ida tumpahkan?!" ujar Dela dengan wajah yang kesal. Wajah Dela berseberangan dengan batinnya yang bersorak ria.


"Heh! Kurang ajar sekali kau ya! Aaa ... Bajuku kan basah jadinya. Kamu harus ganti rugi ditambah uang arisan lima kali lipat yang kau janjikan?!"


Tatapan mata Ida begitu tajam, ingin menguliti Dela. Kesabarannya sudah habis. Ia ingin meminta hak dan kerugian yang Dela timbulkan.


"Mana bisa begitu ... Aku tidak membawa uangnya. Nanti Jeng Ida minta saja sama Gaza!"


Tawa mengglegar Ida terdengar begitu nyaring. Apa yang ia duga terbukti. Dela memang berusaha menutupi dirinya sendiri yang tidak memiliki uang sepersenpun.


"Hadeh ... Kalau kere bilang aja kere! Tidak usah sok mengaku kaya. Mana uangnya?"


"Yasalam menyebalkan sekali ini manusia. Bisa tidak sih bumi menelannya?!" Dela mengucapkan sumpah serapah dalam batinnya.

__ADS_1


Dela menghela napas kasar. "Jeng Ida ... Sudah kubilang mintanya ke Gaza. Dan untuk minuman itu, bukankah itu salah Jeng Ida sendiri yang ceroboh tidak memegang plastiknya erat–erat? Tidak usah membawa miskin atau kaya. Aku sudah kaya dari lahir," ujar Dela menyombong.


"Iya dari lahir tapi sekarang tidak," lanjut Dela dalam hati meratap.


"Halah ..." Ida masih tidak dengan Dela yang ia anggap membual itu.


Tatapan mata Ida terhenti di sebuah kalung yang melingkar di leher Dela. Ia memiringkan kepalanya. Tangannya berusaha meraih kalung itu. Ia merampas kalung Dela dengan paksa.


"Kurang ajar! Tidak sopan Anda?!"


Kali ini Dela berteriak. Dela sudah habis kesabaran. Dela berusaha merebut kalungnya kembali namun nihil. Ida lebih cekatan dibanding dirinya.


"Wah ... Bagus juga kalungmu. Kalau aku jual pasti hasilnya lumayan. Lumayan juga kan hutangmu lunas. Anggap saja sebagai pelunas hutang. Paling kalau aku jual harganya juga pas. Bisa saja kurang. Tanmpilannya saja seperti kalung murahan," ejek Ida sembari meneliti kalung Dela.


Kata demi kata yang terlontar dari mulut Ida membuat Dela memanas. Rahangnya mengeras. Deru napasnya tidak teratur. Harga dirinya benar–benar sudah diinjak–injak oleh Dela.


"Kembalikan kalungku?!"


Kalung itu sangat berharga buat Dela. Hanya itu satu–satunya kenangan dari Clara.


"Lunasi dulu baru ambil kalung ini."


Ida menjauhkan kalung Dela dari jangkauan Dela. Senyuman miring itu semakin gencar.


"Jangan ambil apapun dari dia atau kamu berurusan dengan saya?!"


Tiba–tiba saja dari arah belakang Ida, ada seseorang yang merebut kalung itu. Ia datang dengan tatapan yang mampu mengintimidasi Ida. Sedangkan Dela hanya bisa menganga, tak mampu berkata.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2