
Gea termenung. Ia tak mempunyai sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan dari sang ayah mertua. Pertanyaan yang sangat mudah, namun sulit untuk ia jawab.
Detik demi detik, Briel mulai menatap Gea semenjak Frans memanggil nama Gea. Sosok Gea tak pernah luput dari pandangannya.
"Emm ..." ucap Gea ragu, namun ucapannya itu terpotong. Tangan Briel yang menyentuh paha Gea membuat Gea berhenti. Gea menoleh ke arah Briel, melayangkan tatapan yang penuh dengan tanya. Briel menatap hangat manik mata itu lantas beralih menatap ayah dan bundanya secara bergantian.
"Yah, sudahlah. Kita bahas masalah ini nanti ya," pinta Briel. Dengan cepat ia memotong pembicaraan Gea yang akan menjawab pertanyaan Frans.
"Tapi Bri, kalian menikah bukan hanya menyatukan dua insan saja namun juga menyatukan dua keluarga," sanggah Frans.
Briel menghela napas panjang. "Iya, Yah, tapiโ" protes Briel yang tertunda. Ucapan Briel terpotong kala Gea menyentuh pundaknya dengan panggilan lirih yang keluar dari bibir Gea.
"Iya Yah. Ketika aku siap, aku akan mempertemukan kalian dengan orang tuaku," ucap Gea dengan sedikit senyum yang mengembang. Bukan senyum bahagia, namun senyum terpaksa yang terkesan miris. Karena ia sendiri tak tahu, apakah niatnya akan terwujud apa tidak.
Sedangkan Tere hanya mampu mendengarkan percakapan mereka. Ia juga memegang paha Frans lembut, mengisyaratkan pada Frans untuk menunda apa kemauan mereka berdua. Mereka belum mengetahui bagaimana keluarga Gea secara pasti dan kenapa Gea bisa sampai keluar dari rumah keluarganya.
"Yah, Bun, kami masuk dulu ya. Udara sudah semakin dingin," pamit Briel. Ia melihat Gea mulai mengeratkan jaket yang sebelumnya tak Gea eratkan.
"Iya. Istirahat dulu sana. Lagi pula udara luar di malam hari tidak baik untuk ibu hamil," ujar Frans lembut penuh pengertian. Walaupun sudah puluhan tahun silam, ia masih ingat jika ibu hamil tak boleh terlalu lama menghirup udara malam. Tak ada rasa marah yang singgah di dalam diri Frans. Ia menghargai keputusan Gea.
"Iya betul itu." Tere membenarkan ucapan Frans. "Kalau kalian lapar, kalian bisa ambil makanan di dapur ya. Makan malam memang sudah bunda siapkan tadi."
"Mau makan tidak?" tanya Briel lembut. Gea menggeleng pelan dengan sedikit senyum yang mengembang.
"Tidak Bun, kami langsung istirahat saja. Nanti kalau lapar kami akan ambil makan sendiri," ujar Briel.
__ADS_1
Setelah kalimat itu terucap, mereka berlalu menuju ke kamar, meninggalkan pasangan yang tetap romantis. Walau sudah dikikis oleh usia rasa sayang dan cinta mereka satu sama lain, tak pernah berkurang sedikitpun. Malahan, semakin hari semakin bertambah.
"Yah ayo kita ke kamar juga," ajak Tere.
Frans mengangguk, menyetujui keinginan Tere. Frans berdiri, ia menunggu Tere agar berdiri juga. Mengerti apa maksud Frans, Tere merangkul lengan Frans. Mereka saling mlempar tatapan hangat dengan senyum cerah. Kemudian mereka berjalan bersama dengan Tere yang bergelayut manja pada lengan Frans.
Sementara itu, sesampainya di kamar, Gea dan Briel berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebagai rutinitas sebelum tidur.
"Geyang ... Dimana handuk kecilku?" tanya Briel tanpa menoleh ke arah Gea. Ia sibuk mencari handuk kecil yang sering ia gunakan untuk mengelap wajahnya selepas membasuh wajahnya.
Dengan gesit, Gea mencari handuk itu, lalu memberikannya kepada Briel.
"Ini,"
"Makasih Istriku Tercinta," ucap Briel dengan senyum tulus yang mengembang ke atas.
Briel sedari tadi hanya terbaring sembari mengamati aktivitas Gea.
"Sudah?" tanya Briel tibaโtiba. Gea menoleh ke arah belakang, menatap Briel yang terbaring dengan sebelah sikunya sebagai tumpuan.
"He'em," jawabnya singkat.
"Kemarilah," ucao Briel dengan lembut. Tangannya menepukโnepuk pelan bagian ranjang yang masih kosong agar Gea berbaring di sampingnya.
Gea melemparkan senyum hangat. Ia berjalan menghampiri Briel, apa kemauan Briel yang memintanya untuk berbaring di samping Briel.
__ADS_1
Perlahan, Gea membaringkan diri di samping Briel dengan kepala yang menjadikan lengan atas Briel sebagai bantalan. Mereka saling beradu pandang. Tatapan mereka saling mengunci satu sama lain. Sedangkan tangan Briel sibuk membelai rambut Gea.
"Gey,"
"Bang,"
Mereka saling memanggil, bersamaan.
"Kamu dulu!"
Lagiโlagi mereka mengucapkan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan. Rupanya mereka ingin menyampaikan hal yang telah mengganggu pikiran mereka.
๐
//
Sembari menunggu asa up, kalian semua bisa mampir ke karya yang tak kalah seru karya author kece ๐ค๐ค
Terima kasih ๐๐
๐
Happy reading gaes,
__ADS_1
Jangam lupa bahagia ๐๐