Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2. Suami?


__ADS_3

Hati Edi Wiyarta, sang ayah yang selama ini merindukan anak bungsunya itu, seakan teriris iris. Ia tidak akan siap menghadapi kenyataan terburuk. Bayangan Annaya, almarhumah istrinya, yang meninggal kala terjadi insiden pendarahan terbesit kembali di pikirannya.


"Dela dan anaknya akan baik-baik saja, Pa."


Sebuah kata penenang terlontar dari bibir Gea. Sebuah sentuhan tangan menyentuh lengannya. Seulas senyum singkat terukir. Edi mengangguk singkat.


Kacau, itulah yang masih menghuni hatinya. Kegelisahannya tidak bisa ditenangkan sebelum ia melihat Dela dan bayinya dengan selamat. Meskipun tak ada yang bisa menenangkannya, termasuk Gea, putrinya sendiri, ia berusaha tersenyum untuk menenangkan putri kecil yang kini telah dewasa itu. Ia tidak ingin melihat gurat kekecewaan terlihat di wajah anaknya yang berusaha menenangkan dirinya itu.


"Terima kasih, Sayang. Baik-baik di rumah. Papa berangkat," pamit Edi kemudian berjalan dengan langkah tergesa.


Semuanya bergegas menuju rumah sakit tanpa beristirahat, kecuali Gea dan Adam. Raga yang lelah tak menjadi suatu penghalang yang berarti. Mengetahui keadaan Dela yang sekarang menjadi prioritas utama mereka saat ini. Mobil telah disiapkan oleh keluarga Yohandrian. Mereka segera masuk ke dalam mobil itu.


“Besan!” teriak Frans memanggil Edi yang sudah berjalan mendahului. Ia berjalan setengah berlari agar tidak tertinggal langkah sembari terus memanggil Edi lataran tak juga Edi berhenti menghiraukannya.


“Besan…”


Pada akhirnya Edi berhenti setelah sekian kali Frans memanggilnya. Ia berdiri membelakangi Frans.


“Lebih baik kau mengemudi dengan bantuan sopir. Tidak baik mengemudikan mobil sendirian dalam keadaan kalut seperti ini.”


Frans memikirkan keselamatan Edi yang bisa saja terancam. Hati yang kalut memudarkan kefokusan. Lebih baik mencegah sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.


Edi menghela napas kasar, “Mereka lambat. Akan lebih cepat jika aku mengemudikan sendiri,” pungkas Edi.


"Iya lebih cepat, tidak hanya ke rumah sakit. Tapi juga bisa menghantarkan kau ke neraka!" Frans mengomel. Ia hanya ingin yang terbaik untuk besannya itu. Kesal sudah pasti.


Gea menghela napas berat, melihat betapa keras kepalanya Edi.


"Pa ..."


Gea menatap sendu mata Edi. Tanpa ia sadari selama ini, ternyata sudut mata itu sudah mengerut, menandakan fisik Edi yang gagah kini telah tertelan usia.


Edi menatap mata ini. Ia menghela napas berat. "Baiklah," putusnya.


"Sopir terbaik sudah disiapkan. Berangkatlah."


Frans angkat bicara. Ia meyakinkan Edi kembali, meski pada awalnya ia tidak membicarakan perihal sopir profesional secara gamblang. Tidak mungkin ia memberikan fasilitas sopir yang di bawah standar dalam keadaan genting seperti ini.


🍂


"Tuhan.... Kumohon, selamatkanlah mereka, terutama dia."

__ADS_1


Kalimat itu yang selalu Gaza rapalkan di dalam hatinya. Ia terus berjalan mondar mandir tanpa henti, mengabaikan bagaimana lelahnya ia setelah pertempuran yang cukup panjang. Waktu berjalan terasa lambat. Waktu bermenit menit terasa berjam-jam.


"Aku memang orang yang penuh dosa. Belasan tahun aku menghabiskan hidupku ditempat maksiat itu, bahkan aku masih mengelola tempat itu sampai sekarang. Tapi, aku tidak sanggup kalau Engkau mengambilnya dari padaku. Aku tidak ingin kehilangan dia. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Cukup waktu itu kau mengambil dia yang ada di sisiku. Jangan untuk kali ini."


Gaza mengingat bagaimana ia kehilangan orang yang ia cintai bersama dengan bayi di dalam kandungan. Cukup sekali. Memang awalnya ia sangat tidak tertarik dengan Della. Namun kebersamaan mereka menumbuhkan percikan cinta di antara mereka walaupun semuanya hanya berawal dari rasa iba yang muncul kala Gaza melihat Della pertama kali.


Gaza mengusap wajahnya kasar. Ia mengerang frustasi.


"Kumohon bertahanlah Dela. Setelah ini akan kupastikan kau aman bersamaku," janji Gaza dalam hatinya.


Namun sepersekian detik berikutnya, Gaza tertegun. Ia tersadar jika ia tidak mempunyai hubungan apapun dengan Della. Dia bukan siapa-siapa. Atas dasar apa ia mengklaim Dela?


"Tidak, tidak. Aku akan memintamu pada Papimu," tekad Gaza. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana latar belakang yang sejauh ini menghantuinya.


"Za!!"


Panggilan itu membuat Gaza menoleh ke sumber suara. Terlihat Marvel, sahabatnya, kini berlari menghampirinya.


"Di mana dia?"


Tanpa suara jawaban yang terlontar, Gaza hanya menunjuk dengan kepala yang menoleh ke sebuah ruangan tertutup.


Gaza hanya mengangguk lemah. Ia memutuskan untuk duduk di salah satu kursi tunggu. Tubuh kekar itu ia sandarkan pada dinding kokoh yang mampu menopang tubuhnya. Kepalanya menengadah dengan mata terpejam. Doa masih tak henti ia lantunkan.


Marvel prihatin melihat sahabatnya itu terlihat kacau. Tak pernah ia melihat sahabatnya sekacau ini. Bahkan percikan darah masih menempel di tubuh dan bajunya.


"Di mana putri saya?"


Pertanyaan yang sama melintas di telinga Gaza. Suara berat itu membuat Gaza bangkit berdiri. Ia melihat seorang pria paruh baya menghampirinya.


"Masih di da..."


"Dengan keluarga pasien?"


Tiba-tiba saja pintu ruang operasi persalinan terbuka. Seorang Dokter berseragam dinas operasi keluar dari tempat di mana Dela di bawa. Gaza tidak sempat meneruskan ucapannya. Ia berlari menghampiri dokter itu bersama dengan Edi. Marvel mengikuti mereka. Terlihat juga kini Briel, Nichol, Nathan, Bima, Hendri, Frans dan Tere sudah sampai di tempat itu.


"Saya Papinya."


"Saya Suaminya."


Gaza dan Edi bersuara bersamaan. Tatapan Edi menajam ke arah Gaza kala menyadari kata yang Gaza ucapkan. Gaza meringis singkat, lantas mengabaikan tatapan semua orang di sana.

__ADS_1


Dokter itu menghela napas. Mereka menanti dengan harap-harap cemas, menunggu dokter itu membuka mulutnya kembali.


"Semua selamat. Bayi berjenis kelamin laki-laki." Dokter itu menatap sekilas ke semua orang yang ada di sana.


Semua menghela napas lega.


"Tapi saya juga harus menyampaikan kabar duka."


Mereka kembali tegang, mempersiapkan diri untuk mendengar kabar buruk itu.


"Apa Dok?" sahut Gaza cepat.


"Pendarahan belum bisa dihentikan. Pasien memerlukan darah agar pasien tidak kehilangan darah. Dan keadaan pasien saat ini kritis."


Bak tersambar petir di siang bolong, tubuh Gaza dan Edi seakan melemas.


"Lakukan yang terbaik, Dok."


Kali ini bukan Edi maupun Gaza yang berbicara. Hendri yang sedari tadi diam, kini ia bersuara.


"Lakukan yang terbaik untuk adik saya."


Setelah sekian lama ia berperang dengan diri sendiri, kini ia telah berdamai. Ia memutuskan untuk menganggap Dela yang sekarang sama seperti ia menganggap Gea.


"Baik. Saya permisi."


Sepeninggalan dokter itu, kini Edi menatap serius ke arah Gaza.


"Setelah ini bersihkan dirimu dan temui saya di rumah utama."


Kini Edi memilih untuk kembali ke rumah terlebih dahulu. Meskipun Della masih koma, namun setidaknya ia cukup tenang lantaran Dela tidak mengikuti jejak Annaya. Ia juga harus menyelesaikan urusannya yang tak kalah penting.


Semua orang menatap Gaza dengan tatapan menyelidik. Mereka juga penasaran dengan apa yang akan dibicarakan. Namun mereka cukup sadar diri untuk membiarkan Edi dan Gaza menyelesaikan masalah mereka sendiri.


🍂


//


Happy reading


jangan lupa bahagia 🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2