
“JANGAN!!!!”
Gea berteriak memohon agar Clara tak melakukan apapun terhadap anaknya itu. Gea menggeleng cepat. Posisi Gea kini sulit lantaran tubuhnya masih di tahan oleh anak buah Clara.
Tawa yang awalnya tertahan, kini telah pecah, menggelegar memenuhi ruangan itu. Clara menurunkan pedangnya itu. Hatinya itu telah mati. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan bersenang-senang di atas ketakutan dan penderitaan orang lain. Momen itu menjadi momen terfavorit baginya.
Clara berjalan menghampiri Gea dengan pegang yang ia seret hingga suara gesekan ujung pedang dengan lantai membuat Gea memejamkan matanya sejenak, bergidik ngeri. Ujung bibir Clara terangkat miring. Jiwa iblis telah menguasainya.
Hentakan langkah kaki terdengar berhenti tepat di depan Gea. Sepasang kaki ia lihat pertama kali kala ia membuka matanya kembali. Clara jongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Gea agar posisi mereka setara.
PLAAKK!!!
Suara tamparan keras menggema. Suara itu memilukan bagi setiap orang berhati yang mendengarnya. Namun sayangnya tidak ada seorangpun di sana yang mempunyai hati. Mereka membutakan mata hati mereka dan menulikan telinga.
Tubuh Gea terhempas ke samping. Rambutnya yang terurai menutup wajahnya bersamaan dengan kepalanya yang nyaris menyentuh lantai.
“Nheeehhh...” Clara tersenyum sinis. “Tatap mataku... TATAP MATAKU!!”
Suara Clara meninggi, kesabarannya pun sudah habis. Tak mendapat respon baik dari Gea, Clara mencekal dagu Gea erat, mendongakkan wajah Gea kasar. Inci demi inci Clara menelusur wajah Gea. Ia harus bisa mendapatkan apa yang ia inginkan untuk saat ini, sekaligus menghancurkan wanita di depannya itu.
Sebelah tangan Clara menelusur wajah Gea lembut, memutar mengelilingi seluruh wajahnya. Gea bergeming. Ia hanya menatap tajam, dengan mulut terbungkam.
“Sangat lemah dan payah. Bahkan kau tidak bisa menyelamatkan anakmu. Lihatlah! Anakmu bersedih melihat ibunya sendiri tidak bisa menyelamatkan anaknya. Ibunya hanya bisa melihat dan menatap anaknya yang akan segara menemui ajal. Menyedihkan...” ujar Clara mengejek Gea sembari menepuk-nepuk pipi Gea pelan.
“SIALANN!!”
Teriak Clara kala wajahnya terkena ludah yang Gea semburkan tepat di tengah wajah Clara. Tamparan keras kembali Gea dapatkan. Gea masih tersenyum miring. Luka itu tidak menyurutkan senyuman itu.
Seketika suara tawa yang lain terdengar. Kali ini Gealah yang tertawa. Dunianya saat ini sangatlah lucu. Ia bahkan tidak tahu apa alasan Clara begitu membencinya. Seharusnya dialah yang membenci keberadaan Clara. Seseorang yang telah banyak merenggut kebahagiaannya, mulai dari yang sederhana hingga kebahagiaan hidupnya yang mendasar. Bahkan kini anaknya pun menjadi sasaran Clara untuk melampiaskan kemauannya.
__ADS_1
Harusnya ia sendiri yang menghabisi nyawa Clara dengan tangannya sendiri. Harusnya ia memastikan sendiri jika jasad itu adalah jasad Clara. Harusnya dia sendiri yang memastikan jika Clara benar-benar membusuk dengan tanah. Penyesalan demi penyesalan mulai menyeruak dalam benak Gea. Biang masalahnya adalah orang yang sama. Menumpas pokok permasalahan memang harus diberantas dari akarnya.
Gea berhasil lepas dari genggaman para anak buah. Ia sengaja mengalihkan perhatian agar ia dapat melepaskan diri. Ia tidak bisa berdiam diri seperti itu.
Gea menendang alat–alat vital para lelaki yang ada di sekitarnya. Mereka yang tidak sigap kesakitan lantaran masa depan mereka Gea hancurkan.
“Kenapa kalian diam saja! Cepat serang!!” titah Clara pada yang lainnya. Panik? Pastinya. Faktanya masih cukup bagi Gea untuk memberontak walau telah diapit oleh pria yang lebih besar baik secara tenaga maupun proporsi tubuhnya.
Jari jemari lentik itu menggelung cepat rambut tergerai itu. Gea kembali melakukan pertahanan agar dirinya tidak terluka. Ia harus bisa mengulur waktu sampai Briel dan yang lainnya sampai di sana untuk menolong Rio dan juga dirinya. Gea menendang dan meninju, menyerang untuk menumbangkan lawan. Pisau lipat itu ikut andil dalam perkelahian di ruangan itu, Bau anyir menguar di ruangan itu. Pisau itu memanglah tidak begitu tajam, namun cukup untuk bisa melukai kulit.
“Berhenti atau...”
Tak habis akal. Clara memiliki banyak kelicikan yang bisa ia pergunakan untuk melemahkan. Sebuah pistol kini telah berada di genggamannya, dengan ujung pistol yang mengarah pada tubuh mungil yang masih terbaring itu.
“Wanita Ular!!! Di mana hati nuranimu ha?!”
Clara berdecak mengejek. “Aku bukan tidak punya hati nurani. Aku hanya terlalu pintar untukmu. Benar begitu kan? Kalianlah yang terlalu bodoh. Buktinya kalian tidak tahu aku masih hidup dan kamu pun baru tahu faktanya sekarang. Terima saja fakta yang ada.”
“Tapi apa?” tanya Gea langsung kala Clara menjeda ucapannya.
Clara terkekeh kecil. Gea terlalu cepat meresponnya tanpa berpikir panjang. Rencananya akan berhasil lebih cepat.
Clara menghela napas girang sedangkan Gea menanti kata demi kata dengan napas sesak. Ia tidak bisa bernapas lega.
Clara bertepuk tangan sebanyak 3 kali. Seorang anak buahnya datang membawa kertas kosong. Ia menyerahkannya kepada Clara beserta sebuah bolpoin bertinta hitam.
Clara menerimanya lantas mendekat ke arah Gea.
"Tanda tangani ini, atau anakmu...cyuu" Clara memperagakan tangannya yang membentuk pistol ia arahkan ke kepalanya.
__ADS_1
"Oke... Tapi kita bertukar satu sama lain bersamaan?" Gea tidak ingin dibodohi kali ini. Ia harus sudah memeluk Rio di waktu yang tepat itu.
"Oke, deal."
Clara menyerahkan selebaran kertas itu pada Gea. Gea memang tidak diberi tahu apa isi dari lembaran kertas itu. Gea menatap lekat lembaran putih itu. Ia bertanya tanya dalam hatinya namun ia lebih memilih Rio dari pada memusingkan hal yang abu–abu seperti itu.
Gea mulai menggores lembaran putih itu dengan tinta hitam tanpa sedikitpun keraguan.
"Serahkan sama–sama," pinta Gea.
Tanpa banyak bicara, Clara berjalan mengambil tubuh Rio yang terbaring, membawanya ke dalam gendongannya. Mereka melakukan barter secara bersamaan.
Gea menatap lekat wajah damai yang ada dalam dekapannya itu. Lega kala tubuh mungil itu sudah ada di jangkauannya namun tugasnya masih belum usai. Ia masih harus memikirkan bagaimana caranya mereka bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat.
"Ma–mami?"
Suara terbata itu memecah perhatian. Seorang wanita muda kini berdiri di ambang pintu. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Bibirnya terasa kelu, begitu kaku untuk hanya sekadar berucap.
"Welcome my dear..." sambut Clara dengan wajah cerah, berbanding terbalik kala ia berinteraksi dengan Gea.
Banyak hal yang berputar di kepala Gea. "Gimana Kak Dela bisa tahu kalau tempat ini? Apa jangan–jangan...?" ujarnya dalam hati sembari terus menatap Dela.
Pikiran buruk mulai berseliweran memenuhi akal sehatnya. Kehadiran Dela yang mendadak di hidupnya menjadi tanda tanya. Mungkin saja Dela hadir di tengah–tengah mereka sebagai pengintai dan pengkhianat. Kemungkinan itu bisa saja terjadi, mengingat latar belakang Dela yang buruk saat dulu mereka hidup bersama. Tidak menutup kemungkinan, kebaikan Dela hanyalah sandiwara belaka.
🍂
//
Happy reading gaes
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 🌻🌻🌟