
"Briel tunggu..."
Briel berhenti sejenak. Ia membuang napasnya kasar. Kaki ingin melangkah namun hati tergerak untuk mendengar.
"Ada perlu apa Anda memanggil saya? Bukankah keperluan Anda hanya untuk mengunjungi putri Anda yang tidak lain adalah ISTRI saya?"
Briel menekankan kata istri untuk menegaskan jika ia punya hak atas hidup Gea.
"Bukan begitu, maksudku–"
"Maksud Anda apa?"
Briel memotong pembicaraan Edi tanpa mendengarkannya hingga selesai.
"Dengarkan Papa bicara dulu, Briel," pinta Edi.
Penyesalan memang datang terlambat. Dan kini memang semuanya datang terlambat.
"Ya, silahkan!" ucapnya datar.
Briel memberikan Edi waktu untuk berbicara. Namun ia membuang mukanya, tidak ingin menatap papa mertuanya itu.
Edi hanya bisa mengelus dadanya dalam angan. Ia juga tidak bisa menyalahkan bagaimana sikap Briel kepadanya karena semua berawal dari keegoisannya.
"Maafkan Papa, Brel. Papa terlalu kacau hingga Papa tidak bisa untuk berpikir jernih. Semuanya telah pergi. Hanya tersisa Gea seorang. Dan Papa tidak ingin kehilangan lagi," ucap Edi jujur.
Briel kini mulai menatap netra senja itu. Ia mencari kebohongan di sana, namun tidak ia temukan sedikitpun. Briel memalingkan wajahnya lantas menatap Edi kembali.
"Ya, aku maafkan. Namun perkataan Papa terlalu tajam. Bahkan untuk hal yang tidak pernah aku lakukan, Papa tuduhkan. Di depan umum, tidak hanya di lingkungan yang sepi."
Sorot mata Briel begitu jelas memancarkan kekecewaan yang begitu dalam. Memang Edi telah berubah dari yang tidak mau tahu tentang Gea, kini peduli dengan Gea. Namun kepeduliannya itu berubah jadi keegoisan.
Edi menunduk. Ia mengambil napas dalam–dalam, mencoba mengurangi rasa sesak yang menghantam dadanya.
"Maafkan Papa, Nak," ucapnya sekali lagi.
"Iya." Walaupun dengan berat hati, Briel mencoba memaafkan apa yang dilakukan oleh papa mertuanya itu terhadapnya.
"Aku melakukan ini demi Gea."
"Iya tidak apa. Itu sudah cukup bagiku." Edi menerima keputusan Briel. Setidaknya Briel tidak membencinya meski masih marah dengannya.
"Haihh ... Baiklah Papa habiskan waktu dengan putri Anda. Aku ingin mencari udara segar."
Briel ingin memberikan ruang waktu untuk ayah dan anak itu. Ia tidak ingin egois dengan tidak mengijinkan mereka bersama.
Kata "anda" menjadi hantaman besar kala kata itu terlontar dari mulut Briel. Diam–diam ia menarik napas dalam. "Tidakkah kamu ikut bersama Papa ke dalam?" ajaknya kemudian.
__ADS_1
Briel menggeleng sopan. Untuk saat ini ia ingin menenangkan pikirannya. Berada di ruangan yang sama, membuat atmosfir ruangan itu begitu aneh dan canggung. Hal itu mungkin bisa dirasakan oleh Gea. Dan ia tidak mau terjadi hal–hal yang tidak diinginkan pada Gea.
"Baiklah" Edi berucap.
Seusai itu Briel pergi meninggalkan mereka. Ia juga ingin melihat–lihat bagaimana kondisi rumah sakit yang ada di sana. Mungkin dengan begitu bisa saja nanti ia melakukan hal yang menggerakkan hatinya.
🍂
Cukup lama ia menunggu Edi untuk segera keluar dan pulang, namun tidak kunjung ia menemukan waktu itu. Terlalu lama berjalan–jalan telah membuatnya lelah. Ia memutuskan untuk kembali tanpa peduli ada tidaknya Edi.
Ceklek
"Syukurlah... kebetulan sekali kamu datang. Papa pamit pulang."
Suara itu menyambut Briel di ruangan Gea. Ia mengangguk ringan.
"Iya, Pa. Hati–hati di jalan."
Edi mengangguk sembari tersenyum. Meski hanya perhatian kecil, namun dampaknya luar biasa bagi dirinya. Itu artinya Briel masih peduli dengannya entah itu tulus ataupun hanya sekadar basa–basi.
"Papa datang. Kamu sudah mengobrol dengannya kan, Yank?" tanya Briel tiba–tiba.
"Kalau boleh tahu, Papa membicarakan apa denganmu? Apakah tentangku? Atau soal apa?"
Benar–benar, jiwa keponya Briel tidak bisa dibendung lagi saat ini. Ia cukup penasaran dengan apa yang dibicarakan setelah konflik yang sekarang telah usai.
Briel sudah tahu jawabannya. Seperti biasa, Gea pasti akan menjawab, "ihh kepo".
"Geyang, menurutmu muat tidak ya jika aku tiduran di ranjang bersamamu? Sungguh aku ingin memelukmu sepanjang malamku."
Briel merindukan momen–momen bersama dengan istrinya. Hanya sekadar memeluk sepanjang malam yang membuatnya candu.
"Apa aku coba aja ya? Tubuhku tidak gendut. Muat kalik ya."
Benar–benar dicoba 😭😭 Briel benar benar mencoba ide gilanya yang terbesit begitu saja. Ia mulai naik ke atas ranjang, duduk di pinggir ranjang itu lantas memiringkan badannya menghadap ke sang istri. Ia pandangi wajah itu sepuasnya dari samping.
"Cantik. Pantas saja kamu jadi istriku, Yank," gumam Briel dengan senyum narsistik yang mengembang.
Tanpa sadar, mata Briel terpejam seiring jarum jam yang terus berjalan. Mungkin malam itu adalah malam yang paling nyenyak di antara malam yang beberapa hari ia lalui. Gea bagaikan aroma terapi untuk dirinya.
🍂
"Astaga Tuhan ... Kenapa kelakuan anakku seperti itu?"
Tere mengelus dadanya. Ketika dia dan suaminya melihat Briel tidur bersama dengan Gea di ranjang rumah sakit yang terbilang sempit. Terlebih badan Briel yang terbilang besar meski proporsional.
"Yah, lihat itu anakmu! Tidak ada sedikitpun rasa kasihan dengan Gege. Ranjang sempit begitu masih ditambah dengan tubuh Briel yang semakin mempersempit ruang bagi Gege."
__ADS_1
Tere membayangkan betapa engapnya tidur di ranjang dengan space sempit seperti itu.
"Ya tinggal bangunkan saja Bund, beres," ucap Frans santai. Dia berkebalikan dengan Tere yang geram dengan ulah anaknya. Ada kelegaan tersendiri kala ia melihat anaknya bisa tertidur pulas seperti itu.
"Haihh dasar anak tidak tau tempat!"
Tere berjalan dengan tergesa. Ia bersiap untuk menjewer telinga Briel.
"Ckckckck astaga Bri–"
Ucapannya terhenti kala ia melihat Gea mengangkat tangannya sopan, menghentikan apa yang Tere lakukan. Tanpa Tere ketahui, Gea telah terbangun.
"Hah?? Gege??"
Tere terperanjat. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menoleh ke arah Frans yang juga tekejut melihat pemandangan yang sangat mereka nantikan itu. Mata Tere berkaca–kaca, siap untuk meluncur begitu saja.
"Yah ..." gumam Tere.
Bibir pucat Gea mengembang, tertarik ke atas. Ia mengangkat telunjuknya, memberikan isyarat agar Tere tidak membangunkan Briel.
"Biarkan saja Bun," ucap Gege hanya dengan berbisik. Ia tidak tega membangunkan Briel. Gurat kelelahan di wajahnya yang tegas terlihat begitu jelas, hingga ia melihat kantung mata yang terlihat di kelopak mata Briel yang tertutup sempurna.
Tere tersenyum hangat. Tidak ia sangka menantunya begitu pengertian terhadap kondisi anaknya meski dia sendiri dalam keadaan yang sakit.
Tere berjalan mengitari ranjang itu. Ia memeluk hangat tubuh lemah itu. Kelegaan telah sempurna ia rasakan, begitupun juga dengan Frans.
"Syukurlah, Ge, akhirnya kamu terbangun," ucap Tere dengan buliran bening yang sudah terjun begitu saja. Ia tak kuasa menahan air mata kebahagiaan itu.
"Apakah Bunda membangunkan tidurmu?"
"Tidak Bun."
Gea hanya tersenyum dibalik bahu yang ia gunakan untuk menopang wajahnya. Mereka saling memeluk dengan Gea yang masih terbaring. Sedangkan Frans yang ada di sana pun segera mencari dokter agar segera memeriksa kondisi Gea setelah sekian lama tertidur.
🍂
//
Uhuiii Gege terbangun 😙 tinggal nunggu deh kasih nama buat anak mereka dudududu
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1