
Betapa terkejutnya ia tatkala melihat orang yang berdiri di depannya. Ia membulatkan matanya. Terkejut dan bingung sekaligus.
"Apa yang harus ku lakukan?" batin Gea. Ia menelan ludahnya kasar dengan tenggorokkan yang terasa kering.
"Hemm …" Orang itu berdeham cukup keras karena hanya melihat wanita di depannya ini mematung.
Gea tersadar dari lamunannya. "Eh??"
Orang itu masih menatap Gea dengan santai. "Apakah kamu tidak akan membiarkan kakakmu masuk, Gea?"
"Eh …? Ma–masuklah, Kak." Ge menyingkir dari pintu. Ia mempersilahkan kakaknya masuk.
"Siapa Gey?" tanya Briel yang berjalan menghampiri Gea dengan membawa segelas air putih di tangannya untuk ia minum. Ia penasaran, siapa yang datang bertamu di pagi ini.
"Wow siapakah pria ini? Mengapa pria tak dikenal ini datang bertamu di pagi hari?"
Briel bertanya di dalam hatinya. Ia tidak merasa mengenal pria berstelan jas rapi di depannya ini. Jika dilihat dari pakaiannya, pria itu bukan orang biasa. Jika dia seorang client, Briel seharusnya mengenal siapa orang itu. Dan tidak mungkin juga seorang client datang ke apartemennya untuk membicarakan kerjasama mereka, apalagi di pagi hari seperti ini.
Briel menatap Gea. Hanya dengan tatapan matanya, Briel menuntut penjelasan dari Gea. Gea menatap Briel dengan tatapan yang begitu gelisah.
"Kenapa dia terlihat cemas?" batin Briel yang heran dengan Gea.
Pria itu menatap Briel sekilas. Ia mengulas senyum sejenak. Ia berjalan mengikuti Gea yang ada di depannya. Ia juga mengedarkan matanya ke penjuru ruangan itu sambil mengangguk-angguk. Briel juga mengikuti mereka berdua.
"Mewah dan nyaman," komentarnya lirih, namun masih terdengar.
"Si–silahkan duduk, Kak." Gea gugup mengetahui kakaknya itu tiba–tiba ada di sana.
"Kak? Apakah dia kakaknya? Tapi bukankah kakak Gea itu perempuan? Apa jangan–jangan dia kakak sepupu Gea?" Briel menerka–nerka tentang siapakah pria itu.
Gea sudah mengira bahwa hari ini akan segera tiba. Cepat atau lambat sang kakak sepupu akan mengetahui semuanya. Tapi Gea tidak menyangka jika hari ini adalah harinya.
Pria itu duduk. Ia masih terdiam sambil mengamati setiap sudut ruangan di sana.
"Kenapa kalian menikah?"
Tanpa basa–basi, dia langsung melayangkan pertanyaan yang sedari tadi ia tahan.
Semuanya masih terdiam, belum ada yang mau menjawab. Keheningan kembali tercipta.
"Gey …" panggilnya lagi dengan tegas.
"Kak … perkenalkan diri Kakak dulu lah sebelum kamu bicara, Kak. Suamiku belum mengetahui siapa Kakak," pinta Gea. Sedangkan Briel masih menyimak pembicaraan mereka berdua.
"Dia orang berpengaruh, seharusnya dia tau aku, Gey," jawabnya acuh dan terdengar menyebalkan.
"Kak ... dia memang orang berpengaruh, tapi selama ini dia tinggal di Jerman, Kak. Jadi dia belum mengetahui seluk beluknya pengusaha di sini."
Bima menghela napas kasar. "Baiklah … Saya Bima Narendra. Kakak sepupu Gea."
Briel juga mengucapkan siapa namanya. Mereka saling berjabat tangan.
"Kenapa kalian menikah?"
Bima berbicara dengan tegas, namun sejujurnya dia kasihan dengan adik sepupu kesayangannya ini. Belum selesai penderitaannya, ia harus dikhianati oleh orang terdekatnya. Dan sekarang Gea harus menikah dengan orang asing.
__ADS_1
"Astaga, Kak. Aku yakin kalau kakak sudah tahu. Tapi mengapa masih bertanya kak?" sungut Gea. Ia tidak ingin mengungkit–ungkit masalah ini. Mengungkit hanya akan membuatnya mengingat tentang rasa sakitnya.
"Karena kakak ingin mendengarnya langsung dari mulut kalian," ucap Bima dengan kaki yang ia silangkan.
Bima memang telah mengetahui informasi dari dua anak buahnya yang ia perintahkan untuk menjaga Gea. Mereka pernah kehilangan jejak Gea di hari pernikahan Gea. Tapi karena mereka telah terlatih, mereka berhasil menemukan keberadaaan Gea dan melaporkan semuanya kepada Bima. Bima sengaja tidak menanyakan tentang bagaimana pernikahan Gea karena ia ingin Gea terbuka dengan dirinya. Namun ternyata Bima salah. Gea tak menceritakan apa yang terjadi. Bahkan menghubunginya pun tidak.
"A—" ucapan Gea terjeda. Briel menyentuh pundak Gea agar Gea tak melanjutkan ucapannya. Ia menatap Gea sambil mengangguk. Briel ingin menjelaskan semuanya kepada Bima.
"Baiklah … biar saya saja yang menjelaskan."
"Ya … silahkan!"
Kemudian Bima beralih memandang Gea. "Gey, buatkan aku minuman hangat. Udara di luar yang begitu dingin membuat badanku tak berasa, Gey." Bima tersenyum hangat.
"Astaga, Kak! Merepotkan saja!" sungut Gea. Walaupun begitu, ia tetap melakukan apa yang Bima minta. Dengan malas, Gea berjalan ke dapur dengan kaki yang sedikit pincang.
"Gey, aku sekalian ya!" pinta Briel.
"Iya …" sahut Gea yang terus berlalu.
Briel tahu bahwa ada sesuatu yang ingin Bima bicarakan. Maka dari itu ia mengulur waktu agar Gea semakin lama di dapur.
"Jelaskan!" ucap Bima tatkala punggung Gea sudah tak terlihat.
"Karena saya yang menyeretnya ke dalam pernikahan ini. Saya kira dia adalah pengantin yang seharusnya saya nikahi. Jadi saya menikahi Gea di hari itu, tepat saat pernikahannya juga batal," jelas Briel. Rasa bersalah itu kembali muncul di dalam hatinya. Bima dapat melihat rasa bersalah itu dalam diri Briel.
Bima mengangguk–angguk.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" selidik Bima.
"Perasaan saya pada Gea?"
"Saya mencintainya. Saya bersyukur karena Gea, saya bisa merasakan cinta yang sesungguhnya."
Bima tersenyum. Ia cukup puas dengan jawaban Briel. Itulah jawaban yang ingin ia dapatkan darinya. Dia juga melihat bahwa Briel adalah orang yang setia. Terlihat dari bagaimana cara ia ingin menjelaskan apa yang ia rasakan. Tegas, tanpa keraguan di dalamnya.
"Baiklah! Kumohon jangan sakiti dia. Dia sudah banyak menderita. Jangan tambah lagi rasa sakit di hidupnya."
"Saya tidak akan pernah berjanji. Namun saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakitinya. Saya akan berusaha untuk membahagiakannya," ucap Briel tegas.
"Jangan berbicara formal padaku. Karena kamu sekarang suami adikku."
"Baik, Kak."
Bima tertawa. Rasanya aneh dipanggil dengan sebutan "kakak" oleh pria yang seumuran dengannya. Briel menatapnya heran.
"Panggil aku Bima saja. Kurasa umur kita tak beda jauh. Geli aku mendengarnya."
Briel hanya mengangguk sambil tertawa ringan.
Tak lama setelah itu Gea datang membawa tiga cangkir minuman hangat dengan beberapa potong roti panggang. Gea sengaja ingin mengajak Bima untuk sarapan bersama. Mereka mengambil cangkir itu dan menyeruputnya perlahan. Rasa hangat dari minuman itu sangat pas untuk menghangatkan badan mereka.
Gea memakan sepotong roti sambil menatap Bima dan Briel bergantian dengan tatapan menyelidik. Ia merasakan perbedaan aura ruangan yang sangat signifikan. Sebelum ia pergi ke dapur, ia merasakan aura permusuhan yang begitu menegangkan. Tapi tatkala ia datang, ia melihat Bima dan Briel tertawa bersama.
"Jangan melihat kami seperti itu. Makan saja rotimu," tegur Bima. Ia bergerak mengambil sepotong roti.
__ADS_1
"Yap benar"
Kekompakan Bima dan Briel semakin membuatnya penasaran.
"Apa sih yang mereka bicarakan hingga sekarang mereka menjadi akrab?" batinnya. Ia masih mengunyah rotinya sambil menatap mereka bergantian.
"Ini urusan Pria. Wanita tidak perlu tahu!" jawab Briel yang seakan mengerti apa yang Gea pikirkan. Gea membulatkan mata tak percaya. Lagi–lagi pikirannya terbaca.
"Terlihat jelas di dahimu," lanjut Briel. Gea hanya memutar bola matanya malas. Bahkan ia melahap rotinya dengan gigitan besar.
"Bim, apakah kamu owner BiNarwere Corp?" tanya Briel. Dia pernah mendengar perusahaan itu. Dan nama perusahaan itu mirip dengan nama Bima.
Bima mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah roti.
"Kalau begitu, bisakah kita menjalin kerjasama? Aku membutuhkan sistem yang lebih kuat untuk menjaga dan mendeteksi hal yang tidak beres mengenai kerahasiaan data perusahaanku."
"Boleh. Nanti kita ketemu di pertemuan resmi."
"Baiklah, waktu bisa diatur!"
Gea yang melihat interaksi itu hanya bisa melongo. Ia tak menyangka jika kehadiran Bima yang seperti mencari musuh berakhir dengan kerjasama yang saling menguntungkan. Sungguh pemikiran pria tidak bisa ditebak.
Bima terdiam. Ia menatap Gea dan Briel bergantian. Ia melihat hal janggal yang membuatnya geleng–geleng kepala.
"Kalian sungguh pasangan yang ganas," ucap Bima.
Gea dan Briel memicingkan mata mereka. "Maksudnya?" tanya mereka bersamaan.
"Itu kaki Gea pincang dan dahimu memerah," tunjuk Bima dengan dagunya. "Sudah berapa ronde kalian melakukannya?"
Gubrak
Briel membulatkan matanya sedangkan wajah Gea merona dengan mata yang menatap Bima tajam.
"Apa–apaan ini? Melakukannya saja tidak!" Gea menahan rasa kesal di dalam hatinya. Bima tertawa meledak–ledak.
Puk
Gea melempar sebuah bantal mengenai tubuh Bima. "Sembarangan kalau bicara!" ucapnya kesal.
"Astaga pantas kalian sampai seperti itu. Gea saja ganasnya minta ampun." Bima semakin meledek pasangan baru itu. Hal itu membuat Gea semakin kesal. Briel masih diam sambil menikmati rotinya. Bima juga melahap roti yang ada di tangannya.
"Bilang saja kalau iri. Sana nikah biar tahu rasanya!" ucap Briel dengan santainya. Ledekan harus dibalas dengan ledekan yang lebih gila bukan?
Ucapannya membuat Gea semakin membulatkan matanya. Bima tersedak roti tatkala mendengar ucapan Briel.
"Astaga … rupanya aku bisa ikut gila kalau kelamaan di sini." Bima mengambil minumnya. Ia ingin kabur dari situasi yang membuat harga dirinya jatuh karena status kejombloannya.
"Baiklah terimakasih sarapannya. Dan jangan lupa langsung keluar apartemen. Ingat habis ini kalian harus kerja," ucap Bima tanpa dosa. Bima melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Gea dan Briel.
"Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi," batin Bima sambil terus berlalu meninggalkan apartemen Briel.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading guys
Jangan lupa bahagia 💕💕