
"Sayang, ponselmu berbunyi," ujar Briel setengah tersadar dengan suara serak. Jarang sekali ia bisa menikmati tidur siang. Ia tidur di samping duo kembar bersama dengan Gea. Satu ranjang untuk empat manusia.
Gea menggerakkan kepalanya sembari membuka matanya.
"Iyakah?"
"Iya. Berbunyi terus dari tadi."
Briel memberikan gawai Gea yang kebetulan ada di sampingnya.
Dengan berusaha mengumpulkan sisa kesadaran yang masih belum pulih, Gea mengucek matanya.
"Siapa?"
"Tidak tahu. Nomor baru. Mungkin rekan bisnismu," ujar Briel.
"Mana ada? Seingatku aku tidak ada projek baru lagi."
Gea merasa aneh saja. Biasanya ada nomor baru kalau ada project baru. Namun kali ini tidak ada hujan tidak ada angin ada telepon masuk dengan nomor baru.
"Sudah angkat saja. Siapa tahu penting kan?"
Gea mengangguk. Ia menyetujui saran Briel. Ia menerima gawai dari Briel.
Nomor tidak dikenal, terpampang begitu jelas di layar itu. Gea menekan ikon hijau yang ada di sana.
"Halo selamat siang, berbicara dengan siapa ini?" ujar Gea sopan, seperti kepada rekan bisnisnya. Cukup lama ia menunggu jawaban dari sang penelpon, namun tidak ada jawaban.
"Haloo ..." panggil Gea lagi. Namun tidak ada sahutan dari seberang.
Briel menatap Gea penuh tanya. Ia heran saja kenapa malah tidak ada obrolan.
"Siapa?" tanya Briel
Gea mengedikan bahunya. Tidak lama setelah itu sambungan telepon itu dimatikan. Hal itu semakin membuat Gea bertanya–tanya.
"Aneh," ujar Gea dengan menatap layar gawainya dengan sambungan yang sudah terputus.
"Ada apa?"
"Ini nih, nomor tidak jelas. Belum juga saling bicara tapi dari sananya main seenaknya saja mematikan telepon." Ada sedikit kekesalan yang bercokol di dalam hati Gea.
"Ya sudah biarkan saja," saran Briel. Namun tidak lama kemudian, gawai Gea kembali berbunyi.
"Siapa lagi, Sayang?" tanya Briel.
"Nomor itu lagi." Gea menunjukan layar gawainya pada Briel. Briel sendiri heran dengan nomor yang tiba–tiba muncul itu.
__ADS_1
"Angkat lagi saja."
Gea mengangguk mengiyakan. Ia mulai menempelkan benda pipih canggih itu ke telinganya.
"Loud speaker saja," ujar Briel dengan bibir yang bergerak namun tidak bersuara.
Gea menuruti apa kata Briel. Ia menekan tombol pengeras suara lantas memegangnya agar Briel juga melihat itu. Sebenarnya Briel hanya ingin memastikan juga siapa penelpon itu.
🍂
"Hadoh ... Mana diangkat juga lagi," ujar Dela dalam hati.
Sebelumnya ia memang mematikan sambungan telepon lantaran kaget dengan suara si penerima. Karena masih penasaran, Dela memutuskan untuk menghubungi nomor itu kembali. Namun kali ini tidak ada sahutan dari seberang. Untuk itu ia memulai pembicaraannya terlebih dahulu.
"Halo dengan nomor siapa ini?" tanya Dela memberanikan diri.
Tidak disangka. Suara di seberang mengenalinya dengan memanggil namanya. Bahkan suaranya terdengar begitu kaget dan antusias. Dugaan Dela tepat. Ia tidak salah mendengar.
Dela menghela napas. "Untuk apa kau menaruh nomormu di tasku? Ingin memata–mataiku begitu?!" ujar Dela sarkas. Segala prasangka buruk tentang Gea masih saja mengerak di dalam pikirnya.
"Bukan begitu, Kak. Aku hanya ingin mengetahui kabarmu saja. Jika tidak begini, bagaimana mungkin Kakak mau memberikanku nomor atau bahkan menghubungiku?" jelas Gea dari seberang sana.
"Atas dasar apa? Aku tidak berhak ataupun berkewajiban untuk mengabarimu tentang bagaimana aku," ucap Dela tajam.
Mereka sesama terdiam. "Bye!" ujar Dela ingin mematikan sambungan itu. Namun Gea mencegahnya sebelum Dela mematikannya.
Dela tertawa sinis. Baginya pertanyaan Gea adalah sebuah lelucon yang pada akhirnya berujung hanya menertawakan dirinya.
"Untuk apa kau bertanya di mana aku? Tidak penting juga dan sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu."
"Tapi Kak–"
Tidak membiarkan Gea berbicara lagi, Dela mematikan sambungan telepon itu. Ia tidak ingin membahas hal itu lebih lama lagi. Baginya Gea hanya mencari bukti lain untuk menertawakan hidupnya yang sudah hancur berantakan. Keluarga, percintaan, dan kini nasibnya.
"Aku tahu otakmu Gea," tuduh Dela. Ia melempar gawainya itu ke sofa.
🍂
Gea menghela napas. Dadanya mendadak terasa sesak kala perhatiannya ditolak oleh Dela. Briel mengulas senyum tipis untuk menenangkan hati Gea. Ia membawa Gea dalam dekapannya.
"Sudahlah. Tidak usah bersedih begitu," ujar Briel lembut.
"Aku tidak sedih. Hanya saja ... Ah aku tidak tahu." Gea tidak melanjutkan ucapannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa.
"Sebegitu besar keinginanmu untuk ke sana?" tanya Briel menatap wajah Gea yang tengah bersandar di lengannya.
Gea mendongakkan kepalanya. "Kalau bisa kenapa tidak," ujar Gea. Entah mengapa Gea yakin jika kali ini Dela berbeda dari Dela yang dulu. Terlihat dari bagaimana respon Dela beberapa kali pertemuan mereka.
__ADS_1
"Hmm baiklah. Nanti aku bantu cari tahu tentang Dela," ujar Briel.
Ucapan Briel bagaikan air yang menyiram tanaman layu. Mata Gea berbinar. "Makasih, Bayang..."
Gea memeluk tubuh besar itu. Briel membalaa mesra pelukan istrinya.
"Hmm ... Jangan bersedih lagi. Lagi pula kan kamu juga bisa tanya Papa. Papa tahu kan di mana Dela?"
Gea tersadar. Ia baru teringat akan hal itu. "Eh iya," ujar Gea mengendurkan pelukannya.
"Ya sudahlah aku tanya Papa dulu."
Tanpa menunggu kata nanti, Gea beranjak dari ranjang dan ingin menemui Papanya. Namun tidak disangka. Duo kembar menangis. Rupanya mereka terganggu dengan gerakan Gea yang cukup keras untuk membangunkan duo kembar.
"Ehhh ..."
Gea yang sudah beranjak ke luar kini berlari panik menghampiri duo kembar. Briel dan Gea menimang satu satu. Mereka mencoba menenangkan kembali duo kembar yang menangis kejer.
🍂
"Di mana Dela tinggal, Pa?" tanya Gea langsung tanpa basa basi.
Seusai kembali menenangkan duo kembar, Gea melanjutkan niatnya untuk menemui sang papa.
"Untuk apa kau bertanya akan hal itu?" tanya Edi tidak ramah. Jujur saja Edi takut terjadi hal buruk di antara keduanya. Terutama pada Gea. Ia tahu sebar–bar apa Dela kalau sampai marah.
"Ingin saja." Gea tidak ingin mengatakannya dengan jujur.
"Bukan alasan yang tepat," ujar Edi membantah. Ia tahu jika bukan itu yang sebenarnya ingin Gea lakukan.
Gea menghela napas. "Baiklah. Aku ingin menemuinya, Pa. Aku ingin memastikan keadaanya pasca kecelakaan kemarin. Ia hampir saja kehilangan anaknya. Jika Papa belum bisa menemuinya, maka aku akan menemuinya terlebih dahulu. Dan mungkin nanti sekalian aku ingin ke rumah anak itu juga."
Begitu besar rasa peduli Gea. Antara bangga dan mengiba, Edi takut kepedulian Gea hanya dimanfaatkan. Ia masih belum bisa mempercayai Dela 100 persen.
"Jangan mengkhawatirkanku, Pa. Nanti aku pergi bersama suamiku. Jika ada apa–apa dia dahulu yang berdiri di depan."
Gea mengerti arti tatapan mata yang menatapnya itu. Ia berusaha mengambil hati papanya. Begitu sulit mengembalikan kepercayaan yang telah dihancurkan.
Edi menghela napas kasar. Dengan sedikit terpaksa, ia mengungkap di mana Dela tinggal. Ia hanya berharap semoga tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1