Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Serupa Tapi Tak Sama


__ADS_3

Briel dan Gea berlari keluar kamar mandi. Gea menyahut asal handuk untuk ia kenakan. Acara mandinya gagal begitu saja. Rasa gerah masih menyergapnya. Tak cukup hanya menggunakan handuk lilit, Gea mengambil handuk kimono untuk ia gunakan. Ia berlari cepat menghampiri Rio dan Nino, begitupun juga dengan Briel.


Kali ini Briel berlari dengan handuk yang hanya ia lilitkan di pinggangnya. Ia sudah tidak peduli dengan dirinya sekarang, yang penting anaknya adalah yang utama.


"Bayang ... bantu aku menggendong Nino," pinta Gea.


Secepat mungkin namun dengan hati–hati pula, Briel mengambil salah satu bayi mereka. Ia membawanya ke dalam dekapan Gea.


"Bukan Rio, Bayang, tapi Nino," protes Gea. Sedari tadi ia telah menggendong Rio. Kini saatnya bergantian, giliran Ninolah yang harus ia gendong.


"Eh iyakah?? Mereka tampak sama Geyang," ungkap Briel jujur. Briel kebingungan. Ia menatap kedua wajah anaknya yang terlihat begitu mirip hingga ia kesulitan untuk membedakan mereka.


"Beda Bayang. Cobalah lihat baik–baik... Aissh ... tapi nanti saja. Sekarang tolong bawa Nino ke sini."


Gea ingin segera menenangkan sang buah hati yang sudah menangis kejer. Ia bersiap menggendong Nino. Ia mengambilnya dari Briel dengan hati–hati, tak ingin menyakiti anaknya itu, tentunya dengan bantuan sang suami.


"Cup cup cup cup, Sayang."


Gea mulai menimang, menenangkan Nino yang masih saja menangis. Suara tangisan Nino memang tidak sekencang suara tangisan Rio yang kini telah berada dalam dekapan Briel. Mereka masing–masing sibuk menenangkan buah hati mereka.


"Haus ya, Sayang... haus?"


Gea menanyai Nino dengan suara yang halus. Tubuhnya ia gerakkan bagaikan ayunan bayi untuk Nino. Ia mulai memberikan ASI untuk Nino. Tak lama setelah itu, Nino terdiam. Rupanya Nino kehausan dan kelaparan setelah perjalanan jauh yang juga ia lalui.


Setelah cukup dan tertidur, Gea meletakkan Nino kembali ke ranjang. Lantas kemudian ia mengambil alih Rio ke dalam dekapannya. Ia mencoba menenangkan Rio. Sebelumnya Briel sudah mencoba menenangkan Rio, namun lantaran Rio juga kehausan, Briel tak mampu membuat Rio terdiam. Hanya Gea yang mampu menanganinya.


"Aduh anak Bunda ... Kamu juga haus ya... Sini uluh ulub uluh."


Gea memberikan ASI dari yang sebelah pada Rio. Rio meminum ASI itu hingga kenyang. Ia tertidur dalam dekapan sang ibunda. Setelah di rasa cukup, Gea menidurkan Rio tepat di samping Nino.


"Bayang, cobalah ke sini."


Gea melambai ke arah Bayang agar Bayang mendekat ke arahnya.


Tidak banyak tanya dan bicara, Briel menuruti apa kata Gea. Ia berjalan mendekat. Gea memegang bahu Briel agar menghadap ke arah kedua anaknya yang kini telah tertidur kembali.

__ADS_1


"Lihatlah baik–baik wajah mereka, Bayang. Wajah mereka berbeda meski mirip bahkan terlihat sama."


Briel meniti inci demi inci wajah baby twins, membandingkan, mencari letak perbedaan yang Gea maksud. Berulang kali Briel mencarinya namun ia tidak menemukannya.


"Mana, Yank? Perasaan mereka sama saja." Briel tidak bisa melihat perbedaan itu. Gea hanya mampu menepuk dahinya. Perbedaan yang mampu ia lihat ternyata tidak mampu untuk Briel lihat.


"Ada bedanya. Coba lihat deh bentuk mata mereka. Mata Nino lebih bulat dibandingkan mata Rio." Gea menunjuk mata si kecil.


Briel mulai meneliti kembali bagian yang Gea maksud. Dan memang benar, perbedaannya setipis itu.


"Dan coba lihat wajah mereka. Wajah Rio lebih panjang dari pada wajah Nino yang terbilang lebih oval."


Briel mulai memperhatikan kembali dari apa yang Gea jelaskan. Namun kali ini ia tetap tidak bisa melihat perbedaan itu.


"Bayanglah ... Masak Bayang tidak bisa melihat perbedaan mereka? Nanti kalau mereka besar terus Bayang salah memanggil mereka terus bagaimana?"


"Ya nanti biar mereka sendiri yang membenarkan nama mereka jika aku salah memanggil mereka."


Briel angkat tangan. Ingatannya untuk mengingat hal sedetail itu tidak cukup mudah baginya. Ia terheran, kenapa kaum wanita bisa semudah itu mengamati perbedaan yang terbilang sangat tipis itu.


"Astaga Bayang ..." keluh Gea.


"Udalah nanti juga pasti aku hapal sendiri seiring berjalannya waktu." Briel memperlihatkan kedua giginya. Ia yakin akan apa yang ia ucapkan.


"Berhubung mereka tertidur ... Mari kita lanjutkan..."


Ide gila Briel muncul kembali. Briel ingin mengangkat kembali tubuh Gea, ingin membawa Gea kembali ke kamar mandi. Namun sebelum Briel meraih tubuh Gea, Gea berlari menjauh dari Briel. Secepat mungkin, agar Briel tidak bisa meraihnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamar mandi agar Briel tidak seenaknya masuk ke dalam.


Briel hanya tersenyum cerah tatkala melihat tingkah istrinya itu yang berusaha keras menghindarinya. Briel hanya mengalah, bukan berarti tidak bisa menyusul Gea. Briel bisa saja meraih Gea jika ia mau.


🍂


"Aihh akhirnya, kita bisa kembali lagi di rumah ini, Yah."


Tere mengaduk teh celup yang telah ia celupkan di cangkir dengan air panas. Teh hangat tanpa gula untuk menemani kebersamaan mereka di sore itu.

__ADS_1


"Iya .. " Frans masih tidak mengira jika keajaiban bakal terjadi silih berganti seperti itu. Ia menyeruput sedikit dari cangkirnya itu.


"Oh iya Adam ke mana Bun?"


Sejak sesampainya di rumahnya, Frans tidak melihat kehadiran Adam di sana. Jika Edi tidak terlihat, wajar, karena Edi memilih untuk langsung kembali ke rumahnya.


"Tidak tahu juga, Yah. Mungkin menghantar Runi ke kontrakannya." Dengan santai Tere menyeruput teh miliknya. Panasnya teh yang diicip sedikit demi sedikit memanglah sangat nikmat.


Frans mengangguk ringan. "Bisa jadi."


Hanya bersembilan mereka pulang bersama. Hendri dan Bima telah kembali dari villa lebih awal. Mereka harus segera menghandle kembali perusahaan yang cukup lama mereka tinggal. Sedangkan untuk Briel dan Adam, mereka telah memiliki orang kepercayaan yang sudah terbiasa mereka tinggal. Selama di Jerman pun, mereka hanya sesekali memantau perkembangkan perusahaan yang Frans percayakan itu.


Sedangkan di sisi lain, Adam dan Runi baru saja sampai di kontrakan Runi. Tanpa berlama–lama lagi, Runi segera turun dari mobilnya Adam. Ia berterimakasih singkat. Walaupun ia tidak pernah akur dengan Adam, bukan berarti dia adalah orang yang tidak tahu terimakasih.


"Baiklah aku pulang. Tidak usah menawariku masuk. Aku tidak akan mau," ucap Adam percaya diri. Ia telah mendahului Runi sebelum Runi mengatakan apapun lagi. Runi memutar bola matanya malas.


"Siapa juga yang ingin menawarimu masuk. Lebih cepat kau pulang kan lebih baik. Aku bisa istirahat segera." Runi melirik sinis ke arah Adam. Adam berdecih singkat.


Adam pergi begitu saja dari sana tanpa mendengarkan Runi berbicara lagi. Ia juga terlalu lelah untuk berdebat dengan Runi.


"Dasar Bos Gelo tidak sopan! Macet di tengah jalan tau rasa."


Sumpah serapah terlontar begitu saja dari mulut Runi. Ia terlampau kesal dengan sikap Adam yang seenaknya sendiri.


"Aihh lebih baik aku membersihkan badanku. Gerahnya ... Lengket semua badan ini."


Runi mematahkan lehernya ke kiri dan ke kanan untuk mengurangi badannya yang terasa pegal. Ia berjalan menyeret kopernya masuk. Setelah ini, ia ingin tidur sepuasnya untuk mengganti waktu tidur yang selama itu berantakan.


🍂


//


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2