
Hari demi hari telah berlalu. Tidak ada lagi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Untuk melacaknya pun sulit lantaran diduga kartu nomor itu telah dipatahkan. Tidak ada lagi jejak yang bisa Briel dan lainnya telusuri.
Dan saat itu pula, hubungan Briel dan juga Gea telah membalik. Pada akhirnya Gea juga membutuhkan Briel. Ia tidak bisa memusuhi Briel padahal mereka masih satu atap, satu ranjang.
"Weekend mau ke mall tidak? Popok si kembar sudah menipis lagi," ujar Briel. Ia mengajak Gea untuk pergi bersama lantaran waktu itu ia tidak bisa menepati janji.
"Beneran?" Gea menatap Briel dengan tatapan yang menuntut kepastian.
Briel mengangguk antusias. "Iya Sayang, benar." Briel berusaha meyakinkan Gea. Ia ingin menebus kesalahannya.
Gea menatap kedua netra Briel. Ia mencari kepastian di sana. Namun ia masih saja kesulitan untuk melihat itu benar–benar nyata atau hanya sebuah janji belaka. Gea menghela napas lantar membalikkan badan membelakangi Briel.
"Jangan memberikan harapan apapun kalau Bayang tidak bisa menepatinya." Gea berjalan mengambil baju untuk si kembar. Ia hanya tidak ingin berharap banyak yang berujung pada pengingkaran janji seperti waktu silam.
Deg
Masih saja itu menjadi pukulan bagi Briel. "Astaga ... Kaum hawa memang sudah pakarnya untuk mengingat kesalahan para pria," keluh Briel dalam hati. Berulang kali Briel meminta maaf tetapi ternyata Gea masih menyimpan kesalahannya.
"Sayang ... Ayolah, aku tidak hanya sekadar berucap." Briel masih berusaha terus untuk meyakinkan Gea.
Gea mambalikkan badannya mengarah ke Briel. Ia bersidekap, lantas mengangukan kepalanya santai.
"Baiklah. Kalau begitu buktikan."
Briel menerima tantangan Gea. Dan sebisa mungkin ia bertekad dalam hatinya untuk memenuhi ucapannya kali ini.
"Aduh aduh Sayangnya Bunda ... Pake baju dulu yuk utututu ..."
Gea mengolesi badan Rio dengan minyak telon. Melihat Gea yang mulai memakaikan baju si kembar, Briel menghampiri Gea. Ia turut melakukan hal yang sama seperti yang Gea lakukan. Pagi hari, jika Gea masih bisa menghandle, ia memilih untuk memandikan si kembar sendiri. Ia ingin merawat bayinya sendiri meski masih ada campur tangan orang lain. Tapi setidaknya ia tidak hanya bertumpang tangan.
"Anak Ayah ternyata tampan–tampan, seperti ayah," ucap Briel yang tentunya dengan kenarsisannya yang tidak bisa hilang begitu saja.
"Tapi hidung dan bibir mereka seperti bunda."
Gea tidak mau kalah dengan Briel. Masak 9 bulan mengandung dan membawa mereka keman–mana tapi semuanya mirip dengan ayahnya? Gender semua ikut ke ayahnya, tidak adil bagi Gea jika tidak ada satupun yang mirip dengannya. Ia tidak rela!
__ADS_1
"Tapi mata mirip denganku," ucap Briel.
Kali ini bukan karena kenarsisannya muncul. Namun ia masih ingin menggoda istrinya yang kini menekuk wajahnya lantaran kesal dengan ucapan Briel. Ngambegnya Gea terlalu menggemaskan baginya.
"Mata Nino saja. Kalau mata Rio masih mirip denganku."
Gea masih tidak mau mengalah. Wajahnya semakin ditekuk dan ia semakin memanas untuk tidak kalah dengan Briel. Tidak akan ia biarkan Briel menang begitu saja.
Melihat bibir istrinya yang semakin mengerucut, Briel mencuri satu kecupan dari sana.
"Aduh menggemaskannya bunda kalian boys," ucap Briel sambil menatap Nino yang terbaring di depannya.
Briel sengaja tidak menatap Gea terlalu lama. Tatapan yang Gea layangkan seakan–akan ingin mengulitinya tanpa ampun. Untuk itu ia memilih untuk menghindar. Meskipun begitu, ia tetap akan tergila–gila pada Gea sampai kapan pun. Benar–benar tidak ada obat.
"Tu Nak, lihat ayah kalian. Kalau nanti kalian dewasa, jangan suka modus seperti ayah kalian ya."
Gea mulai menasihati kedua anaknya meskipun mereka tidak akan pernah mengerti jika mereka masih sekecil itu.
"Ga papa Boys, modus itu diperlukan oleh kaum adam. Kalau kalian gak modus, artinya kalian gak normal," ungkap Briel menggumamkan lirih kalimat itu di dekat telinga si kembar.
Gea melempar guling mungil milik si kembar. Jika saja bisa dimakan, ia mungkin sudah menggigit suaminya itu. Namun sayang, guling itu tertangkap oleh tangan Briel yang bergerak gesit.
"Kamu ya Bayang, mereka masih kecil tapi sudah Bayang ajari jadi buaya. Ah Bayang ga sadar diri. Dulu ke mana aja? Ngajarin buaya tapi ternyata ..." Gea menggantung ucapannya. Briel semakin penasaran dibuatnya.
"Awas ya kalau sampai nyebut macam–macam," ancam Briel lewat sorot mata Briel yang menatap lekat mata Gea.
"... pemula. Emang bener kan gak pernah pacaran?" lanjut Gea kemudian.
"Iya benar. Sangat keren kan?" Briel menyisir rambut depannya dengan jemari tangannya.
"Yaaa ... Bisa dibilang 1 dari 10.000 pria." Gea mengangguk–anggukkan kepalanya.
Tiba–tiba Gea bergerak cepat. Ia langsung menatap Briel dengan sedikit mengangakan mulutnya. Ia mengingat sesuatu yang bisa saja mungkin terjadi.
"Atau jangan jangan memang benar. Bayang menyukai sesama laki–laki?"
__ADS_1
Pletak
"Aww sakit. Aaa... Bayang kasar," rengek Gea sembari meringis menahan rasa yang lumayan sakit.
Briel menyentil dahi Gea. Tidak keras namun cukup untuk memberikan sedikit rasa sakit. Ia heran dengan pikiran Gea yang ada–ada saja.
"Astaga Geyang, Gea Sayang ... rupanya kamu terlalu sering menonton film atau kalau tidak terlalu baper saat baca novel para author online yang kini meracuni otakmu. Sepertinya otakmu perlu dibersihkan dengan papalemon," ucap Briel sewot. Mana mungkin ia menyukai sesama jenis. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Amit amiiitt!! Hiiiii ..." Briel bergidik.
"Ya kan bisa saja. Sejak dulu kau sering bersama dengan Adam. Kemana–mana sama Adam. Apa lagi banyak orang yang tahu jika Bayang tidak pernah berpacaran. Pasti banyak yang mengira Adam adalah kekasih gelapmu, Bayang."
Briel menganga. Ia tidak habis pikir, ternyata pikiran istrinya sejauh itu.
Secara cepat, Briel menyeret Gea ke dalam dekapannya ia merebahkan Gea kasar ke ranjang. Ia menciumi seluruh wajah Gea tanpa henti. Hal itu membuat Gea kegelian, ingin menjauhkan tubuh Briel dari tubuhnya.
"Lihat kan? Kalau aku suka sesama jenis, mana mungkin ada Rio sama Nino. Mustahil ada mereka ..."
Gea melemparkan tawa. Sungguh sangat menyenangkan menggoda suaminya itu. Ia terhibur melihat wajah kesal sang suami yang berusaha mempertahankan citranya.
"Wah wah wah wah ... Istriku mulai nakal ya ... Sepertinya aku tidak akan berangkat ke kantor. Akan lebih baik jika aku menanam saham lagi, membuat proyek besar untuk adik si kembar." Briel tersenyum licik. Lebih tepatnya kesempatan di dalam sebuah kelonggaran.
Sekuat tenaga Gea mendorong tubuh Briel dengan sebelah tangannya kala Briel lengah. Diam–diam Gea telah mencari momen itu.
"Ahahaha ... Lakukan jika bisa ...!" Gea berlari menuju kamar mandi. Ia mengunci pintu itu dari dalam sekalian ia ingin mandi saat itu juga setelah memandikan di kembar.
Sedangkan Briel tersenyum melihat tingkah istrinya yang tidak tertebak itu. Rasa cintanya semakin hari semakin bertambah oleh hal–hal kecil yang mereka ciptakan.
🍂
//
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1