Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
63. Keputusan


__ADS_3

Malam ini, Davin berniat untuk clubbing bersama ketiga sahabatnya. Dia telah sampai di salah satu tempat clubbing terkenal di kota itu.


"Hai Bro … Apa kabar?" sapa Deni pada Davin. Mereka bersalaman ala pria kebanyakan.


"Ya begini–begini aja, Bro."


"Wih sudah cukup lama kita gak ketemu. Kesambet demit apalagi kau datang ke sini, Bro?" tanya Viko.


"Lagi penat saja diriku. Ingin saja kembali kumpul sama kalian."


"Nih minum." Taka memberikan sebotol minuman beralkohol. Kali ini mereka memilih brandy sebagai teman minum mereka.


Davin mengambilnya lalu menuangkannya ke dalam gelas. Ia langsung menenggak minuman itu murni, tanpa campuran.


"Aku dengar kau sudah menikah?" tanya Taka. Ia mendengar desas–desus seperti kabar burung dikalangan para pengusaha.


"Memang sudah."


"Dengan kekasihmu itu?" tanya Viko.


"Bukan." Davin menuangkan miras itu ke gelasnya lagi.


"Lalu? Bukankah dia kekasihmu?" tanya Deni penasaran.


"Iya. Tapi aku menikah dengan wanita yang kau kenalkan denganku beberapa waktu lalu."


"Dela? Delima Anastasya Wiyarta?" tegas Deni yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Davin. Davin mengangguk mengiyakan.


"Gila kau, Vin. Baru kenal sudah gas pol," ucap Viko sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya bagaimana? Aku gak terima ditolak begitu saja. Harus bisa dong jatuhin dia dengan cara yang menyakitkan? Lagian Dela cantik, kaya, dan bisa puasin batin. Masih kurang apalagi coba?" jawab Davin santai.


"Gilak."


Viko bertepuk tangan atas kegilaan sahabatnya itu. Sedangkan Deni menepuk pundak Davin.


"Memang kau bastard. Sekali bastard tetap bastard!" ucap Taka sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya. Davin memang pria yang paling bastard di antara mereka berempat.


"Bersulang untuk sang bastard sejati …!" Taka mengangkat gelasnya diikuti oleh ketiga sahabatnya.


🍂

__ADS_1


Sepulang kerja, Gea singgah ke butik untuk mengadakan meeting penting dengan Hendri. Dia mengenakan jaket hitam berkerudung dan topi hitamnya. Semua karyawan butik pun telah pulang. Tak ada satupun orang yang ada di sana, kecuali dia dan Hendri.


"Kakak …." sapa Gea tatkala ia memasuki ruangan pribadinya. Ia melihat Hendri berdiri menghadap ke luar jendela membelakanginya.


Cukup lama ia tak berjumpa dengan Hendri karena Hendri baru pulang kemarin sore. Ada urusan tambahan yang harus Hendri selesaikan setelah usai dengan hal yang berhubungan dengan tujuan awalnya. Gea merindukan sosok kakaknya itu.


"Hei ..." Hendri membalikkan tubuhnya, membalas sapaan Gea.


Hendri memeluk Gea. Rasa rindunya ia lepaskan, seiring dia memeluk Gea. Gea membalasnya tanpa canggung.


"Maaf, Kak, tadi ada sedikit lembur di kantor karena ada meeting di sana." Hari ini Gea giliran bertugas, jadi dia harus pulang setelah meeting usai.


Hendri hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Gea langsung saat mereka telah memulai meeting mereka.


Hendri menghela napas kasar. Cukup berat rasanya untuknya berucap. Hal ini bisa menjadi sebuah akhir dari identitas Gea yang sedikit demi sedikit akan terkuak.


"Mereka tidak mau melanjutkan kerjasama jika saya yang menandatangani kontrak itu. Mereka mengetahui bahwa pemilik butik ini yang sebenarnya bukanlah saya, namun Anda." Hendri menarik napas dalam untuk melanjutkan ucapannya.


"Hanya saja mereka tidak mengetahui siapa Anda," tambahnya lagi.


Gea mengangguk. Ia paham. Selama ini ia menyembunyikan identitasnya kepada siapapun. Dia berpikir sejenak, mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Baiklah. Saya akan bertemu dengannya. Namun saya juga mengajukan persyaratan agar pimpinan mereka juga yang bertemu dengan saya. Dan juga harus dipersiapkan tempat secara khusus agar tidak ada orang yang mengetahui privasi kita," putus Gea.


Gea juga mengetahui bahwa perusahaan FTA Entertainment memiliki pemilik yang menyamarkan identitasnya. Dan selama ini tidak ada yang tahu siapa pemiliknya. Perusahaan agensi itu menggunakan orang kepercayaan untuk mengelola kegiatan operasional perusahaan.


Walaupun ia akan menunjukkan dirinya, ia juga akan mengajukan syarat agar privasinya tetap terjaga. Terbongkarnya semua privasi di saat yang tidak tepat akan membuat semuanya menjadi kacau.


"Baiklah, Bos, saya akan menghubungi pihak dari FTA Entertainment."


Saat ini, GA Fashion & Style membutuhkan kerjasama ini untuk mengembangkan butiknya ke ranah go internasional. FTA Entertainment adalah satu–satunya agensi yang memiliki model berkualitas dan juga populer, yang mampu mengenalkan produk mereka ke dunia yang lebih luas. Dan Gea harus mendapatkan kerjasama ini agar jalan butiknya semakin mudah.


Meeting telah usai. Mereka membenahi semua peralatan mereka. Mereka bersiap untuk pulang.


"Gey…" panggil Hendri ragu–ragu.


"Ya Kak?"


"Kenapa kau menyembunyikan semuanya dari Kakak?" tanya Hendri. Gea paham arah pembicaraan Hendri. Deru napas Gea terdengar di telinga Hendri.

__ADS_1


"Kakak pasti tahu dari Kak Bima?"


Hendri mengangguk. Pagi tadi Bima memberitahukan semuanya tentang Gea. Menceritakannya secara detail bahwa Bima telah mengetahui pernikahan Gea sejak awal.


"Bukan maksud aku menyembunyikan semuanya itu, Kak. Hanya saja Gea belum siap."


Hendri mencoba untuk mengerti.


"Baiklah. Kalau begitu biarkan aku yang membalaskan apa yang telah mereka perbuat padamu!"


Gurat amarah terlihat jelas di wajahnya. Hendri terlampau geram dengan apa yang Davin perbuat. Terlebih ada campur tangan dari Keluarga Wiyarta di dalamnya.


"Jangan, Kak. Biar nanti aku saja yang bertindak. Aku juga punya suami yang nanti juga bisa membantuku," ucap Gea dengan yakin. Ia tak ingin merepotkan Hendri dalam hal ini. Cukup Hendri ia repotkan dengan urusan butik.


"Tapi, Kak … maaf Kak. Aku belum bisa mengenalkan Kakak dengan suamiku. Aku masih ingin menyimpan ini semuanya sendiri karena aku ingin menguji ketulusan dia, Kak."


Hendri menghargai keputusan Gea. Gea ingin mengetahui sejauh mana Briel mampu menerimanya dengan segala kekurangannya.


"Tidak apa, Gey. Aku menghargai keputusanmu," ucapnya kemudian.


🍂


Di apartemen, Briel menunggu kepulangan Gea sembari memandang langit senja yang nampak berwarna jingga. Kian waktu kian meredup. Remang–remang hingga hari telah berganti gelap. Gea telah ijin pada Briel bahwa ia akan pergi ke indekos Runi terlebih dahulu.


"Keputusanku sudah bulat. Aku harus bisa membuatnya menjadi milikku seutuhnya sebelum semuanya terlambat. Aku akan membuatnya hamil segera agar kedua orang tuaku menerimanya."


Briel berdiri memandangi langit yang telah menggelap itu. Lengan bawah Briel bertumpu pada pembatas balkon. Ia telah memantapkan keputusannya.


Dalam sepi, bayangan–bayangan tentang apa yang telah terjadi kembali berputar, seperti kaset lagu yang tengah diputar. Briel memejamkan matanya untuk menikmati dinginnya terpaan angin malam.


"Andai semua itu adalah milikku, maka aku tak perlu berpikir panjang untuk menyelesaikan ini semua!"


Perusahaan Mega Raya Group masih milik Frans. Ia tidak berani bertindak sesuka hatinya karena perusahaan ini bukan sepenuhnya wilayah kekuasaannya walau nanti perusahan itu tetap akan menjadi miliknya kelak.


🍂


//


Happy reading guys


Jangan lupa bahagia 💕💕

__ADS_1


__ADS_2