
Rahasia Gea telah terungkap. Akhirnya Runi mengetahui siapa Gea. Gea telah menceritakan semuanya saat Gea membawanya ke dalam ruang pribadinya di butik itu.
"Aku gak menyangka, Gey, ternyata kamu bukanlah orang biasa."
Runi masih heran dan tidak menyangka, orang hebat seperti Gea mau berbaur dengannya yang hanya orang biasa. Ternyata masih ada orang kaya yang seperti Gea. Bahkan mau merendahkan diri dengan bekerja sebagai cleaning service. Padahal tanpa bekerja sebagai cleaning service pun Gea mampu menghidupi dirinya. Gaji cleaning service tak bisa dibandingkan dengan penghasilan Gea sebulan di butik.
"Aku masih orang biasa, Run. Makan masih nasi, minum masih air," gurau Gea.
Gea mencoba untuk tertawa, namun Runi hanya menatapnya sendu. Gea menghela napas kasar. Ia sadar bahwa saat ini Runi bukanlah Runi yang sebelumnya.
"Aku masih sama Run. Gea tetaplah Gea," jelas Gea. Ia tak mau Runi menjadi segan dengannya karena masalah status sosial.
"Tapi kita beda, Gey. Pertama kamu istri Bos Briel. Dan yang kedua ternyata kamu memang berasal dari keluarga berkelimpahan," bantah Runi.
Setelah mengetahui siapa Gea, Runi menjadi insecure dan merasa tidak pantas berteman dengan orang sekelas Gea. Ia minder karena status sosialnya yang bukan siapa–siapa. Kasta adalah masalah utamanya.
"Run, justru aku mau berteman denganmu karena kamu mau berteman denganku dengan tulus. Kamu tidak pernah memandang siapa aku. Dan itulah yang aku mau, Run."
Gea memegang kedua pundak Runi. Ia ingin meyakinkan Runi akannya. Gea tak memilih–memilih orang berdasarkan status sosial untuk ia jadikan sebagai sahabat. Namun ketulusanlah yang Gea mau.
"Okay?"
Gea menatap Runi penuh harap. Ia berharap Runi tak berubah setelah mengetahui siapa dia.
Runi menatap lekat mata Gea. Sorot mata Gea membuatnya ingin menangis. Ia tak pernah merasa disayangi oleh seorang sahabat seperti ini. Runi mengangguk sembari mengulas senyum. Senyum cerah terlihat di wajah Gea. Rasa bahagia menghalir di tubuhnya hingga kehangatan merasuk jiwanya. Gea memeluk Runi. Mereka saling mendekap hangat.
"Kenapa kamu dan Bos Briel ke sini Gey?" ucap Runi serelah melepaskan pelukannya. Ia penasaran, kenapa bisa kebetulan seperti ini.
"Karena aku ingin mengambil gaun yang ingin kupakai nanti ke pesta pernikahan," jelas Gea.
"Kalian diundang?" tanya Runi penasaran.
"Iya. Karena yang kudengar, mempelai wanitanya itu adalah bawahan mereka di perusahaan yang ada di Jerman. Dan wanita itu ternyata juga mantan pacar Adam."
"Ha??" sahut Runi spontan. Ia kaget dengan fakta yang ia dengar. Runi tak mengira, ternyata pesta pernikahan yang akan ia hadiri adalah pesta pernikahan mantan Adam.
"Iya. Memang kenapa?"
"Pantesan Tuan Adam mengajakku ke pesta itu. Rupanya karena ia tidak ingin terlihat ngenes." Runi mengeluarkan asumsinya akan Adam.
"Kamu juga mau ke sana? Kukira kalian mau berkencan," ujar Gea.
Runi menepuk dahinya mendengar penuturan Gea. "Kencan? Amit–amit berkencan dengan manusia seperti dia! Pergi saja aku sampai tidak mandi tidak ganti baju!"
__ADS_1
Runi masih kesal dengan perlakuan Adam dengannya beberapa waktu lalu.
"Lihat ini!" lanjut Runi. Ia menyuruh Gea untuk melihat penampilannya saat ini.
Gea hanya bisa tertawa. Ia tak tahu apa yang terjadi hingga membuat Runi sebegitu membenci Adam. Ia menggeleng ringan
"Jangan bicara seperti itu. Awas amit–amitnya berubah jadi imut–imut."
Gea pernah mendengar pepatah, bahwa siapa yang terlalu benci bisa berubah menjadi cinta. Benci dan cinta itu terlalu tipis perbedaanya. Salah jalur sedikit saja bisa tersesat.
Runi menertawakan perkataan Gea. "Imut–imut? Tidak akan pernah, Gey!" Runi mengibaskan tangannya berulang kali. Ia merasa lucu saja dengan ucapan Gea.
"Mana mungkin begitu, Gey, Gey!" bantah Runi.
Gea hanya tersenyum sebagai tanggapannya.
"Dahlah, sana siap–siap!" perintahnya untuk Runi. Runi mengangguk. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selama Runi membersihkan diri, gaun untuk Runi telah diantar ke ruangan itu. Tak lupa, gaun untuknya sendiri telah diantar ke sana pula.
Gea mulai mengganti bajunya. Ia juga memulai merias wajahnya sendiri dengan peralatan make up yang sengaja ia tinggalkan di sana.
"Untung saja aku masih menyimpannya di sini."
"Run, itu gaunmu. Segera pakai saja. Sebentar lagi kita berangkat," ucap Gea dengan tangan yang masih terus menyapu wajahnya sendiri dengan kuas.
Runi mengangguk. "Iya."
Runi kembali masuk ke dalam kamar mandi. Selesainya itu, Runi menghampiri Gea yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Selesai," ucap Gea.
Gea mengamati wajahnya sendiri di cermin. Ia menengokkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, untuk melihat keseluruhan hasil riasannya sendiri. Ia tersenyum simpul.Semua telah ia selesaikan sesuai keinginannya.
"Run duduklah. Aku ingin meriasmu."
Gea beranjak berdiri dari duduknya. Ia mempersilahkan Runi duduk di sana. Runi pun menurut. Ia juga tak begitu mengerti dengan penggunaan semua make up itu. Duduk di depan cermin menjadi pilihannya.
Gea mulai menyapukan kuas di wajah Runi dengan lembut. Tangannya sangat lihai menggerakkan kuas itu. Ia seperti perias profesional.
"Selesai."
Gea tersenyum. Setelah beberapa waktu, ia menyelesaikan kegiatannya. Wajah Runi terlihat begitu cantik dan make up nya masih terkesan natural. Sesuai dengan yang Gea inginkan.
__ADS_1
"Astaga …. Cantiknya sahabatku ini," puji Gea.
Memang benar. Hari ini Runi terlihat begitu cantik, beda dari biasanya.
"Cantikan kamu lah, Gey."
Runi tersenyum malu.
🍂
"Bagaimana?" tanya Gea. Ia meminta pendapat mengenai penampilan Runi pada Adam. Semua orang yang ada di sana memusatkan perhatiannya pada Gea, termasuk Hendri dan Briel. Di sana Adam dan Briel telah mengganti pakaiannya dengan stelan baju untuk kondangan.
Adam diam sejenak. Ia memperhatikan penampilan Runi. Runi yang diperhatikan pun merasa canggung. Kemudian Adam mengalihkan pandangannya sembari tersenyum miring.
"Cantik, tapi maaf. Sayangnya biasa saja!" jawab Adam sarkas.
Bagi Adam, wanita cantik adalah petaka baginya. Kilasan–kilasan kisah sebelumnya telah membunyikan alarm alami dalam dirinya secara otomatis.
Gea melongo dibuatnya. Ternyata respon Adam tak sesuai dengan ekspektasinya. Ia kira Adam akan terpesona dengan penampilan Runi. Namun nyatanya bertolak belakang.
Briel dan Hendri menggeleng ringan melihat sikap Adam. Sedangkan Runi memutar bola matanya malas. Ia tak ingin menanggapi respon Adam padanya. Karena menurutnya tidak penting juga. Keheningan terjadi di antara mereka saat ini.
"Mari kita berangkat!" ucap Briel memecah keheningan.
Mereka yang telah siap pun berangkat ke pesta pernikahan itu. Mereka menggunakan 2 mobil. Satu mobil dinaiki oleh Briel dan Gea, sedangkan mobil satunya dinaiki oleh Adam dan Runi.
🍂
//
Hai semua ... untuk kali ini part campuran dulu ya 🤗🙏
Terimakasih telah bersedia mengikuti karya Asa sampai detik ini 💕
sembari menunggu up, kalian bisa mampir dulu ke karya kakak online asa 🤗
🍂
//
Happy reading guys,
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕