Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
Lonely


__ADS_3

Disinilah dia sekarang. Duduk di kursi depan bartender. Gelas dengan sebotol minuman beralkohol ada di meja, di dalam genggamannya. Tangannya hanya sibuk memutar–mutar gelas itu. Matanya menatap kosong ke sembarang arah, menggambarkan betapa hampanya dirinya saat ini. Aroma kental minuman beralkohol itu bahkan ia abaikan walau sudah ia pesan.


"Hei Brother! Sudah lama kau di sini?" sapa Xavier yang tiba–tiba saja muncul dari arah belakangnya. Ia menyampirkan jaketnya yang ia lepas di lengan bawahnya, memilih duduk di kursi samping Briel.


Briel menghela napas kasar. "Belum." Ia menunjukkan minumannya yang masih utuh.


Briel hanya menatapnya sekilas. Kemudian memalingkan kembali wajahnya, menatap tak tentu arah seperti sebelumnya ia menatap.


Xavier menarik napas dalam lantas mengeluarkannya perlahan.


"Minumlah. Aku temani hingga pagi."


Xavier tahu betapa kacaunya hati Briel. Istrinya pergi tanpa pamit saja ia kelimpungan mencari bahkan bisa saja sampai mengerahkan semua anggota Black Lion, apa lagi jika istrinya terbaring seperti itu di rumah sakit tanpa tahu kapan akan kembali. Raganya ada namun rasanya terasa begitu jauh. Ia memilih untuk membiarkan Briel dengan tetap menemaninya.


Tidak ada suara sedikitpun dari Briel. Briel mendengar semua perkataan Xavier. Namun ia memilih untuk bungkam dan menikmati keterbungkamannya.


Seharusnya dia tidak berada di sana. Harusnya ia berada di rumah sakit menemani istrinya. Namun sang ibunda, Tere, menyuruhnya untuk keluar. Ia tidak ingin anaknya terlalu larut dalam kesedihan yang dialami. Setidaknya ia ingin anaknya menghirup udara segar setelah melewati hari yang berat. Sebagai gantinya Tere menggantikan Briel menjaga Gea di malam itu.


Dengan keterpaksaan, Briel menuruti apa kata Tere walaupun ia tidak yakin dengan keputusannya menuruti Tere. Bukan tidak percaya dengan Tere yang menggantikannya namun lebih tepatnya ia hanya tidak ingin jauh dari sang istri. Dan benar saja. Kekosongan semakin menjadi tanpa tau bagaimana membendungnya.


Tidak ada sedikitpun pembicaraan di sana. Briel dengan kesendiriannya di tengah keramaian dan Xavier dengan segelas wine di tangannya. Ia masih setia menatap Briel sembari menyesap wine itu sedikit demi sedikit, mengawasi dan menemani Briel dalam diam.


"Di mana Nico dan Daniel?"


Pada akhirnya Briel membuka pembicaraan. Setidaknya untuk basa–basi saja.


"Hmm ... ada. Mungkin mereka sudah berkeliaran mencari target."


Xavier memang datang ke sana bersama Nico dan Daniel, namun mereka berpisah tepat setelah mereka masuk. Hingar bingar di sana dengan bertebaran para wanita dewasa yang menggoda dengan berpakaian minim membuat Daniel dan Nico tidak kuat iman. Di mana ada wanita cantik dan body goals, di sana mereka akan menginjakkan kaki untuk paling enggak sekadar tebar pesona. Atau kalau memungkinkan mereka lakukan olahraga yang sangat mereka sukai.


Briel mengangguk–angguk. Ia mulai meminun sedikit demi sedikit minuman miliknya.


"Kenapa kau tidak ikut?" tanya Briel tiba–tiba membuat Xavier melebarkan matanya, menatap Briel tajam.


"No!! Jangan samakan diriku dengan mereka. Aku bukan mereka yang suka berganti pasangan hampir setiap hari."


"Really?"


"Yeahh ... Really."

__ADS_1


Seketika, sejenak mereka sesama terdiam. Hanya helaan napas Briel yang terkadang mengisi samar di tengah kebisingan itu.


"Are you okay?" Xavier kembali bersuara. Andai saja Briel orang lain, ia tidak akan sepeduli itu. Atau bahkan ia tidak akan peduli sama sekali.


"Seperti yang kau lihat."


Briel melebarkan tangannya, membiarkan Xavier menilik dirinya. Tanpa ia bicara pun seharusnya Xavier mampu menebaknya. Xavier hanya menarik sebelah sudut bibirnya.


Tiba–tiba saja deru napas Briel terdengar kasar. Ia menarik napasnya dalam.


"Aku tidak pernah mengira semuanya akan terjadi seperti ini. Andai aku tidak lalai, pasti aku masih bersamanya dengan dua anak yang masih tumbuh di dalam rahimnya."


Banyak sesal yang terselip di antara banyak kata yang ia ucapkan itu. Kata andai selalu menjadi bagian dari pikirannya saat ini.


"Beruntung usia kandungan Gea berada di masa kandungan yang bisa dibilang tua, meski usia kandungannya baru 7 bulan."


"Dan paling beruntung adalah mereka bisa diselamatkan walau istriku masih harus tertidur panjang dan kedua anak kami masih di inkubator. Mereka sesama berjuang. Ibu mereka berjuang mendapatkan hidupnya kembali, dan mereka berjuang untuk menggantikan hari yang seharusnya masih dalam kandungan."


Briel berbicara panjang lebar. Sedangkan Xavier masih setia mendengarkan sahabatnya itu berbicara tanpa ingin menyela.


"Aku tidak akan pernah bisa mebayangkan bagaimana hidupku nanti seandainya tanpa mereka. Tidak akan pernah bisa kubayangkan."


"Sedikit banyak aku mengerti bagaimana perasaanmu. Dan itu sangat menyakitkan. Tetapi jangan pernah bayangkan hal buruk yang bisa saja tidak terjadi. Itu terlalu menyakitkan."


Xavier mengingat bagaimana ia dulu kala Elleana terbaring di ranjang rumah sakit tidak berdaya. Dunianya seakan hancur dalam sekejab.


"Yeah aku tau," ucap Briel dengan tatapan kosong. Rasa itu telah menikamnya tajam. Rasa takut kehilangan yang menghantuinya, menghujamnya tanpa ampun walau hanya dengan sekadar bayangan namun cukup untuk membuat dadanya sesak. Ia menghirup napas dalam–dalam mengambil oksigen untuk mengisi rongga paru–paru yang terasa sempit.


Tiba–tiba saja datanglah Nico menghampiri mereka, memesan minuman untuk dirinya.


"Mana Daniel?"


"Ada. Dia masih bersenang senang. Sungguh, ternyata wanita asia lebih menggoda. Badannya bak gitar spanyol dan kulitnya terlihat lebih eksotis dengan suara yang erotis. Hmmm meski mereka terlihat lebih mungil. Aiihh andai aku bisa hidup di sini lebih lama."


Nico masih membayangkan bagaimana ia melewati sebagian kecil malamnya itu bersama wanita baru yang ia temui.


"Masih lama?"


"Aku tidak tau," jawab Nico jujur. Hal itu membuat Xavier memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


"Ck suruhlah dia selesai secepat mungkin!" titah Xavier. Titahnya itu tidak terbantahkan. Nico segera mengeluarkan benda pipih canggih yang ia simpan dalam saku celana. Ia menekan sebuah nomor yang diketahui itu adalah nomor Daniel.


Tidak lama kemudian, komunikasi terhubung. Dari sana Nico mendengar suara–suara yang biasa namun tidak lazim untuk di dengar orang lain.


"Cepatlah selesaikan! Kau ditunggu di sini!"


Dari sana hanya terdengar sahutan dehaman yang sebenarnya tidak rela untuk diganggu.


Tidak lama kemudian, Daniel datang dengan wajah suram. Ia menjatuhkan diri di kursi dengan kasar. Ia terlihat penat sekali. Nico yang di sampingnya hanya menahan tawanya sekuat tenaga.


"Apa?!"


Daniel melirik tajam Nico agar Nico berhenti menertawainya.


"Wow wow wow ... Rupanya kali ini ada yang gagal," ledek Nico.


"Sialaan!! Kalau bukan karena kau yang selesai duluan, aku tidak akan kena juga!" ucapnya dengan gigi yang dirapatkan.


"Eheem!!" Xavier berdeham, menginterupsi mereka berdua agar mereka diam dan mengingat siapa orang yang menyuruh mereka lekas selesai.


Mereka berdua hanya cengengesan lantas terdiam. Sedangkan Briel hanya terkekeh kecil.


"Bagaimana dengan dia?" Briel masih penasaran dengan kondisi Davin. Hanya dengan mengingat Davin saja mampu membuat tatapan dan suara Briel terkesan datar.


"Masih ada. Dia kuamankan di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh kawanannya," ucap Xavier.


"Good! Jangan biarkan dia maati dengan mudah!"


"Yeah pasti." Kali ini Daniel yang menyahutnya.


Sungguh belas kasihan Briel untuk Davin telah musnah. Perbuatan Davin tidak bisa dimaafkan hanya dengan kata. Dan ia berniat untuk membuat Davin sendiri yang memohon pada mereka untuk memilih maati dari pada hidup lebih lama.


🍂


//


Happy reading gaess


Jangan lupa bahagia 🤗💕💕

__ADS_1


__ADS_2