Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Mereka Berulah


__ADS_3

Masih terlihat raut wajah Gea yang masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi. Yang masih berada di balik kemudi sering kali melirik ke arah Gea yang berusaha menyembunyikan rasa itu. Namun di mata Briel, Gea gagal menyembunyikannya.


Tidak ada percakapan di dalam mobil. Untuk mengusir kesunyian, Briel menyalakan musik di dalam mobil. Musik tenang yang mampu membuat suasana hati menjadi lebih tenang pula.


Sesampainya di rumah, mereka segera turun dari mobil. Tere dan Frans yang sudah dari tadi menunggu mereka, menyambut mereka di depan pintu.


"Syukurlah kalian sudah pulang," ujar Tere tanpa menunggu sapaan dari Briel ataupun Gea.


"Iya, Bun. Gimana duo kembar? Rewel tidak?" tanya Briel. Sedangkan Gea hanya menjawab pertanyaan dari Tere dengan senyum singkat saja.


"Tidak kok. Mereka pinter, tidak menangis pula," ujar Tere. Seharian ini Rio dan Nino lebih anteng dan mudah dijaga.


Tere menggigit–gigitkan giginya. Ia menangkap aura janggal di antara mereka. Namun Tere memilih untuk bungkam. Melihat wajah kusut dari kedua anaknya yang sudah pasti lelah, ia tidak ingin menambah kadar lelah anak dan menantunya itu.


"Bun, Yah, Gea ke atas duluan ya. Selamat malam," pamit Gea secepatnya. Ia hanya ingin melihat wajah kedua anaknya untuk kali pertama. Bukan tidak menghargai Frans dan Tere. Namun dia sendiri juga butuh ketenangan.


"Iya, Gege. Istirahatlah."


Gea mengangguk dengan menarik ke atas kedua sudut bibirnya tipis.


"Briel, ikut Ayah sebentar," titah sang ayah.


Briel berjalan ke luar mengikuti ke mana arah Frans pergi. Juga penasaran sebenarnya apa yang ingin Frans bicarakan dengan dirinya.


"Apa Yah?" tanya Briel kala mereka sudah sampai di teras samping.


Frans menarik napas dalam lantas menghembuskannya kasar. Ia tahu apa yang baru dialami Briel dan Gea. Anak buahnya di mana mana. Ia hanya berusaha memantau anak dan menantunya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Kamu harus lebih berhati–hati. Ada orang yang mengincar kalian. Dan lagi–lagi target mereka Gea."


Frans diam sejenak. "Atau bahkan juga Rio dan Nino."


Bak disambar petir, Briel terperangah. Ternyata masih belum usai. Namun kali ini ia bertanya–tanya, siapa lagi ini. Davin sudah tiada, begitupun juga dengan Clara. Briel melihat semuanya dengan mata kepala ia sendiri. Mereka telah memilih jalan hidup untuk hilang dari muka bumi ini.


"Tapi siapa, Yah? Bukankah semua yang berhubungan dengan Gea sudah tidak ada?" tanya Briel pada Frans.


Frans menghela napas lagi. Ia juga tidak bisa mengetahui dalang dibalik semuanya itu. Orang yang melakukan tindak kriminal itu memang dapat ditangkap. Namun sialnya orang itu begitu setia dengan tuannya. Orang itu tidak gentar sekalipun kematian menghantuinya. Malah lebih parahnya orang itu menantang anak buah Frans.


Frans menggeleng. "Ayah juga tidak tahu. Anak buah Ayah sudah mencoba cari tahu tapi belum ada sedikitpun perkembangannya. Orang itu terlalu pintar untuk memilih anak buah sebagai tangan kanannya."

__ADS_1


Briel mengernyitkan dahinya tidak mengerti. "Maksud Ayah?" tanya Briel.


"Pemuda itu memilih bungkam dan mati dari pada mengungkap siapa orang itu. Mungkin ada harga yang sudah dibayar sama orang itu untuk pemuda itu. Jarang sekali ada anak buah sesetia itu pada majikannya."


Briel menghela napas panjang. Tanggung jawab baru untuknya. Ia harus menjaga Gea lebih dan lebih agar tidak ada celah bagi orang itu untuk mencelakai Gea.


"Jaga Gea, Bri. Kali ini mereka lebih agresif. Ayah takut Gea kenapa–napa," ujar Frans mengingatkan. Ia sudah menyayangi Gea seperti ia menyayangi Briel.


Briel mengangguk. "Iya, Yah pasti. Briel akan memberikan keamanan yang lebih ketat. Aku tidak ingin Gea kenapa–napa lagi, Yah. Begitupun juga duo kembar. Cukup kemarin saja aku hampir kehilangan dia."


Mengingat kejadian yang sudah–sudah membuat Briel sesak. Hanya Gea saja yang terluka dia bisa segila itu, bagaimana jika mereka bertiga menjadi sasaran orang itu. Dia tidak akan tau sehancur apa hidupnya.


"Bagus. Nanti Ayah juga akan tetap menyuruh anak buah Ayah untuk mengawasi kalian dari jauh.


"Yah, Briel," panggil Tere yang entah sejak kapan ia ada di sana. Ia menatap suami dan anaknya bergantian. Banyak pertanyaan timbul dalam benaknya.


"Yah, Bunda, Briel ke atas dulu," pamit Briel. Biarlah Frans yang akan menjelaskan semuanya.


"Iya Bri. Istirahatlah, jaga istri dan anakmu!" pesan sang ayah.


Briel mengangguk lantas pergi berlalu meninggalkan mereka berdua. Sedangkan di teras itu pun, Frans berusaha menjelaskan pada istrinya. Ia berniat mengajak bicara dengan Briel empat mata saja agar Tere tidak mengetahui hal itu. Namun ternyata tanpa sengaja Tere mendengar pembicaraan mereka.


"Sudahlah! Ayah ngantuk mau tidur. Mau ikut tidak?"


Tere tersenyum tulus. "Mau dong, mau dikelonin," ujar Tere manja.


Frans tertawa. Gelak tawa itu bahkan terdengar dari dalam. Minah menjadi saksi gelak tawa itu yang kebetulan ada di dapur.


"Aduh ... Gak yang muda gak yang sudah berumur sama saja. Harmonisnya behhh ... Bikin iri saja. Aaaaa aku kapan ketemu dengan mas jodoh..." jerit Minah tertahan. Ia iri dengan kehidupan keluarga majikannya itu. Yang jomblo semakin ngenes kala melihat mereka begitu harmonis sekalipun sudah termakan usia.


🍂


Ceklek


Briel membuka pintu dengan hati–hati. Ia melihat Gea berdiri membelakanginya. Berdiri tanpa bergerak sedikitpun cukup lama. Merasa aneh dengan sikap Gea, Briel menyentuh pundak Gea.


"Sayang ..."


"Eh?"

__ADS_1


Gea terperanjat. Dadanya naik turun, deru napasnya terdengar kejar–kejaran. Tatapan matanya tidak bisa diartikan. Wajahnya semakin pucat. Briel panik. Ia menangkup wajah Gea khawatir.


"Hei ... Hei ... Kamu kenapa, Sayang??" ujar Briel panik. Ia menatap lekat manik mata Gea. Sesekali ia menepuk ringan pipi Gea.


"Sayang ..." panggil Briel sekali lagi.


Susah payah Gea menelan ludahnya. Ia memberikan selembar kertas berdarah. Darah itu sudah mengering. Di dalamnya ada sebuah tulisan bertinta hitam. Ia menemukannya di tas yang waktu itu ia bawa saat meeting bersama dengan Hendri. Niat hati ingin melihat kembali catatannya namun malah misteri box yang ia dapatkan.


Briel menerima selembar kertas yang masih teremas acak itu. Ia bertanya–tanya, terlihat dari tatapan matanya.


Briel membuka kertas itu.


'MENYERAH ATAU MUSNAH!! '


Kertas itu berisikan ancaman yang membuat siapapun kena mental. Briel meremas kembali kertas itu.


"Kurang ajar!!" desisnya marah.


"A–aku takut mereka mengambil anak–anak kita Bayang," ujar Gea terbata. Tidak bisa dipungkiri. Sekuat–kuatnya Gea namun tetaplah dia adalah seorang wanita yang membutuhkan perlindungan.


"Aku tidak mau ituuu ... tidak mau"


Buliran air bening menetes deras begitu saja. Gea tidak ingin anaknya kenapa–napa. Ia meluapkan kekhawatiran pada pundak Briel yang merangkulnya dalam dekapan hangat.


"Shuuttt ... Tidak akan ada yang terjadi pada mereka, pada kamu, dan pada kita."


Briel mengelus surai Gea. Ia berusaha memberikan ketenangan untuk istrinya itu.


Hancur sudah hatinya melihat air mata yang jarang sekali luruh dari mata istrinya membanjir seketika. Dalam hati ia bertekad untuk mencari siapa dia dan menjaga anak istrinya bahkan jika harus dibayar dengan nyawanya.


🍂


//


Uhuk uhuk saha itu 🤭


Happy reading gaes,


Jangan lupa bahagia 🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2