
Pagi hari ini masih petang. Subuh–subuh Gaza memilih untuk memasang alarm agar dirinya terbangun lebih awal. Ia tidak ingin mengatur jadwal ulang bertemu dengan dokter lantaran Dela yang membatalkannya karena terlambat datang.
"Bangun bangun banguuuunn!!!" Teriak Gaza. Kini Gaza membawa sebuah panci dan centong nasi. Ia memukul centong panci itu keras dengan centong nasi hingga suarnaya sapai di rumah tentangga.
"Gazaaa .." rengek Dela. Dela langsung terbangun kala alat itu dibunyikan. Hal itu sukses membuat Dela terbangun. Gaza sengaja mebangunkannya lebih awal lantaran jadwal bertemu denga dokter itu pukul sembilan pagi. Dan dia harus berhasil membangunkan Dela. Alih–alih tidak bangun, mereka gagal konsultasi.
"Bangun. Kemarin kita gagal karena telat. Dan hari ini harus jadi. Tidak boleh telat."
"ihhh ..." keluh Dela. Ia tida suka dibangunka pagi seperti itu. Lagi pula ia hamil juga tidak peduli dengan kandungannya. Cukup dengan menumpang hidup dalam kandungannya. Urusan bagaimananya, ia tidam peduli, begitu pikir Dela.
"Tidak usah banyak ngeluh. Sana mandi, atau aku membawamu tanpa mandi," ancam Gaza.
Dela mencebikan bibirnya. Kini bibir itu telah maju beberapa centi meter ke arah depan.
"Aaaaww!!! Sakit tauk!" Dela merintih kwsakitan. Ia memegang bibirnya yang sakit. Gaza sengaja menjepit bibir Dela dengan tangannya, mengukur seberapa panjang bibir itu monyong.
"Cepat!!!"
"Hmm" Dela bergumam. Ia meninggalkan Gaza untuk pergi ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Dela tidak langsung mandi. Ia malah berkaca dalam air yang ada di dalam bak, memperhatikan dirinya sendiri yang semakin hari pipinya semakin tembam. Dela tida suka itu. Ia menyentuh, mencubit ringan pipinya yang menggembul itu.
Dela berdecak kesal. "Aihhh pipiku ..." keluhnya merengek.
Lantas tangan Dela beralih pada lengan atasnya yang bertambah diameternya. Ia menyentuh–nyentuh lengan atasnya itu dengan sebelah tangannya. Lemak itu bwrgerak. Hal itu membuat Dela menyesali perbuatannya selama ini yang makan tiada aturan. Porsinya pun selalu banyak.
"eeeenngghh gimana ini badanku melebar pula," ujar Dela sembari terus melihat dirinya di air yang menggenang.
Cukup lama Dela mematut dirinya yang tidak sesuai degan harapannya. Hingga gedoran pintu membuatnya tersadar. Ia menatap ke arah pintu. Lagi–lagi ia menggerutu.
"Astaga ... Lagi–lagi dia mengganguku!" sungutnya.
"Dela selesaikan mandimu! Dalam waktu 5 menit tidak selesai, selesai tidak selesai harus selesai!" teriak Gaza dari luar kamar mandi.
Dela mendengkus kesal. "Lima menit mana cukup untuk mandi. Palingan cuma gosok gigi," gumamnya lirih bermonolog.
__ADS_1
Tanpa berlama lama lagi, ia menggosok giginya. Menggosok giginya pun asal. Asal gigi tergosok udah. Waktu yang singkat membuatnya memilih untuk hanya mencuci wajah saja. Tidak cukup waktu jika ia harus mandi.
"Sudahlah gini aja. Bodo amat dokternya pingsan. Lebih baik bukan aku tidak perlu konsultasi!"
Pikiran Dela memang dangkal. Ia keluar dengan tubuh yang tidak tersentuh sabun.
"Sudah! Mau apa lagi?" Tantang Dela.
"Good. Sana ganti habis itu kita berangkat!" ujar Gaza. Lebih baik menunggu dari pada telat, begitu prinsipnya.
Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Gaza memilih untuk menggunakan mobil online dari pada menggunakan motornya sendiri. Ia khawatir jika tiba–tiba Dela menggila di jalan lalu seenaknya saja loncat dari motor. Jika menggubakan mobil, ia bisa menjaga Dela. Cukup dengan mengawasinya.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Dela tidak nyaman.
"Biar kamu tidak kabur!" ucap Gaza jujur. Sikap absurd Dela memang perlu diawasi.
"Kau pikir aku apa? Biaa gitu loncat tanpa perlu terluka? Aku bukan wonderwomen kali!" ucap Dela yang mulai jengah. Lama kelamaan Gaza berubah menjadi bodyguard yang menjengkelkan. Apapub aktivitasnya diatur sedemikian rupa oleh Gaza.
"Tidak ada yang tau apa yang kau lakukan," ujar Gaza. Ia tidak percaya dengan apa yang Dela katakan. Sudah berkali–kali Dela membohonginya, membodohinya dengan kata–kata dan menganggap seolah Gaza bodoh. Padahal lebih dari itu, Gaza merasa dirinya cerdas. Kalau tidak cerdas ia tidak akan bisa mempertahankan kejayaan club malam yang ia kelola bersama dengan Marvel.
Dela melempar tubuhnya bersandar pada jok penumpang itu. Ia memutuskan berhenti berdebat. Kondisi perutnya yang masih kosong membuatnya enggan untuk menguras energinya terlalu banyak.
🍂
"Berbaringlah, Bu," ucap seorang perawat yang membantu dokter kandungab bertugas.
Gaza menuntun Dela untuk berbaring pada ranjang rumah sait itu.
Seorang Dokter laki–laki itu datang menghampiri Dela, lantas menyingkap baju yang Dela kenakan dari bawah. Ia mengusapkan gel ke perut Dela. Ia segera melakukan USG pada kandungan Dela.
"Maaf, ya Bu," ucap dokter itu sopan.
Dela mengangguk mengiyakan.
Di layar monitor itu, terdapat sebuah bentuk aneh. Dan itulah janin Dela. Janin itu terlihat mungil dan mulai mau berbentuk.
__ADS_1
"Semuanya sehat. Bahkan pasca hampir keguguran kemarin, semuanya sudah membaik. Dinding rahimnya sudah menguat kembali" ucap dokter itu.
Dokter itu beralih menatap Gaza. "Bapak, istrinya mohon dijaga baik–baik. Jangan sampai istri Anda kelelahan. Berikan selalu vitamin yang saya resepkan. Susu ibu hamil juga diperlukan untuk menambah nutrisi buat si bayi dan juga ibunya. Jika bisa meminumnya tolong diminum dua kali sehari."
Dokter itu memberikan arahan seolah–olah Gaza adalah bapak dari si bayi. Gaza hanya bisa bersenyum canggung. Ia tidak mengerti lagi cara merespon dokter itu kecuali dengan mengangguk sembari tersenyum terpaksa. Hanya itu yang ia bisa. Tidak mungkin ia menolak atau menyangkal ucapan dokter tentang siapa dia sebenarnya.
"Dan untuk ibu, jaga baik–baik janinnya ya. Kalau melakuka apa–apa jangan grusa grusu. Hati hati supaya tidak terjadi lagi hal seperti sebelumnya."
Dela tersenyum canggung. Ia juga mengiyakan ucapan dokter.
Dela dan Gaza hanya bisa menjerit dalam hati untuk memberiitahu pada dokter jika mereka bukanlah suami istri, namun hanya dua orang yang tidam sengaja tinggal bersama.
"Terima kasih Dok," ucap Gaza. Mereka berpamitan.
"Puas kan?! Aku lapar," ujar Dela. Dengan langkah yang cepat ia mendahului Gaza. Ia ingin segera mendapatkan asupan makanan. Perutnya berontak meminta makanan.
"Heh!! Hati hati... Dasar wanita bar bar. Durhaka sekali kau dengan anakmu!" Gaza mengejar Dela yang berjalan cepat itu.
Dela tidak mendengarkan perkataan Gaza. Ia berjalan tanpa mengurangi kecepatannya.
"Aihh benar–benar mengurus anak teka!" keluh Gaza. Gaza berlari untuk menghentikan Dela agar berjalan lebih santai.
🍂
Hai hai hai semuanyaa ... Hehehe ada yg bingung kan kenapa ada musuh lagi?
Hmmm tenang, mereka bukan orang baru. Tapi masih orang lama yang konfliknya belum usai.
Semoga kalian selalu dalam lindungan Tuhan.
Amin.
🍂
//
__ADS_1
Happy reading Gaes,
Jangan lupa bahagia 🌻🌻