
"Aku membutuhkan bantuanmu ..."
Seketika wajah kesal Briel terpampang nyata. Briel terlihat begitu gusar. Ia segera menjauhkan gawainya itu dari telinga. Hal itu membuat semuanya tercengang dan bertanya, ada apa.
"Siall dimatikan! Dasar ngaku sahabat eh tahunya tidak tahu adab!" umpat Briel. Di saat yang genting seperti itu, rasa geramnya semakin menjadi lantaran apa yang ia butuhkan malah tidak ditanggapi bahkan dimatikan.
Ddrrrtt
Sebuah nama itu tertera pada layar. Nama yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Briel tersenyum kala mengetahui kebodohannya mengumpati orang itu, mengira bahwa ia diabaikan. Rasa lega mengalir dalam benaknya.
Briel menggeser ikon telepon berwarna hijau. Seketika terlihat wajah seorang pria dewasa berjambang rapi dengan wajah yang masih kusut lantaran baru saja terbangun dari tidurnya.
"Ck tidak tahu sopan santun. Kau telah mengganggu tidurku. Ada apa kau menghubungiku?"
Suara serak khas bangun tidur itu masih melekat di telinga Briel. Bahkan matanya masih setengah tertutup.
"Bangunlah dulu! Kumpulkan nyawamu Vier!" gurau Briel sembari terkekeh ringan lantaran melihat wajah Vier yang biasanya sangar pun sekarang terlihat lucu di matanya.
"Ck tidak usah banyak protes Briel. Cepat katakan apa maumu!"
Briel tahu, jika ia menghubungi Xavier di jam istirahat. Perbedaan waktu 2 negara itu menjadi pengaruhnya. Namun ia tidak peduli lagi. Yang ia butuhkan saat ini adalah bantuan Xavier.
__ADS_1
"Aihh Ya ya ya ya .... Aku butuh bantuanmu."
Xavier pun tertawa ringan, lebih tepatnya tertawa mengejek. Hal itu mampu membuat Briel berdecak kesal.
"Untuk apa kau minta bantuanku Brother? Bukankah kau tidak mau berurusan dengan dunia gelap?" ledek Xavier. Ia mengingat perkataan Briel kala di awal pertemuan mereka.
"Aku memang tidak mau. Tapi keadaan membuatku harus bergelud dengan dunia itu." Briel mulai berbicara serius. Ia mengingat bagaimana keselamatan keluarganya jika ia tidak masuk di dalam dunia gelap itu.
Tapi bukan Vie namanya kalau dia kalau dia tidak menggoda sahabatnya itu.
"Astagaa ... Baru juga lepas dari julukan bujang lapuk. Giliran mau punya anak saja masih harus bersusah payah."
Ucapan Xavier memang sarkas namun sebenarnya itu adalah sebuah candaan yang penuh dengan sindiran. Bukan Xavier namanya jika ucapannya tidak tajam menusuk. Benar–benar pedas.
Briel mengeja kata itu untuk menegaskan suku kata itu. Iya berdecak kesal dengan semua ledekan–ledekan sahabatnya itu.
"Aku tidak peduli, yang jelas aku butuh bantuanmu."
Tidak ada orang lain dalam benak Briel. Hanya Xavier yang mampu membantunya saat ini.
"Aku tidak mau. Enak saja, maunya saja kau datang. Giliran diundang main ke sini saja banyak alasan yang kau sebut. Sahabat seperti apa kau ini!"
__ADS_1
Jawaban Xavier membuat Briel tercengang. Ia benar–benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Xavier. Di saat genting seperti ini Xavier terlihat seperti anak kecil yang mementingkan timbal balik di sebuah pertemanan.
"Sahabat biaddaab kau Vier! Damnn it ...!" umpat Briel.
"Aku kasihan dengan istrimu, Elle. Sepertinya dia benar–benar buta waktu dia menikah denganmu," ucap Briel kemudian.
Xavier hanya mengangkat kedua alisnya yang terlihat di layar utama. Vier tidak terpancing dengan apa yang Briel katakan. Tingkah Xavier semakin membuat Briel kesal.
"Jangan lupa hadiah untuk resepsi pernikahanku lusa!"
Itulah kalimat terakhir. Tak menunggu jawaban dari Xavier, Briel mematikan sambungan itu. Terlalu lama berbicara dengan sahabat karibnya itu hanya akan membuat dia naik darah. Tidak ada sedikitpun kesepakatan, malah emosilah yang di depan.
Briel membanting gawainya ke sofa. Ia benar–benar akan melakukan semuanya sendirian tanpa bantuan siapapun. Briel mengacak rambutnya kasar. Helaan napas kasar pun terdengar. Lantas menatap mereka semua satu persatu.
"Tidak ada kejelasan dari Xavier. Baiklah kita lakukan sesuai dengan rencana kita. Namun rencana itu akan kita lakukan setelah resepsi selesai. Tidak mungkin kita beraksi satu hari sebelum resepsi."
Mereka mulai menyusun rencana apa saja yang akan mereka lakukan.
"Perkuat penjagaan kala resepsi dilangsungkan. Amankan tamu undangan terutama istri dan calon anakku. Teliti satu persatu tamu undangan dan jangan biarkan penyusup datang. Jika mereka datang tidak membawa undangan, segera urus mereka!"
Semuanya pun mengangguk mantab. Mereka juga menginginkan hal yang sama seperti apa yang Briel harapkan. Mereka semua tahu, jika resepsi pernikahan itu sebenarnya memang celah besar untuk musuh bertindak. Maka dari itu, Briel dan yang lainnya ingin memperkuat keamanan.
__ADS_1
🍂
"Sebuah cinta yang tulus dibuktikan dengan bagaimana seseorang itu rela melakukan apapun untuk keselamatan dan kebahagiaan orang yang disayang.🌻"