
Tanpa berlama–lama, Briel mendekap tubuh istrinya itu. Cukup lama, mereka saling menghirup dalam–dalam aroma tubuh pasangan masing–masing yang mereka rindukan beberapa hari ini.
Gea semakin erat mendekap tubuh Briel. Dekapan hangat yang mampu memberikan kenyamanan dan menenangkannya tatkala hatinya merasa tak baik–baik saja. Ia tersenyum dalam dekapan Briel.
Briel melepaskan dekapannya pada sang istri. Ia menciumi seluruh wajah Gea dengan lembut. Bahkan perut Gea yang mulai membuncit pun ia kecup.
"Dedek Utun, kamu baik–baik saja kan di dalam sana," sapa Briel di depan perut Gea yang bahkan tak akan mendapat jawaban dari dalam sana. Gea tersenyum melihat perlakuan suaminya itu.
"Kemana saja kamu beberapa hari ini Geyang? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Bahkan untuk mencari ujung rambutmu saja aku tak bisa. Kau hilang bagai di telan bumi. Kenapa kemarin kamu tak menunggu penjelasanku? Itu semua salah paham. Kamu malah main pergi saja," omel Briel panjang lebar. Ia tak mengerti hati seorang wanita yang main pergi saja tanpa menunggu penjelasannya.
Gea hanya diam. Ia menatap wajah lucu suaminya saat menjelaskan semuanya. Ia bahkan senyam–senyum sendiri. Hal itu membuat Briel bertanya–tanya. Bahkan ia mengerutkan dahinya karena terlampau tak mengertinya apa yang Gea lakukan.
"Kenapa kamu malah tersenyum?" ucap Briel kesal. Seakan–akan ketakutan akan kehilangannya adalah sebuah candaan bagi Gea.
"Kamu lucu sih Bayang." Gea tak kuasa menahan tawanya. Ia tertawa renyah.
Briel bersungut–sungut. Ia berdecak kesal karena ulah Gea.
"Uluh–uluh suamiku yang paling ganteng …" ucap Gea gemas. Hal itu membuat Briel tersenyum cerah. " … karena memang suamiku cuma satu."
Gea terbahak, sedangkan Briel hanya berdecak malas. Ia bahkan memalingkan wajahnya.
"Ih begitu saja ngambek. Apaan," ledek Gea.
"Aaaa …" teriak Gea kaget. Pasalnya Briel mengangkat Gea tinggi–tinggi, melambungkannya dalam gendongannya kemudian menidurkan Gea di sofa. Gelak tawa terdengar di antara mereka berdua.
🍂
"Apakah mungkin mereka semua seperti itu?" tanya Ayu tatkala ia mulai turun dari mobilnya. Tak lupa ia mengunci mobilnya. Ia langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Sudah beberapa hari ini ia tak menginjakkan kaki di rumah itu. Ia memilih tinggal di apartemen hadiah ulang tahunnya di usia 20 tahun.
__ADS_1
"Tumben sepi. Pada kemana ini?"
Tak biasanya rumah itu sepi. Bahkan satu pembantu pun tak ada di sana.
"Apa mungkin mereka pergi?" Ayu mengedikkan bahunya. Ia memilih untuk mengabaikan suasana rumah yang sepi seperti itu.
Ayu terdiam. Ia berhenti di ruang depan. Samar–samar ia mendengar suara desahan–desahan asing di telinganya.
"Suara apa itu?"
Ayu penasaran dengan suara itu.
"Apa mungkin maling?"
Ayu mulai takut. Suasana rumah yang sepi dan hanya sendirian di sana membuatnya harus waspada. Ayu berjalan mengendap–endap ke sumber suara.
"Hemmph"
"Mommy!"
Suara Ayu membuat aktivitas mereka terhenti. Mereka berdua langsung menutup diri mereka dengan selimut.
"Ayu kecewa dengan Mommy!" ucap Ayu. Ayu langsung berlari menjauhi ruangan itu.
"Ayu!" teriak Selly memanggil anaknya itu. Namun Ayu menulikan telinganya. Selly ingin mengejar Ayu, tapi tangannya tertahan oleh tenaga yang lebih berat.
"Sudahlah. Memangnya kamu mau mengejar anakmu dalam kondisi yang seperti ini, Baby?" peringatnya pada Selly.
"Daddy." Seketika ia teringat bahwa Kemal juga ada di rumah bersama dengan teman affairnya. Selly segera memakai pakaiannya kembali satu persatu. Ia tak mendengarkan apa kata lelaki bayarannya.
__ADS_1
Selly berlari menuju ke tempat Kemal berada.
Namun semua sudah terlambat. Ayu telah mengetahui semuanya.Ternyata rumah itu sepi karena titah dari Kemal dan juga Selly. Melihat Ayu tak berada di rumah, mereka ingin sesekali berpesta di rumah. Namun ternyata niat mereka membawa petaka bagi mereka.
"Aaaargghh!"
Ayu menangis meraung. Fakta yang ia lihat itu membuatnya teramat kecewa. Ia tak menyangka kedua orang tuanya bisa melakukan hal gila di rumah tangga mereka. Hal yang ia kira baik–baik saja bahkan terkesan manis, ternyata terdapat bangkai yang teramat busuk. Hingga membuatnya jijik ketika mendapatinya.
"Ayu kecewa sama kalian!"
Dengan derai air mata, Ayu pergi meninggalkan mereka. Ia menulikan telinganya tatkala Selly maupun Kemal memaggilnya.
Hancur. Semua hancur. Satu persatu kenyataan itu membuatnya hancur. Ingin sekali ia menenggelamkan diri di palung terdalam. Tak ada seseorang yang mampu ia jadikan sebagai sandaran. Bahkan orang yang bersedia menolongnya waktu itu telah ia sakiti.
🍂
//
Upss terbongkar 😗😐 aisss mereka gila 😭
Salam waras saja
Asa 🛴🐧
🍂
//
Happy reading gaess
__ADS_1
Jangan lupa bahagia 💕💕