
"Abang, Kakak Ipar ….!" panggil Ayu.
Hari ini Ayu mengunjungi apartemen Davin. Sudah lama sekali ia tak pergi ke sana apalagi setelah Davin menikah. Ia belum pernah ke sana lagi.
"Ck kebiasaan!" gerutu Ayu.
Cukup lama ia menunggu di depan pintu, namun tak ada sahutan dari dalam. Ia berdecak malas berulang kali. Ingin sekali ia membuka paksa pintu itu, namun password–nya telah diganti oleh sang pemilik.
"Aihh sudah diganti …" keluhnya untuk ke sekian kalinya.
"ABANG ….! KAKAK IPAR!!!" teriak Ayu sembari menggedor pintu apartemen itu. Ia tak berniat menekan tombol bel yang ada di sana.
"Ck siapa sih sore–sore seperti ini ketuk pintu keras–keras. Tak punya aturan saja. Kan di sana juga ada bel!" omel Davin.
Davin yang tengah berada di ruang depan dengan laptop di atas meja pun memanggil Dela yang tengah bersantai di depan televisi dengan sebuah majalah di tangannya.
"Darling, bukakan pintu," titah Davin tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya.
Dela berdecak malas. "Apaan sih ganggu aja!" omelnya lirih. Ia hanya melirik sekilas saja. Dela mengabaikan ucapan Davin. Ia menatap kembali majalah di tangannya.
"Darling …!" teriak Davin lagi. Ia mendengar gedoran pintu itu semakin keras dan tak melihat tanda–tanda pergerakan Dela.
"Iya iya …!"
Mau tak mau Dela berjalan membukakan pintu.
"Ah siapa sih jam segini sudah bertamu saja? Heran aku. Kenapa harus sekarang?" gerutu Dela di sepanjang jalannya.
"Siap– Adek Ipar?!" ucap Dela antusias saat melihat siapa yang datang.
"Ihh … Kakak Ipar! Lama sekali bukain pintunya!" ujar Ayu kesal sembari memanyunkan bibirnya.
"Ya maaf Yu ... Masuk!"
Mereka berdua pun masuk.
"Astagaa ternyata kamu! Dasar gak punya sopan santun! Ada bel gunakan Yu!" ucap Davin kesal. Ia kesal karena terganggu dengan kelakuan Ayu yang membuatnya sulit berkonsentrasi.
Ayu hanya tersenyum polos tanpa rasa bersalah.
"Ada apa datang ke sini?" tanya Davin lagi.
"Ck … Kenapa sih Bang? Sensi sekali kau Bang. Memang kenapa kalau aku main ke sini?" ucap Ayu. Ia bete dengan Davin.
__ADS_1
"Ck masih tanya kenapa …. Ya karena ganggulah! Pulang sana!"
"Iihhh …." rajuk Ayu.
Dela hanya bisa menepuk dahinya sendiri melihat perdebatan absurd kakak beradik itu.
🍂
Sementara itu, Kemal dan Selly berbincang di ruang keluarga. Kali ini mereka menyempatkan waktu mereka untuk bersama. Sudah lama sekali mereka tak menghabiskan waktu bersama. Mereka terlalu sibuk dengan kekasih gelap mereka masing–masing.
Selly duduk bersandar pada bahu Kemal yang masih kokoh walau sudah termakan usia.
"Dad, bagaimana aman kan?" tanya Selly tiba–tiba.
Kemal menatap Selly. Tatapannya menyelidik. Bahkan ia menyipitkan matanya.
"Aman bagaimana?"
Selly mendongakkan wajahnya. "Ya aman … Aman gak kebobolan."
"Oh …"
"Kok oh saja sih Dad?" ucapnya kesal. Selly menganggap Kemal tak memperhatikannya.
"Ya gak menjawab pertayaan mommylah!"
Kemal menghela napas.
"Ya Daddy pasti hati–hatilah. Daddy juga gak maulah sampai mereka hamil! Tambah beban aja kalau sampai terjadi. Amit–amit …."
Kemal bergidik. Ia tak mau sampai hal itu terjadi. Ia selalu menggunakam pengaman agar tak kebobolan.
"Syukurlah deh."
Diam–diam Selly lega. Bagaimanapun juga ia tak mau dimadu oleh suaminya. Begitupun juga dengan Kemal. Ia juga tak mau Selly sampai meninggalkannya dan menikah dengan pria lain.
(Asli gila 😭😭 bisa bisanya kau buat karakter kaya mereka Sa Sa 🤦♀ Amit–amit)
"Mom dah lama kita tidak olahraga bareng," ujar Kemal dengan senyum tengilnya.
"Heem betul, emang."
Mereka saling terdiam untuk sesaat. Perlahan mereka saling melirik, dan …
__ADS_1
"Baiklah waktunya kita olahraga.!" ucap mereka berdua bersamaan.
"Mumpung gak ada Ayu juga," imbuh Selly. Kemal menaik–turunkan kedua alisnya.
"Aaaaa …."
Selly berteriak. Tanpa aba–aba, Kemal mengangkat tubuh Selly dalam gendongannya.
"Turunkan Dad! Awas Daddy nanti encok. Aku gak mau jatuhlah!" gurau Selly. Mau tak mau dia juga menyimpan sedikit keraguan akan tenaga Kemal yang tak lagi muda.
"Eeleh jangan ragukan seorang Kemal. Umur boleh tua tapi tenaga masih perjaka!" ucap Kemal percaya diri. Gelak tawa memenuhi ruangan itu.
🍂
"Dah pulang sana Yu! Abang ma Kakak Iparmu mau pergi," usir Davin.
"Ck belum lama aja sudah disuruh pulang. Alasan kan? Pasti karena gak mau Ayu di sini?" tuduh Ayu. Baru satu jam lamanya ia ada di apartemen kakaknya. Ayu masih ingin bercengkerama dengan Dela.
"Beneranlah! Abang ma Kakak Iparmu mau pergi!" Davin berdecak malas. Sungguh cerewet dan manjanya seorang Ayu di mata Davin.
"Iyakah Kakak Ipar?" tanya Ayu pada Dela. Dan Dela pun mengangguk mengiyakan. Ayu berdecak malas.
"Emang mau ke mana sih?" tanya Ayu kepo. Jiwa keponya sering kali keluar dengan sendirinya.
"Kepo! Ya kencanlah!" jawab Davin ngasal saja.
"Idihh jangan ngegas kali Bang!"
"Terserah! Sana pulang!" usir Davin lagi.
"Iya iya! Bye!"
Pada akhirnya Ayu pun pergi meninggalkan apartemen Davin sengan perasaan yang sedikit kesal.
"Baiklah ayo berangkat," ajak Davin pada Dela. Mereka akan pergi ke salon terlebih dahulu atas permintaan Dela.
Malam ini adalah malam penting untuk Davin dan Dela. Mereka akan dinner bersama orang penting lainnya. Mereka tak boleh melewatan waktu itu.
🍂
//
Happy reading gaess,
__ADS_1
Jangan luoa bahagia 💕💕