
"Seorang anak muda berusia 20 tahun berhasil memprogram sebuah aplikasi yang bisa mengamankan data–data penting."
Briel membaca koran yang ia pegang seolah–olah Gea mendengarkannya. Sebelumnya Tere dan Frans yang ada di sana telah berpamitan untuk pulang.
"Geyang, lihat ni, hebat bukan. Anak seusia itu sudah mampu berkarya yang bahkan hasil ujii cobanya mendekati sempurna." Briel menunjukkan halaman koran tepat beberapa centi di depan wajah Gea.
Briel mulai menceritakan apa yang ia baca. Ia yakin, walau tidak merespon namun Gea mendengarnya.
"Hmmm ... Apa kita coba pakai jasa dia ya untuk perusahaan kita? Kali kan data perusahaan lebih terjamin kerahasiaannya? Lihat aja kemarin, kita hampir saja kebobolan. Untung ada Bima. Kalau tidak ada dia ya ada Larz yang kadang bisa bantuin."
Terbesit di benak Briel, walau semuanya itu sebenarnya hanyalah sekadar candaan untuk terus berkomunikasi dengan istrinya itu.
Tiba–tiba tatapannya mulai sendu. Ia menutup koran yang ia baca lantas meletakkannya di atas meja. Briel menghela napas kasar. Rasanya begitu berat.
"Geyang, aku ke ruangan anak kita ya. Aku ingin melihat mereka sekejab. Dan kali ini sudah waktunya aku ikut serta susternya untuk menggantikan popoknya. Siapa tahu kan nanti waktu kamu dah kembali, aku bisa jadi suami sekaligus ayah siaga?" ucapnya dengan senyum yang mengembang.
🍂
"Silahkan Tuan," ucap suster itu. Briel mengangguk ringan.
Suster itu pun mulai mengajari bagaimana mengganti popok bayi prematur. Rasanya akan berbeda dengan bayi yang lahir normal. Kali ini ia harus ekstra hati–hati.
"Aduh Sus, bagaimana ini?"
Briel mulai kesulitan. Apa yang ia lakukan tidak segampang seperti apa yang ia lihat. Ia kewalahan.
Suster itu pun tersenyum. "Sini Tuan biar saya saya dulu," ucapnya sopan untuk mengambil alih pekerjaan itu. Briel menyerahkannya dari pada terlalu lama. Untuk sekarang ia hanya akan melihatnya terlebih dahulu.
Kedua anaknya itu menggeliat–geliat unyu. Bahagia rasanya melihat mereka ada di sana, terlahir walau harus prematur. Ia menatap mereka berdua, tidak ada kata bosan dalam benaknya.
"Sus, bolehkah mereka bertemu dengan ibu mereka?" tanya Briel tiba–tiba. Selama beberapa hari ini, mereka belum sama sekali bertemu walau hanya dengan menyentuh kulitnya sebentar.
"Untuk itu, Anda nanti bisa berbicara langsung dengan dokternya. Saya tidak memiliki kuasa untuk memutuskan semuanya, Tuan." Suster itu menunduk hormat. Keputusan apapun itu ada di tangan dokter. Ia tidak berhak memutuskan apapun. Salah–salah, nyawa 3 orang akan dipertaruhkan.
"Hmm ... Baiklah. Makasih Sus." Briel pasrah.
"Ke mana dokternya,Sus?"
Sudah cukup lama mereka berada di sana, namun dokter yang menangani kedua anaknya belum kunjung datang.
"Ada Tuan. Sedang menuju ke sini. Ia sedang menangani pasien lain yang cukup darurat juga."
Briel mengangguk mendengar penjelasan suster itu. Ia menunggu dengan setia sembari memperhatian gerak–gerik kedua puteranya yang mampu mengembalikan senyumnya. Mereka masih banyak terdiam, dan terpejam menjadi aktivitas mereka hampir sepanjang waktu.
__ADS_1
"Selamat siang, Tuan," sapa seorang pria berjas putih itu.
"Selamat siang, Dok."
"Bagaimana? Apakah Anda sudah melihat bagaimana cara mengganti popok dengan Suster Rita?"
Briel tersenyum sembari mengangguk. "Iya sudah. Dan ternyata susah sekali, Dok," tutur Briel tanpa ada sedikitpun yang ia tutupi.
"Yeah tidak masalah karena baru awalan. Nanti kalau sudah terbiasa pasti akan lebih mudah."
Dokter itu juga menyarankan pada Briel untuk mengamati kapan waktu si bayi untuk pipis, ganti popok, minum ASI dan keperluan lainnya agar nanti Briel tahu bagaimana mengurus anaknya itu.
"Apakah ASI–nya sudah ada?"
Briel mengangguk. Sebelumnya tadi ia bersama dengan Tere telah memompa ASI untuk diberikan pada sang buah hati. Meski dalam keadaan koma, namun Gea harus tetap memberikan ASI untuk kedua anaknya. Lagi pula, untuk bayi prematur memang masih kesulitan untuk menyusuu seperti bayi yang terlahir normal.
"Sehabis ini Anda bisa menggendong anak anak Anda secara bergantian."
Briel mengangguk mantab sembari tersenyum. Namun tatapan matanya jatuh pada Rita yang masih ada di sana.
"Hmm bolehkah hanya kita berdua saja yang ada di ruangan ini, Dok?" tanya Briel.
Dokter itu seketika tersadar. Di sana ada Rita yang bersamanya. Ia memaklumi, mungkin Briel tidak ingin ada wanita lain yang melihat tubuhnya. Apa lagi memang yang harus dilakukan adalah skin to skin antara sang ayah dengan buah hati.
"Baik Dok."
Seusai itu Rita membiarkan mereka berdua ada di dalam ruangan itu.
Briel melepas kaos oblongnya. Dokter itu mengajari bagaimana Briel harus menggendong anaknya.
"Begini, Tuan caranya."
Dokter itu mencontohkannya. Ia menggendong anak Briel seperti koala. Cara itu cara yang biasa dilakukan untuk menggendong bayi prematur. Seharusnya yang pokok untuk melakukan hal itu adalah ibu dari buah hati. Namun apa daya, semuanya masih mustahil untuk dilakukan.
Briel mengambil alih anaknya. Hati–hati sekali. Ia tidak ingin mencelakakan anaknya sedikitpun. Kulitnya yang begitu halus membuatnya sedikit takut lantaran bisa saja ia menyakiti anaknya tanpa sengaja.
"Tidak perlu takut Tuan."
Briel mengambil napas dalam dalam lantas memulainya kembali.
Daaann ...
.
__ADS_1
.
.
.
.
Berhasil.
Briel berhasil membawa anaknya ke dalam dekapannya. Hangat rasanya bisa mendekap anaknya seperti itu. Wajah si kecil terlihat begitu damai dalam lelapnya.
Setelah cukup waktu, bergantian pula dengan anaknya yang satu. Ia melakukan hal yang sama dengan waktu yang sama.
"Apakah Anda sudah memberikan nama untuk mereka?"
Dengan tersenyum Briel menjawab, "Belum, Dok. Saya masih menunggu istri saya terbangun. Walau saya sendiri tidak tau kapan dia akan terbangun."
Dokter itu hanya mengulas senyum, tidak bertanya lebih dalam lagi.
"Dok apakah boleh membawa bayi ini untuk menemui ibunya?"
"Maaf Tuan, untuk sekarang masih belum bisa, sebelum istri Anda terbangun dari koma, atau sebelum anak–anak anda memungkinkan untuk di bawa ke sana." Dokter itu memberikan pengertian pada Briel.
Terbesit kekecewaan di dalam hati Briel. Sebenarnya tujuan Briel adalah untuk memancing Gea agar lekas tersadar. Mungkin dengan hadirnya kedua buah hatinya di sana mampu membangunkan Gea dari tidur panjangnya.
🍂
Seusai menemui kedua anaknya, Briel kembali ke ruangan Gea untuk menceritakan apa yang telah terjadi. Namun betapa terkejutnya ia kala melihat orang yang secara terang–terangan telah menghinanya, bahkan di depan umum tanpa memikirkan perasaannya. Tatapan mereka saling beradu. Secepat itu juga sorot mata Briel menjadi datar.
Tanpa menyapa sedikitpun Briel pergi dari sana, menghindar sebelum semuanya runyam. Ia sadar, menghindar tidak akan menyelesaikan masalah. Namun bukan sekarang untuk bertatap muka dengan sang papa mertua.
"Briel tunggu."
Briel berhenti sejenak. Ia membuang napasnya kasar. Kaki ingin melangkah namun hati tergerak untuk mendengar.
🍂
//
Happy reading gaess,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕
__ADS_1