Pengantin CEO Yang Tertukar

Pengantin CEO Yang Tertukar
M2 – Gaza 2


__ADS_3

Tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan Gaza sebenarnya. Gaza hanya menyimpannya seorang diri. Bahkan ia merahasiakan identitasnya sebagai pemilik club malam terbesar di kota itu. Demi menutupi semuanya, bahkan ia rela bekerja sama dengan Davin dengan beridentitaskan orang biasa.


Alasan kuat menjadi bagian dirinya kala ia memilih untuk menempati sebuah kontrakan kecil sebagai tempat berteduhnya. Ia menyulut kembali sebatang rokok yang ada di sakunya. Tatapannya menerawang jauh ke halaman rumahnya yang tidak luas. Bayangannya kembali pada kisah beberapa tahun lalu, kala ia mendapatkan apa yang ia miliki sekarang.


Seorang anak kecil meraung menangis. Seorang pria dewasa yang disebut bapak, menyeretnya paksa tanpa adanya sedikitpun belas kasihan padanya. Bahkan lutut sang anak yang terluka karena terjatuh pun ia abaikan. Rintihan tidak ia hiraukan. Tangan sang anak berusaha melepaskan cekalan erat yang menggenggam pergelangan tangannya. Namun mustahil, lantaran tenaganya tak sebanding dengan tenaga bapaknya itu.


"Pak lepasin, Pak ... Aza mau dibawa ke mana..." ucap anak kecil itu dengan tangan yang masih berusaha keras melepaskan genggaman itu.


"TIDAK USAH BANYAK TANYA! Cukup patuhi dan ikut bapak!" ucap sang bapak dengan bentakan yang membuat sang anak menciut.


"Tapi Pak–"


"Diamlah!" Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, sang bapak telah menginterupsinya hingga membuat anak kecil itu terdiam.


"Bapak hanya ingin mengantarmu ke suatu tempat biar kita bisa kaya. Bapak ingin kaya. Dan kita bisa hidup enak. Gak hanya makan ikan asin tiap hari. Bapak bosan!" celetuknya panjang lebar.


"Dan kami, nurut apa kata bapak!"


Sebuah kata "kaya" membuat Aza terdiam. Ia merenung, bahwa dalam hatinya ia juga bosan hidup dengan lauk seadanya. Bahkan jika tidak ada sedikitpun, ia mati–matian menahan rasa lapar, bertahan tanpa ada sedikitpun sesuap nasi di hari itu. Rela puasa hanya untuk bertahan hidup.


Ia kembali menyeret anaknya itu dengan tingkat berontak sang anak yang kini telah melemah. Sang bapak tersenyum cerah lantaran semakin mudah membawa anaknya itu.


Hingga tibalah mereka di suatu tempat, di mana tempat itu sangat ramai. Aza kecil yang tidak tahu kehidupan orang dewasa pun menatap tempat itu dengan tatapan heran. Di kepalanya telah tersimpan sejuta pertanyaan yang hanya mampu ia simpan.


"Tempat apa ini, Pak?" tanyanya dengan rasa takut yang mulai menyergapnya. Tempat itu sangatlah asing baginya.


"Tempat ini adalah tempat kita mencari uang. Ah sudahlah ... Tidak usah banyak tanya. Ayo ikut Bapak!"


Aza kecil berjalan di belakang bapaknya mengikuti ke mana sang bapak berjalan. Hingga sampailah sang bapak di suatu ruangan. Ia mengetuk pintu itu, memanggil seseorang yang biasa disebut dengan "Madam".


"Masuk!"


Mendengar suara itu dari dalam, mereka berdua masuk ke dalam, untuk menemui wanita itu.


"Mana barangnya?" tanya wanita itu tanpa basa basi lagi.


"Ini Madam."


Sang bapak menyeret Aza kecil yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuh besar sang bapak. Tangannya meremas kemeja ayahnya erat, enggan untuk bertatapan dengan wanita yang menurutnya menakutkan.


"Anak sialan!"

__ADS_1


Sang bapak geram, lantaran Aza kecil masih menjadikan bajunya sebagai pegangan tangannya. Dengan amarah yang terpatik, menyeret lantas mendorong paksa tubuh mungil itu hingga berdiri tepat di depan wanita itu. Tubuhnya terhuyung, namun keseimbangannya masih utuh.


Ia menunduk dalam–dalam, tidak berani menatap manik mata tajam itu sedikitpun. Jika ia bisa menyembunyikan, ia akan sembunyikan dirinya dengan jubah yang bisa membuatnya menghilang.


"Ibu... Tolong aku," rintih Aza kecil dalam hati. Ia tidak tahu di mana ibunya berada. Sejak kecil ia mengingat bahwa ibunya masih bersama–sama dengan dia. Namun ketika ia beranjak di umur 8 tahun, ia kehilangan ibunya. Keberadaan ibunya tidak pernah ia ketahui. Bertanya dengan sang bapak pun tidak akan pernah terjawab. Yang ada mungkin hanya luka lebam di bagian tubuhnya sebagai jawaban.


"Hmmm"


Madam mengitari tubuh Aza kecil dengan tangan yang bersidekap di depan dada. Tatapannya seakan menelanjangi tubuh anak itu. Rasa takut dan risi mendominasi diri Aza.


"Okay, wajahnya tampan tapi masih imut, putih. Yeahhh ... Calon bibit unggul." Ia sangat yakin dengan tubuh Aza yang rupawan mampu menarik para istri ataupun janda kesepian.


Aza yang tidak mengerti apapun itu tidak paham apa yang dimaksudkan wanita itu. Sedangkan sang bapak yang mendengar pernyataan itu disampaikan wajahnya terlihat cerah berseri seperti seorang bajak laut yang menemukan sebuah harta karun. Yeah, harta karun. Karena kenyataannya Aza kecilnya saat ini adalah pundi–pundi uangnya.


"Anak manis, berapa usiamu?" tanya Madam. Ia sedikit membungkukkan badannya agar posisi wajah mereka sejajar.


Aza hanya terdiam hal itu mampu mematik bara api di dalam diri wanita itu.


"Anak maniss ..." ucapnya dengan ekspresi yang mulai kesal. "Berapa usiamu?"


Aza masih enggan untuk menjawab. Hal itu membuat sang bapak membentaknya tertahan.


"Jawab!!"


"Sungguh belia," ucapnya lantas kembali menatap sang bapak. "Sesuai dengan kriteria."


Ia berjalan kembali ke kursinya. Ia mengambil beberapa gepok uang dari dalam laci mejanya, memberikannya kepada sang bapak.


"Apa ini, Tuhan?" tanya Aza kecil di dalam batinnya. Rasa takut itu semakin menyeruak. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri terasa sulit, seperti ada sesuatu yang mencekiknya.


"Uhuuii!!" Sang Bapak bersorak senang manakala bergepok uang itu telah berada di tangannya. Dan saat itu juga, ia resmi menjual anaknya.


"Terima kasih Madam," ucapnya dengan wajah cerah yang tak kunjung usai.


"Ya" jawabnya singkat dengan alis uang sedikit terangkat.


"Eh eh eh, mau kemana kamu?" Suara Madam menginterupsi kala Aza mengikuti bapaknya yang kini melangkah pergi.


"Mau ikut bapak pulang, Tante." Aza menjawabnya polos.


"Pulang ke mana hmm? Di sinilah rumahmu sekarang." Madam mulai membelai lembut wajah Aza, namun Aza menepis tangan itu kasar.

__ADS_1


"Mau pulang ke rumah Tante, ikut sama bapak."


Mendengar jawaban polos dari anak yang menuju remaja itu, ia tertawa, terkekeh.


"Anak yang malang. Bapakmu telah menjualmu padaku. Uang itu telah ia terima. Sekarang kamu adalah milikku!!"


Madam mengklaim kepemilikan Aza. Ia mengungkap semuanya, tanpa ada sedikitpun yang ditutupi. Bak seperti petir yang menyambar, seketika ada sebuah hantaman besar di dalam hatinya. Aza masih tidak percaya dengan pernyataan itu.


Aza menggeleng cepat. "Tidak mungkin bapak menjualku. TIDAK MUNGKIN!!"


"Haih... Buktinya apa? Buktinya aja kamu ada di sini bersamaku. Sudah jelas bukan, anak pintar?"


"Jangan kabur!!!"


Teriak Madam kala Aza kecil berusaha keluar dari club itu. Namun seberusaha apapun, bodyguard khusus tidak akan membiarkannya pergi. Aza kecil yang tertangkap berusaha berontak namun tenaganya bagaikan kancil yang diterkam singa.


"Tante, tolong lepaskan aku," ucapnya memelas. Ia hanya bisa memohon.


"In your dreams, boy." Madam menatap remeh Aza kecil.


Plak!!


Sebuah tamparan keras bodyguard mendarat di pipi mulus Aza kala Aza kini berontak kembali untuk melepaskan dirinya.


Madam berdecak. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Sudah kubilang. Menurut sajalah, dengan menurut kamu akan diperlakukan baik. Bahkan kamu bisa dapatkan apa yang kamu inginkan."


Semenjak saat itu, kehidupan Gaza berada di kehidupan di mana tidak ada sedikitpun cahaya. Ia mulai menikmati pekerjaannya sebagai sugar baby untuk bertahan hidup. Untuk keluar dari sana pun ia tak mampu. Hingga ia menjadi orang kepercayaan Madam.


Dan club itu, kini telah menjadi miliknya. Beberapa tahun ia bekerja dengan Madam, di detik terakhir Madam yang meninggal lantaran penyakit yang menggerogotinya, menyerahkan semua hartanya untuk Aza. Kepergian Madam itu tetap saja membuatnya bingung. Harus sedih atau harus bahagia. Karena bagaimanapun ia sendiri sudah jijik dengan hidupnya. Sampai sekarang pun ia tidak tahu di mana keberadaan bapaknya. Ia kembali menghisap sebatang rokok yang kini tersisa setengah.


"Woeeey Mas! Awas kesambet. Ada mbak kun tuh ngelihatin masnya!"


Teriakan anak kecil yang membuyarkan lamunannya, menyadarkannya untuk kembali pada realita. Anak kecil itu adalah anak tetangga yang memang mampu melihat hal–hal mistis.


Ia hanya tersadar tanpa menjawab sedikitpun perkataan anak kecil itu. Bahkan sang anak kecil pun menjauh tanpa menunggu jawaban Gaza.


🍂


//


Happy reading gaes,

__ADS_1


Jangan lupa bahagia 🌻


__ADS_2