
Harapan kecil Dela tercapai. Dela tertidur cukup lama. Tidur di kamar itu lebih nyaman dibandingkan tidur di rumah sakit walaupun di sana tempatnya lebih mewah.
Dela mencari keberadaan gawainya.
"Ah iya. Ponselku kan tidak tahu kemana."
Meskipun sudah lama ia tidak memiliki gawai, namun tetap saja kebiasaan mencari gawainya itu tetap ia lakukan. Jujur saja ia kangen dengan media sosialnya yang sudah lama tidak ia buka. Namun ... Gaza menyebalkan tidak memberikannya gawai lagi.
Dela melihat ada sebuah stick not yang ada di atas nakas, samping ranjangnya. ada juga beberapa makanan yang telah disiapkan di sana. Dela mengambil stick not itu.
'Jangan ke mana–mana! Aku pergi ke luar sebentar.'
"Hmm dalam bentuk tulisan saja menyebalkan!" gumam Dela. Ia meletakan kembali kertas kecil itu.
"Ah bosan sekali tidak ada gawai. Kalau mau nonton televisi, aku harus ke depan. Gimana caranya aku ke depan kalau kakiku begini? Mana tongkat aja tidak ada lagi. Benar–benar pintar. Namun kepintarannya membunuhku perlahan!" ujar Dela.
Gaza memang sengaja tidak membawa tongkat ke rumah. Ia ingin Dela istirahat total beberapa hari ini. Jika ada tongkat di sana, pasti Dela tidak akan diam.
"Arrggh!" Dela mengerang frustasi. Kursi roda pun Gaza letakan cukup jauh dari sana. Bahkan kursi roda itu terlipat. Terlalu sulit bagi Dela untuk membukanya. Wajahnya sangat kusut.
Tiba–tiba saja sekilas ide terlintas dalam pikirnya. Matanya berbinar cerah. Pada akhirnya ia menemukan solusi anti ribet untuk bisa sampai di depan televisi.
Dela menjulurkan kakinya di pinggir ranjang. Ranjangnya yang tidak terlalu tinggi memudahkannya untuk turun ke lantai. Ia duduk di lantai yang cukup dingin. Gaya suster ngesot menjadi pilihannya saat ini. Pilihan yang brilian untuk orang yang kesulitan berjalan namun dilarang memakai tongkat.
Dela berjuang ngesot sampai ke ruang depan. Dengan sisa tenaganya, ia naik ke sofa. Ia merebahkan dirinya di sana.
"Haaahhh ... akhirnya."
Dela menghela napas lega meskipun terengah-engah. Tapi setidaknya ia tidak mati kebosanan.
Dela meraih remot televisi yang tidak jauh dari sana lantas menghidupkan televisi itu. Ia tiduran dengan santai bahkan lebih rileks.
🍂
"Ada masalah apa?" tanya Gaza pada bawahannya sekaligus teman seperjuangannya, Marvel.
"Lihatlah mereka!" ucap Marvel sembari menunjuk dengan dagunya.
Gaza menatap mereka satu persatu. Jumlah mereka ada 3 orang. Tubuh mereka terduduk. Tangan mereka terikat di belakang tubuh. Tiga anak buah Gaza yang lain berdiri tepat di belakang penyusup itu untuk menjaga agar mereka bertiga tidak kabur.
Plak
Plak
Plak
__ADS_1
Tidak hanya sekali. Gaza menampar keras wajah mereka satu persatu secara bergantian. Wajah mereka terhempas ke sisi lain. Sudut bibir salah satu dari mereka berdarah.
"Wow menarik. Rupanya pemilik club sebelah ingin bermain–main dengan kita," ujar Gaza dengan senyum miring.
Sejak dahulu, club itu mempunyai saingan berat. Club sebelah tidak rela jika club yang berada di genggaman Gaza berdiri kokoh. Mereka tidak terima jika club Gaza lebih terkenal di semua kalangan dibandingkan club lawan bisnisnya itu. Berulang kali club Gaza diserang. Mereka berusaha menghancurkan club itu, namun selalu saja gagal.
"Bagusnya kita apakan, Vel?" tanya Gaza dengan senyum devil. Lirikan matanya membuat ketiga anak buah club sebelah gemetar ketakutan.
"Hmm keknya kita cincang lalu dagingnya kita kasihkan ke Welli," ujar Marvel. Senyum Marvel sangat mengerikan. Ia sengaja menggertak mereka bertiga.
Perlu diketahui, Welli adalah harimau yang sudah lama Marvel pelihara. Dahulu ia tidak sengaja menemukan Welli kecil di hutan dengan keadaan tubuh yang sangat kurus, kala Marvel ke hutan untuk melepas penat. Keibaannya pada Welli, menuntun Marvel untun merawat Welli hingga pulih dan tumbuh besar.
Ucapan Marvel berhasil membuat mereka bertiga ketakutan. Badan mereka gemetar. Bahkan menelan ludah saja terasa sulit. Lehernya seperti tercekat.
"To–tolong jangan bunuh kami," ucap mereka memohon bergantian. Mereka tidak ingin dijadikan pakan hewan.
"Ooo ..." Gaza mengangguk–angguk. Gaza memegang dagunya dengan telunjuk dan jari jempolnya.
"Baiklah ... Kalau begitu, mungkin kalian lebih memilih kita masukan satu persatu ke kandang Welli. Jadi kita bisa lihat bagaimana ketangkasan Welli untuk menangkap mangsanya dan bagaimana usaha kalian melarikan diri dari kandang Welli," ucap Gaza enteng.
Kata perkata ia ucapkan begitu tenang. Namun ketenangannya itu yang justru membuat para penyusup semakin gentar. Gaza lebih menyeramkan dibandingkan dengan Marvel. Jiwa psikopat Gaza sangat terasa.
"Ja–jangan! Jangan bunuh kami!" pinta mereka. Membayangkan tubuh tercabik–cabik saja membuat mereka bergidik ngeri.
"Hah? Apa?" Gaza memiringkan kepalanya.
Marvel hanya diam. Ia tahu jika pertanyaan Gaza tidak perlu dijawab.
"Lepaskan kami. Kami memiliki anak istri yang harus kami hidupi," ujar salah satu dari mereka lagi untuk meminta pengampunan.
Tawa kencang mengglegar memenuhi ruangan itu. Tawa yang bisa disebut dengan tawa setan.
"LAWAK KALIAN!!!" teriak Gaza kemudian. Tidak ada lagi tawa yang terselip. Bentakan Gaza mampu membuat mereka terpejam.
"Jika sudah tau konsekuensinya, harusnya kalian cari pekerjaan yang lebih halal. Kini sudah terlambat dan kalian tidak punya pilihan."
Gaza tersenyum miring. Tidak ada rasa iba di hati Gaza. Baginya apa yang mereka dapatkan adalah konsekuensi dari yang mereka lakukan.
"Bawa mereka masuk ke penjara bawah tanah. Kasihkan mereka satu persatu pada Welli!" titahnya pada Marvel.
Mereka semua terperangah. Semua kepala yang tertunduk kini mendongak ke arah Gaza dengan tatapan memelas yang bercampur dengan ketakutan.
"Tundukkan kepala kalian!"
Gaza tidak suka mereka menatapnya. Tatapan mereka kepadanya tergolong najis. Hukumnya haram untuk dilakukan. Mereka menuruti apa kata Gaza. Mereka tidak ingin nyawanya melayang begitu saja. Kalau bisa ia ingin melepaskan diri dari sana.
__ADS_1
"Ka–Kami akan lalukan apa saja, asalkan jangan bunuh kami!" pinta salah satu di antara mereka. Mereka tidak ingin dijadikan pakan hewan.
"Hmmm ..." gumam Gaza. Gaza mengangguk–angguk. Ia terdiam cukup lama.
"Oke ide bagus ..."
"... tapi sayangnya aku tidak tertarik."
Gaza memberikan harapan palsu. Harapan mereka sirna. Gaza tidak akan melepaskan mereka begitu mudah. Musuh akan tetap berkhianat sekalipun telah disumpah dan diberikan kesempatan. Manusia tidak akan bisa setia dengan dua tuan sekaligus. Akan ada satu di antara dua tuan yang akan terkhianati.
"Bawa mereka!"
Mereka menggiring penyusup ke penjara bawah tanah. Di sana, Gaza melancarkan aksinya.
"Lakukan!"
Marvel mengangguk. Pada akhirnya Gaza memerintahkan pada anak buahnya untuk hanya membunuh dua di antara mereka. Salah satu di antara mereka dibiarkan luka parah. Mereka membuat seolah–olah satu orang itu berhasil melarikan diri dan kembali pada tuannya. Tujuannya adalah untuk memberikan peringatan keras pada pemilik club malam sebelah. Orang itu dipastikan akan kembali pads tuannya.
🍂
Di sebuah ruangan VVIP, Gaza duduk bersandar pada sofa ditemani Marvel di sampingnya. Sebuah batang rokok tersulut. Asap cukup tebal keluar dari bibir dan lobang hidung Gaza. Gaza hanya menatap satu arah tanpa berniat membuka pembicaraan.
"Kau kenapa?" tanya Marvel. Ia melihat sahabatnya yang sudah seperti saudara itu tengah memikirkan hal yang membebaninya.
"Tidak. Aku hanya penasaran saja siapa pemilik club sebelah yang misterius itu," ungkapnya.
Marvel menghela napas. "Kalau itu sama. Aku juga penasaran. Tapi anehnya, sampai sekarang yang kita ketahui hanyalah nama panggungnya saja." Marvel membenarkan ucapan Gaza.
"Madam L. Terlalu singkat untuk kita telusuri. Bahkan belasan tahun kita mencari, tidak tarlihat titik temunya." Gaza menoleh singkat ke arah Marvel.
Mereka berdua tidak tahu siapa Madam L itu sebenarnya. Jawabannya ada di pemilik club itu sebelumnya. Namun dia sudah lama meninggal, dan ia pergi tanpa membocorkan kerahasiaan yang tersimpan rapat itu.
"Ah sudahlah! Aku pulang!" Gaza bangkit berdiri. Hari semakin larut. Terlalu lama ia meninggalkan Dela sendirian di kontrakan.
"Ya deh iya yang sudah mulai bucin," goda Marvel.
Akhir–akhir ini Gaza berbeda dari Gaza yang dulu. Gaza yang dulu lebih suka menghabiskan waktunya di club. Ia memiliki ruang pribadi di sana. Sedangkan dahulu rumah kontrakan itu hanya Gaza jadikan sebagai tempat pelariannya jika ia mulai penat. Marvel mampu melihat perbedaan itu. Bahkan siapapun juga tidak buta akan hal itu. Anak buah Gaza menyadarinya.
"Tidak usah ngawur!" ucap Gaza melenggang pergi. Marvel menatap punggung Gaza yang semakin menjauh dengan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Gaza ... Gaza ..."
🍂
//
__ADS_1
Happy reading gaes,
Jangan lupa bahagia 🤗💕💕